Senin, 01 September 2014

Cincin Dari Eyang

Cincin ini merupakan pemberian Eyang Kakung (kami biasa memanggil beliau dengan Eyang Kai, karena beliau lama menghabiskan waktu di Banjarmasin). Beliau adalah kakek dari suamiku, Ayah dari Ibu Mertuaku. Suatu hari, ketika sedang membereskan kamar, tak sengaja ku lihat kotak dari cincin ini, setelah diberikan Eyang Kai, cincinnya langsung ku keluarkan dari kotaknya dan ku pindahkan ke kotak perhiasanku. Tapi ketidaksengajaan itu mendorongku menulis post ini, bukan untuk bercerita tentang betapa cantik cincin ini,

tapi tentang...


Romantisme laki-laki. Aku menyebutnya begitu.


Cincin ini adalah hadiah pernikahanku, dan aku baru sadar, seumur hidupku aku tak pernah dibelikan cincin oleh seorang laki-laki. Bahkan itu oleh suamiku sendiri (cincin tunangan dan pernikahan kami dibeli bersama, jadi secara teknik, cincin itu tidak dibelikan suamiku.. hehe).

Selama aku hidup, aku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakek. Kedua kakekku sudah berpulang sebelum aku lahir. Eyang Kai adalah kakek pertamaku, setahun kurang lebih mengenal beliau, yang aku tau, beliau mewarisi sifat sangat laki-laki pada semua keturunannya.

Suatu hari, pernah Eyang Kai berkata "aku ingin melihat cicitku..", pastilah ku aminkan. Keinginan itu hanya tinggal keinginan, Eyang Kai dipanggil Tuhan sekitar 6 bulan setelah pernikahan kami. Beliau harus meninggalkan kami tanpa sempat melihat cicitnya. Tapi aku cukup senang, karena ku tau beliau berada di tempat yang jauh lebih baik.

Ternyata, cincin ini adalah hadiah terakhir dari beliau untukku, yang akhirnya memberikan nilai mahal pada cincin ini. Sebuah simbol kasih sayang, romantisme laki-laki dan yang terpenting adalah kenangan manis yang terpatri tepat di hati. Kelak, tulisan ini akan ku tunjukkan pada anak-anakku, agar mereka bisa mengenal sosok romantisme laki-laki sepuh yang diejawantahkan melalui sebuah cincin. Anak-anakku kelak harus mengerti bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita, persis seperti Eyang Kai memperlakukanku walau aku hanya sempat mengenal beliau dalam 1.5 tahun.

Melalui cincin ini, aku akan bercerita banyak pada anak-anakku kelak, bahwa sifat jantan tak harus malu melakukan hal romantis. Bahwa seorang laki-laki sah saja berkeinginan manis, dan bahwa seorang laki-laki cukuplah mencintai 1 wanita saja dalam satu jenjang hidupnya.

:)
So, how's heaven, Yang?

Jumat, 29 Agustus 2014

Catatan Kaki Untuk Lelaki

Teruntuk lelaki hebat yang pernah berjuang bersamaku mempertahankan nyawa, ini hanya sebuah catatan kaki untuk dibaca nanti, kapanpun saat kau sempat. Ini bukanlah sebuah surat, maupun karya abadi seorang penulis puisi, walau sebutannya hanya catatan kaki, tapi percayalah, tulisan ini datangnya dari hati seorang yang tulus mencintai.

Hai lelaki,
Ketahuilah ketika kamu merasa tak berharga, ada seorang perempuan yang merayakan setiap detak dirimu yang berkejaran dengan detik. Ada seorang perempuan yang merelakan nyawanya hilang demi melindungi hidupmu, ia yang pernah mati-matian berjuang mempertahankanmu agar tetap tinggal. Berdoa siang malam tanpa putus hanya untuk keselamatan dan kesehatanmu.

Hai lelaki,
setiap kamu merasa dirimu tak dikelilingi cinta, sadarlah, ada perempuan yang mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi pada dirimu. Mengucap syukur pada pencipta hanya karena kamu ada, hanya karena kamu bertahan dan hanya karena diberi kesempatan untuk merasakan mencintai kamu dengan tulus melebihi napasnya sendiri.

Itu aku, lelakiku…
Perempuan itu aku.


Hai lelakiku,
dahulu, jauh sebelum aku mencintai kamu dengan sangat, aku pernah jatuh cinta dengan hebat. Dengan lelaki yang mirip denganmu.

Suatu hari, kamu akan ku perkenalkan kamu dengan dirinya. Ia sosok yang sangat ku kagumi, lelakiku. Tapi aku yakin, kamu jauh lebih mengagumkan dari dirinya. Mungkin egomu terlalu kuat untuk mencontoh ataupun mengakui akan betapa hebat dirinya, atau mungkin saja kamu cemburu karena aku pernah mencintainya dengan begitu besarnya. Tapi suatu saat, kamupun harus mengakui, bahwa perempuanmu ini tak jatuh cinta pada lelaki yang salah. Suatu saat, kamu akan mengakui bahwa raga perempuanmu ini pernah dijaga oleh lengan yang tepat.


Ia sehebat itu, lelakiku…


berbanggalah

:)


Jumat, 22 Agustus 2014

Ingat-Ingat Terus Mereka yang Masih Ingat

"Fala! Fala..!!"

Sapaan hangat dari seorang teman lama yang hampir 7 tahun tak temu muka, pada sebuah acara bertema resepsi pernikahan berbalut reuni sekolah. Sapaan itu hanya beberapa menit berselang setelah raga ini turun dari dalam mobil. Ia memanggilku dari jauh, melambaikan tangan dengan sedikit berlari menghampiriku. Senyumnya lebar… dan hangat.

Ia menjabat tanganku, menanyakan kabar dan berbasa-basi sedikit.

Namanya Wawan, teman sekolahku dulu. Selama sekolahpun, aku dan Wawan tak pernah sekelas, tak pernah berada di 1 circle permainan. Wawan anak populer, sedangkan saya tidak. Wawan, walau tak setampan yang lain, masuk ke dalam jajaran seseorang yang dikenal dari junior, guru hingga tukang makanan di sekolah. Memang dari dulu, Wawan agak sedikit berbeda sih, Wawan ini cenderung sederhana dan ramah senyum. Walau badge bergambar benteng yang terjahit rapih di jaket organisasi sekolah berbicara sangat banyak. :)

Bagi saya yang kurang populer di sekolah dulu, sapaan ringan malam itu meninggalkan jejak hangat di dada hingga hari ini. Tujuh tahun tak temu muka, dengan sejarah saya selama sekolah hanya datang lalu pulang, Wawan masih mengingat saya, bahkan menyempatkan menghampiri tak hanya sekedar sapaan ringan anggukan kepala lalu melintas pergi.


Sederhana, tapi efeknya bagi saya?
saya merasa spesial. :) saya merasa keberadaan saya dihargai. Saya merasa saya… bernilai.

Beranjak masuk ke dalam, ternyata lebih banyak lagi teman-teman satu sekolah saya dulu. Ada yang melintas tak sadar ada kehadiran saya, ada teman mainku yang wajar bila mereka menghampiri lalu mencium pipi, ada juga yang ia melihat saya dan berusaha mengingat, adapula yang ia tau benar siapa saya tapi memilih tak mengucapkan apa-apa…

Ternyata perlakuan orang berbeda-beda, dan seseorang yang "hangat" adalah sifat bawaan yang sebenarnya bisa dilatih jika kita mau. Tapi ada satu kata yang mungkin bisa dilatih, tapi akan susah sekali dipaksakan. Kata itu bernama "ketulusan".

Menyapa adalah hal mudah, tapi tak semua manusia menyapa dengan ketulusan. Tidak semua manusia diberkahi sifat tulus mengingat yang efeknya bukan hari ini, melainkan nanti, bertahun-tahun kemudiam. Seorang yang tulus akan mendapat tempat di hati setiap yang dikenalnya, perlakuan tulus yang tidak dibuat-buat yang datangnya dari hati pasti menyentuh hati orang banyak. Begitupun yang ku lihat dari sosok Wawan. Walau ia datang dari kalangan anak populer, satu yang membedakannya, ia memiliki hati yang tulus untuk "mengenal", untuk menghargai orang di sekitarnya.

Tampak sederhana memang,
tapi buah dari diperlakukan tulus dan "diingat" ternyata meninggalkan kesan hangat dan banyak puji serta doa mengiringi untuk mereka.
Apalagi, untuk orang seperti saya yang keberadaannya saja kadang tak menggenapkan dan ketidakadaannya tak mengganjilkan, diingat menjadi hal yang begitu mewah.

Sapalah teman lamamu,
tak sepopuler apapun mereka,
kesan hangat yang terbangun di hati mereka,
akan mengiringi langkah kalian..
tanpa kalian sadari.
:)


dan ingat terus mereka, yang masih mengingatmu, terlebih ketika saat itu keberadaanmu belum berarti.

Kamis, 14 Agustus 2014

Menuju Seperempat Abad

Terdiamku terbangun di malam hari, merasakan pegal yang amat sangat karena salah posisi tidur dan diperparah dengan posisi kepala suami yang menyerbu bantalku. Sakit di leher hingga pinggang membuatku terjaga kemarin malam,

2 hari sebelum pergantian umurku menuju seperempat abad.

Ku lihat sekelilingku, suami yang tertidur pulas sembari sesekali tangannya mengelus bagian tubuhku. Dekorasi kamar yang sedikit berubah karena sudah setahun kami tempati dan diriku yang mulai menua dan memberikan kejutan perubahan dari minggu ke minggunya.

Usia 25, apa sih yang biasa ada di benak perempuan dengan usia yang sebenarnya tak lagi remaja ini. Sungguh sebuah usia yang membuatku sadar lalu tercekat, aku adalah perempuan yang begitu disayang Tuhan. Di usia yang relatif tak remaja, namun masih muda, sudah banyak hal yang ku peroleh dan sebagiannya adalah impian banyak gadis di luar sana. Hingga tak sadar, ada kehangatan mengalir dari sudut mata menghinggapi sudut bibirku, melewati hangat pipi. Aku menangis, bersyukur penuh haru. Walau sungguh perjalanan hidupku juga tak ringan..


Hari ketiga lebaran, 30 Juli 2014. Kerongkonganku terasa tersumbat dan jantungku berhenti ketika mendengar kabar kakak perempuan nomor tiga dipanggil Yang Maha Penulis Takdir. Semua terasa hanya ilusi, mengingat tepat 1 hari sebelumnya (alm) Ayu Caca masih memberikanku bekal teri pedas kacang bikinannya karena aku berkunjung ke rumahnya. Rasa hancur mulai menyelimuti, memikirkan keadaan Ibu yang pasti jauh lebih terpukul dari aku, mengingat akupun harus menjaga mood agar kondisikupun tak turun. Sungguh sebuah pertengkaran batin yang begitu kuatnya. Semua terasa begitu nyata, ketika kaki ini melangkahkan kaki ke makam, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. aku tau, Ayu Caca sudah berada di tempat terbaiknya.

Kepergian Ayu Caca merupakan pukulan dan juga pelajaran untukku, bahwa usia memanglah bukan sesuatu yang bisa diprediksi. Tapi aku melihatnya sebagai sebuah sudut pandang baru, bahwa ternyata keberadaan itu nyata berharganya. Bahwa waktu bersama dan hirupan napas itu fakta indahnya. Bahwa keluarga memang tak terganti jiwanya.

dan bahwa usia, haruslah dirayakan semaksimalnya….


---


Hari ini, aku mengucap syukur luar biasa akan semua rahmat di usia 24 yang telah aku lewati. Terima kasih atas keberhasilan diriku mengantarkan suami ke gerbang department Orthopaedi dan Traumatologi RSCM - FKUI. Terima kasih atas sumpah atas nama Tuhan yang ku ucapkan lantang, berdiri atas nama sebuah kolegium. Terima kasih pula Tuhan atas masih hangatnya kecup, atas masih panasnya cinta yang tumbuh semakin kuat antar sesama.

dan terima kasih Tuhan, Penentu Segala Alam, atas detak jantung yang berdetak di bawah hatiku.



24. Tahun yang begitu hebat. Sehebat ketika semesta mempertemukan jatukrama dan garwanipun.
Terima kasih banyak.
Alhamdulillahirabbilalaamin



Bismillah, 25.

Sabtu, 26 Juli 2014

Jadi, kapan nikah? Kapan hamil? Kapan nambah anak?

Salah satu perbedaan besar dalam perjalanan menjadi dewasa di era yang serba canggih ini adalah, para remaja bebas dan dengan mudah berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa. Bisa melalui media sosial, maupun tatap muka secara langsung dan memang norma barat sudah terlanjur masuk sehingga remaja sekarang tak sungkan untuk "akrab" dengan orang-orang yang sebenarnya memiliki generasi yang berbeda dengan mereka. Suatu fakta yang bisa dikatakan baik, tapi bisa juga dijadikan pisau bermata dua tajam.

Tak hanya perubahan menjadi dewasa, masa kini adalah masa di mana semua manusia dengan mudah berinteraksi dan saling menyapa. Imbasnya adalah, manusia masa kini dan orang Indonesia pada umumnya cenderung menjadi suka berbasa basi dengan menanyakan hal yang sebetulnya bukan urusan mereka.

Mungkin paparan berikut adalah hasil observasi atau empiris saya sendiri, tapi jelas paparan berikut cukup mengganggu.

"Kapan nikah?"
"Eh kok belom hamil-hamil?"
"Kok ga nambah anak?"




Sebagai seorang yang hidup melalui pendidikan dasar sekolah, nampaknya semua orang mempelajari konsep bahwa "Mati, jodoh dan rezeki ada di tangan Tuhan..", Lalu, mengapa ketika dibawa ke ranah sosial seakan banyak sekali yang melupakan konsep tersebut?


Mungkin cerita di bawah ini sedikit membuka mata..

Sebut saja J,
dia teman saya dari jaman sekolah, tak banyak yang mengenalnya sebagai sosok yang cenderung tertutup mengenai masalah pribadi karena memang personalitynya yang sungguh ceria melebihi apapun. Sedikit pula yang tau bahwa perpisahan orang tuanya menyisakan trauma mendalam untuk arti kata pernikahan. Lalu, setelah tau semuanya, masih punya keinginan untuk tetap bertanya pada dirinya "Kapan nikah?"

Sebut saja T,
senior saya yang sedang melanjutkan sekolah spesialis. Selain sejawat, sedikit yang bisa mengerti alasannya untuk belum menikah di usia pacarannya yang sudah menyentuh 3 tahun lebih. Ketika semua orang mendoakan, dan mendesak, ia hanya bisa tersenyum bahwa yaa.. sekolah spesialis tahun-tahun pertama hampir tidak mungkin menikah. Lalu, setelah tau faktanya, apa basa basi itu masih jadi hal yang basa basi untuk dirinya?

Sebut saja Y,
usianya 7 tahun di atas saya, lajang. Saya mengenalnya sebagai sosok perempuan baik dan ramah. Ia pernah beberapa kali menjalin cinta dengan beberapa pria dan selalu berakhir miris. Lalu, masih ada yang tega bertanya pada dirinya mengapa ia belom menikah? Sayangnya.. masih.


yang kita tau, mereka belum menikah sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum menikah..
yang kita tidak tau, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, jodoh adalah misteri yang ditulis sendiri oleh Tuhan.

 Sebut saja D,
7 tahun menikah, belum dikaruniai anak. Sedikit yang tau bahwa si perempuan sudah beberapa tahun belakangan ini bekerja keras untuk mengumpulkan pundi rupiah agar mioma uteri dalam rahimnya bisa terangkat sempurna. ….. dan masih banyak yang tega bertanya kapan mau memiliki momongan.

Sebut saja H,
1,5 tahun menikah. Setiap bulan menangis karena test pack negatif, padahal dokter menyatakan kedua pasangan dalam keadaan sehat. Masih mau berbasa basi pada dirinya?


yang kita tau, mereka belum dikaruniai anak sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum memiliki momongan..
yang kita tidak tau, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, rezeki berupa anak adalah pemberian Tuhan, jika Tuhan belum berkehendak maka sekuat apapun manusia berusaha, jika memang belum waktunya, ya belum waktunya.

dan lain-lain..
dan lain-lain..

Apa yang bisa disimpulkan? Kita tidak tau kondisi yang sedang dialami lawan bicara kita… hingga kita sampai pada fase tersebut. Banyak orang berdalih bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut ya anggap saja doa.. Tapi banyak pula yang lupa bahwa doa yang paling tulus adalah mendoakan diam-diam.

Era sekarang memang banyak meruntuhkan dinding penyangga antar lawan bicara, berbeda jauh pada masa saya tumbuh dewasa dimana berbicara pada orang yang jauh lebih tua itu sangatlah sungkan dan hati-hati. Idealnya, kondisi ini baik, tetapi bila rasa empati tidak ada, hal ini menjadi sungguh annoying.

Satu hal pasti menjadi dewasa adalah, manusia akan cenderung menyimpan masalah sendiri, manusia akan cenderung menutup emosi mereka depan khalayak. Manusia akan cenderung menampakkan hal yang baik-baik saja. Itulah perubahan, apabila ketika bayi manusia bebas menangis depan umum, semakin tua hal tersebut menjadi tidak mungkin terjadi bukan? Semakin tua, manusia akan semakin menutupi apa yang cenderung membuatnya sedih dan menampakkan kondisi baik-baik saja. Seharusnya ini cukup menjadi bekal untuk berhenti bertanya mengenai takdir Tuhan.

Bukan hanya tentang kesedihan yang tertutupi, menjadi dewasa adalah tentang berbagi hanya dengan yang dirasa perlu. Walaupun itu hal baik. Mungkin tidak sedikit yang menolak untuk bercerita mengenai kabar bahagia lamaran mereka karena dirasa waktunya masih terlalu jauh dari hari pernikahan. Tidak sedikit pula yang menutupi kehamilan mereka karena takut pamali mengabarkan hal yang sebetulnya masih penuh risiko.

tapi semua terikat benang merah,
kita tidak tau apa-apa tentang orang lain.




Banyak cara berbasa-basi, banyak cara mendoakan selain bertanya hal-hal yang saya di atas






karena sungguh, kita tidak tau apa-apa mengenai apa yang ia sedang perjuangkan…

Salam basa basi tanpa harus jadi pertanyaan basi. :)

Kamis, 24 Juli 2014

Tentang Berkelana Keliling Dunia

Beberapa kali dari sejak pacaran, suami saya menunjukkan saya dengan bangga dan pikiran yang seolah ikut berlabuh ke masa lalu mengenai indahnya tempat di luar saya berpijak. Beberapa kali pula ia mengerutkan kening setiap ia bertanya pada saya "Kamu udah pernah ke…." karena setiap pertanyaan itu sebagian besar saya jawab dengan gelengan kepala.

Perlahan tetapi pasti, suami mulai memaparkan pada imaji saya mengenai tempat-tempat yang membuatnya terkesima, yang membuatnya kagum, yang membuatnya merefleksikan kembali arti hidup. Selain itu, iya juga memaparkan mana negara yang indah, yang kotor, yang penduduk lokalnya ramah dan lain sebagainya. Intinya, ia menceritakan banyak hal mengenai indahnya dunia.

Aku hanya bisa berdecak kagum melihat banyak foto di komputer jinjingnya. Saya adalah seorang yang sangat jarang bepergian untuk berlibur, perjalanan saya lebih banyak karena sebuah kebutuhan studi atau menemani ayah dinas, atau mengunjungi kakak kandung saya di Amerika. Sudah, hanya itu. Saya belum pernah menginjakkan kaki saya di Eropa, Australia, Afrika, bahkan sedikit sekali negara Asia yang pernah saya datangi.

Atau bila disimpulkan lagi, bahkan sedikitt sekali kota yang pernah saya singgahi di Indonesia ini.

Mungkin karena iba, atau memang perjalanan keliling dunia itu meninggalkan jejak sedalam itu, Aa memberikan pesan pada saya:
"Go travel around the world, and find yourself.."

I nodded.


Salah satu negara yang saya ingin sekali ke sana adalah Belanda, tepatnya ke kota Groningen. Menurut cerita Aa, kota tersebut adalah kota yang memberikannya titik balik mengenai hidup yang dijalani. Perjalanan menemukan jati diri. Aa bercerita mengenai luas kota itu, alat transportasi dan semua hal tentangnya. Lalu, aku mengutarakan niatku untuk pergi ke sana, dan Aa dengan semangat menyuruhku pergi ke sana setelah kegiatan kepaniteraanku selesai.

Ia keukeuh menyuruhku traveling, sendirian, karena kesibukannya sebagai residen orthopedi memang tidak memungkinkan dirinya untuk bepergian. Namun terlihat betul, ia ingin sekali istrinya melihat dunia selain kota tempatnya berpijak. Ia selalu bilang, traveling adalah upaya mengenal diri sendiri. Bersikeras ia menawariku untuk pergi sendiri ke Inggris, kebetulan adik iparku akan berangkat ke sana untuk melanjutkan studinya. Kata Aa, dari Inggris aku bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Negara-negara terkenal seperti Prancis, Itali dll.

Tapi saya selalu menolak.
Kenapa? Pertama, saya bukan traveler. Saya hanya merasa diri saya hanyalah seorang turis, yang menikmati tempat wisata. Berfoto, belanja. Liburan bagi saya bukan ajang mengenal diri, liburan bagi saya ya hanya untuk menenangkan pikiran, pergi dari kejenuhan. Saya jauh lebih bisa mengenal diri saya lewat media tulis. Membaca dan menulis. Tidak, saya tidak perlu pergi ke Eropa sejauh itu hanya untuk bisa mengenal diri saya sendiri.

Kedua? Ternyata, setelah saya selami diri saya lagi, yang membuat saya ingin pergi ke tempat-tempat cantik di dunia adalah kehadiran dirinya dan keluarga. Membayangkan saya berada di sana, bersamanya. Bukan sendiri. Bukan dengan teman. Tapi, ya, bersamanya, dan keluarga kecil saya kelak. Apa artinya saya bisa melihat menara Eiffel, jika saya hanya berdiri sendiri tanpa ada keluarga kecil saya yang juga menikmati?

dari dulu, orientasi hidup saya adalah membangun keluarga kok, tidak muluk tapi juga tidak mudah. Dan hingga sekarang, impian itu masih terbangun, malah semakin kokoh. Tidak, cita-cita saya ternyata bukan keliling dunia..

cita-cita saya,
berlibur bersama keluarga kecil saya. :)

Selamat jalan-jalan.

Jumat, 25 April 2014

Sudah Hampir Mei.

Hai kamu yang menulis dengan tangan kiri,
terlalu basa basikah aku jika bertanya apa kabar dirimu mengingat ini sudah mau masuk Mei?
Baikkah? Bahagiakah?


Hai kamu yang biasa memegang rokok dengan tangan kiri,
terkagetku menyadari bahwa ini sudah mau Mei, dulu kita biasa menyambut awal-awal tahun dengan berbagi isi sigar dan tertawa ditemani pahit fermentasi, tapi sekarang, aku lebih memilih menikmati segelas minuman hangat, dan mungkin kamu tetap dengan kotak kecil berwarna merah putih berisi 20 batang.


Hai kamu yang merajah volar tangan kiri,
Tak pernah ada lagi salam selamat, Tak pernah ada lagi sodoran tawaran, bahkan tak pernah lagi ada tawa,
tapi ternyata dunia tak ada yang berubah,
terakhir ku lihat kamu melintas dengan gagah seperti biasanya, tak menyadari kehadiranku yang sebetulnya begitu dekat dengan matamu,
kamu melewatiku, masih dengan harum yang sama,
menyapa perempuan cantik berambut panjang dan mengecup kepalanya lembut.
Disitu, ku lanjutkan kegiatanku dan membiarkanmu.
Tak ada amarah, tak ada gerah. Hanya saja disitu aku tidak sadar, bahwa bulan Mei kian dekat.


Hai kamu yang suka menggigiti kuku tangan kiri
disini aku mencoba memberi kabar, bahwa aku bahagia menyadari ini sudah mau Mei.
Sebuah tanda bahwa aku sudah benar-benar kembali hidup,
sebuah pertanda bahwa aku telah berubah menjadi seorang yang jauh lebih baru dari dulu saat kita masih merayakan awal tahun.

Hai kamu,
ini sudah mau Mei,



aku tidak ingat, bulanmu adalah…
Februari. :)

Ketika Prioritas Mulai Berubah

Hari Senin dua minggu lalu, grup whatsapp ramai oleh teman-teman saya sedari jaman kuliah. Oya sebagai informasi, jaman kuliah saya dekat dengan 10 perempuan, semuanya anak kedokteran, kemudian setelah toga disematkan, kami semua berpisah menuju tempat kepaniteraan masing-masing, praktis waktu bertemu kami menjadi sangat sedikit. Nah siang itu, kami memutuskan bertemu untuk ngumpul kembali di sebuah mall di bilangan bundaran HI.

Tujuan kami : Belanja, makan dan ngopi (baca: gosip).

Hari itu, kesepuluh dari kami tidak semua hadir, tapi saya cukup senang bertemu kembali dengan mereka, walau sebetulnya kami masih sering sih tidak sengaja ketemuan di koridor kampus, atau janjian makan siang di suatu tempat, namun pertemuan hari itu ntah mengapa terasa lebih spesial dari pertemuan-pertemuan biasanya.

Di antara semua teman-teman cantikku, hanya aku yang sudah menikah. Selebihnya ada yang sedang menata pernikahan beberapa bulan lagi, ada yang sudah pacaran bertahun-tahun tapi masih belum tau kapan akan dibawa ke jenjang pernikahan, ada juga yang masih sendiri. Setiap bertemu, mereka tak henti-hentinya berkelakar akan diriku yang pernah bersumpah untuk menikah "telat" sekitar umur 28-29 tapi ternyata aku menikah paling awal. :)))

Setelah puas berbelanja dan makan siang, kami berhenti di Djournal Coffee, dengan suasana adem sore, kami mengambil tempat di bagian belakang kedai. Lalu, pembicaraan-pembicaraan nostalgia jaman kuliah pun mulai muncul..


"Beki… (saya dipanggil Beki oleh teman-teman terdekatku..) masih inget si __menyebut nama__, dia masih ga sih ma si __sebut nama__?" .. Lalu aku terdiam mengingat, apa benar si itu pernah pacaran ma si itu..


"Bek, Bek.. Si __nama mantan gebetan yang dulu pada saat saya kuliah, saya bisa histeris hanya karena mendengar namanya__ lo undang ga sih ke nikahan lo?" …. Nah lho, bahkan saya lupa saya pernah suka ma orang itu.


"Bek, si ___nama teman yang dulu sempat berseteru sama saya pada saat kuliah___ apa kabar?" …. dan saya lupa saya pernah berseteru dengan dia, karena beberapa bulan lalu sempat bertemu di mall yang sama dan kami saling bertegur sapa dengan baik.


dan harus ada..

"Beki, ____nama mantan_____ apa kabar?" … oh kalau ini sih saya ga akan lupa, dengan senyum manis sedikit dipaksakan, ya saya harus menjelaskan dengan mereka kalau ya dia baik-baik saja dan saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan dia. :|


dan semua gosip perkuliahan lain yang membuat saya berpikir "Oh iya yaaa, si itu ma si itu..", "oiyaa yaa, si itu dulu sempet ma si anu.." atau "Astaga, dia ma dia sekarang, aku sama sekali ga tau.."

:|

Lalu, aku akhirnya menyadari satu hal,
saya sudah menikah, dan menikah memang mengubah banyak hal.

Pernikahan bukan hanya mengubah dengan siapa kita tidur, tapi juga mengubah banyak sekali cara berpikir kita tentang sesuatu, tentang mana yang layak dipikirkan dan mana yang terlewat karena perhatian kita tak lagi menuju ke arah situ.

Saat masih gadis, hampir semua gosip dan fakta perkuliahan aku tau, si itu pacaran dengan siapa, putusnya kapan (dan kenapa), lalu si itu jadian lagi ma siapa dll dkk. Tapi setelah menikah, memori tentang itu semua perlahan memudar, bukan karena mereka tak lagi penting, tapi secara alami pikiranku mulai tergantikan tentang informasi mengatur uang, investasi masa depan atau sesimpel menunggu suami pulang sembari menyiapkan secangkir kopi.

Saat masih sendiri, saya bisa cenderung hampir teriak melihat senior tampan nan pintar berjalan di depan mata, setelah menikah bahkan saya harus benar-benar membuka ingatan lama hanya untuk mengingat namanya. (dan bahkan saya sedang mengingat, siapa ya nama senior yang waktu itu dibahas teman-teman saya, ganteng sih emang.. duh. siapa ya?)

Saat masih belum menjalin komitmen di depan Tuhan, naluri perempuan saya adalah mencari kabar teman-teman lama, apakah masih menjalin kasih, apa sudah putus, atau sudah jadian lagi. Setelah menikah, saya cukup lega melihat teman-teman saya dalam keadaan sehat dan senang, tanpa sedikitpun ingin tau siapa yang sedang mengisi hati mereka, kecuali mereka sendiri yang menceritakannya tanpa diminta.


Intinya, pernikahan mengubah prioritas. Dari prioritas egoisme diri, menjadi bagaimana membangun rumah tangga yang menyenangkan, tentang bagaimana menjadi istri yang membuat suami bahagia, tentang bagaimana membuat waktu bersama jauh lebih bermakna. Dulu, saya sempat berpikir "Nikah itu cuma buat orang tua, hih." nyatanya, saya sudah berada pada fase orang tua itu, tidak peduli tentang gosip sekitar, mulai memikirkan 10-20 hingga 50 tahun ke depan.


Tapi satu hal yang perlu diketahui mengenai pernikahan, hidup setelah menikah walau kita akan terpaksa dewasa, tapi jauh dari membosankan. Bahkan saya masih merasa muda dan pacaran terus, pacaran tapi bisa sekamar, pacaran tapi asik aja pulang malem, pacaran tapi bisa making love.


Pernikahan bukan hanya tentang bersentuhan kulit tanpa sehelai benang, tapi pernikahan juga menutup rapat pada masa lalu, menutup dengan suka rela tanpa paksaan karena yang di depan mata jauh lebih baik dari yang telah lalu.


Pernikahan bukan hanya tentang berkembang biak, pernikahan adalah tentang perkembangan diri dan kehidupan, bahwa ke depannya, kita harus sama-sama yakin,
hidup akan jauh lebih baik lagi.. :)



Selamat menentukan prioritas. :D

Sabtu, 05 April 2014

Mencemplungkan Setengah Kaki

Suatu siang di sebuah perpustakaan umum bernama Freedom Institute, ditemani dengan secangkir teh susu berasa medio, kami berbincang..

Him : "What's next?"
Fala : "Aku mau nyoba hal baru.."
Him : "Maksudnya?"
Fala : "I am free agent now until then, artinya aku ga terikat lembaga apa-apa, institusi apa-apa dan selama aku belom berada dalam naungan Ikatan Dokter Indonesia dan kembali masuk ke lingkungan rumah sakit sebagai dokter magang, aku mau coba banyak hal yang jauh dari kedokteran. Problem?"
Him: "Ga sama sekali...." Ia menyesap kopinya, lalu kembali ke ruang perpustakaan menyelesaikan diktat orthopaedi. Aku? Baca-baca majalah.



Percakapan itu terjadi setelah pendidikan dokterku selesai dan di masa tenggang menuju Uji Kompetensi dan menunggu masa internship, aku tidak tau apa yang mau aku kerjakan, tapi aku tau betul aku mau mencoba banyak hal baru yang jauh dari bidang yang membuatku mati rasa hingga mual berkepanjangan, dunia medis.

Saat teman-teman sejawatku memilih menjaga klinik dengan uang duduk yang bisa dibilang tidak besar tapi juga tak kecil, ini jalan yang ku pilih...


1. Menulis buku (lagi)
Proyek nulis buku lagi ini sebenernya udah aku mulai sejak lama, tapi karena aku adalah penulis spesialisasi kalau mood, maka pengerjaan buku ini bisa dibilang mandek, seiring dengan berhentinya menulis buku ini, aku masih yakin, suatu hari buku ini harus ku lanjutkan, tapi ya itu.. tunggu mood. :)))

Beberapa kali rombak tokoh, rombak alur cerita dan pending revisi, novel sendiri keduaku akhirnya terbit. Novel yang berjudul Save My Soul sudah bisa kalian dapatkan di toko buku terdekat, dan sudah cetak ulang kedua. Alhamdulillah..

Aku sadar betul, sarana promosiku memang melalui twitter, tapi ada sedikit keberatan kuutarakan pada editorku jika harus ku promosi buku ini sepanjang hari, karena untukku, menulis adalah passion, menulis adalah hobi dan menulis adalah sebuah gairah. Penikmat sebuah tulisan tak bisa dibeli hanya karena promosi, karena hati yang akan memanggil pembacanya...

Silakan beli buku saya, dan silakan tidak beli buku saya,
buku ini bagi saya berarti, tapi mungkin hanya sekedar buku bagi anda,
tapi tak apa,
karena hati saya menulis, maka saya bersyukur apabila tulisan saya sampai juga ke hati pembacanyaa.. :D

cover mentah :)

masuk jajaran buku terlaris. Alhamdulillah...

my husband. Hahahahha
2. Berkantor di Hang Jebat
ini lumayan seru sih ceritanya. Awalnya, aku iseng chatting dengan Aditya Sani (publicist heits ibukota), iseng aja minta projek karena kebetulan hari itu aku lagi ga ada projek apapun. Adit nawarin untuk "ngantor" aja, di sebuah kantor di kawasan Hang Jebat. Kerjaannya jadi campaign strategist sub bagian social media. Iyaps, gampangnya aku jadi team sukses seorang calon presiden konvensi Partai Demokrat, Bapak Gita Wirjawan.

Banyak banget pelajaran yang aku ambil dari projek ini. Selain (sering) ngobrol langsung dengan Pak Gita, well beliau kalau ngobrol luwes banget, duduk di meja, atau kursi sambil minum es tee, aku juga berkesempatan yang menurutku mahal banget yaitu kenal dan kerja bareng dengan banyak sekali orang hebat.

Kerjaanku ga ribet sebenernya, intinya aku sih berada di "balik layar" campaign di social media, membawahi KOL (Key Of Opinion). Disitu, aku dan team mikir gimana sih cara penetrasi ke media supaya visi misi Pak Gita lebih tersebar lagi. Sesimpel itu, ya karena aku itungannya cuma pekerja lepasan sih. Jadi pekerjaan yang ku pegangpun ga berat.

Tapi justru itu membuatku cukup bersyukur, beban tanggung jawabku tak tergolong berat, tapi kesempatan yang ditawarkan sangat sangat besar dan menyenangkan. Pekerja di kantorpun seru beraat, ada perempuan luar biasa cantik dan pintar, ada yang orang Korea, ada yang selalu mensesap kopi dan menghirup rokok sambil menerawang Indonesia harus lebih baik, ada yang ganteng banget tapi hobi pesta tapi kalau udah disuruh bicara mengenai carut marut negeri ini tak cukup dalam 1 hari, ada yang setiap pagi berada depan kaca untuk memoles muka dan lain sebagainya. Mereka semua muda dan hebat.

Sedikit yang membuatku bangga berada disitu adalah, kami adalah anak muda yang terjun di dunia yang orang pikir adalah ranah bapak-bapak. Sedikit juga yang membuatku lega, bahwa Indonesia masih memiliki banyak harapan di generasi mudanya. :)

Mungkin banyak orang mengira, ketika saya bergabung menjadi Team Sukses Gita Wirjawan pasti anggapan publik adalah saya salah satu simpatisannya. Wah ini sih semua salah, kami yang bekerja di kantor tsb berasal dari political view yang berbeda, kami bekerja cukup profesional kok.

Benar saya mengagumi sosok seorang Gita Wirjawan, bagaiman tidak, cara beliau bertutur, cara beliau membawa diri memang mengundang decak kagum,

tapi membutakan mata dengan mendukung beliau mati-matian sebagai presiden negara ini? Nanti dulu deh, Pak.... Wakil bolehlahhh... :")))

kartu karyawan, masih ku simpan hingga sekarang, Sebagai kenang-kenangan.

bersama Pabos. :"))
Dulu pernah cerita ke Aa, aku pengen banget bisa kenal dan duduk bareng Glenn Fredly. Eh, kesampean... :"))))

teman-teman sekantor. Gimana ga seger ngantor, isinya muda dan lucu gini?
Sekarang aku sudah tidak bekerja di kantor itu lagi dikarenakan saya harus mengurus ina ini itu keperluan internship. Sungguh, 3 bulan yang menyenangkan dan memberikan banyak cerita,
juga nyinyiran...

3. Les makeup
Waaaaa ini menyenangkan sekaliiiiiiii~~~~~
aku ambil kursus singkat makeup untuk diri sendiri di Puspita Marthaa, kebetulan sekolah mereka dekat sekali dengan rumah. Aku semangat banget ikutin kelas mereka yang seharian itu. Dateng ja, 9 pagi, pulang ke rumah jam 5 sore gitu terus selama 3 hari. Seneng bukan main deh pokoknya..

Kelas ini sebenernya cuma kelas untuk diri sendiri,basic makeup, jadi dikelas ini kita ga diajarin untuk makeup orang lain. Tapi percayalah, kelas ini penuh tips "mahal" dan teknik menggunakan riasan yang tepat di muka. Awalnya sih aku merasa kemampuan makeup ku standar ya, tapi setelah ikutin kelas aku langsung merasa bahwa kemampuanku minusssss banget. Bahkan cara pegang kapas unutk bersiin muka aja salah.

Aku puas banget sih, beneran. Dan semangat banget tiap bangun pagi. Sebetulnya, selain materi dan tim pengajarnya yang kece, satu hal yang membuatku ga nyesel ikut kelas ini adalah...


aku tau sub bagian medis yang aku mau... :D
alhamdulillah


peralatan tempur di kelas, yang kotak pink itu punyaku pribadi..
hasil salah satu materi, makeup malam




well,
Melakukan hal baru menyenangkan sekali ternyata ya, bebas stress dan banyak hal untuk diceritakan. Aku ga pernah menyesal ga ambil job klinik atau ikut penelitian misalkan, karena menurutku sebagai free agent, itulah saat yang paling tepat untuk mencoba banyak hal seru tapi tidak terlalu tenggelam di dalamnya,

kalau istilahku..
mencemplungkan setengah kaki..



Jadi, apa hal baru yang mau kamu kerjakan? Pastikan itu jauh dari basic pendidikanmu ya, dan rasakan semenyenangkan apa...

:)


....dan aku siap memulai hari-hari rumah sakit lagi. :D

Selasa, 11 Februari 2014

Ribetnya Ngurus Kain..


Kemarin, teman ku, Ilvie Rahmi (@miss7sins) bertanya "Dalam persiapan nikah, apa sih yang paling berat?" dan saya dengan lantang tanpa pikir panjang menjawab..

"NYARI KAIN!"

Hah? nyari kain?
mungkin sebagian orang menjawab, bagian tersulit dari urusan pernikahan adalah mencari mempelainya, okelah saya setuju. Tapi seperti yang kita ketahui kan, jodoh itu urusan paling ghaib dari Tuhan, jadi ketika ketemu ceritanya akan berbeda. Seperti tuntunan bunda ketika kita belajar berjalan dan seperti sungai yang membawa dedaunan.. mengalir. :)

Oke, aku lagi ga tertarik membahas konsep jodoh, lagi ingin membahas susahnya mencari kain. Perjalanan mencari kain dimulai sekitar 1 tahun lalu, sekitar bulan Maret - April. Lokasinya sih di 2 tempat.. Di Alta Moda dan Pronto Moda Majestik. Toko tersebut menyediakan kain dengan koleksi lengkap. Dari kain premium hingga kain produksi massal yang dijual dengan harga murah.

Proses pembelian ga cukup sehari pergi. Akkkk, aku lupa deh berapa kali. Mungkin sekitar 5-6x bolak balik ke sana. Dari mulai masih semangat, sampe aku sama Aa cuma duduk saking lemes dan migrainnya.

Terduduk lemas di antara kain

mati gaya

lebih mati gaya lagi.. Moms lagi sibuk nyari.

Oke, aku mau cerita dulu mengenai apa aja sih yang harus dipikirin untuk pembelian kain ini..

1. Tema Resepsi dan Akad
Pertama kita harus tau tema yang akan dipake apa, nah setelah tau temanya apa, maka kita harus menentukan warna yang dipakai untuk resepsi itu. Waktu itu aku memilih warna maroon dan gold sebagai warna dekorasi. Nah, setelah warna dekorasi sudah disepakati, warna kain pada keluarga dan panitia harus menyesuaikan. Kan ga mungkin tema resepsinya maroon gold terus mendadak keluar warna hijau sebagai among tamu. Mudahnya begitu...

Prosesnya? INI BIKIN MIGREN MAMAAAKKKKK..
Untuk adat aku yang hampir 90% panitia mengenakan kebaya, milih kain kebaya itu ribet kali mamaaaakkkk... Pertama kita harus menentukan warna, lalu bahan, lalu warna furing (daleman). semua kita yang tentuin dan padu padanin. Bayangin ada berapa warna yang harus dipadu padan dengan acuan tema resepsi yang sudah kita persiapkan di awal tadi. Sakit kepala deh.

Harga juga masuk ke perhitungan, biasanya kebaya orang tua kita akan memilih kain yang paling bagus serta premium, karena mereka kan berdiri di pelaminan, selebihnya (ini sih kami ya..) ambil harga menengah. Itupun juga harus dihitung, misal masa kain yang dikasih ke Om Tante yang sudah sepuh bahannya sama dengan yang dikasih ke anak muda penerima tamu. Ribet kan? Iya. -_-

Aku ga terlalu inget jenis bahannya, yang aku inget orang tua kami memakai bahan kebaya Paris. Bahannya super lembut. Aku ga bisa bedain jenis kain, cuma tau warnanya bagus, udah gitu aja. Makanya seluruh proses ku serahkan ke pihak keluarga, terutama ke keluarga Aa, karena ibu ayahku sudah sepuh sekali dan mustahil bagi mereka menangani ini semua. :)


2. Siapa aja yang dikasih kain
Penentuan siapa-siapa aja yang dikasih kain juga salah satu yang bikin migrain, walau ga semigren nentuin warna sih. Problem yang akan dihadapi adalah seputar "Tunggu, kalau si ini dikasih, si itu juga harus dikasih...." gitu terus ampe 1000 orang. *becanda*.. cuma serius, penentuan siapa aja yang dikasih itu menguras tenaga. Udah di-list, eh masih ada yang lupa. Ya gitulah, manusia kan tempatnya khilaf.

Kalau aku, list yang dikasih adalah..
1. Orang tua (termasuk orang tua Aa jelas ya..)
2. Keluarga inti
3. Om tante
4. Sepupu
5. Penerima tamu
6. Pager Ayu
7. Among Tamu
8. (oke ini mungkin ga umum, tapi jajaran direksi yang wanita tempat Papaps kerja waktu itu menyalonkan diri jadi yang berdiri di menuju pelaminan, jadi ada kain yang disiapkan untuk ibu-ibu tsb)
9. Bridesmaid (sahabat-sahabatku dan Aa)


Setelah beres itu semua, baru bagian pendistribusian. Karena kami adalah keluarga Jawa yang menjunjung tinggi tata krama, pemberian kain juga melalui "temu langsung", jadi pihak yang diberikan kain kami temui satu-satu, sembari ngobrol-ngobrol bentar. Bagian ini repot, tapi menyenangkan.


Fiuh, selesai.

Okelah, ini hasilnya. JENGJENG..

Orang tua :) , btw Momi jahit sendiri lho bajunya. hahahahha. Kalau Ibuku jahit di duh lupa.. Pokoknya tukang jahit ibu yang biasa nanganin Istri presiden. halah gaya banget si Ibu, karena kebetulan beliau adalah teman pengajian Ibu. Hehehe. The Power Of Temen Pengajian.

Ini keluarga inti aku. Yang kecil-kecil itu ponakan-ponakanku. :)

Gabungan 2 keluarga besar.

Hadinoto. Kenapa Mbak Joja pake baju merah? Karena Mba Joja harus stunning. Joja masih gadis, jadi harus terlihat diantara para tamu. :D
Ini jajaran direksi perempuan. Diambil warna merah tua karena simbol mereka sudah berumur. Intinya gitu deh.


PENERIMA TAMUUUU.. pada kenal ga ini siapa aja? :D aku ambil warna pink muda karena mereka ada di lini paling depan dan harus terlihat kalem tapi tetap cantik, dari segi umur juga masih cocok pake pink.

ihiiww

Ini Om dan Tante dari pihak Papaps. Warnanya cenderung merah marun, tapi tidak semerah tua jajaran direksi kan? Ribet kan? KANNNN?

Ini keluarga besar Dwijosoesastro (keluarga Momi), yang sepupu warnanya pink muda, lebih muda dari penerima tamu. Om dan tante ya merah.

Mom, ngapain? --"

Ini keluarga besar Ayahku. Keliatan kan perbedaan warnanya?

keluarga besar

NAH, ini keluarga intiku. :") Waktu foto pertama, ponakan buleku yang emang tinggal di luar negeri masih jet lag, jadi tidur. Sekarang ikut foto :D


Ini pagar ayu dan pagar bagus, diambil dari karyawan muda kantor Papaps. :D cakep cakep ya? Mereka semua single lho. hahaha.

Pager ayu dan pager bagus

temen 1 internship Aa, dikasih kain warna merah. :)
BRIDESMAID! teman-teman kesayanganku.. Sahabat-sahabatku :"D


Kurang lebih gitulah urusan kain.
Ribet, ribet banget. Aa kalau aku ingetin tentang proses nyari kain, mukanya langsung ngerutttt... Asli, dia ga mau banget diingetin masalah nyari kain. Masalahnya banyak banget. Hahahahahha. Kalau diinget sekarang sih bisa sambil ketawa, tapi pas jalaninnya? Makasih lhooo.. Bahkan makan aja ga selera. HAHAHHAHAHAHAH..

PS:
Masih ada  Mbak Joja dan Bang Ray belom nikah,
jadi nyari kain tadi, bukan yang terakhir.
Semangat.
:)))))))))

Kamis, 16 Januari 2014

Bahagianya memiliki rumah..

Waktu berlalu seperti berlari jarak pendek, cepat tapi tak tergesa. Mungkin seperti itulah ketika saya mendeskripsikan laju hari yang saya lalui 6 bulan terakhir ini.

Yap, terhitung kurang lebih 6 bulan sudah saya tidak lagi tidur sendirian, ditemani beruang ukuran jumbo yang hangat nafasnya bisa saya rasakan di tengkuk atau belakang telinga saya karena posisi kepalanya yang memilih berada 1 bantal dengan saya..

"Liat aja nanti abis nikah, sengsara.." begitu mengenai omongan miring orang ketika saya memutuskan mengakhiri masa lajang saya di waktu yang kembali menurut mereka, terlalu cepat. Tapi siapalah saya bisa membabat habis kalimat tersebut, karena berapalah umur perkawinan saya dibandingkan ibu dan ayah saya yang baru saja merayakan ulang tahun pernikahan mereka ke 44… (  yap, mereka tetap berbahagia)

Saya bukan ingin membantah pernyataan tersebut, hanya ingin sedikit berbagi mengenai pernikahan yang kata orang berat.


Disini, dengan penuh sadar saya bisa berkata dengan lantang pun bangga, hingga hari ini saya sangat berbahagia dengan keadaan yang ajaib ini.

Banyak orang berkata miring mengenai kebahagiaan orang, tanpa mereka mampu berpikir bahwa seandainya mereka ada di posisi orang yang berbahagia tersebut bisa saja mereka terjun dari Monas saking bahagianya, atau tertawa tanpa henti seperti pasien bangsal jiwa atau membuka botol wine hingga puluhan dalam sehari saking mereka tak ingin melewatkan semenitpun tanpa perayaan. Mungkin, seperti itulah yang saya rasakan hari ini.

Tapi dalam diam saya sering sekali berkontemplasi mengapa saya bisa merasa sehangat ini dan apakah yang bertambah dalam hidup saya…

ah, ternyata itu "rumah".. :)

Jika merunut hari demi hari, ada masanya kepala mau copot atau hati ingin meledak menghadapi masalah di luar. Tapi ternyata proses pendewasaan memang nyata adanya, masalah berat saya yang dialami mendadak menjadi ringan ketika saya tau, di rumah saya baik-baik saja. Hingga saat ini, rumah tempat saya yang paling nyaman, disitu saya merasa bebas, tenang. Ketika masalah mulai menghujani hari dan air mata mulai jatuh ke pipi, yang saya inginkan hanya pulang ke rumah, lalu mendadak semua baik-baik saja..

Pernikahan tidak membuat masalah menjadi ringan apalagi menghilang, tapi pernikahan menawarkan rumah baru, tempat kita bisa pulang dan melepaskan jengah hari, kemudian seketika merasa semua baik-baik saja.

Pernikahan ternyata tidak menyediakan kebahagiaan tanpa batas, tapi pernikahan memberikan kita ketenangan luar biasa.. Ya ketenganan bernama "rumah"… Baik itu sebuah bangunan, atau hanya lingkar kedua lengan atau hanya sebuah sapaan ringan di messenger. Apapun jenis rumahnya, tapi perasaan pulang itu tetap hangat. Perasaan yang tidak pernah saya rasakan, sehura-hura hore apapun masa muda saya. Perasaan nyaman seperti dekap ibu, perasaan aman karena kamu tau…



kamu selalu punya alasan untuk pulang,
karena kepulanganmu selalu ditunggu,

karena selalu ada orang yang merindukan hadirmu,
karena selalu ada orang yang mencintai tawamu….


Selamat tahun baru 2014,
terima kasih 2013! tahunmu luar biasa!



euforia tongsis, iya.. dia selalu tidur 1 bantal dengan saya :)))
6 bulan… :)

Rabu, 04 Desember 2013

Museum Tengah Kebun

Kemarin, Rabu (4 Desember 2013) aku dan Tim Moco dapet kesempatan untuk datengin salah satu museum swasta, tepatnya di daerah Kemang Timur. Nama museumnya Museum Di Tengah Kebun. 


Kenapa dinamain kaya gitu? Sebenernya museum ini adalah kediaman pribadi Bapak Djalil, beliau adalah seorang pengusaha periklanan yang memakai uangnya untuk beli benda-benda bersejarah dari seluruh dunia untuk dijadikan "hiasan" di rumahnya. Semua koleksi di museum ini adalah koleksi pribadi beliau, dibeli dari lelang maupun penukaran dengan nominal atau barang tertentu.

Satu hal sih yang saya sayangin, kemarin #XperiaZ1 kesayangan ketinggalan.. *ngeruntel sedih*, jadinya kemarin cuma foot pake kamera handphone seada-adanya, yaaa yang penting ada dokumentasianya deh. Mending kalau cuma seadanya, udah seadanya, rusak pula handphonenya... Ya nasip.... #Lah #MalahCurhat

Oke, balik ke Museum Tengah Kebun..

Museum Tengah Kebun ini berdiri di atas lahan 4200 m2, dengan luas kebun yang mencapai 3500 meter persegi, ga heran dong kenapa Museum ini dinamain Museum Tengah Kebun, ya karena letak rumahnya memang benar-benar di tengah kebun.

Museum ini menyimpan puluhan ribu koleksinya, dari mulai jaman pra sejarah, arca-arca tua, lukisan-lukisan, keris, guci, benda kubur dan lain sebagainya...

Yuklah, lihat-lihat hasil jepretan aku kemarin yang pake kamera seada-adanya ini. -__-


HARUS ADA SELFIE SEMACAM INI! HARUS ADA! DIAM KALIAN JANGAN BANYAK PEROTESS.. (,--)


Buddha Sakyamuni, Arca dari abad ke 2

 Apa bedanya arca dengan patung biasa? Arca merupakan patung yang dulunya sembah di sembah. Kalau patung ya hanya sekedar patung, untuk hiasan atau simbol tertentu.

Wayang Golek. Wayang ini dibikin dari kayu cendana, kayunya kuat banget, wayangnya pun berat. Batik dari wayangnya udah lapuk termakan usia. karena wayang ini udah seabad lebih umurnya, tapi kayunya masih sangat kuat.

wayang golek yang kokoh


ini suasana ruang makan Bapak Djalil
Alat makan Bapak Djalil, iya posisinya harus TEPAT SAMA seperti itu. Jarak mangkok ke mangkok harus 1 jari, piring dan garpu harus 3. Jarak sendok ke garpu juga tidak boleh berubah.


ini miniatur perak dari Belanda, miniatur perak pertama produksi mereka. Dari mulai yang lumayan besar sampe ada yang seukuran ruas jari. Miniatur kura-kura.
Pahatan orang di abad ke 1 sebelum masehi nih. Pahatan Babi. Yaaaa kekurusan sih babinya. Hehe.


topeng mumi dari abad ke 2 sebelum masehi. Ternyata bener lho kaya di film-film. Hehehe.

Ini amphora atau pembawa air. Bentuknya yang pipih memudahkan untuk dipeluk saat bawa air.

CAESAR! Ini replika muka beliau. Tapi pahatannya bukan replika, asli dari Italia abad ke 19

Napoleon kalau masih hidup, cakep kali ya?

Kardinal Amerika Latin.. 
 Nuansa gereja katolik adalah salah satu favoritnya Bapak Djalil. Menurut beliau, arsitektur katolik itu salah satu yang termegah dan terunik. Ah sepakat, Pak! :D


Sebelum lanjut, aku mau cerita dulu tentang benda kubur, jika pada label tertulis benda kubur, artinya adalah benda tersebut didapatkan dari dalam kubur. Alias untuk menemani jenazah di dalam kubur. Harapannya selain ada yang menemani jenazah, fungsi benda kubur adalah untuk menghibur, melindungi dan lain sebagainya. Unik..

Ini benda kubur dair Indonesia. Dari Sumbawa. Masih jadi pertanyaan hingga hari ini mengapa di Sumbawa ada benda kubur dan untuk apa dibuat benda kubur ini. Yang jelas, benda kubur ini terbuat dari tanah liat yang kuat kokoh dan keras. Baju yang dipakai juga terbuat dari bahan yang sama dengan kain kafan yang dipakai jenazah


ini juga benda kubur. Badut. Dari jaman dinasti Cina, untuk menemani si anak yang meninggal. Untuk menghiburnya dari dalam kubur.

Keris bertatah emas. Konon sih ada "isi"nya. Yaaa namanya juga keris Jawa ya.. 
Oya, sekalian info tentang keris deh, ini sih ga didapetin dari trip kemarin. Cuma berbagi pengetahuan aja.. Keris itu terbagi 2, ada keris laki-laki dan keris perempuan. Keris perempuan (di Jawa) namanya cundrik. Nah apa bedanya? Keris laki-laki ya seperti pada foto diatas ini sih. Berliku, berkelok. Fungsi keloknya itu untuk memperparah kerusakan jaringan dalam tubuh. Dahulu, keris merupakan alat perlindungan diri, sebagai alat perang. Cara nusukin keris ke tubuh lawan adalah menusukkannya menghadap ke atas lalu diputar. Nah, ulir dari keris itu memperparah luka. Biasanya di keris juga ditempelin racun dedaunan gitu supaya makin cepet matinya si lawan itu. Nah keris wanita cenderung lurus, ga berliku. Biasanya hanya sebagai alat perlawanan diri.

Sesuai kelaminnya, yang "nunggu" keris itu juga biasanya sesuai dengan kelamin kerisnya. Jaman sekarang sih keris udah banyak yang "kosong", jadi keris sudah sebagai benda pusaka saja dibandingkan sebuah benda keramat.

Keris juga "memilih" pemiliknya, jadi ga semua orang bisa diberikan keris, kalau si keris merasa pemiliknya ga cocok, konon suasanya rumah akan jadi "panas", banyak terjadi keributan dan hal-hal aneh. Selain karena ketidakcocokan pemilik, ketidaknyamanan di rumah juga bisa terjadi karena keris yang 'berantem'. Ada jenis keris yang tidak bisa dicampur dalam 1 rumah bersama keris lainnya, jadi keris tersebut bersitegang yang efeknya menimbulkan ketidakhangatan di rumah, hehe.


Oya semua hal mistis itu kembali ke diri kalian sih, mau percaya atau tidak. Aku hanya menyampaikan informasi saja. Hehe.

Oke, lanjut ke Museum Di Tengah Kebun

Patung Buddha juga banyak banget di museum. Salah satunya ini yang letaknya di ruang tidur utama Bapak Djalil.



10 Orang suci. Yaaaaaa katanya sih, urutan orang-orang ini bisa pindah tempat sesuka mereka ya. hapalin aja urutan foto ini dan kalau kamu kesana dicocokin deh. hehe

keris Jawa.

Ini lukisan Picasso ASLI... Dan objek di foto itu yaa... Picasso itu sendiri. KEREN BANGET GA SIH??

ini kamar mandi Bapak Djalil. Luasnya 130 meter persegi sendiri lho. Hayaaahh. KAMAR MANDIII SELUAS ITU.. Oya, kamar mandi ini "dijaga", sama makhluk besar. hehehehehe.


harus ada selfie di kamar mandi

lemari baju Pak Djalil, harus disusun berdasarkan warna.

sketch Pak Djalil. Di belakang kloset.

Nah ini.... Hehehehe. "rumah" si penjaga kamar mandi, hehehehehe.

Ini EPIC ga sih? hahahahaahahha. Ketempel rapii di kamar mandinya. :D
 Mari beralih ke wilayah kebun...~~

Ini kolam renang beliau. Enak banget ya? huhu

Ini wilayah "perempuan", bidadari pada mandi dan duduk-duduk. Yaa artiin sendiri aja perempuan itu apa. Selain wilayah perempuan, wilayah ini juga wilayah keperempuan-keperempuanan.

Akkk ini kebonnya :"D
Ya Pak Djalil ini orangnya nyentrik ya, itu yang kegantung potongan majalah. Ntahlah buat apa. Kalau majalahnya udah usang, yaa diganti majalah baru., He

Ini peninggalan candi. Diselamatkan sama pak Djalil, karena sama orang sekitar pecahan candi malah dijadiin tanah merah. -_-

antefik candi yang tadi aku ceritain.

LINGGA! Bahkan di Museum Nasional aja ga ada lho.
 Lingga adalah sebuah arca atau patung yang merupakan objek pemujaan atau sembahyang umat Hindu. Kata lingga ini biasanya singkatan dari Siwalingga dan merupakan objek tegak, tinggi yang melambangkan falus (penis) atau kemaluan batara Siwa. Objek ini merupakan lambang kesuburan.


Arca Durga
Btari Durga adalah seorang dewa perempuan, permaisuri Btara Guru. Btari Durga bertakhta di setragandamayit yang berarti tempat pengasingan berbau mayat.  Ia diberi kekuasaan untuk menganugerahkan segala prilaku jahat kepada yang memuja padanya. Itu kalau berbicara dari sisi wayang, kalau dari sisi Agama Hindu, Btari Durga adalah istri dari Dewa Siwa dan ibu dari Dewa Ganesha.

Ini gelas dan alkohol asli yang diminum oleh Napoleon. Iya asli. Bau tape. 

Di rumah ini banyak lambang keagamaan ditaro berdekatan. Indah ya? :D

Tempat Abu Jenazah

Cincin Pelacur

Binatang Kubur

ini benda kubur juga. Konon sih penunggunya "kuat" hehehe.

kerajinan marmer putih 

Kerajinan Marmer putih dari abad 19. Kalau malam bercahaya. Yaa simply karena warnanya putih. he



Hmm, bend aini sih konon selalu minta kepala ya. Hehe. Makanya harus sering ditenang-tenangin supaya adem.

Pengawal Kubur

altar peralatan kubur

aku ga tau fungsi benda ini apa. Yang jelas sih.. serem. hehehehhe
tempat pencucian keris. 

karya seni ini udah berabad-abad, ini dipajang di dekat dapur kotor dan konon pengisi karya seni ini adalah penunggu dapur. Dan konon pula katanya, kalau kelamaan liat ini yang ga kuat bisa muntah-muntah. hehehe


Gambaran Kaisar Wilhelm, yang gambar canggih ya? Jadi mau kamu berada dari sudut manapun, mata beliau selalu ngikutin. Hehehhehe.

Alat kedokteran abad 19. cantik ya? banyak ukirannya.



Ganesha
Patung Ganesha menjadi inti dari Museum Tengah Kebun ini, terletak tepat di jantung kebon merupakan patung Ganesha terbesar di dunia. Ini diambil dari bawah tanah dari suatu desa. Untuk bisa mendapatkannya, Pak Djalil nego dengan lurah-lurah setempat diganti dengan sekolah, beberapa bangunan, mobil dan sejumlah uang. Hehe. Tapi kembali lagi, ini kan warisan sejarah. Dan dirawat dengan baik di Museum ini.

Harga semua koleksi di Museum Tengah Kebun luar biasa mahalnya, mungkin sendok peninggalan sejarah aja ada yang dihargai 6.000 poundsterling. Itu bid termurahnya. Hehe.


Tempat "perempuan" dan "keperempuan-keperempuanan" berkumpul.

Blencong. Sesuai namanya, "isi" dari blencong ini ya penunggu dengan jenis kelamin keperempuan-keperempuanan

LINGGAYONI. Ini perlambang kesuburan. Biasa disembah kalau mau meminta keturunan. Linggayoni ini utuh lho, dan bahkan hal seperti ini susah sekali ditemui di belahan dunia manapun.

Narcissus
tau sejarah kata "narsis" kan? nah diambil dari dewa ini. Oleh ibunya, Narcissus dilarang untuk berkaca (saat itu media berkaca adalah pantulan air), tapi Narcissus malah mengindahkannya, setelah berkaca, Narcissus malah mencintai dirinya sendiri.

Hermes

Nike

Sekian perjalanan saya ke Museum di Tengah Kebun ini,
untuk informasi lebih lanjut bisa langsung telfon ke :
Kontak: +62-21-7196907

Oya, untuk bisa masuk museum ini harus buat perjanjian dulu, ga bisa langsung dateng gitu aja. Minimal rombongan 7 orang dan maksimal 10.

Selamat berkeliling di Museum Tengah Kebun.
Salah satu museum terbaik di jantung kota Jakarta. :")


Akupun masih ga percaya lho tempat sekeren itu ada di Jakarta..... :D