Selasa, 19 Mei 2015

Untuk... Kamu.

Di tanggal yang sama beberapa tahun lalu, kamu hanya seseorang di luar lingkaranku. Tak tau siapa, tak tau di mana. Bahkan aku tidak tau bahwa hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, tinggallah seorang kamu.

Kamu tak lebih hanyalah seorang orang asing, tak saling mengenal, walau pernah sekali bertemu di masa puber. Setelah pertemuan pertama itu, semua berjalan tanpa ada kamu. Tak pernah sedetikpun kamu hadir di kepalaku, meminta dikenang, meminta untuk dicari untuk kemudian ditemukan sebagai tambatan.

Mungkin, aku juga tak yakin, kita pernah beberapa kali berdampingan di perjalanan menuju tempat aktivitas. Jarak rumah kita yang dekat seharusnya bisa berbicara banyak dan membuat skenario pertemuan. Nyatanya, hal tersebut tak pernah sekalipun terjadi. Kita melalui jalan yang sama, tinggal berdekatan, membeli jajanan di toserba yang sama, menyukai capcay di restoran dekat rumah yang sama tapi tak pernah sekalipun bertemu.

Lalu kamu, juga aku, mulai mengenal cinta. Kamu berjuang mati-matian mempertahankan seorang perempuan berparas ayu berkulit coklat. Akupun demikian, aku menikmati hari bersama seseorang yang memiliki mata seteduh senja, seorang yang hampir merajah namaku di lengannya, untung ku cegah. Tetap, kita tetap tidak saling mengenal. Hingga air mata itu turun, hati itu patah. Kita berdua nyaris merasakan patah hati di waktu yang sama. Menyapu sedih di tempat yang berbeda.

Hari berlalu,
Lagi-lagi, hidup menunjukkan rasa humornya. Kamu ditempatkan di rumah sakit tempatku menimba ilmu, berbulan-bulan kita berada di 1 gedung setiap hari, tapi kita tidak pernah bertemu. Mungkin pernah, tapi aku tak sadar kamu ada. Berbulan-bulan kamu wara wiri di lantai yang sering sekali ku injak di perjalanan menuju ruang poli. Berbulan-bulan kamu membeli kopi di tempat yang sama dengaku membeli air mineral. Ya, kita tak pernah bertemu.

Hingga hari itu... Kamu akhirnya ditugaskan di ruang poli, tempat di mana aku juga ditempatkan. Bertukar nama, lalu selesai begitu saja. Tanpa rasa, tanpa ada yang tersisa.

Lalu hari itu tiba juga, hari di mana kamu mulai memberanikan diri menyapaku secara spontan dalam suasana cair. Saat itu, aku terkejut, karena kamu mengingat pertemuan pertama kita saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Lebih terkejut lagi, mengetahui bahwa kita bertempat tinggal di lingkungan yang sama.

Sejak pertemuan itu, kamu selalu berada di sini. Jika lingkar lenganmu terlalu jauh untuk ku gapai, keberadaanmu lekat dalam hati. Kamu tak pernah pergi sejak hari itu, berjanji untuk selalu menemani. Sejak hari itu, aku menjadi bagian dari hidup kamu, seorang yang kamu perkenalkan sebagai yang diberikan kehormatan menyandang nama belakangmu. Perempuan yang dengan tegas kamu sebut Ibu dari anakmu.

Semenjak ada kamu, rasanya cinta yang membuatku patah hati sejadi-jadinya menjadi tak bermakna, tak lebih dari sekedar rasa belajar mencinta. Hadirnya kamu cukup membuatku blingsatan kesetanan karena bahagia merasakan indahnya dimiliki. Kamu membuat patah hati yang hancur berkeping menjadi nyaris tersambung seperti sutura ahli bedah plastik. Berbekas, tapi tidak mengganggu.

Kamu, adalah seorang yang membuat keasingan menjadi kehangatan. Orang yang sama sekali asing tapi memberikan kenyamanan seperti sudah mengenal puluhan tahun, seperti mempunyai rumah dalam bentuk raga.

Untuk kamu, aku berani berjanji untuk mendampingi, untuk tidak terlalu jauh dari gapaian jiwamu. Untuk kamu, aku yang keras kepala ini berani menurunkan ego, berani untuk melambatkan laju hidup dan berani melintasi batas kewarasanku sendiri,

menjadi ibu di usia muda.

Untuk kamu,
aku sayang kamu.


Selasa, 28 April 2015

Pasti Ada yang Berubah

Beberapa hari lalu, mulut saya tersenyum lebar, terkekeh sebentar. Bukan hanya karena ulah Kak Kiko yang semakin menggemaskan tapi saat itu saya sedang mengingat-ingat oleh kelakuan saya dan bapaknya anak saya sebelum Kak Kiko hadir menghiasi hari kami.


"Aa, aku pusing. Abis ujian penyakit dalam.."
Keluhku di waktu lepas senja itu, sepulang ujian penyakit dalam. Saat itu kami masih berstatus pacaran, mungkin baru 2 bulan pacaran.
"Yaudah, istirahat.." jawabnya.
"Aku mau ke Cimory...!"
"Semalam ini?"
"Iya.. ayo.." rengekku
"Ya ayo."

Berangkatlah kami ke Cimory, ternyata kami berangkat terlalu malam. Sampai Puncak, Cimory yang kami incar sudah tutup. Tak kehabisan akal, kami berangkat menuju Bukit Bintang Puncak Pass. Bercengkrama hingga larut menjemput malam.

..

"Bandung yuk?" ujarku spontan pada Aa, lagi-lagi kala itu kami masih pacaran.
"ya ayooo..."

Berangkatlah kami ke Bandung, ngopi di Dago Pakar lalu kemudian pulang kembali.

..

dan banyak lagi bepergian spontan yang kami lakukan. Semua terjadi langsung, tanpa rencana. Kami menikmati kebersamaan kami bahkan hingga tangan Aa menjabat erat tangan saya di meja pelaminan.

6 bulan pertama pernikahan, kehidupan kami juga masih dipenuhi hal spontan. Bosan, lalu mencari makan malam. Bosan, lalu berangkat mendadak ke mall.

Hal yang hari ini tak dapat lagi kami lakukan...


..


Semenjak kehadiran malaikat kecil kami di dunia, hidup kami berubah. Kami tak bisa lagi menjadi pasangan yang memutuskan rencana di detik terakhir dan mengeksekusinya saat itu juga. Kami berubah menjadi 2 orang tua muda dengan rencana detaill untuk pergi yang tak jarang pula rencana itu hancur begitu saja.

Dulu, kami hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk siap-siap ketika akan keluar rumah. Hari ini, kami butuh waktu lebih dari 1 jam dengan porsi waktu paling banyak adalah menyiapkan Kak Kiko dan menyusuinya lebih dulu. Itu belom terhitung drama ketika akan pergi, mendadak Kak Kiko gumoh atau pup atau tertidur. Mundur lagi deh.....

Dulu, kami bisa bebas berkeliling pusat perbelanjaan. Melihat-lihat, memilih-milih. Hari ini hal tersebut susah sekali dilakukan. Sejam sekali, Kak Kiko sudah uget-uget minta minum. Kami harus mencari nursery room, atau mencari tempat makan agar bisa duduk dan menyusui dengan tenang. Itupun belum termasuk kejadian apabila Kak Kiko mendadak cranky dan kami dengan berat hati memutuskan untuk pulang.
harus menyusui di tengah kegiatan berbelanja

Kakak baru bangun tidur. Di Goods Cafe











Kami sadar, konsekuensi menjadi orang tua memang seperti ini. Waktu kami terpenjara oleh hadinya malaikat kecil kami. Tapi terpenjaranya waktu karena hal itu mungkin adalah kondisi terindah selama hampir 3 tahun kebersamaan kami.

Mempunyai anak bukan hanya sekedar mengasuh, tapi tentang melambatkan laju beberapa hal. Mengenai rencana traveling, mengenai prioritas pribadi dan mengenai pemilihan waktu tepat melanjutkan studi bagi saya.

..

Bagaimanapun, hidup adalah tentang perubahan. Tentang bagaimana manusia beradaptasi dan menerima bahwa hal yang nyaman akan tergantikan,  berganti menjadi sesuatu yang lebih sulit. Tapi bila dimaknai lebih dalam, perubahan yang terjadi adalah kado dari semesta. Bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk berkembang menjadi manusia yang lebih bermanfaat, menjadi insan yang lebih dewasa.

Saya tak pernah iri pada mereka yang bisa duduk semeja di atas jam 12 malam, di sebuah bar yang ramai. Karena saya tau, apa yang saya miliki sekarang jauh lebih berharga, dan inilah yang saya mau dan saya pernah pinta dengan tangisan.

Perubahan ini nyata, tapi puji syukurkan pada Tuhan karena diberikan kesempatan untuk menjadi seorang.. Ibu.

Selasa, 14 April 2015

Trend (ngobrol) Batu Akik

Trend batu akik yang beberapa bulan ini mewabah sempat membuat saya super jengah. Bayangkan ada benda berukuran jumbo nangkring di jari-jari, kadang bukan hanya 1, tapi saya pernah melihat seseorang mengenakan cincin batu akik hingga di 10 jarinya.

Tuhan..

Tweet demi tweet saya post menyalurkan kejengahan saya, membandingkan harga batu akik yang bisa seharga ratusan juta dengan jam tangan Panerai atau Rolex. Atau mencoba mencari di mana letak menariknya batu-batu yang katanya tembus jika disenter.


Kejengahan tersebut berlangsung hingga cuti saya selesai dan saya harus kembali masuk ke tempat kerja saya di puskesmas. Di mana mayoritas pria di sana mengenakan cincin batu akik. Awalnya kelelahan saya melihat batu akik saya salurkan di tweet atau obrolan ringan dengan teman, tapi lama kelamaan ada satu hal yang membuat saya terperangah kagum..


Bukan, bukan kecantikan batu apalagi cincinnya.
(Iya saya masih susah melihat di mana letak bagusnya cincin besar batu akik)

Tapi....
obrolan hangat mengenai batu akik.

Jadi beberapa kali ketika saya sedang sarapan di warung sederhana belakang rumah sakit, ada petugas puskesmas yang berkumpul sembari mengebul tembakau. Setiap obrolan yang tercuri oleh saya, hampir selalu mengenai batu akik. Kadang, datang orang baru, ntah pasien, ntah pejabat pemda, siapapun yang mengenakan batu akik; lalu obrolan kembali mengalir. Hangat. Bersahabat.

"Main batu juga, Pak?"
"Batu apa, Pak?"

obrolan yang diawali oleh rasa ingin tau tanpa menilai apakah batu itu bernilai jutaan rupiah atau tidak. Obrolan yang seringnya diakhiri dengan
"Kopi, Pak?"

pernah suatu kali, saya ke tempat kerja diantar oleh supir Bapak, supir Bapak ini juga mengenakan cincin batu akik di jarinya. Ketika membayar tol dan didapati petugas tol mengenakan cincin akik, supir Bapak menyapa dengan
"Batu juga Pak? Bacan?"
Petugas tol yang tadinya bermuka masam ngantuk, langsung tersenyum ramah dan menjawab
"Iya Pak, bacan.. Hati-hati, Pak!"

Singkat. Padat. Bersahabat. Hangat.


...


trend batu akik mungkin tidak merambah di teman semeja saya, di pergaulan untuk menghabiskan segelas wine di bar. Trend batu akik mungkin tidak menjamah mereka yang mengeluarkan uang 100 ribu sehari untuk kopi di Coffee Bean. Untuk mereka yang berganti Macbook setiap keluar. Atau untuk mereka yang menghiasi pergelangan tangan dengan Panerai.

Tapi kehangatan ngobrol antar penyuka batu akik justru yang mahal, yang bahkan lebih mahal dari Patek Phillipe, yang lebih berharga dari Richard Mille.

..

Pada akhirnya saya melihat trend batu akik sebagai simbol khas ngariung Indonesia, keramahtamahan dan kultur ngobrol ala orang Melayu. Sebuah budaya yang justru sudah lama menghilang tergantikan oleh sibuknya individualisme masyarakat perkotaan.




Ah, ternyata melihat hanya dari 1 sudut pandang tak lekas membuat tajam. Banyak hal menarik bila kita sedikit mau membuka pandangan dan melihat sesuatu dari sudut lain.
:)

Selamat menyenter batu!

Kamis, 02 April 2015

Dia yang Begitu Mengerti

Tidak banyak orang yang mampu bertahan bertahun-tahun dengan perempuan itu, dengan segala keribetan juga keanehannya. Tak sedikit pula yang berusaha mendekatinya lalu kabur tanpa basa basi, ada juga yang langsung tak mau ketika dikenalkan oleh sahabatnya sendiri.

Perempuan itu saya.

Mantan pacar saya tidak banyak, hanya 1 yang menyentuh tahunan, sisanya tak lebih dari 6 bulan. Hampir semua bubar jalan karena tidak mendapat kecocokan, sisanya karena saya tak bisa memegang janji untuk setia. Sebutlah begitu.

Saya bukan perempuan yang memiliki ciri khas, saya cenderung biasa saja, hanya mood saya sering berubah. Saya bisa berminggu-minggu tidak keluar rumah tapi di lain waktu bisa setiap hari ingin mencari hiburan di luar. Saya bisa sangat menyenangi sesuatu hingga larut di dalamnya, lalu ku tinggalkan dengan alasan bosan. Hanya satu yang bisa membuat saya tenggelam tanpa terbenam, menulis. Saya menulis apa saja, di mana saja. Di kertas, di komputer, di tisu, di kaca mobil. Pagi, siang, malam, shubuh. Ketika bosan, ketika senang, ketika marah, ketika sedih. Di buku tulis, di twitter, di blog, di path.

Ketika teman-teman kampus saya sibuk memperjuangkan nama almamater dan belajar mendapat nilai terbaik, saya malah memilih untuk sibuk menjadi volunteer di acara musik, menjadi kontributor di majalah lifestyle. Teman saya memang banyak, tapi sahabat saya tidak. Selama hidup saya hanya memiliki kurang dari 10 orang teman yang saya anggap sebagai sahabat sejati, sisanya adalah teman dekat atau teman, bahkan hanya sekedar kenalan. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan sesuatu.

Hingga suatu hari datanglah dirinya,
seorang yang menjabat tangan saya di ruang poli penyakit dalam, seorang yang hari ini menjadi bapak dari anak laki-laki saya,
mungkin di antara banyak orang di lingkungan saya berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya.
Atau mungkin, ada juga yang bertanya, mengapa saya berkata ya pada ajakannya berjuang bersama hingga mati.

Ini jawaban saya.
Dia adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah seorang dokter, tapi saya sama sekali tidak memiliki keinginan kerja di ruang gawat darurat. Saya tidak suka suasana IGD, di sana semua orang bermuka panik, banyak yang memuka memohon untuk diselamatkan nyawa anggota keluarganya, tidak sedikit yang marah-marah karena prosedural rumah sakit. Intinya, saya tidak suka bekerja di ruangan itu. Dia mengerti, dia bilang, menjadi dokter itu panggilan begitupun dengan dokter yang kerja di IGD, itupun panggilan. Dokter yang tidak mau kerja di IGD bukan berarti ia tak mau menyelamatkan nyawa orang, tapi mereka bekerja untuk kesehatan dari sisi lain.
Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu, hanya ia yang mengerti mau saya.

Dia tidak pernah protes mengenai hobi menulis saya. Ia menganggap ratusan ribu tweet yang sudah tertulis adalah limbah hobi saya. Bukan untuk mencari perhatian atau sebagai budak internet. Ia mengerti dan sadar hidupnya harus sedikit banyak terkespos karena saya senang menulis tentang dirinya di blog ini. Ia selalu bertanya kapan saya akan menulis novel baru, membantu saya membuat riset, mencarikan nama untuk tokoh dalam tulisan saya. Untuk pertama kalinya saya merasa hebat hanya karena kemampuan saya menulis. Seumur hidup saya menganggap diri saya bodoh karena lemah di akademis ilmu pasti, saya tidak pandai matematika, saya tidak bisa fisika. Dua puluh tahun lebih saya berada dalam pikiran bahwa saya tidak pintar, hingga ia datang dan menyadarkan bahwa manusia memiliki keperkasaannya masing-masing, dan cara saya merangkai aksara adalah kemampuan yang bisa disandingkan dengan kemampuan dirinya mengerjakan soal olimpiade fisika.  Ia bukan sekedar menjadi pengikut, tapi ia berusaha menikmati apa yang saya senangi. Ia temani saya menulis, ia ajari saya menggambar. Ia berusaha cari tau apa novel yang saya suka, ia membaca hasil karya saya.

Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali pergi dari bar ke bar, lalu seketika saya bosan dan hanya ingin di rumah saja berminggu-minggu. Ada kalanya saya mau terus ke mall untuk mencari hiburan, lalu beberapa hari kemudian saya malas sekali ke mall dan hanya ingin duduk di kedai kopi sepi menikmati sunyi. Keberadaannya membuat saya menikmati setiap waktu, walau kadang saya juga harus mengalah untuk mengantarkannya ke bengkel atau mengisi waktu di kedai kopi sunyi ketika saya ingin ke mall yang ramai. Ia menyeimbangkan saya dengan mengikuti ritme hidup saya.

Dia tak pernah menganggap saya lemah walau saya tidak bisa membaca peta. Dengan sabar ia mengetik petunjuk belokan demi belokan. Saya beritau sesuatu, dia adalah orang, selain kakak kandung saya yang bisa menjelaskan saya tentang jalan. Kemampuan ruang yang lemah tak pernah ia masalahkan, sabarnya memberi penjelasan membuat saya merasa diterima kekurangannya. Perempuan tak bisa membaca peta? Itu saya. Dan ia mengerti bahwa saya tidak bisa membaca peta, maka ia bantu saya dengan urutan belok yang detail. Ia menyempurnakan saya.

Dia tidak terganggu dengan penampilan saya. Ia tidak pernah protes tentang sepatu boots saya, atau celana jeans sobek, atau tentang flanel kebesaran atau mengenai fedora berwarna merah terang. Ia santai menanggapi saya yang memakai lipstik warna merah menyala, ungu tua atau nude dengan efek muka saya yang seperti pasien anemia. Ketika laki-laki lain mendamba rambut wanita yang panjang terurai, dia tidak pernah sekalipun untuk meminta saya memiliki jenis rambut seperti itu. Rambut pendek saya ia hargai, ia anggap sebagai jati diri.

..

Dia.
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.

Dia.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.

Dia.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi.

..

Hari ini, kami sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sungguh priyayi. Tapi lucunya saya masih sangat bersyukur dimiliki,

dan memiliki mereka.

:)

3 Bulan Menjadi Pejuang ASI

Minggu pertama Kakak lahir sungguh minggu yang paling berat di hidup saya, dan hal paling berat itu datang ketika waktu menyusui tiba. Puting saya luka lebar, darah ke mana-mana. Kaki merejang hebat ketika tiba waktu menyusui. Air mata rasanya sudah tidak tahan. Saya hampir menyerah, beberapa kali terlintas untuk pergi diam-diam membeli susu formula tanpa sepengetahuan suami saya yang memang sangat pro ASI. Sakit sekali rasanya.

Lalu saya mulai membuka artikel ilmiah mengenai proses menyusui, apakah memang sesakit itu awalnya, karena orang di sekitar saya pasti memberikan saran untuk sabar. Tapi naluri keibuan saya berkata lain, ini pasti ada yang salah. Berat Kakak saat itu terus turun, ia selalu tampak kehausan dan terus menangis. Pada artikel tersebut tertulis proses menyusui adalah proses yang indah dan tanpa rasa sakit. Nah kan benar dugaan saya, ada yang salah dengan proses menyusui saya.

Lalu saya memutuskan untuk konsul ke bagian laktasi Kemang Medical Care dan benar saja, Kakak tongue tie dan lip tie. Setelah menjalani insisi proses menyusui merupakan waktu yang selalu saya tunggu dan tunggu.

Ada bayi dalam pelukan saya, saya bisa puas melihat wajahnya, membelai badannya. Ia menempel pada tubuh saya dan tumbuh besar karena nutrisi langsung dari badan saya. Ada seorang anak yang menggantungkan hampir keseluruhan hidupnya dari payudara saya, dari ASI saya. Benar kata artikel itu, menyusui adalah proses yang begitu indah.

Niat memberikan susu formula pun saya buang jauh-jauh.

...

Masa cuti saya sudah tinggal 1.5 bulan lagi, dan ketika saya bercerita pada kerabat mengenai hal tersebut reaksi pertama mereka pasti

"Lho, nanti ASInya gimana?"
dan ketika saya jawab bahwa saya akan memerah ASI saya, jawaban mereka selalu..
"Repot amat. beli sufor aja. Praktis. Atau kasih makan, biar kenyang, anaknya ga rewel.."

"Nggih.."
Apa sih yang bisa dilakukan saya selain mengangguk dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan itu. Memang, ketika itu rasanya pesimis luar biasa bisa memberikan ASIP memadai untuk Kakak. Payudara saya seperti musuhan dengan pompa ASI. Sekali pompa saya hanya bisa dapat 20-30 CC.

Lagi-lagi saya hampir menyerah. ASI saya susah sekali dipompa. Tapi bayangan susu formula sungguh saya benci, saya tidak bisa membayangkan Kakak minum susu formula, tanpa kolostrum tanpa immunoglobulin.

Tidak.. Tidak..

Bayangan susu formula yang kerap menghantui justru menjadi semacam pecut untuk diri saya. Tanpa kenal lelah, saya terus memompa ASI saya, sedikit sedikit lalu penuh sebotol, lalu saya letakkan di freezer. Begitu terus. Begitu terus. Setiap hari 1 botol.

Lama kelamaan, yang dipompa bisa banyak. Bisa 50cc. Artinya hanya dibutuhkan 2x pompa untuk bisa memenuhi 1 botol kaca. Akhirnya dalam sehari saya bisa dapat 2 botol kaca. Kadang 2.5 botol kaca jika malam hari saya tidak terlalu mengantuk.

Sabar dan ngotot.
Mungkin hanya itu bekal saya, perlahan persediaan ASIP saya di freezer mulai banyak. Saking senangnya, saya sering bolak balik kulkas hanya untuk melihat koleksi ASIP saya itu, dan setiap melihat jejeran botol ASIP itu hati seperti tenang dan bahagia.

Saya terus pompa untuk memenuhi setiap sudut freezer kulkas. Hingga lama-lama kulkas rumah penuh dan saya memutuskan untuk menyewa freezer ASI.

:")

*terharu*
Dalam 1.5 bulan saya bisa mengumpulkan lebih dari 100 botol ASI, dari saya yang sekali pompa hanya bisa 50-100cc. :") :")


...


Sekarang saya sudah mulai masuk ke Rumah sakit lagi. Kerja lagi. Nolong orang lain lagi. Dengan stok ASI sebanyak itu, setidaknya kebutuhan Kak Kiko akan terus terpenuhi. Di rumah sakit, saya sempatkan untuk pumping 3x. Dan tebak? Sekali pumping saya udah bisa dapat 200 cc.

:")

Rasanya luar biasa.
Menyusui memang salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya dan menjadi mama perah jelas adalah sebuah hal yang bisa saya ceritakan dengan bangga kelak. Di tengah sibuknya, di tengah deraian imingan susu formula saya mampu bertahan untuk terus memberikan Kakak ASI.

ini cadangan ASI saya di freezer dan ada sekitar 20 botol ASI segar di kulkas biasa untuk diminum Kakak

...



Dan untuk suamiku sayang, cintanya aku, romonya anakku...

Terima kasih atas semua semangat ketika aku lelah, ketika aku hampir menyerah. You are the best daddy in the world. Terima kasih atas bangun malamnya, atas segelas air dingin di gelas besar ketika selesai menyusui. Untuk obrolan dalam kantuk-kantuk ketika menemani Kakak memasukkan nutrisi dalam tubuhnya. Untuk semua semangat dan keyakinan bahwa aku adalah Ibu yang hebat, yang mampu menyelesaikan tugas untuk memberikan ASI eksklusif ke kakak.

tanpa kamu,
susu formula itu mungkin sudah terbuka.

Menjadi Ibu yang Belajar

Saat hamil, saya pernah melontarkan pertanyaan di timeline mengenai buku apa yang bagus untuk mendalami tentang parenting, jawaban yang saya dapatkan bermacam-macam. Banyak yang membantu, tak sedikit yang kurang memberikan info. Namun yang menjadi catatan saya adalah ada seorang Ibu yang memiliki anak kurang lebih usia 3 tahun yang berkata

"Ngapain sih baca buku? Jadi ibu itu ga usah pake teori, nanti bisa sendiri kok.."
Tweet ibu tersebut tidak berhenti sampai di situ, ia malah memention saya terus menerus yang garis besar isinya adalah jadi ibu ga usah kebanyakan teori, jadi ibu ga usah banyak belajar dari artikel atau ibu karena pada dasarnya jadi ibu itu naluri. Intinya, nanti juga bisa sendiri, kalau kebanyakan teori malah jadinya ribet.


Lho kok gitu?

Sebetulnya sih jempol udah ingin banget bales mention, tapi untung suami menahan dengan dalih yaa namanya juga orang, pasti beda-beda prinsip.

Jauh sebelum Kakak lahir, selain menyiapkan keperluan Kakak, saya juga menyiapkan 'isi kepala' saya dengan ilmu yang saya dapat dari manapun; buku, internet, obrolan dengan kawan, dokter, bidan, psikolog, perawat, orang tua. Semua informasi tersebut saya saring, saya pilah yang sekiranya sesuai dengan hati saya.

Saya belajar bagaimana perilaku bayi, bagaimana ini, bagaimana itu. Hampir semua hal yang menarik diri saya, saya cari literaturnya. Saya pelajari, kadang saya ceritakan kembali ke suami apabila ilmu yang saya dapat itu menarik untuk dibahas.

Singkatnya, saya memang memenuhi kepala saya dengan beragam teori mendidik dan mengasuh anak.

--

29 Desember 2014
Kakak lahir.
Apakah ilmu yang saya baca berguna? Iya. Sangat.
Apakah saya praktikkan dalam cara saya mengasuh anak? Tidak semua.

Pada akhirnya memang benar kata orang, menjadi ibu adalah instinct, menjadi ibu adalah sebuah naluri alamiah. Hubungan yang kian lama kian mesra ke anak membuat saya mengetahui mana ilmu yang bisa saya pergunakan ke Kakak, mana yang tidak.

Dalam membesarkan anak, teori yang sudah saya pelajari susah-susah itu pada akhirnya akan menjadi fleksibel sesuai kebutuhan. Kadang sesuai dengan teori yang dikemukakan buku parenting, kadang sedikit melenceng, kadang malah tidak sesuai sama sekali. Tapi saya sebagai seorang ibu tidak pernah menyesal mengenai semua ilmu yang ada di kepala ini.

Dunia pengasuhan anak memang sudah berlangsung semenjak Adam dan Hawa diciptakan, artinya tokh orang-orang tua sesepuh kita berhasil aja tuh mendidik anak-anaknya dengan baik walau tanpa buku dan ilmu memadai. Lalu, apa gunanya dong belajar lagi?

Buat saya, walau pengasuhan anak sudah berlangsung sedemikian panjangnya tapi dunia kesehatan dan dunia pendidikan selalu berkembang. Itulah mengapa (untuk saya) seorang Ibu harus tetap belajar. Misalkan, beberapa tahun lalu ASI tidak populer, justru lebih populer susu formula yang mencerminkan status sosial, tapi berbekal penelitian para ahli, ASI menjadi minuman wajib bagi bayi dan susu formula hanya bisa diminum atas perintah dokter. Tuh, ilmu berkembang kan? Bayangkan kalau ada ibu yang malas belajar dan cuek aja kasih susu formula ke anaknya yang baru lahir, kan nutrisi yang didapat tidak maksimal.

Atau sesimpel pemberian makan pada bayi. Zaman dahulu kala, atau mungkin kita yang sedang membaca blog ini, bayi-bayi piyik sudah diberi makan dan minuman selain susu. Tapi ilmu berkembang, penelitian terus dilakukan dan didapatkan konsensus bahwa waktu paling ideal untuk memberikan makanan padat selain susu adalah saat bayi berusia 6 bulan. Simpel kan? tapi bila ibu tidak mau belajar, maka ibu itu akan dianggap sebagai ilmu kurang sayang anak karena membahayakan nyawa si anak itu sendiri.

Sekarang mengenai cara pemberian makan. Dulu makanan pertama bayi mungkin bisa langsung nasi, tapi sekarang semua ada tahapannya. Ya masuk sereal dulu, sayuran lembek dsb. Ada cara pemberian makan BLW, ada cara pemberian makan dengan cara disuapi dsb. Ya itulah perkembangan ilmu.

Penelitian yang terus berjalan bisa saja akan berbeda di generasi anak cucu kita. Cara mengasuh yang hari ini kita anggap benar mungkin bisa dianggap salah nantinya seiring penelitian yang terus berjalan.


Tapi apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti belajar karena ilmu itu sifatnya dinamis. Setiap tahunnya pasti ada ilmu baru dan ilmu lama sudah tidak terpakai lagi.

Abaikan saja mereka yang menyuruhmu berhenti belajar, atau sok pintar karena haus akan teori....


Karena saya percaya,
menjadi seorang ibu memang yang dibutuhkan adalah naluri, tapi naluri akan semakin tajam bila sebelumnya kepala sudah penuh dengan ilmu.




..

Senin, 30 Maret 2015

Cerita di Balik Nama Bramastha N.S Hadinoto

Dari semenjak gadis, saya menyukai nama-nama yang berkaitan dengan tokoh pewayangan dan bahasa sansekerta. Hal tersebut awalnya tertuang dari nama tokoh novel-novel saya, hampir semuanya berasal dari bahasa sansekerta.

Untuk mencari nama tokoh di novel, bahkan saya sampai harus browsing dan mengerti benar arti dari nama itu, jadi bukan hanya sekedar terdengar indah dan menjual. Proses pemberian nama tokoh merupakan satu hal tersulit dari pembuatan keseluruhan novel itu sendiri.

Itu untuk tokoh novel,
kebayang kalau untuk anak sendiri kan?

:))


Ketika dinyatakan hamil, bahkan jauh sebelumnya, saya dan suami sudah berencana untuk menamai anak kami kelak dengan bahasa sansekerta yang diutamakan adalah bahasa Jawa kuna atau dari tokoh pewayangan. Tujuan kami sederhana, kami ingin nama anak kami unik dan menunjukkan jati dirinya sebagai orang Indonesia, walau sesungguhnya bahasa sanskrit juga banyak dipakai di daerah India sih..

Oke, lanjut,
selain pertimbangan di atas, kami juga memiliki kriteria khusus untuk menamai anak, salah satunya adalah nama anak kami kelak tidak membuatnya tersandung dalam pengurusan visa khususnya visa amerika. :))

..

Proses pencarian nama sudah dimulai bahkan sebelum kelamin si jabang bayi ketauan. Karena kehamilan saya cukup berat dan kami sangat terbantu oleh dokter kandungan kami (dokter Budi Wiweko alias dokter Iko), kami memutuskan untuk memberikan penghormatan pada beliau dengan memberikan panggilan rumah yang mirip dengan nama beliau. (oke sekarang udah tau kan kenapa nama panggilannya Kak Kiko?)

Uniknya, saya hanya memiliki kandidat nama anak perempuan, Hemas, dengan nama panggilan rumah, Keiko. Saya tidak mempunyai bayangan apapun mengenai nama anak laki-laki, karena sejujurnya dulu saya sempat mendambakan untuk memiliki anak perempuan. Impian saya salah satunya adalah menemaninya membeli makeup pertamanya. Ha.

Tapi..

Usia kandungan 5 bulan, hasil USG menunjukkan kelamin anak kami kelak adalah laki-laki. Lalu Romo Juno mulai serius mencari nama. Meminjam kitab pewayangan hingga browsing bahasa Jawa kuna, semua dilakukan demi menamai anak kami ini.

karena jabang bayi adalah laki-laki, artinya nama Keiko sudah tidak bisa dipakai, kami memutuskan untuk memberikan panggilan rumah "Kiko" dan karena Kiko cucu pertama maka ia akan dipanggil Kak Kiko.

(Oya, mengenai panggilan rumah, hal ini bukan hal asing di keluarga besar Romo. Romo yang bernama asli Herjuno dipanggil Abol dan adik Romo bernama Gemala Zenobia; di rumah dipanggil Joja.. Hee)

--


Secara pribadi, aku memang suka sekali dengan nama Brama. Menurutku kesan yang ditimbulkan dari nama Brama adalah... Laki banget!! Suami memperbolehkan untuk menamai anak kami dengan Brama, tapi karena nama Brama sudah banyak dan terlalu mainstream (cailah), akhirnya kami memilih nama Bramastha.

Bramastha adalah senjata berupa panah sakti yang sempat dipakai Arjuna dalam peperangan. Oya, karena nama Romonya adalah Herjuno yang merupakan turunan dari Arjuna, kami semakin sukalah dengan nama Bramastha ini.

Melanjutkan tradisi Herjuno (Arjuna), kami juga memilih nama Sena. Agar tidak terlalu berat karena Sena adalah anggota pandawa lima, kami menambahkan 1 huruf lagi huruf N menjadi Senna. Lembut didengar, indah dibaca tapi tetap mencerminkan energi gagah dari pandawa Sena.

Sip, Bramastha Senna Hadinoto sudah fix.

...

Tiba-tiba suatu malam, suami berkata pada saya
"Dik, aku suka sama nama Nemanja (dibaca Nemanya) deh.."

Romo Juno memang seorang fans berat Manchester United dan nama Nemanja merupakan nama dari ex kapten klub tersebut. Nemanja Vidic, lalu kami browsing arti nama Nemanja yang ternyata adalah seorang raja yang begitu disegani di Serbia. tak heran nama Nemanja adalah nama yang umum di Serbia.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menyelipkan 1 nama lagi di antara Bramastha dan Senna.

Bramastha Nemanja Senna Hadinoto.
Sebuah senjata baik bagi ibu dan romo yang kelak akan menjadi pemimpin sehebat Nemanja dan sekuat Sena. Kebanggaan keluarga Hadinoto. :)



Kak Kiko.


#CeritaUntukKakak
Mengenai namanya

Jumat, 20 Maret 2015

Dunia Maya yang Semu

Suatu hari, saya berkunjung ke sebuah tempat makan terkenal bersama seorang teman masa kuliah, restoran tersebut berlokasi di tengah kota yang hingar bingar ini. Tempat makan yang memang sedang hits itu, selain menyajikan makanan yang enak tapi mahal juga menawarkan suasana dan tata makanan yang apik untuk dilihat nan dinikmati.

Saya menempati tempat duduk agak memojok, memesan beberapa menu dan kemudian menunggu. Tak lama, datanglah seorang gadis bersama teman prianya yang sepertinya tak begitu asing. Mencoba mengingat-ingat siapa, tapi memori terus gagal mencari.

Saya lebih memilih bersenda gurau dengan teman depan saya yang sudah lama tak jumpa karena kesibukan kami masing-masing. Ketika teman saya pamit untuk ke kamar kecil, saya kembali mengingat siapa gadis yang duduk tak jauh dari tempat saya.


"Hei.. saya ingat! fotonya sering wara wiri di tab explore instagram saya!"

Gadis tersebut merupakan seorang figur yang akun instagramnya nyaris mempunyai ratusan ribu followers, cantik sekali memang dirinya. Gayanya menawan, senyumnya manis.

..

Makanan datang, seporsi escargot untuk dimakan berdua dengan teman saya dan hidangan utama juga 2 gelas teh leci. Tak selang berapa lama kemudian, pramusaji restoran tersebut juga mengantarkan makanan ke meja gadis itu. Sejauh itu, tak ada yang aneh. Posisi duduk gadis tersebut membentuk garis lurus dari mata saya, jadi walaupun saya sedang makan, saya bisa melihat jelas polah tingkah gadis itu.

Ketika makanan datang, gadis tersebut dengan sigap merapikan makanannya. Menatanya kembali, lalu gadis itu mengeluarkan handphone dan memfoto makanan yang sudah ditatanya.

Ok.

Tak lama, gadis tersebut tampak kurang puas dengan hasilnya, lalu ia berdiri di tempatnya. Memfoto kembali makanannya.

Saya kira sudah selesai,
setelah mencek hasil fotonya, masih tampak wajah kurang puas di paras gadis cantik itu.

Lalu apa yang terjadi?
ia menarik kursi tempat duduknya, dan naik ke atasnya.... Lalu memoto makanannya.

Ok.
Saya terdiam.

...

Saya tak sempat melihat reaksi sekeliling, saya lebih memilih melanjutkan menyantap hidangan saya dan meneruskan obrolan dengan si kawan lama.

...


Sampai rumah.
Penasaran.
Saya buka instagram gadis cantik tadi, benar dugaan saya, ia mengupload hasil foto makanannya. Ribuan likes. Saya ulang, ribuan likes.

...


Saya tutup laman akunnya dan terdiam.
Lalu merenung.
Saya juga penggiat social media, sayapun mendapat rezeki dari social media. Tapi saya menjadi takut, apa saya menjadi aneh di dunia nyata? Apa saya menjadi sosok anomali di dunia yang seharusnya saya diterima, dunia yang semestinya saya habiskan lebih banyak waktu.
Dunia nyata...


Mendadak saya takut. Eksistensi saya di twitter adalah semu. Bahwa sesungguhnya di mata orang yang tak paham arti sosmed, saya tak lebih adalah sosok sibuk sendiri yang aneh. Seaneh saya melihat ada gadis cantik menarik kursi dan naik ke atasnya untuk memfoto makanan demi ribuan likes.

:



..

Coba bertanya pada diri sendiri,
jadi kita ini menyenangkan siapa?
Makan untuk mengenyangkan perut atau untuk ribuan likes?
Lari untuk sehat, atau pamer jauh-jauhan lewat aplikasi nike?..


..


Apapun jawabannya, semoga kita semua terlindungi dari terlihat aneh, oleh mereka yang tidak terlalu paham bagaimana cara login ke dunia penuh drama bernama.. social media.

Rabu, 18 Maret 2015

Masih Banyak yang Lebih Penting

Saya percaya, dalam sebuah lingkup perkuliahan, mahasiswa itu terbagi menjadi 2 kubu.. Pertama adalah mereka yang mencatat dengan detail semua penjelasan dosen, kedua adalah golongan mereka yang mencatat ulang atau meminta fotokopian mereka yang berada di golongan pertama.


Saya? Jelas golongan kedua.


Nah, golongan pertama ini biasanya adalah sekumpulan mahasiswa ber-IPK nyaris cum laude, mahasiswa yang mendapat banyak puja puji dosen, yang datang 30 menit sebelum kelas mulai dan mereka yang bertanya di mepet jam berakhir kelas.

familiar? Sepertinya sih itu terjadi hampir di semua kampus ya.

..

Berbekal observasi semasa kuliah, mahasiswa pintar ini tidak sedikit yang membuat kening berkerut. Contoh:

Fala: "Eh kamu kamu.. Pinjem catatan dong!"
Si Pintar: "Ah ntar aja, Bek. Masih acak-acakan banget, lagian lo ga akan ngerti tulisan gua.."
(padahal catatannya rapih)

itu tipe 1.

ada lagi

Fala : "Materi ujian hari ini bab ini sampe ini kan?"
Si Pintar : "Duh ga tau, gua juga ga ngerti. Belom belajar banget!"
(padahal dia udah belajar semalaman)

atau..

Fala : "Gimana tadi ujiannya?"
Si Pintar : "Parah. susah banget. ga bisa. Ga bisaaa.."
(keluar keluar nilainya A)

..

atau juara dari semuanya adalah
Fala : "Jelasin yang ini dong.."
Si Pintar : "ah masa materi gini aja lo ga ngerti, kan elo pintar?"
...


walau tidak semua mahasiswa cemerlang itu menyebalkan seperti di atas, nyatanya masih bersisa lho spesies semacam itu. Berbekal perasaan senasip sepenanggungan sebagai anak kurang motivasi untuk lulus cum laude, saya dan teman-teman segank akhirnya membentuk semacam kelompok belajar setiap mau ujian. Lokasinya di salah satu kostan di pojok kampus. Kapasitas otak kami semua hampir sama, dan kami menyadari itu. Maka kami biasa menyiasati dengan si A belajar materi ini, si B belajar materi itu lalu di akhir sesi kami masing-masing sharing apa yang telah kami pelajari dan kemudian diselesaikan dengan mengerjakan soal.

Karena kemampuan otak kami yang semuanya sama, sering kami meminta bantuan pada seorang teman, namanya Armand.

Armand ini pintar, tapi tidak paling pintar di kelas. Masih banyak yang lebih unggul dari ia, tapi sedikit sekali yang begitu ringan berbagi seperti dirinya. Gayanya mengajari kami begitu khas, ia terbiasa memilin rambutnya ketika berpikir. Merem-merem sebentar lalu menjelaskan apa yang kami tidak mengerti.

Armand ini cerdas, ia mampu menjelaskan patofisiologi penyakit rumit lewat bahasa yang sederhana. Ia mengajari kami bagaimana cara berpikir taktis dan praktis, bagaimana cara berpikir cepat namun tepat. Catatan Armand, walau tidak rapih karena tulisan khas lelaki tapi lengkap. Kami sering fotokopi catatannya untuk digarisbawahi.

Mungkin nama Armand tidak seharum koleganya yang maju dipanggil ketika wisuda karena mendapatkan nilai tertinggi, tapi secara tidak langsung Armand membantu kami; 10 perempuan penyuka hiburan di sela kuliah; untuk mendapatkan cita-cita kami, lulus. Modalnya bukan hanya ilmu di kepala, tapi juga sifat baik di hati.

...


Menjadi pintar. Penting? Jelas. Karena ketika kamu bekerja, kapabilitas kamu dipertaruhkan. Isi kepala kamu dituangkan.

tapi apa yang terpenting? Tidak.
Karena banyak pekerjaan adalah dari mulut ke mulut, penawaran antar teman, link yang luas dan pergaulan yang tak terbatas.

Menjadi pintar di kepala tapi tidak memiliki attitude baik, tidak akan membuat ke mana-mana. Lucunya, justru teman-teman kuliah saya yang terkenal biasa saja dari segi akademis tapi ramah ke semua orang memiliki pekerjaan jauh lebih baik dari mereka yang namanya dipanggil maju ke podium

Menjadi pintar, tapi menganggap orang lain tidak pintar; justru akan memperburuk kondisi. Ilmu tidak berkembang dan sekeliling yang malas menganggapmu ada.

Menjadi pintar, tetapi susah menerima perbedaan, kepintaran akan susah untuk menghasilkan kerja. Karena hampir sebagian besar pekerjaan bekerja dalam tim.

Dan seperti padi, ia yang semakin banyak isinya, maka akan semakin menunduk. Pepatah jaman SD yang nyata dirasa benar ketika dewasa.



..


*usai kuliah*

Pak Diman (Pak Satpam kampus) : "Cape, Neng? Istirahat dulu, Non.. Jangan langsung pulang.."
Saya : "Moal, Pak.. Biar saya istirahat di rumah aja."
Pak Diman : "Yaudah, Neng... hati-hati di jalan. Baca doa.." ujarnya sembari membantu membuka pintu mobil saya.
Saya : "Nuhun, Pak.. Mun lancar rezekinya.."
Pak Diman : "Insya Allah, Neng.." .. lalu beliau menutup pintu mobil saya sembari berkata "Bismillah.. Hati-hati Neng.."

..



Pada akhirnya, menjadi orang pintar memang penting, tapi ada yang jauh lebih penting;
menjadi orang baik.


Dunia butuh banyak orang pintar untuk menjadikan hidup lebih maju. Tapi dunia, butuh lebih banyak orang baik untuk membuat hidup lebih.... berarti.

Senin, 09 Maret 2015

Saya Tidak Pintar

memiliki suami pintar memang berkah tersendiri sih. Track record suami ketika SMA yang juara olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional membuatku lega kalau-kalau suatu hari nanti Kakak tidak mengerti mengenai pelajaran sekolahnya. Aa berhasil lulus SPMB dan masuk ke salah satu fakultas terbaik di Indonesia, lulus tepat waktu dan masuk residensi pun tepat waktu. Lega? iya. Karena saya tau, anak saya punya sosok Romo yang bisa ia andalkan.

..

Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.

Namun, didikan orang tua saya adalah 'bertanggung jawab', artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.

Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk pelajaran biomedik 1 dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya...)

Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum bel, keluar tepat setelah bel. Berkumpul dengan gank selepas kelas, main ke mall di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan kedokteran dan sibuk pacaran.

Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro-boro maju ke depan karena dianggap sebagai mahasiswa berprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan dokter spesialis; semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.

Ya.. Intinya sih, saya ini adalah perempuan dengan kemampuan akademis biasa-biasa saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.

--


"Kak Kiko..... Jadi anak pinter ya, Nak.. Kaya Romo.." Begitu doa hampir sebagian besar orang yang mengusap kepala anak saya. Alih-alih disebut seperti ibunya (tunggu, memang Ibunya seperti apa?). Semua doa tersebut saya aminkan dengan baik, siapa sih Ibu yang tidak senang melihat anaknya mendapat gelar akademik membanggakan?

...

Tapi bagaimana jika tidak? bagaimana bila ternyata....
Kiko mewarisi kemampuan persis seperti saya?
Apa artinya anak saya telah gagal?


---



Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja ia Rafi.
Rafi ini 2x tidak naik kelas di SMA. Iya, bukan sekali, namun 2x. Lulus SMA dengan susah payah, Rafi melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, mengambil mata kuliah komunikasi. Dengan susah payahpun, akhirnya ia lulus dari kampus tersebut.

Tapi percayalah, Rafi adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Rafi bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapun kecuali akademis.

Rafi hanya memiliki 1 kekurangan, ia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena ia tak mau, tapi juga karena ia tak bisa.

Lalu, Rafi jadi apa?
Rafi hari ini adalah jajaran eligible bachelor  di Indonesia, ia memilih karir sesuai yang ia ingin yang jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Ia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang dokter. Sosoknya juga sering wara wiri di televisi dan berbagai forum. Hebatnya, Rafi beberapa kali didaulat sebagai dosen di universitas ternama di Indonesia. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis SMA super baik? :)


dan yang terpenting, ia bahagia.
Ia tidak gagal.
dan ia tidak bodoh.


---

Kembali ke Kak Kiko.
Apabila suatu hari nanti didapati ia tak sepintar Romonya dan memilih menjadi mirip Rafi yang suka sekali hore-hore, ku pastikan ia bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang lebih penting lagi..

Kiko harus tumbuh menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Ia tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat orang tuanya yang seprofesi. Ia tidak boleh terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap Romonya.
Kiko harus menjadi seorang anak yang merdeka. Ku pastikan ia akan menjadi apapun yang ia mau, sejauh ia bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa ia memilih jalan itu.
Kiko harus menjadi anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tuanya, tak apa tak dianggap pintar,
yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas,
tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.

Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu,
tapi bagaimana Kiko bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana Kiko bisa berdiri tegap tentang apa yang dipilihnya,
walau ia tak mirip Romonya, maupun Ibunya.



#CeritaUntukKakak
tentang memilih jalan hidup.

Mencintai Tanpa Drama

Apa sih definisi cinta, saya yakin jawaban dari setiap orang pasti akan berbeda-beda. Bagi sayapun, cinta bukan sesuatu hal yang mudah untuk diuraikan menjadi kata-kata, ia hanya dapat diejawantahkan dengan perbuatan.

Lalu, perbuatan apa saja yang masuk kategori cinta?

beberapa menjawab..
"Cinta adalah pengorbanan dia menembus hujan hanya untuk membelikanku sop hangat."
Atau
"Cinta adalah dirinya yang membuka jaket di saat udara dingin untuk menyelimutiku."
Atau
"Cinta adalah dirinya yang menahan lapar berbulan-bulan untuk membelikanku kado ulang tahun."
Atau
"Cinta adalah dia yang menyempatkan untuk bertemu ketika sedang lelah-lelahnya.."


Iya itu semua cinta.
Tapi jika definisi cintamu adalah yang saya sebutkan di atas, artinya kamu tak selayak itu dicintai olehnya,
Jika definisi cintamu adalah semata sebuah pengorbanan yang dilakukan pasangan, jelas pasanganmu adalah orang baik, tapi kamu bukan yang baik untuknya.

Cinta buat saya adalah perbuatan "saling", saling berkorban dan tidak drama. Cinta memang membuat manusia berkorban lebih keras -- bahkan menembus hujan untuk mengantarkan sop panas, tapi cinta yang baik, tidak akan membiarkan ia melakukannya. Cinta yang baik tidak akan menempatkan cinta itu sendiri di atas pengorbanan sia-sia penuh drama. Cinta yang baik akan menempatkan dirinya pada keadaan nyaman, aman dan saling menjaga tanpa drama.

Jika kamu cinta, kamu tak akan membiarkan dirinya susah hanya untuk sekedar bertemu. Jika kamu benar cinta, ketulusan itu akan menghalangi dia yang kamu cinta untuk mengorbankan kesehatannya sendiri demi kamu yang cemberut.
Jika kamu benar cinta dan dia cinta kamu, semua akan mengalir indah, semua akan berjalan saling menutupi. Kalian akan terus saling menjaga dan tak mau saling menyusahkan untuk hal remeh temeh.

Cinta itu bukan sekedar pengorbanan tentang hujan dan menerobosnya. Tentang dingin dan jaketnya. Bukan pula tentang dia yang menggunakan tenaga terakhirnya untuk menemani manjamu. Cinta jauh lebih dari itu.


Lalu, pabila ada seseorang yang tak mau menerobos hujan karena ia menjaga kesehatannya supaya bisa terus menjagamu, apa ia bisa dibilang tak cinta?


Cintailah ia tanpa drama.
Apa adanya.

Selasa, 03 Maret 2015

Mengasuh Anak dan Mengasah Hobi

Setelah melahirkan, banyak temen yang nanya, “Apa rasanya punya anak?” Agak bingung jawabnya karena memang susah dijabarkan dengan kata-kata. Bahagia, jelas. Repot, sudah pasti. Yang lebih pasti lagi adalah banyak kebiasaan yang harus diubah. Salah satunya hobi.


Dulu sih nggak pernah membayangkan sama sekali dengan kondisi ini, bahkan ketika hamil pun masih belum terbayang. Setelah melahirkan, baru terasa sendiri, "Oh, gini toh rasanya jadi ibu… SIBUK BANGET TERNYATA..." Bahkan sibuknya melebihi urusan kedokteranku. Haha. Sibuk yang bikin gemes.


Nah, yang bikin aku gemes adalah kehilangan hobi menulisku. Aku terbiasa nulis di laptop yang gede dan lumayan repot. Semenjak melahirkan dan urus anak, aku jadi jarang banget nulis. Ya bayangin aja, dikit-dikit anak bangun, terus singkirin laptop, menyusui anak, lalu menidurkannya. Mau buka laptop lagi, udah keburu capek. Duh, ribet.


Akhirnya, berbekal saran dari temen, aku beli ZTE Blade Vec Pro yang katanya asyik buat dipake ngeblog. Hmmm. Gini penampakannya…


Layarnya yang gede bikin gampang dan enak ngetik—5 inci dengan resolusi 720x1280 pixels dengan kerapatan 294 ppi. Bahkan buat ngetik panjang buat ngeblog pun nyaman. Kira-kira gini nih penampakan ibu-ibu saat nulis blog dari ZTE Blade Vec Pro :))
Jernih ya?




Kalo udah beres ngeblog dan Kiko masih tidur, terus ngapain biar nggak bosen? Paling sering sih berselancar di YouTube nontonin video-video lucu atau musik terbaru. Layar hapenya bikin betah banget mantengin banyak video. Kalo mata udah capek nonton video, ya apalagi kalo bukan foto-foto pose anak pas lagi tidur? Haha.


Dengan kamera belakang 13MP ditambah lagi fitur autofocus, optical image stabilization, lampu LED flash, geo-tagging, face detection, dan HDR, makin jadilah hobi motretin anakku ini. Rasanya adem banget kalo bisa liat anak tidur pulas :)




Buat yang penasaran berapa harga hape ini, jangan sedih. Harganya cuma 2 jutaan kok. Awalnya sih nggak percaya harganya segitu, apalagi tampilannya yang classy dengan balutan tekstur karbon dan motif semacam anyaman di bagian belakangnya. Sama sekali nggak keliatan murahan. Justru terlihat elengan dan enak digenggam karena meski berlayar besar, tapi hape ini cukup tipis (7.5mm) dan ringan (152gram). Dipake buat multitasking pun nggak lemot karena prosesornya udah octa core. Kalo masih penasaran, cek aja spesifikasinya di sini


Jadi, biarpun udah punya anak, hobiku bisa tetep jalan dengan ZTE Blade Vec Pro ini. Aku jadi bisa curi-curi ngeblog dan internetan saat Kak Kiko bobok. Yayay! I’m a happy mom!


Senin, 23 Februari 2015

Perayaan (kebablasan) Tubuh

Saya : "Ngapain sih handphone segala repot dikasih casing?"
Dia : "Biar ga lecet, kalau jatoh masih terlindungi.."
Saya : "Terus ngapain ditaro tas kalau lagi pergi-pergi?"
Dia : "Ya biar ga dicuri orang, ga mengundang orang buat ngambil handphonenya lah.."
Saya : "Lo bisa ngelindungin handphone sampe segitunya, kenapa badan sendiri dibuka dan dipamerin terus?"
Dia : "Itu bukan pamer, itu merayakan kebebasan.."
Saya : "… Whatever."

Entahlah, mungkin sejak itu saya dimusuhi ataupun mungkin tidak, tapi setelah dialog di atas memang saya tidak ada kesempatan untuk bertemu muka dengan dirinya.

Saya adalah seorang anak perempuan yang sekarang berlanjut menjadi ibu yang konservatif dan cenderung kolot. Orang tua sayapun juga merupakan orang tua kuno yang membatasi saya ini itu dan cenderung memiliki banyak peraturan memaksa. Rasanya sedikit banyak itu berpengaruh ke cara pikir dan pilihan saya untuk memaknai tubuh saya sendiri.

Merayakan tubuh saya, dengan cara saya sendiri.

Merayakan tubuh.
Frasa yang dulu tak pernah sama sekali ku dengar, lalu kemudian frasa tersebut berkembang menjadi sebuah aktivitas di mana perempuan sudah tak canggung lagi memamerkan lekuk tubuh bahkan tak memakai helai benang dan berpose depan kamera yang setelahnya diunggah di social media. Tapi kembali lagi, cara merayakan tubuh untuk setiap individu memang berbeda-beda, dan norma yang dianut serta nilai yang mengakar juga tak sama.

Buat saya, merayakan tubuh saya maknai sebagai usaha saya merawat juga menjaganya. Setiap inchi kulit yang tak luput dari perhatian. Setiap organ dalam yang diusahakan diasup nutrisi baik. Ya, hanya sebatas itu. Nilai yang ditanamkan pada saya adalah "tanggung jawab", termasuk bertanggung jawab mengenai apa yang telah diberikan, termasuk anggota tubuh. dan perwujudan tanggung jawab saya terhadap tubuh saya adalah menjaganya.

Walau dibesarkan di tengah keluarga konservatif, saya tumbuh juga dikelilingi manusia-manusia modern. Perpaduan tersebut menciptakan saya yang hari ini. Saya menyukai baju-baju yang menunjukkan lekuk seksi tubuh, tapi saya pastikan saya memakainya di suasana dan tempat yang tepat. Saya cinta sekali dengan punggung saya, saya bangga menunjukkannya, dengan syarat lingkungan mendukung.

Mungkin dari semua yang diurai, inti dari semuanya adalah "tau menempatkan diri", saya lebih memilih mengenakan celana panjang daripada hotpants favorit ketika harus pergi naik angkutan umum. Saya lebih nyaman mengenakan kebaya ketika datang ke pesta di mana di sana saya harus bertemu orang-orang yang saya hormati, tapi bila pesta yang saya datangi didominasi tamu yang memiliki pergaulan dengan frekuensi sama dengan saya, saya tak pernah ragu mengenakan dress pas badan yang terbuka di bagian punggung atau dada.

Menempatkan diri dengan tujuan merayakan tubuh. Sejauh ini, saya cukup nyaman menjalaninya.






x: "Tapi, perempuan telanjang di jalan rayapun ga berhak diperlakukan tak terhormat oleh orang lain."
Me: "Diperlakukan tak terhormat itu ga enak, kita bisa mencegahnya dengan menempatkan diri tokh? Terlebih lagi kita ga bisa mengatur perlakuan orang. Selama masyarakat Indonesia masih seperti hari ini, sering tak sopan pada perempuan, ada baiknya ya kita juga menjaga diri. Membebaskan tubuh banyak kok caranya, ga harus menunjukkan payudara di depan banyak orang." 
x: "Orang Indonesia ini kan tipenya saat ada perempuan dilecehkan, yang disalahkan perempuannya kenapa memakai baju terbuka.." 
Me: "Kalau di mata saya yang kuno ini, yang salah memang laki-lakinya, kenapa dia ga bisa menahan syahwat maupun keinginan melecehkan, tapi inget deh, handphone aja lo jaga mati-matian, kenapa badan sendiri ga dijaga segitunya?" 







Ya, balik lagi, itu menurut saya.
Mana yang dirasa nyaman, itu yang dijalankan.
Monggo… :)

Jumat, 20 Februari 2015

Kami Keluarga Biasa-Biasa Saja

Dalam istilah Ilmu Kesehatan Masyarakat, dikenal adanya istilah "Nuclear Family", dimana nuclear family adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak baik karena kelahiran maupun adopsi.

Nah, itu jenis keluarga kita, Nak. Nuclear family.
Hanya kita adalah nuclear family yang biasa-biasa saja.

Ketika kakak tumbuh, mungkin kakak akan mulai mendengar istilah supermom, superdad, superfamily dan super super lainnya. Tapi tidak dengan keluarga kita, keluarga kita adalah keluarga biasa-biasa saja, yang normal dan berjalan sebagaimana orang tua Ibu dan Romo membesarkan Ibu dan Romo.

dan ibu tidak minta maaf karena Kakak berasal dari keluarga biasa-biasa saja.

Kami bukan seorang orang tua yang super. Kami bangun shubuh secara terkantuk-kantuk untuk pergi ke rumah sakit. Sekali dua kali dalam seminggu, Romo menitip pesan pada Ibu untuk tak dibangunkan malam karena lelah menggerogoti sendi, sering Romo tak benar memakaikanmu baju karena kantuk maupun karena ceroboh.

Nantinyapun, Kami akan menjadi sosok pekerja biasa-biasa saja. Kakak mungkin akan jarang bertemu kami di siang hari, mungkin Kakak sudah tertidur ketika Romo pulang. Pekerjaan seperti kami hanya menjanjikan cukup untuk hidup tanpa berlebih-lebihan, mungkin rumah kita takkan mewah nan besar, tapi kami berjanji untuk membelikan Kakak lego bricks lengkap ketika Kakak siap. Kami juga berjanji akan membelikan semua buku yang Kakak minta. Kakak tidak akan kekurangan mainan dan buku, tapi Kakak tidak akan menyentuh piranti hingga umurmu siap.

Kami bukan orang tua yang super, kami akan sering salah, kami akan sering membuat Kakak kecewa. Kami juga bukan sosok kekinian, Kami cenderung kuno. Jika kakak akan melihat teman-teman kakak mulai merokok dan minum alkohol di usia muda, kami akan melarang kakak mati-matian. Kami akan mengajarkan kakak bagaimana menghormati perempuan berpakaian minim, tapi kami juga akan menanamkan nilai untuk berusaha mengajarkan kekasih Kakak nanti untuk memakai baju yang sesuai kondisinya, tak berlebih-lebihan, tak terlalu terbuka di tempat yang tak perlu.

Jika suatu hari kakak mulai membandingkan, mengapa teman Kakak diberikan ini, diberikan itu, diperbolehkan ini, diperbolehkan itu, datanglah pada kami dan tanyakan kenapa. Kami bukan orang tua super yang mampu membebaskan Kakak melakukan apapun yang kakak suka, karena kami tidak super, oleh karena itu kami butuh sedikit mengikat Kakak, untuk kemudian dilepaskan pelan-pelan. Dilepaskan dengan penuh tanggung jawab.

Kami bukan orang tua modern yang super. Kakak harus tetap pada koridor dan norma negara di mana Kakak berpijak. Kakak harus tetap membawa darah orang Indonesia dengan budaya yang sudah mendarah daging dari leluhur. Pergilah dengan teman, pulanglah tetap dalam keadaan sadar. Jalinlah cinta dengan perempuan, tapi jagalah kehormatannya.

Kak, kami masih terus belajar, karena kami bukan orang tua super. Jangan pernah menganggap kami orang tua super, karena kami tak suka itu. Kami lebih suka dinilai sebagai orang tua yang baik untuk Kakak, sebagaimana orang tua. Kami bisa menempatkan diri sebagai teman, tapi kami tetap orang tua Kakak.

Ya, karena kami bukan orang tua modern yang super. :)

Jumat, 13 Februari 2015

Pentingnya Conditioner

Jadi, menurut orang-orang tua, masa menyusui itu masa yang unik. Selain bentuk badan yang berubah di bagian dada, ada mitos yang bilang kalau bayinya ileran biasanya diikuti oleh rambut ibunya yang rusak seperti rontok.

Aku sih ga percaya kaya gitu ya,
sampai aku ngeraba kepala sendiri..


KOK RAMBUTKU MENIPIS????
KOK BANYAK RAMBUT DI LANTAI??

*pingsan*


Setelah dipikir-pikir pake logika, ternyata selama menyusui waktuku untuk mengurus diri sendiri praktis jadi berkurang, aku jadi males les les les pake conditioner setelah pakai shampoo. Secara rambutku kan pendek, jadi aku ga terlalu peduli. Lagipula rambutku lebat banget, makinlah aku males rawat rambut.

Hvft.


Ternyata mitosnya berasal dari situ, Gaes. Dari ibunya yang secara ga sadar ga ngerawat diri selama menyusui. Nah, setelah sadar itu semua aku mulai lagi rawat rambut. Ga repot sampe hair spa segala, cukup rutin aja pake shampoo lalu dilanjuti dengan conditioner. Menurut rekomendasi orang banyak, aku akhirnya beralih perawatan ke Pantene. Eh bener lho, ga nyampe 3 minggu, rambutku udah balik ke kondisi awalnya. Jadi lembut lagi dan ga banyak rontokan di lantai. Awalnya sedikit ga percaya, tapi setelah ku perhatiin ternyata khasiat conditioner emang sebanyak itu… yang paling jelas adalah rambut jadi lebih lembut dan mudah ditata. nah bonusnya, rambut jadi lebih kuat.




Itu pengalamanku, pengalaman kalian tentang rambut apa sih? Ceritain dong di kolom komen, ada 10 goodie bag dari Pantene nih buat 10 komen pertama.
See you.

Jangan lupa pake conditioner!

Rabu, 04 Februari 2015

Pengalaman Mendua

Perempuan akan mudah sekali jatuh cinta ketika ada seseorang datang ketika ia sedang sakit-sakitnya, pernyataan yang ku amini. Hari itu aku bertemu denganmu, saat kondisiku sedang lemah-lemahnya, tak berdaya dan lemah.

Ingat?
Tentu saja tidak, karena kamu tidak peduli akan hadirku di situ. Tapi aku sadar betul akan keberadaanmu di sekitarku. Aku sempat melihatmu dekat, lalu kemudian kamu pergi melangkahkan kaki menjauh dariku. Lalu rindu itu mulai terbentuk untukmu.

Ingat?
Pasti tidak.
Aku tak berdaya di hadapanmu, tapi hari itu kamu dikelilingi banyak orang. Aku ulang ya, banyak sekali orang. Aku tetap lemah, tak bisa apa-apa, bahkan untuk menyentuh tanganmu aku tak mampu. Tapi rasa debar seperti cinta pertama bergemuruh dalam dada. Seperti anak SMP yang pertama mengenal cinta.
Orang-orang disekelilingmu menghalangiku dari melihat wajahmu, hingga perlahan kamu mendekat, aku bisa melihatmu jelas, sungguh jelas. Lalu aku tersenyum, walau masih pilu.

Matamu, sendu. Tapi matamu mengingatkanku pada cinta yang dulu pernah aku rasa. Bibirmu bergerak, mungkin ingin berkata sesuatu, bibir tipis agak membulat, persis seperti kekasihku terdahulu. Ah, mudah sekali aku jatuh cinta memang, pada sosok yang mirip sekali akan si mantan kekasih itu.

Aku tersenyum lebar.

Lama.
Lama.
Kita semakin akrab, aku sering menciumimu diam-diam di balik punggung teman hidupku, seorang yang mengajakku  berkomitmen untuk hidup bersama.
Kita juga semakin intim, tak terhitung aku tertawa bahagia hanya karena kamu menyungging senyum. Ah, kamu mirip sekali dengan mantan kekasihku..

Lalu, aku tau,
aku jatuh cinta lagi. Jauh lebih hebat dan jatuhnya lebih keras.
Pada kamu,
seorang yang memiliki mata yang nyaris sama dengan ia yang sebelum hadirmu, mengisi hari-hariku.

Aku jatuh cinta lagi,
dan aku tak sabar menunggumu memanggilku..


"Ibu.."




#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 03 Februari 2015

Tentang Menjadi Ibu

Terhitung sudah sebulan lebih sedikit aku merasakan menjadi Ibu dari anak laki-laki hebat bernama Bramastha Nemanja Senna Hadinoto. Hari demi hari, hampir 24 jam aku bersama anak laki-laki hebat ini.

Tidak, aku tidak akan menceritakan pengalaman begadang, lengan kram, puting lecet atau perut yang ku relakan menjadi bergelambir karena melahirkan ia ke dunia. Sedikit aku akan menceritakan sebuah sisi menjadi ibu,


aku merasa berharga.
Ya, sejak menjadi Ibu aku merasa sangat berharga. Jauh lebih berharga dari sebelumnya. Hebatnya membayangkan ada bayi tak bisa apa-apa tapi seperkasa itu membuat Ibunya merasa sangat berharga.

Tiba-tiba, 29 Desember 2014, ada anak lahir dari perutku, seketika hidupku berubah. Anak itu, lemah dan tak berdaya, anak itu tak bisa apa-apa, anak itu tak mengenal siapa-siapa, tempat yang is tempati sepeninggal ia dari rahimku adalah tempat yang asing dan tak lagi nyaman, bahkan iapun tak pernah melihat sosokku.

Anak itu begitu kecil, kurus dan menangis.
Anak itu… Membutuhkanku.

Tiba-tiba, sejak hari itu, ada anak manusia yang menggantungkan seluruh hidupnya padaku. Ia minum dari tubuhku, ia tumbuh dan berkembang berkat makanku, ia menjadi kuat karena suplai susu dariku, ia bisa tidur karena dekapanku, ia berhenti nangis karena belaianku.

Bayiku begitu membutuhkanku, tanpaku ia tak dapat hidup, dan ajaibnya justru itu membuatku merasa berharga, aku merasa keberadaanku penting bagi seseorang. Akhirnya aku merasa hidupku tak sia-sia, minum dan makanku jadi nutrisinya, lelahku menjaganya hingga kerap terjaga menjadi teman dan penenangnya, lengan sakitku menjadi tempat bersandarnya, kakiku menjadi kakinya untuk berpindah, pundakku menjadi tempatnya meletakkan kepala atau menumpahkan sisa susu.

Anakku mungkin bisa hidup tanpa aku, semua bisa tergantikan, tapi perasaan berharga yang ia berikan padaku justru membuatku merasa aku yang tak bisa hidup tanpa dirinya. Hati ini sedih setiap kecerobohanku membuatnya meringis, perasaanku terluka melihat kaos kakinya semua dicuci dan ia tak dapat protes apa-apa, perasaan ini seperti teriris mengetahui celemek susunya tak cukup memenuhi tumpahan minumnya. Semudah itu seorang aku merasa sedih, tapi kehadiran bayiku malah membuatku tambah kuat dan kuat setiap hari. Ia mengajariku arti sabar, ia menunjukkanku bahwa semua hal itu ada prosesnya, bahwa kelembutan adalah kunci dan bahwa menjadi Ibu adalah anugrah bagi manusia.

Bayiku sayang,
selamat 1 bulan.

Ibu sayang Kakak. :)

Senin, 02 Februari 2015

Panggil Dirinya "Pak Tua" ya Kak..

Jika ada seseorang di luar keluargamu yang Ibu ingin kamu tumbuh mewarisi sifat dan sikapnya adalah orang ini, orang yang akan Ibu ceritakan ini..

Kamu bisa panggil dirinya "Pak Tua" karena darah Batak yang mengalir di dirinya dan karena umurnya yang lebih tua dari Romo. Pak Tua adalah teman Ibu dan Romo, seorang yang berprofesi sama dengan Ibu dan Romo.

Romo dan Pak Tua sudah berteman cukup lama, walau kami bertiga tak sering menghabiskan waktu karena kesibukan kami, tapi kami cukup dekat dan mengenal pribadi satu sama lain. Mari sedikit ibu ceritakan mengenai Pak Tua ini..

Ibu ingin kamu mewarisi sifat Pak Tua yang Ibu dan Romo sepakat, ia sangat "laki-laki", pernah suatu hari, Pak Tua tersangkut kasus dengan fakultas karena sedikit kesalahpahaman dan miskomunikasi. Kamu tau apa yang dilakukan ia, Kak? Ia maju sendiri, berkata lantang kepada jajaran akademisi fakultas "Saya datang ke sini untuk membersihkan nama baik teman saya, karena itu murni salah saya. Jika ada orang yang pantas dihukum itu bukan mereka, melainkan saya.". Sedikit sekali orang yang berani mengakui kesalahan (padahal saat itu Pak Tua tidak salah lho, Kak.. Ia hanya mengalami sedikit miskomunikasi) dan membebaskan teman-temannya, berani untuk bertanggung jawab mengenai apa yang telah dilakukannya.

Pak Tua juga bukan seorang kutu buku, ia menikmati hidupnya, merayakan setiap waktu kosongnya tapi berhasil menyeimbangkan segalanya. Pak Tua senang berpesta, Kak. Meminum beer di kala malam, tertawa-tawa puas di tengah sahabat-sahabatnya. Tapi paginya, Pak Tua tak pernah absen menjalankan kewajibannya. Ia orang yang paling tau kapan waktu yang tepat untuk membuka sebotol lagi dan kapan harus berhenti, ia juga orang yang mengerti betul bahwa kewarasan harus tetap dijaga, hidup harus serba seimbang. Ibu hanya ingin Kakak menjadi pribadi yang tidak fokus mengejar apa yang Kakak mau, tapi juga cukup bersenang-senang. Jadilah anak yang tau kapan harus bersenang-senang tapi tetap bertanggung jawab. Jadilah anak yang menyenangkan, bersosialisasi dan banyak teman. Seperti Pak Tua. Nanti kita sempatkan karaoke bareng Pak Tua ya, Kak.. dan lihatlah caranya berjoget, Ibu yakin, Kakak pasti suka.

Suatu hari, Kakak pasti akan bertemu dengan dirinya, hornati ia seperti kamu menghormati saudaramu sendiri, bukan hanya Pak Tua, tapi hormati semua orang, karena Pak Tuapun seperti itu. Ia memberikan slice pizza terakhir yang kami makan bersama untuk Ibu, karena Ibu perempuan. Ia menawarkan mobil untuk dipakai temannya karena temannya kebetulan membawa motor dengan 2 anaknya yang masih kecil dan motornya dipakai Pak Tua.

Belajarlah menjadi orang yang dapat dipercaya seperti Pak Tua, ia mampu memegang rahasia terdalam seseorang tanpa pernah sedikitpun membeberkannya ke orang. Pak Tua juga tak pernah sekalipun menjatuhkan orang lain dan membicarakan rumor yang kepastiannya dipertanyakan.

Tengoklah keramahannya, pernah Ibu bertemu Pak Tua di selasar rumah sakit, tergesa-gesa menenteng helm sepeda dan tas punggung ia menyempatkan diri menyapa Ibu, berhenti sebentar lalu sedikit berlari mengejar ketertinggalan waktunya. Oya, Kak, Pak Tua juga penggemar Manchester United seperti Romo, ia juga pemain bola handal, nanti jika sudah agak besar, jangan lupa untuk melempar bola ke arah Pak Tua dan belajarlah bekerja sama dalam tim.

Kak, seperti Kakak, Pak Tua waktu seumur Kakak persis bernasib sama seperti Kakak. Pak Tua lahir di tengah kesibukan kedua orang tuanya, Ayah Pak Tua saat itu masih menempuh pendidikan dokter spesialis yang memiliki minim sekali waktu untuk bertemu Pak Tua. Sama seperti Romo kan kak? Tapi Pak Tua tak pernah berhenti mencintai ayahnya, beberapa kali Ibu melihat Pak Tua sedang menghabiskan waktu berdua saja dengan Ayahnya, atau saling berbalas komen Instagram. Hubungan mereka tetap hangat walau waktu banyak menjadi musuh, begitulah seharusnya nanti hubunganmu dengan Romo ya, kak. Marahlah ketika Romo jarang pulang, tapi cukup besar hatilah untuk menerima kondisi. Karena apa yang Romo lakukan juga agar Kakak bisa memiliki panutan dari orang terdekatnya.

Nak, mungkin ketika kamu bisa membaca post ini, kamu tau betul siapa Pak Tua yang Ibu maksud di sini. Tumbuhlah besar dengan meniru sekitarmu, bukan hanya dari keluarga tapi dari semua orang yang ada. Ambillah sifat baik, tanamkan dalam diri Kakak.

Berbahagialah selalu ya, Kak. Hormati semua orang tanpa terkecuali, dan jangan lupa, berikan slice terakhir makanan yang dibeli bersama untuk perempuan yang berada 1 meja denganmu, seperti yang dilakukan Pak Tua kepada Ibu. :D