Jumat, 20 Maret 2015

Dunia Maya yang Semu

Suatu hari, saya berkunjung ke sebuah tempat makan terkenal bersama seorang teman masa kuliah, restoran tersebut berlokasi di tengah kota yang hingar bingar ini. Tempat makan yang memang sedang hits itu, selain menyajikan makanan yang enak tapi mahal juga menawarkan suasana dan tata makanan yang apik untuk dilihat nan dinikmati.

Saya menempati tempat duduk agak memojok, memesan beberapa menu dan kemudian menunggu. Tak lama, datanglah seorang gadis bersama teman prianya yang sepertinya tak begitu asing. Mencoba mengingat-ingat siapa, tapi memori terus gagal mencari.

Saya lebih memilih bersenda gurau dengan teman depan saya yang sudah lama tak jumpa karena kesibukan kami masing-masing. Ketika teman saya pamit untuk ke kamar kecil, saya kembali mengingat siapa gadis yang duduk tak jauh dari tempat saya.


"Hei.. saya ingat! fotonya sering wara wiri di tab explore instagram saya!"

Gadis tersebut merupakan seorang figur yang akun instagramnya nyaris mempunyai ratusan ribu followers, cantik sekali memang dirinya. Gayanya menawan, senyumnya manis.

..

Makanan datang, seporsi escargot untuk dimakan berdua dengan teman saya dan hidangan utama juga 2 gelas teh leci. Tak selang berapa lama kemudian, pramusaji restoran tersebut juga mengantarkan makanan ke meja gadis itu. Sejauh itu, tak ada yang aneh. Posisi duduk gadis tersebut membentuk garis lurus dari mata saya, jadi walaupun saya sedang makan, saya bisa melihat jelas polah tingkah gadis itu.

Ketika makanan datang, gadis tersebut dengan sigap merapikan makanannya. Menatanya kembali, lalu gadis itu mengeluarkan handphone dan memfoto makanan yang sudah ditatanya.

Ok.

Tak lama, gadis tersebut tampak kurang puas dengan hasilnya, lalu ia berdiri di tempatnya. Memfoto kembali makanannya.

Saya kira sudah selesai,
setelah mencek hasil fotonya, masih tampak wajah kurang puas di paras gadis cantik itu.

Lalu apa yang terjadi?
ia menarik kursi tempat duduknya, dan naik ke atasnya.... Lalu memoto makanannya.

Ok.
Saya terdiam.

...

Saya tak sempat melihat reaksi sekeliling, saya lebih memilih melanjutkan menyantap hidangan saya dan meneruskan obrolan dengan si kawan lama.

...


Sampai rumah.
Penasaran.
Saya buka instagram gadis cantik tadi, benar dugaan saya, ia mengupload hasil foto makanannya. Ribuan likes. Saya ulang, ribuan likes.

...


Saya tutup laman akunnya dan terdiam.
Lalu merenung.
Saya juga penggiat social media, sayapun mendapat rezeki dari social media. Tapi saya menjadi takut, apa saya menjadi aneh di dunia nyata? Apa saya menjadi sosok anomali di dunia yang seharusnya saya diterima, dunia yang semestinya saya habiskan lebih banyak waktu.
Dunia nyata...


Mendadak saya takut. Eksistensi saya di twitter adalah semu. Bahwa sesungguhnya di mata orang yang tak paham arti sosmed, saya tak lebih adalah sosok sibuk sendiri yang aneh. Seaneh saya melihat ada gadis cantik menarik kursi dan naik ke atasnya untuk memfoto makanan demi ribuan likes.

:



..

Coba bertanya pada diri sendiri,
jadi kita ini menyenangkan siapa?
Makan untuk mengenyangkan perut atau untuk ribuan likes?
Lari untuk sehat, atau pamer jauh-jauhan lewat aplikasi nike?..


..


Apapun jawabannya, semoga kita semua terlindungi dari terlihat aneh, oleh mereka yang tidak terlalu paham bagaimana cara login ke dunia penuh drama bernama.. social media.

Rabu, 18 Maret 2015

Masih Banyak yang Lebih Penting

Saya percaya, dalam sebuah lingkup perkuliahan, mahasiswa itu terbagi menjadi 2 kubu.. Pertama adalah mereka yang mencatat dengan detail semua penjelasan dosen, kedua adalah golongan mereka yang mencatat ulang atau meminta fotokopian mereka yang berada di golongan pertama.


Saya? Jelas golongan kedua.


Nah, golongan pertama ini biasanya adalah sekumpulan mahasiswa ber-IPK nyaris cum laude, mahasiswa yang mendapat banyak puja puji dosen, yang datang 30 menit sebelum kelas mulai dan mereka yang bertanya di mepet jam berakhir kelas.

familiar? Sepertinya sih itu terjadi hampir di semua kampus ya.

..

Berbekal observasi semasa kuliah, mahasiswa pintar ini tidak sedikit yang membuat kening berkerut. Contoh:

Fala: "Eh kamu kamu.. Pinjem catatan dong!"
Si Pintar: "Ah ntar aja, Bek. Masih acak-acakan banget, lagian lo ga akan ngerti tulisan gua.."
(padahal catatannya rapih)

itu tipe 1.

ada lagi

Fala : "Materi ujian hari ini bab ini sampe ini kan?"
Si Pintar : "Duh ga tau, gua juga ga ngerti. Belom belajar banget!"
(padahal dia udah belajar semalaman)

atau..

Fala : "Gimana tadi ujiannya?"
Si Pintar : "Parah. susah banget. ga bisa. Ga bisaaa.."
(keluar keluar nilainya A)

..

atau juara dari semuanya adalah
Fala : "Jelasin yang ini dong.."
Si Pintar : "ah masa materi gini aja lo ga ngerti, kan elo pintar?"
...


walau tidak semua mahasiswa cemerlang itu menyebalkan seperti di atas, nyatanya masih bersisa lho spesies semacam itu. Berbekal perasaan senasip sepenanggungan sebagai anak kurang motivasi untuk lulus cum laude, saya dan teman-teman segank akhirnya membentuk semacam kelompok belajar setiap mau ujian. Lokasinya di salah satu kostan di pojok kampus. Kapasitas otak kami semua hampir sama, dan kami menyadari itu. Maka kami biasa menyiasati dengan si A belajar materi ini, si B belajar materi itu lalu di akhir sesi kami masing-masing sharing apa yang telah kami pelajari dan kemudian diselesaikan dengan mengerjakan soal.

Karena kemampuan otak kami yang semuanya sama, sering kami meminta bantuan pada seorang teman, namanya Armand.

Armand ini pintar, tapi tidak paling pintar di kelas. Masih banyak yang lebih unggul dari ia, tapi sedikit sekali yang begitu ringan berbagi seperti dirinya. Gayanya mengajari kami begitu khas, ia terbiasa memilin rambutnya ketika berpikir. Merem-merem sebentar lalu menjelaskan apa yang kami tidak mengerti.

Armand ini cerdas, ia mampu menjelaskan patofisiologi penyakit rumit lewat bahasa yang sederhana. Ia mengajari kami bagaimana cara berpikir taktis dan praktis, bagaimana cara berpikir cepat namun tepat. Catatan Armand, walau tidak rapih karena tulisan khas lelaki tapi lengkap. Kami sering fotokopi catatannya untuk digarisbawahi.

Mungkin nama Armand tidak seharum koleganya yang maju dipanggil ketika wisuda karena mendapatkan nilai tertinggi, tapi secara tidak langsung Armand membantu kami; 10 perempuan penyuka hiburan di sela kuliah; untuk mendapatkan cita-cita kami, lulus. Modalnya bukan hanya ilmu di kepala, tapi juga sifat baik di hati.

...


Menjadi pintar. Penting? Jelas. Karena ketika kamu bekerja, kapabilitas kamu dipertaruhkan. Isi kepala kamu dituangkan.

tapi apa yang terpenting? Tidak.
Karena banyak pekerjaan adalah dari mulut ke mulut, penawaran antar teman, link yang luas dan pergaulan yang tak terbatas.

Menjadi pintar di kepala tapi tidak memiliki attitude baik, tidak akan membuat ke mana-mana. Lucunya, justru teman-teman kuliah saya yang terkenal biasa saja dari segi akademis tapi ramah ke semua orang memiliki pekerjaan jauh lebih baik dari mereka yang namanya dipanggil maju ke podium

Menjadi pintar, tapi menganggap orang lain tidak pintar; justru akan memperburuk kondisi. Ilmu tidak berkembang dan sekeliling yang malas menganggapmu ada.

Menjadi pintar, tetapi susah menerima perbedaan, kepintaran akan susah untuk menghasilkan kerja. Karena hampir sebagian besar pekerjaan bekerja dalam tim.

Dan seperti padi, ia yang semakin banyak isinya, maka akan semakin menunduk. Pepatah jaman SD yang nyata dirasa benar ketika dewasa.



..


*usai kuliah*

Pak Diman (Pak Satpam kampus) : "Cape, Neng? Istirahat dulu, Non.. Jangan langsung pulang.."
Saya : "Moal, Pak.. Biar saya istirahat di rumah aja."
Pak Diman : "Yaudah, Neng... hati-hati di jalan. Baca doa.." ujarnya sembari membantu membuka pintu mobil saya.
Saya : "Nuhun, Pak.. Mun lancar rezekinya.."
Pak Diman : "Insya Allah, Neng.." .. lalu beliau menutup pintu mobil saya sembari berkata "Bismillah.. Hati-hati Neng.."

..



Pada akhirnya, menjadi orang pintar memang penting, tapi ada yang jauh lebih penting;
menjadi orang baik.


Dunia butuh banyak orang pintar untuk menjadikan hidup lebih maju. Tapi dunia, butuh lebih banyak orang baik untuk membuat hidup lebih.... berarti.

Senin, 09 Maret 2015

Saya Tidak Pintar

memiliki suami pintar memang berkah tersendiri sih. Track record suami ketika SMA yang juara olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional membuatku lega kalau-kalau suatu hari nanti Kakak tidak mengerti mengenai pelajaran sekolahnya. Aa berhasil lulus SPMB dan masuk ke salah satu fakultas terbaik di Indonesia, lulus tepat waktu dan masuk residensi pun tepat waktu. Lega? iya. Karena saya tau, anak saya punya sosok Romo yang bisa ia andalkan.

..

Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.

Namun, didikan orang tua saya adalah 'bertanggung jawab', artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.

Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk pelajaran biomedik 1 dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya...)

Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum bel, keluar tepat setelah bel. Berkumpul dengan gank selepas kelas, main ke mall di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan kedokteran dan sibuk pacaran.

Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro-boro maju ke depan karena dianggap sebagai mahasiswa berprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan dokter spesialis; semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.

Ya.. Intinya sih, saya ini adalah perempuan dengan kemampuan akademis biasa-biasa saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.

--


"Kak Kiko..... Jadi anak pinter ya, Nak.. Kaya Romo.." Begitu doa hampir sebagian besar orang yang mengusap kepala anak saya. Alih-alih disebut seperti ibunya (tunggu, memang Ibunya seperti apa?). Semua doa tersebut saya aminkan dengan baik, siapa sih Ibu yang tidak senang melihat anaknya mendapat gelar akademik membanggakan?

...

Tapi bagaimana jika tidak? bagaimana bila ternyata....
Kiko mewarisi kemampuan persis seperti saya?
Apa artinya anak saya telah gagal?


---



Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja ia Rafi.
Rafi ini 2x tidak naik kelas di SMA. Iya, bukan sekali, namun 2x. Lulus SMA dengan susah payah, Rafi melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, mengambil mata kuliah komunikasi. Dengan susah payahpun, akhirnya ia lulus dari kampus tersebut.

Tapi percayalah, Rafi adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Rafi bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapun kecuali akademis.

Rafi hanya memiliki 1 kekurangan, ia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena ia tak mau, tapi juga karena ia tak bisa.

Lalu, Rafi jadi apa?
Rafi hari ini adalah jajaran eligible bachelor  di Indonesia, ia memilih karir sesuai yang ia ingin yang jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Ia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang dokter. Sosoknya juga sering wara wiri di televisi dan berbagai forum. Hebatnya, Rafi beberapa kali didaulat sebagai dosen di universitas ternama di Indonesia. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis SMA super baik? :)


dan yang terpenting, ia bahagia.
Ia tidak gagal.
dan ia tidak bodoh.


---

Kembali ke Kak Kiko.
Apabila suatu hari nanti didapati ia tak sepintar Romonya dan memilih menjadi mirip Rafi yang suka sekali hore-hore, ku pastikan ia bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang lebih penting lagi..

Kiko harus tumbuh menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Ia tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat orang tuanya yang seprofesi. Ia tidak boleh terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap Romonya.
Kiko harus menjadi seorang anak yang merdeka. Ku pastikan ia akan menjadi apapun yang ia mau, sejauh ia bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa ia memilih jalan itu.
Kiko harus menjadi anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tuanya, tak apa tak dianggap pintar,
yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas,
tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.

Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu,
tapi bagaimana Kiko bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana Kiko bisa berdiri tegap tentang apa yang dipilihnya,
walau ia tak mirip Romonya, maupun Ibunya.



#CeritaUntukKakak
tentang memilih jalan hidup.

Mencintai Tanpa Drama

Apa sih definisi cinta, saya yakin jawaban dari setiap orang pasti akan berbeda-beda. Bagi sayapun, cinta bukan sesuatu hal yang mudah untuk diuraikan menjadi kata-kata, ia hanya dapat diejawantahkan dengan perbuatan.

Lalu, perbuatan apa saja yang masuk kategori cinta?

beberapa menjawab..
"Cinta adalah pengorbanan dia menembus hujan hanya untuk membelikanku sop hangat."
Atau
"Cinta adalah dirinya yang membuka jaket di saat udara dingin untuk menyelimutiku."
Atau
"Cinta adalah dirinya yang menahan lapar berbulan-bulan untuk membelikanku kado ulang tahun."
Atau
"Cinta adalah dia yang menyempatkan untuk bertemu ketika sedang lelah-lelahnya.."


Iya itu semua cinta.
Tapi jika definisi cintamu adalah yang saya sebutkan di atas, artinya kamu tak selayak itu dicintai olehnya,
Jika definisi cintamu adalah semata sebuah pengorbanan yang dilakukan pasangan, jelas pasanganmu adalah orang baik, tapi kamu bukan yang baik untuknya.

Cinta buat saya adalah perbuatan "saling", saling berkorban dan tidak drama. Cinta memang membuat manusia berkorban lebih keras -- bahkan menembus hujan untuk mengantarkan sop panas, tapi cinta yang baik, tidak akan membiarkan ia melakukannya. Cinta yang baik tidak akan menempatkan cinta itu sendiri di atas pengorbanan sia-sia penuh drama. Cinta yang baik akan menempatkan dirinya pada keadaan nyaman, aman dan saling menjaga tanpa drama.

Jika kamu cinta, kamu tak akan membiarkan dirinya susah hanya untuk sekedar bertemu. Jika kamu benar cinta, ketulusan itu akan menghalangi dia yang kamu cinta untuk mengorbankan kesehatannya sendiri demi kamu yang cemberut.
Jika kamu benar cinta dan dia cinta kamu, semua akan mengalir indah, semua akan berjalan saling menutupi. Kalian akan terus saling menjaga dan tak mau saling menyusahkan untuk hal remeh temeh.

Cinta itu bukan sekedar pengorbanan tentang hujan dan menerobosnya. Tentang dingin dan jaketnya. Bukan pula tentang dia yang menggunakan tenaga terakhirnya untuk menemani manjamu. Cinta jauh lebih dari itu.


Lalu, pabila ada seseorang yang tak mau menerobos hujan karena ia menjaga kesehatannya supaya bisa terus menjagamu, apa ia bisa dibilang tak cinta?


Cintailah ia tanpa drama.
Apa adanya.

Selasa, 03 Maret 2015

Mengasuh Anak dan Mengasah Hobi

Setelah melahirkan, banyak temen yang nanya, “Apa rasanya punya anak?” Agak bingung jawabnya karena memang susah dijabarkan dengan kata-kata. Bahagia, jelas. Repot, sudah pasti. Yang lebih pasti lagi adalah banyak kebiasaan yang harus diubah. Salah satunya hobi.


Dulu sih nggak pernah membayangkan sama sekali dengan kondisi ini, bahkan ketika hamil pun masih belum terbayang. Setelah melahirkan, baru terasa sendiri, "Oh, gini toh rasanya jadi ibu… SIBUK BANGET TERNYATA..." Bahkan sibuknya melebihi urusan kedokteranku. Haha. Sibuk yang bikin gemes.


Nah, yang bikin aku gemes adalah kehilangan hobi menulisku. Aku terbiasa nulis di laptop yang gede dan lumayan repot. Semenjak melahirkan dan urus anak, aku jadi jarang banget nulis. Ya bayangin aja, dikit-dikit anak bangun, terus singkirin laptop, menyusui anak, lalu menidurkannya. Mau buka laptop lagi, udah keburu capek. Duh, ribet.


Akhirnya, berbekal saran dari temen, aku beli ZTE Blade Vec Pro yang katanya asyik buat dipake ngeblog. Hmmm. Gini penampakannya…


Layarnya yang gede bikin gampang dan enak ngetik—5 inci dengan resolusi 720x1280 pixels dengan kerapatan 294 ppi. Bahkan buat ngetik panjang buat ngeblog pun nyaman. Kira-kira gini nih penampakan ibu-ibu saat nulis blog dari ZTE Blade Vec Pro :))
Jernih ya?




Kalo udah beres ngeblog dan Kiko masih tidur, terus ngapain biar nggak bosen? Paling sering sih berselancar di YouTube nontonin video-video lucu atau musik terbaru. Layar hapenya bikin betah banget mantengin banyak video. Kalo mata udah capek nonton video, ya apalagi kalo bukan foto-foto pose anak pas lagi tidur? Haha.


Dengan kamera belakang 13MP ditambah lagi fitur autofocus, optical image stabilization, lampu LED flash, geo-tagging, face detection, dan HDR, makin jadilah hobi motretin anakku ini. Rasanya adem banget kalo bisa liat anak tidur pulas :)




Buat yang penasaran berapa harga hape ini, jangan sedih. Harganya cuma 2 jutaan kok. Awalnya sih nggak percaya harganya segitu, apalagi tampilannya yang classy dengan balutan tekstur karbon dan motif semacam anyaman di bagian belakangnya. Sama sekali nggak keliatan murahan. Justru terlihat elengan dan enak digenggam karena meski berlayar besar, tapi hape ini cukup tipis (7.5mm) dan ringan (152gram). Dipake buat multitasking pun nggak lemot karena prosesornya udah octa core. Kalo masih penasaran, cek aja spesifikasinya di sini


Jadi, biarpun udah punya anak, hobiku bisa tetep jalan dengan ZTE Blade Vec Pro ini. Aku jadi bisa curi-curi ngeblog dan internetan saat Kak Kiko bobok. Yayay! I’m a happy mom!


Senin, 23 Februari 2015

Perayaan (kebablasan) Tubuh

Saya : "Ngapain sih handphone segala repot dikasih casing?"
Dia : "Biar ga lecet, kalau jatoh masih terlindungi.."
Saya : "Terus ngapain ditaro tas kalau lagi pergi-pergi?"
Dia : "Ya biar ga dicuri orang, ga mengundang orang buat ngambil handphonenya lah.."
Saya : "Lo bisa ngelindungin handphone sampe segitunya, kenapa badan sendiri dibuka dan dipamerin terus?"
Dia : "Itu bukan pamer, itu merayakan kebebasan.."
Saya : "… Whatever."

Entahlah, mungkin sejak itu saya dimusuhi ataupun mungkin tidak, tapi setelah dialog di atas memang saya tidak ada kesempatan untuk bertemu muka dengan dirinya.

Saya adalah seorang anak perempuan yang sekarang berlanjut menjadi ibu yang konservatif dan cenderung kolot. Orang tua sayapun juga merupakan orang tua kuno yang membatasi saya ini itu dan cenderung memiliki banyak peraturan memaksa. Rasanya sedikit banyak itu berpengaruh ke cara pikir dan pilihan saya untuk memaknai tubuh saya sendiri.

Merayakan tubuh saya, dengan cara saya sendiri.

Merayakan tubuh.
Frasa yang dulu tak pernah sama sekali ku dengar, lalu kemudian frasa tersebut berkembang menjadi sebuah aktivitas di mana perempuan sudah tak canggung lagi memamerkan lekuk tubuh bahkan tak memakai helai benang dan berpose depan kamera yang setelahnya diunggah di social media. Tapi kembali lagi, cara merayakan tubuh untuk setiap individu memang berbeda-beda, dan norma yang dianut serta nilai yang mengakar juga tak sama.

Buat saya, merayakan tubuh saya maknai sebagai usaha saya merawat juga menjaganya. Setiap inchi kulit yang tak luput dari perhatian. Setiap organ dalam yang diusahakan diasup nutrisi baik. Ya, hanya sebatas itu. Nilai yang ditanamkan pada saya adalah "tanggung jawab", termasuk bertanggung jawab mengenai apa yang telah diberikan, termasuk anggota tubuh. dan perwujudan tanggung jawab saya terhadap tubuh saya adalah menjaganya.

Walau dibesarkan di tengah keluarga konservatif, saya tumbuh juga dikelilingi manusia-manusia modern. Perpaduan tersebut menciptakan saya yang hari ini. Saya menyukai baju-baju yang menunjukkan lekuk seksi tubuh, tapi saya pastikan saya memakainya di suasana dan tempat yang tepat. Saya cinta sekali dengan punggung saya, saya bangga menunjukkannya, dengan syarat lingkungan mendukung.

Mungkin dari semua yang diurai, inti dari semuanya adalah "tau menempatkan diri", saya lebih memilih mengenakan celana panjang daripada hotpants favorit ketika harus pergi naik angkutan umum. Saya lebih nyaman mengenakan kebaya ketika datang ke pesta di mana di sana saya harus bertemu orang-orang yang saya hormati, tapi bila pesta yang saya datangi didominasi tamu yang memiliki pergaulan dengan frekuensi sama dengan saya, saya tak pernah ragu mengenakan dress pas badan yang terbuka di bagian punggung atau dada.

Menempatkan diri dengan tujuan merayakan tubuh. Sejauh ini, saya cukup nyaman menjalaninya.






x: "Tapi, perempuan telanjang di jalan rayapun ga berhak diperlakukan tak terhormat oleh orang lain."
Me: "Diperlakukan tak terhormat itu ga enak, kita bisa mencegahnya dengan menempatkan diri tokh? Terlebih lagi kita ga bisa mengatur perlakuan orang. Selama masyarakat Indonesia masih seperti hari ini, sering tak sopan pada perempuan, ada baiknya ya kita juga menjaga diri. Membebaskan tubuh banyak kok caranya, ga harus menunjukkan payudara di depan banyak orang." 
x: "Orang Indonesia ini kan tipenya saat ada perempuan dilecehkan, yang disalahkan perempuannya kenapa memakai baju terbuka.." 
Me: "Kalau di mata saya yang kuno ini, yang salah memang laki-lakinya, kenapa dia ga bisa menahan syahwat maupun keinginan melecehkan, tapi inget deh, handphone aja lo jaga mati-matian, kenapa badan sendiri ga dijaga segitunya?" 







Ya, balik lagi, itu menurut saya.
Mana yang dirasa nyaman, itu yang dijalankan.
Monggo… :)

Jumat, 20 Februari 2015

Kami Keluarga Biasa-Biasa Saja

Dalam istilah Ilmu Kesehatan Masyarakat, dikenal adanya istilah "Nuclear Family", dimana nuclear family adalah keluarga yang dibentuk karena ikatan perkawinan yang direncanakan yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak baik karena kelahiran maupun adopsi.

Nah, itu jenis keluarga kita, Nak. Nuclear family.
Hanya kita adalah nuclear family yang biasa-biasa saja.

Ketika kakak tumbuh, mungkin kakak akan mulai mendengar istilah supermom, superdad, superfamily dan super super lainnya. Tapi tidak dengan keluarga kita, keluarga kita adalah keluarga biasa-biasa saja, yang normal dan berjalan sebagaimana orang tua Ibu dan Romo membesarkan Ibu dan Romo.

dan ibu tidak minta maaf karena Kakak berasal dari keluarga biasa-biasa saja.

Kami bukan seorang orang tua yang super. Kami bangun shubuh secara terkantuk-kantuk untuk pergi ke rumah sakit. Sekali dua kali dalam seminggu, Romo menitip pesan pada Ibu untuk tak dibangunkan malam karena lelah menggerogoti sendi, sering Romo tak benar memakaikanmu baju karena kantuk maupun karena ceroboh.

Nantinyapun, Kami akan menjadi sosok pekerja biasa-biasa saja. Kakak mungkin akan jarang bertemu kami di siang hari, mungkin Kakak sudah tertidur ketika Romo pulang. Pekerjaan seperti kami hanya menjanjikan cukup untuk hidup tanpa berlebih-lebihan, mungkin rumah kita takkan mewah nan besar, tapi kami berjanji untuk membelikan Kakak lego bricks lengkap ketika Kakak siap. Kami juga berjanji akan membelikan semua buku yang Kakak minta. Kakak tidak akan kekurangan mainan dan buku, tapi Kakak tidak akan menyentuh piranti hingga umurmu siap.

Kami bukan orang tua yang super, kami akan sering salah, kami akan sering membuat Kakak kecewa. Kami juga bukan sosok kekinian, Kami cenderung kuno. Jika kakak akan melihat teman-teman kakak mulai merokok dan minum alkohol di usia muda, kami akan melarang kakak mati-matian. Kami akan mengajarkan kakak bagaimana menghormati perempuan berpakaian minim, tapi kami juga akan menanamkan nilai untuk berusaha mengajarkan kekasih Kakak nanti untuk memakai baju yang sesuai kondisinya, tak berlebih-lebihan, tak terlalu terbuka di tempat yang tak perlu.

Jika suatu hari kakak mulai membandingkan, mengapa teman Kakak diberikan ini, diberikan itu, diperbolehkan ini, diperbolehkan itu, datanglah pada kami dan tanyakan kenapa. Kami bukan orang tua super yang mampu membebaskan Kakak melakukan apapun yang kakak suka, karena kami tidak super, oleh karena itu kami butuh sedikit mengikat Kakak, untuk kemudian dilepaskan pelan-pelan. Dilepaskan dengan penuh tanggung jawab.

Kami bukan orang tua modern yang super. Kakak harus tetap pada koridor dan norma negara di mana Kakak berpijak. Kakak harus tetap membawa darah orang Indonesia dengan budaya yang sudah mendarah daging dari leluhur. Pergilah dengan teman, pulanglah tetap dalam keadaan sadar. Jalinlah cinta dengan perempuan, tapi jagalah kehormatannya.

Kak, kami masih terus belajar, karena kami bukan orang tua super. Jangan pernah menganggap kami orang tua super, karena kami tak suka itu. Kami lebih suka dinilai sebagai orang tua yang baik untuk Kakak, sebagaimana orang tua. Kami bisa menempatkan diri sebagai teman, tapi kami tetap orang tua Kakak.

Ya, karena kami bukan orang tua modern yang super. :)

Jumat, 13 Februari 2015

Pentingnya Conditioner

Jadi, menurut orang-orang tua, masa menyusui itu masa yang unik. Selain bentuk badan yang berubah di bagian dada, ada mitos yang bilang kalau bayinya ileran biasanya diikuti oleh rambut ibunya yang rusak seperti rontok.

Aku sih ga percaya kaya gitu ya,
sampai aku ngeraba kepala sendiri..


KOK RAMBUTKU MENIPIS????
KOK BANYAK RAMBUT DI LANTAI??

*pingsan*


Setelah dipikir-pikir pake logika, ternyata selama menyusui waktuku untuk mengurus diri sendiri praktis jadi berkurang, aku jadi males les les les pake conditioner setelah pakai shampoo. Secara rambutku kan pendek, jadi aku ga terlalu peduli. Lagipula rambutku lebat banget, makinlah aku males rawat rambut.

Hvft.


Ternyata mitosnya berasal dari situ, Gaes. Dari ibunya yang secara ga sadar ga ngerawat diri selama menyusui. Nah, setelah sadar itu semua aku mulai lagi rawat rambut. Ga repot sampe hair spa segala, cukup rutin aja pake shampoo lalu dilanjuti dengan conditioner. Menurut rekomendasi orang banyak, aku akhirnya beralih perawatan ke Pantene. Eh bener lho, ga nyampe 3 minggu, rambutku udah balik ke kondisi awalnya. Jadi lembut lagi dan ga banyak rontokan di lantai. Awalnya sedikit ga percaya, tapi setelah ku perhatiin ternyata khasiat conditioner emang sebanyak itu… yang paling jelas adalah rambut jadi lebih lembut dan mudah ditata. nah bonusnya, rambut jadi lebih kuat.




Itu pengalamanku, pengalaman kalian tentang rambut apa sih? Ceritain dong di kolom komen, ada 10 goodie bag dari Pantene nih buat 10 komen pertama.
See you.

Jangan lupa pake conditioner!

Rabu, 04 Februari 2015

Pengalaman Mendua

Perempuan akan mudah sekali jatuh cinta ketika ada seseorang datang ketika ia sedang sakit-sakitnya, pernyataan yang ku amini. Hari itu aku bertemu denganmu, saat kondisiku sedang lemah-lemahnya, tak berdaya dan lemah.

Ingat?
Tentu saja tidak, karena kamu tidak peduli akan hadirku di situ. Tapi aku sadar betul akan keberadaanmu di sekitarku. Aku sempat melihatmu dekat, lalu kemudian kamu pergi melangkahkan kaki menjauh dariku. Lalu rindu itu mulai terbentuk untukmu.

Ingat?
Pasti tidak.
Aku tak berdaya di hadapanmu, tapi hari itu kamu dikelilingi banyak orang. Aku ulang ya, banyak sekali orang. Aku tetap lemah, tak bisa apa-apa, bahkan untuk menyentuh tanganmu aku tak mampu. Tapi rasa debar seperti cinta pertama bergemuruh dalam dada. Seperti anak SMP yang pertama mengenal cinta.
Orang-orang disekelilingmu menghalangiku dari melihat wajahmu, hingga perlahan kamu mendekat, aku bisa melihatmu jelas, sungguh jelas. Lalu aku tersenyum, walau masih pilu.

Matamu, sendu. Tapi matamu mengingatkanku pada cinta yang dulu pernah aku rasa. Bibirmu bergerak, mungkin ingin berkata sesuatu, bibir tipis agak membulat, persis seperti kekasihku terdahulu. Ah, mudah sekali aku jatuh cinta memang, pada sosok yang mirip sekali akan si mantan kekasih itu.

Aku tersenyum lebar.

Lama.
Lama.
Kita semakin akrab, aku sering menciumimu diam-diam di balik punggung teman hidupku, seorang yang mengajakku  berkomitmen untuk hidup bersama.
Kita juga semakin intim, tak terhitung aku tertawa bahagia hanya karena kamu menyungging senyum. Ah, kamu mirip sekali dengan mantan kekasihku..

Lalu, aku tau,
aku jatuh cinta lagi. Jauh lebih hebat dan jatuhnya lebih keras.
Pada kamu,
seorang yang memiliki mata yang nyaris sama dengan ia yang sebelum hadirmu, mengisi hari-hariku.

Aku jatuh cinta lagi,
dan aku tak sabar menunggumu memanggilku..


"Ibu.."




#30HariMenulisSuratCinta

Selasa, 03 Februari 2015

Tentang Menjadi Ibu

Terhitung sudah sebulan lebih sedikit aku merasakan menjadi Ibu dari anak laki-laki hebat bernama Bramastha Nemanja Senna Hadinoto. Hari demi hari, hampir 24 jam aku bersama anak laki-laki hebat ini.

Tidak, aku tidak akan menceritakan pengalaman begadang, lengan kram, puting lecet atau perut yang ku relakan menjadi bergelambir karena melahirkan ia ke dunia. Sedikit aku akan menceritakan sebuah sisi menjadi ibu,


aku merasa berharga.
Ya, sejak menjadi Ibu aku merasa sangat berharga. Jauh lebih berharga dari sebelumnya. Hebatnya membayangkan ada bayi tak bisa apa-apa tapi seperkasa itu membuat Ibunya merasa sangat berharga.

Tiba-tiba, 29 Desember 2014, ada anak lahir dari perutku, seketika hidupku berubah. Anak itu, lemah dan tak berdaya, anak itu tak bisa apa-apa, anak itu tak mengenal siapa-siapa, tempat yang is tempati sepeninggal ia dari rahimku adalah tempat yang asing dan tak lagi nyaman, bahkan iapun tak pernah melihat sosokku.

Anak itu begitu kecil, kurus dan menangis.
Anak itu… Membutuhkanku.

Tiba-tiba, sejak hari itu, ada anak manusia yang menggantungkan seluruh hidupnya padaku. Ia minum dari tubuhku, ia tumbuh dan berkembang berkat makanku, ia menjadi kuat karena suplai susu dariku, ia bisa tidur karena dekapanku, ia berhenti nangis karena belaianku.

Bayiku begitu membutuhkanku, tanpaku ia tak dapat hidup, dan ajaibnya justru itu membuatku merasa berharga, aku merasa keberadaanku penting bagi seseorang. Akhirnya aku merasa hidupku tak sia-sia, minum dan makanku jadi nutrisinya, lelahku menjaganya hingga kerap terjaga menjadi teman dan penenangnya, lengan sakitku menjadi tempat bersandarnya, kakiku menjadi kakinya untuk berpindah, pundakku menjadi tempatnya meletakkan kepala atau menumpahkan sisa susu.

Anakku mungkin bisa hidup tanpa aku, semua bisa tergantikan, tapi perasaan berharga yang ia berikan padaku justru membuatku merasa aku yang tak bisa hidup tanpa dirinya. Hati ini sedih setiap kecerobohanku membuatnya meringis, perasaanku terluka melihat kaos kakinya semua dicuci dan ia tak dapat protes apa-apa, perasaan ini seperti teriris mengetahui celemek susunya tak cukup memenuhi tumpahan minumnya. Semudah itu seorang aku merasa sedih, tapi kehadiran bayiku malah membuatku tambah kuat dan kuat setiap hari. Ia mengajariku arti sabar, ia menunjukkanku bahwa semua hal itu ada prosesnya, bahwa kelembutan adalah kunci dan bahwa menjadi Ibu adalah anugrah bagi manusia.

Bayiku sayang,
selamat 1 bulan.

Ibu sayang Kakak. :)

Senin, 02 Februari 2015

Panggil Dirinya "Pak Tua" ya Kak..

Jika ada seseorang di luar keluargamu yang Ibu ingin kamu tumbuh mewarisi sifat dan sikapnya adalah orang ini, orang yang akan Ibu ceritakan ini..

Kamu bisa panggil dirinya "Pak Tua" karena darah Batak yang mengalir di dirinya dan karena umurnya yang lebih tua dari Romo. Pak Tua adalah teman Ibu dan Romo, seorang yang berprofesi sama dengan Ibu dan Romo.

Romo dan Pak Tua sudah berteman cukup lama, walau kami bertiga tak sering menghabiskan waktu karena kesibukan kami, tapi kami cukup dekat dan mengenal pribadi satu sama lain. Mari sedikit ibu ceritakan mengenai Pak Tua ini..

Ibu ingin kamu mewarisi sifat Pak Tua yang Ibu dan Romo sepakat, ia sangat "laki-laki", pernah suatu hari, Pak Tua tersangkut kasus dengan fakultas karena sedikit kesalahpahaman dan miskomunikasi. Kamu tau apa yang dilakukan ia, Kak? Ia maju sendiri, berkata lantang kepada jajaran akademisi fakultas "Saya datang ke sini untuk membersihkan nama baik teman saya, karena itu murni salah saya. Jika ada orang yang pantas dihukum itu bukan mereka, melainkan saya.". Sedikit sekali orang yang berani mengakui kesalahan (padahal saat itu Pak Tua tidak salah lho, Kak.. Ia hanya mengalami sedikit miskomunikasi) dan membebaskan teman-temannya, berani untuk bertanggung jawab mengenai apa yang telah dilakukannya.

Pak Tua juga bukan seorang kutu buku, ia menikmati hidupnya, merayakan setiap waktu kosongnya tapi berhasil menyeimbangkan segalanya. Pak Tua senang berpesta, Kak. Meminum beer di kala malam, tertawa-tawa puas di tengah sahabat-sahabatnya. Tapi paginya, Pak Tua tak pernah absen menjalankan kewajibannya. Ia orang yang paling tau kapan waktu yang tepat untuk membuka sebotol lagi dan kapan harus berhenti, ia juga orang yang mengerti betul bahwa kewarasan harus tetap dijaga, hidup harus serba seimbang. Ibu hanya ingin Kakak menjadi pribadi yang tidak fokus mengejar apa yang Kakak mau, tapi juga cukup bersenang-senang. Jadilah anak yang tau kapan harus bersenang-senang tapi tetap bertanggung jawab. Jadilah anak yang menyenangkan, bersosialisasi dan banyak teman. Seperti Pak Tua. Nanti kita sempatkan karaoke bareng Pak Tua ya, Kak.. dan lihatlah caranya berjoget, Ibu yakin, Kakak pasti suka.

Suatu hari, Kakak pasti akan bertemu dengan dirinya, hornati ia seperti kamu menghormati saudaramu sendiri, bukan hanya Pak Tua, tapi hormati semua orang, karena Pak Tuapun seperti itu. Ia memberikan slice pizza terakhir yang kami makan bersama untuk Ibu, karena Ibu perempuan. Ia menawarkan mobil untuk dipakai temannya karena temannya kebetulan membawa motor dengan 2 anaknya yang masih kecil dan motornya dipakai Pak Tua.

Belajarlah menjadi orang yang dapat dipercaya seperti Pak Tua, ia mampu memegang rahasia terdalam seseorang tanpa pernah sedikitpun membeberkannya ke orang. Pak Tua juga tak pernah sekalipun menjatuhkan orang lain dan membicarakan rumor yang kepastiannya dipertanyakan.

Tengoklah keramahannya, pernah Ibu bertemu Pak Tua di selasar rumah sakit, tergesa-gesa menenteng helm sepeda dan tas punggung ia menyempatkan diri menyapa Ibu, berhenti sebentar lalu sedikit berlari mengejar ketertinggalan waktunya. Oya, Kak, Pak Tua juga penggemar Manchester United seperti Romo, ia juga pemain bola handal, nanti jika sudah agak besar, jangan lupa untuk melempar bola ke arah Pak Tua dan belajarlah bekerja sama dalam tim.

Kak, seperti Kakak, Pak Tua waktu seumur Kakak persis bernasib sama seperti Kakak. Pak Tua lahir di tengah kesibukan kedua orang tuanya, Ayah Pak Tua saat itu masih menempuh pendidikan dokter spesialis yang memiliki minim sekali waktu untuk bertemu Pak Tua. Sama seperti Romo kan kak? Tapi Pak Tua tak pernah berhenti mencintai ayahnya, beberapa kali Ibu melihat Pak Tua sedang menghabiskan waktu berdua saja dengan Ayahnya, atau saling berbalas komen Instagram. Hubungan mereka tetap hangat walau waktu banyak menjadi musuh, begitulah seharusnya nanti hubunganmu dengan Romo ya, kak. Marahlah ketika Romo jarang pulang, tapi cukup besar hatilah untuk menerima kondisi. Karena apa yang Romo lakukan juga agar Kakak bisa memiliki panutan dari orang terdekatnya.

Nak, mungkin ketika kamu bisa membaca post ini, kamu tau betul siapa Pak Tua yang Ibu maksud di sini. Tumbuhlah besar dengan meniru sekitarmu, bukan hanya dari keluarga tapi dari semua orang yang ada. Ambillah sifat baik, tanamkan dalam diri Kakak.

Berbahagialah selalu ya, Kak. Hormati semua orang tanpa terkecuali, dan jangan lupa, berikan slice terakhir makanan yang dibeli bersama untuk perempuan yang berada 1 meja denganmu, seperti yang dilakukan Pak Tua kepada Ibu. :D




Fase Growth Spurt Kak Kiko

Banyak hal yang aku suka dari Kak Kiko, matanya bulat, pahanya keras, pipinya tumpah dan lain-lain. Namun, ada satu hal yang begitu aku dan suami syukuri yaitu Kak Kiko bukan bayi rewel. Ia jarang sekali menangis dari lahir, jikalau haus, iya hanya terbangun dari tidur; dengan mata bulatnya ia melihat sekitar, menggerakkan tangan dan kakinya ke atas lalu mengoceh, tanpa menangis. Iya, semudah itu.

Malam hari, Kak Kiko juga tidur dan bangun per 2 jam untuk menyusui. Jadi Romo dan Ibunya punya waktu tidur di sela-sela itu. Banyak saudara, pun neneknya memuji ketidakrewelan bayi kami ini.

Hingga suatu hari…


Kak Kiko tidak bisa berhenti menangis, tangisannya terdengar lebih kencang dan pilu dari biasanya. Ia juga terus menerus minta menyusu. 20 menit menyusu, lalu tertidur lalu tiba-tiba terbangun dan menangis, lalu menyusu lagi 20 menit. Begitu terus hingga payudaranya ibunya kempes dan perih.

Ku pastikan semua kondisi kakak normal, perutnya tidak kolik, celana dan bajunya tidak basah, tidak ada gigitan serangga. Tapi Kakak terus menerus menangis dan minta susu.

Lama kelamaan, sabarku hampir luluh dan mulai mempertanyakan kecukupan ASI yang ku miliki, walau secara teori ASI tak mungkin tak cukup untuk bayi karena menganut prinsip supply and demand. Frustasi, stress, sedih melihat anak terus menerus rewel dan tampak tak nyaman..

Lalu aku terduduk di kamar mandi, Kakak ku titip sebentar ke Eyang Nina di kamar, ku coba membuka ilmu anak yang lama terpendam di memori jangka panjang otak. Mencoba mencari diagnosis serta diagnosis banding bayi rewel, menyingkirkan satu persatu yang tak mungkin, hingga akhirnya memoriku sampai ke sekitar tahun ke dua kuliah kedokteran.. Seorang dosen tomboy yang sering duduk mengangkat satu kakinya ke kaki lainnya, dengan suaranya yang lantang dan terkesan galak ia menjelaskan mengenai….


fase growth spurt bayi.

"Pada fase growth spurt bayi biasanya menjadi sangat rewel! Fase ini biasa terjadi pada bayi usia 1 hingga 3 hari, 3 hingga 6 minggu, lalu usia 3 bulan hingga 6 bulan.." Ujar dosenku, seorang dokter spesialis anak, aku duduk di bangku tengah kelas, menangguk-angguk sembari mencatat tanpa pernah terpikir melewatinya sendiri hari ini.

Aku yakin, Kakak sedang mengalami fase growth spurt.

..

Secara singkat fase growth spurt adalah fase di mana si anak sedang berkembang begitu pesat. Dari berat badan, tinggi badan dan perkembangan otak. Nah, karena perkembangannya yang begitu cepat itu, makanya si bayi meminta susu lebih banyak untuk mengimbangi kalori yang terbuang untuk tumbuh. Karena terus menerus haus, makanya bayi jadi lebih rewel dan terus menangis. Tapi jangan khawatir, fase growth spurt ini tak lama, hanya sekitar 2-7 hari lalu bayi kembali normal. Biasanya, ketika akan kembali normal, ada fase di mana bayi justru sering tertidur pulas atau sering dibilang "Sleeping like a log". Lama kelamaan bayi akan mulai berkurang rewelnya dan kembali ke ritme normalnya.

Hari ini Kakak sudah sepenuhnya pulih dari fase growth spurtnya, aku melewatinya selama 5 hari. dan selama 5 hari itu aku benar-benar seperti zombie dan tangan kram luar biasa karena yang Kakak lakukan hanya nyusu dan nyusu.


Yaa, sebelum berpikir bahwa bayi kita "diganggu" lantaran rewel dan suka terbangun tiba-tiba lalu nangis, ada baiknya berpikir ilmiah dulu. Kalau sudah mentok yaaaa mari membaca ayat kursi. Hehehe.



..

Happy parenting! :D

Kamis, 22 Januari 2015

Dari Ibu dan Romo Untuk Kakak

Halo Kakak..

Bagaimana rasanya dunia? Menyenangkankah berada dalam pelukan lengan? atau lebih aman berada dalam rahim?

Kak.. Maafkan Ibu dan Romo atas semua keterbatasan yang Kakak miliki. Mungkin, kakak akan tumbuh tidak seperti anak kebanyakan, Kakak lahir dari rahim ibu yang masih menyelesaikan syarat pendidikan dan Romo yang masih sekolah spesialis. Sabar-sabarlah ya, Nak.. Tempat tidur Kakak bekas, rumah kita masih menumpang, baju-baju Kakak sebagian besar adalah kemurahan hati tante-tante Kakak yang juga menyanyangi Kakak.

Begitulah, Nak.. Menjadi anak dari orang tua seperti kami kadang menyisakan sesak, Nak.. Kami sering bersedih karena tau waktu kami untuk bermain tak bisa 24 jam. Kami juga sering galau memikirkan bagaimana menjelaskan padamu karena mainanmu tak sebagus temanmu nanti. Sewaktu kamu lahir, rasanya semua pencapaian Ibu dan Romo tak ada apa-apanya, Ibu dan Romo seperti seorang kerdil yang tak bisa apa-apa. Kamu seperkasa itu, Nak, mampu menundukkan ego kami yang sudah terlanjur tinggi. Kami sadar, kami tak bisa apa-apa, kami tak berdaya.

Tapi kami berani berjanji,
di balik setiap keterbatasan yang kami miliki, kami akan memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak. Kami sediakan waktu di tengah semuanya, karena kamu tetaplah prioritas. Kamu adalah poros dunia Ibu dan Romo, sebuah alasan bagi Ibu untuk memikirkan kembali rencana Ibu menyusul Romo sekolah. Sebuah alasan Romo menyelesaikan resume pasien lebih cepat setiap harinya hanya untuk sempat menggendongmu sebelum kamu tertidur. Kami siap berjuang jauh lebih keras karena kami memiliki kamu, Bramastha..

..

Masih ingat rasanya ketika mata basah di atas tempat bersujud, kami memohon agar kamu dihadirkan. Masih tak bisa lupa saat Ibu berdoa jauh lebih pasrah ketika kita sama-sama berjuang melawan pendarahan. Tak mungkin, Ibu tak sayang kamu, Nak…

Kamu bukan hanya seorang anak, tapi kamu adalah doa yang dikabulkan. Kamu adalah jawaban dari penantian, kamu adalah alasan iman kami lebih tebal karena Tuhan kami yang Maha Ada.

Nak, jika suatu hari kamu bersedih, ingatlah selalu Ibu dan Romo yang berpelukan ketika kamu masih sangat kecil dalam rahim Ibu. Kehadiranmu kami harapkan, kehadiranmu kami rayakan, Nak.. Jadi jangan bersedih.

Nak, jika suatu hari usahamu gagal dan kamu menyerah, ingat selalu Ibu dan Romo ya, Nak, yang tak pernah menyerah meminta keajaiban. Iya, keajaiban itu adalah kamu.. Kamu adalah hal terajaib yang terjadi di hidup Ibu dan Romo, tanpa melebih-lebihkan. Suatu hari, saat kamu siap, kamu akan tau bagaimana kami pernah berjuang untuk menghadirkanmu.

..

Hai, Nak..
Maafkan Ibu dan Romo yang masih belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Terkadang kesabaran kami menyinggungmu, terkadang diapersmu tak benar, seringkali bajumu tak sesuai. Tapi sabar selalu ya, Nak. Bukan kamu yang belajar dari kami, tapi kami yang mendapat banyak ilmu dari hadirmu. Sabarlah menghadapi kami yang kadang sensitif, sabar pula menghadapi pertanyaan teman-temanmu mengenai kehadiran kami yang mungkin tak sesering orang tua kebanyakan.

Nak,
Ibu siap melambatkan laju karir demi kamu, demi melihatmu tumbuh. Tapi biarkan Romo terus berlari ya, Nak. Nangis saja yang kencang di depan mukanya ketika kamu mulai merasa kamu tak diperhatikan, ingatkan Romo terus menerus bahwa kamu haruslah selalu menjadi yang terutama. Tapi kamu juga harus tau, kami juga ingin kamu berdiri tegak dan bangga menunjuk pada kami ketika temanmu bertanya
"mana bapak ibumu?"


:)

Rabu, 21 Januari 2015

Bramastha Nemanja Senna Hadinoto

"Eh kok bayinya cenderung ga membesar dan ketubannya sedikit nih, Falla? Kenapa ya, jangan-jangan penurunan fungsi plasenta? Konsul dr. Yuditia di bagian Fetomaternal RSCM ya.."

Siang itu, harusnya kontrol kehamilan seperti biasanya, di usia kehamilan 34 minggu, tapi dr. Iko memberitakan hal yang membuatku dan suami lumayan deg-degan. Aku diresepkan 2 ampul pematang paru, kalau-kalau Kakak harus dilahirkan prematur. Duh…

Senin, aku konsul ke dr. Yuditia, spesialis kandungan fetomaternal di RSCM Kencana lantai 5, dari hasil USG 4D Fetomaternal, didapatkan janin kecil (small baby)  di persentil 30. Sebenarnya, ukuran Kakak masih normal, tapi hanya di persentil 30. Jumlah air ketuban juga dinyatakan sedikit kurang, namun menurut dr. Yuditia, kehamilan masih dapat dipertahankan dan dipantau dari minggu ke minggu.

Minggu 35, janin masih kecil, ketuban masih kurang. Lagi-lagi konsul fetomaternal. Fungsi plasenta ada penurunan, tapi masih bisa ditahan. Aku dan suami berdoa, semoga masih bisa ditahan setidaknya hingga minggu 37, itupun berdoa lebih kencang supaya bisa lahir di waktu yang seharusnya.

Minggu 36 berlanjut minggu 37, lagi-lagi janin masih di persentil 30, air ketuban masih kurang. Kembali konsul fetomaternal, hasil masih sama.

Dokter Iko memutuskan untuk menterminasi kehamilan tepat di minggu 38, atau 1 minggu setelah fetomaternal terakhir karena dikhawatirkan fungsi plasenta yang terus menurun dan Kakak yang terlilit tali pusar 2x.
Kami pasrah.





Rencana operasi sesar dijadwalkan Senin, 29 Desember 2014 pukul 7 malam, kami sudah harus masuk rumah sakit untuk konsul anak hari Minggu 28 Desember 2014 pukul 9 malam.

yang nganter aja rame bener :| ada Mbah Uyutnya langsung dateng dari Semarang

lagi CTG

Senin, 29 Desember 2014

Hari H operasi, karena jadwal operasiku malam, paginya aku masih "bandel" jalan-jalan cari sarapan. Aku jalan kaki dari RSCM Kencana menuju ke RSCM Mata Kirana untuk makan soto. :)) Jam 12 siang, udah harus puasa makan, yang boleh masuk hanya air putih dan jam 5 sore harus puasa total.

baru selesai pasang infus
 Pasang infus untuk dimasukkan profilaksis, isinya gentamycin. Aku ada riwayat alergi, maka dilakukan slow drip agar apabila alergi maka reaksi yang ditimbulkannya pelan-pelan dan mudah diberhentikan. Tapi mudah-mudahan reaksi alerginya tidak muncul.

editan Aa, resek.


mau berangkat ke ruang operasi!
18:00 Berangkat ke ruang operasi dan dilakukan persiapan

sudah di ruang transisi operasi, Aa udah ganti baju untuk ikut nemenin di dalam

masih bisa selfie, padahal yaa degdegan

Momi numpang narsis
18:30 masuk ruang operasi mayor.

udah dalam keadaan terbius
Operator operasinya dipegang langsung oleh dr. Budi Wiweko, Sp.OG (k), dengan didampingi 1 dokter anestesi, 2 dokter spesialis kandungan muda sebagai asisten operasi dan 1 dokter spesialis anak sebagai "penangkap bayi" untuk resusitasi.

Operasi dimulai dengan laporan operator mengenai nama pasien dan tindakan apa yang akan dilakukan, lalu berdoa bersama. Sayatan yang dilakukan adalah sayatan melintang supra pubik minimal, atau hanya seukuran diameter kepala bayi dengan pengeluaran bayi melalui tarikan forcep (tang).

Operasi berjalan sesuai rencana, hingga..

"A, kok telingaku gatel? Garukin.. Kepala juga gatel, garukin.."
*Aa garukin*

..

Sayatan sudah mulai terbuka dan siap mengeluarkan kepala bayi.. Daerah kepalaku masih gatal.

Dokter Iko : "Bantu dorong ya, Dok.."
Dokter anestesi : "Siap, Dok.." … "Sudah, Dok.. Tapi belum keluar bayinya, Dok.."
Dokter Iko : "Dorong lagi, Dok!"
Dokter Anestesi : "Belom bisa, Dok.. Besar juga bayinya sampe keras gini…"

Aku : …
Suami : *bantu ikutan dorong* "Dikit lagi, Dik.. kepalanya udah mulai keliatan.." Suara Aa udah mulai bergetar.
Aku : "A, badanku makin gatel.."
Suami : "Sabar, Dik.. Sebentar lagi.."

Dokter Anestesi : "Sip, Dok…"
Dokter Iko : "Oalah… lilitan tali pusarnya yang bikin susah.."




Lalu tangis pertama itu terdengar, seiring dengan air mataku dan suami yang ikut mengalir.


Tangisan pertama yang hanya bisa ku dengar karena Kakak masih diresusitasi oleh dokter anak, tangisan pertama yang menandakan perjalanan baru kami menjadi orang tua. Penanda bahwa tanggung jawab kami semakin berat, sebuah kebahagiaan melimpah ruah karena kehamilanku yang terbilang  berat akhirnya lewat juga.

Pukul, 19:10, hanya sekitar 6 menit dari sayatan pertama di perut, Kakak keluar. Iya, hanya 6 menit. Tapi rasanya lama sekali, ditambah proses yang agak macet karena terlilit tali pusar, tapi semua terbayar ketika untuk pertama kalinya aku melihat wajah putraku, anak laki-laki darah dagingku yang nantinya akan menjadi penjaga tuaku, cah lanang jagoanku.

Ia tertidur, tampak nyenyak, dengan muka sedikit pucat tampak kedinginan. Disandingkan di samping mukaku dan ciuman pertama itu mendarat di pipi lembutnya. Mohon maaf pada wanita yang nantinya mendampingi anakku saat ia dewasa, karena ciuman pertama hidupnya hanya dariku, Ibunya..

Air mataku mengalir, deras. Tapi senyumku lebar nyaris tertawa terbahak. Anak laki-lakiku terlahir sempurna ke dunia. Jemarinya lengkap, tangisnya keras. Aku merasa sempurna..



Sudah mendengar tangis pertama Kakak, tapi Kakak masih diresusitasi
banjir air mata
setelah ciuman pertama
Setelah ciuman pertama itu, Kakak harus segera dinaikkan ke ruang transisi bayi karena suhu badannya hanya 35.5, terlalu berisiko bila harus dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD), jadwal operasi malam memang membuat ruangan operasi jadi super dingin, bahkan aku harus diberikan blower hangat tambahan agar tidak hipothermia. Bahkan dokter spesialis di dalampun beberapa kali mengeluh mengenai AC yang super dingin.

Sekitar 19:30, operasi selesai, luka sudah dijahit dan ditutup perban, aku dialihkan ke ruang recovery. Kakak sudah berada di ruang bayi. Bergantian keluargaku melihatku sembari menunjukkan padaku foto Kakak yang diambil dari ruang bayi.

Tak lama..
"Aa, badanku makin gatel. Ini sih reaksi alergi ini.. Bukan gatel biasa.."



Ternyata gatal yang ku rasakan selama operasi adalah gatal alergi gentamycin yang diinfuskan padaku untuk profilaksis, badanku mulai memerah, bentol dan semakin gatal. Setelah konsul anestesi, dokter anestesi memberikanku obat penghambat alergi yang berefek kantuk padaku. Aku kemudian tertidur, dan terbangun sudah di kamar.

:)

Kakak sedang diadzankan Romo :")
Kakak sudah di kamar rawat, tapi aku masih teler :))

..

Hari itu, Senin 29 Desember 2014, pukul 19:10, anak laki-laki kami lahir dengan selamat sempurna, Bramastha Nemanja Senna Hadinoto dengan panjang 49 cm dan berat 2595 gram. Hari yang kami tunggu, hari yang kami selalu pinta dalam doa.

Alhamdulillahirabbilalaamin. Terima kasih telah melengkapi hidup kami, Kak Kiko… Jangan bersedih ya, karena kamu adalah doa yang terkabulkan.

Cium sayang,
Ibu dan Romo dan semua yang menyayangi Kakak. :)

Kamis, 25 Desember 2014

Hamil? Santai aja.

Banyak perempuan ketika hamil membatasi apa yang mereka gunakan, apa yang mereka konsumsi dan apa yang mereka lakukan. Ya benar memang, kehamilan adalah anugrah yang diberikan Tuhan, sudah selayaknya kita menjaga kehamilan kita dengan sebaik-baiknya. Namun, hamil bukan berarti membatasi hampir semua yang disuka dan apa yang biasa rutin dilakukan.

Selama kehamilan, aku banyak sekali mendapat komentar miring dari followers mengenai aku yang masih tetap merawat muka, masih santai aja minum secangkir kopi latte, masih mengenakan high heels, masih memakai baju ketat, masih jaga malam dan masih masih lainnya. Mungkin, sebagai dokter, pengetahuanku mengenai kehamilan memang cenderung di atas pengetahuan awam, jadi berbekal ilmu yang ku miliki aku tetap melakukan hal yang mungkin di mata awam tabu untuk dilakukan.

Aku memutuskan menolak mitos yang ramai di masyarakat, aku juga memutuskan untuk lebih merayakan tubuhku justru di saat hamil. Ku bebaskan diriku melakukan apapun yang ku suka, yang menurut keilmuan tidak berefek negatif pada janin. Ku paksa diriku beraktivitas normal, ku dorong diriku untuk tidak kalah dengan kehamilan.

Hasilnya? di H minus beberapa hari sebelum melahirkan, aku tak memiliki masalah berarti pada fisikku. Berat badanku hanya bertambah 7 kilogram dengan berat janin normal, aku hampir tak pernah merasakan nyeri pinggang dan punggung, aku masih bisa berkeliling ITC dan IKEA tanpa kendala berarti. Mukaku tetap terawat. Alhamdulillah.


Bumil emang boleh pake krim perawatan muka? … BOLEH BANGETTT,
Sebagai ibu hamil, dalam badan kita ini terjadi lonjakan-lonjakan dan ketidakstabilan hormon yang berperan penting dan langsung dari timbulnya jerawat dan minyak berlebih di muka. Ketika awal bedrest, aku tidak peduli pada muka, hasilnya muka penuh jerawat. Ketika sehat kembali, aku menjadi jauh lebih rutin merawat muka dan sekarang, walau masih ada sedikit flek coklat sisa jerawat, mukaku sudah normal kembali.

Memang benar ada beberapa produk kecantikan yang tidak disarankan dipakai ibu hamil tanpa pengawasan ahli karena ditakutkan berefek sistemik (masuk ke aliran janin). Sebagian besar produk yang tidak direkomendasikan bagi ibu hamil biasanya juga atas resep dokter, jadi bisa dikatakan, hampir semua produk yang dijual bebas di pasaran aman digunakan ibu hamil.

Selama hamil, aku memang memberhentikan semua krim dokter dan menggantinya dengan perawatan yang dapat ditemui di mana-mana, bahkan di mini market. Hasilnya? Ada kok. Walau kuncinya harus tetap sabar karena pasti efek yang terjadi tidak secepat krim muka hasil resep dokter kulit dan kecantikan.

Jika masih ragu, kunjungi store resmi merk perawatan muka kalian, semua beauty advisor dibekali oleh pengetahuan mana produk yang ramah pada ibu hamil mana yang sebaiknya distop dulu untuk sementara.

Penelitian terakhir sebenarnya menyimpulkan, semua obat topikal (krim) yang mengandung zat berbahaya bagi ibu hamil baru memiliki efek ke janin bila dioleskan di lebih dari 50% permukaan badan. Jadi, kalau cuma di daerah muka, artinya aman. Tapi, bagi yang tidak mau mengambil risiko, lebih baik ganti saja produk perawatan dokter dengan produk yang biasa dijual di pasaran.

Heii.. hamil harus tetep cantik dong! :3


High heels bahaya buat janin, bener gak? SALAH BANGET!
High heels ga berefek sama sekali untuk kehamilan. Artinya, ibu hamil bebas kalau mau pake high heels kemanapun. Tapi biasanya, secara alami, badan lebih cepat cape selama hamil. Oleh karena itu, banyak ibu hamil menghindari menggunakan high heels. bukan karena berefek pada kehamilan dan janin tapi berefek pada kenyamanan ibu itu sendiri.

Selagi hamil. hormon-hormon di tubuh kita sedang menyiapkan pinggul untuk persalinan, oleh karena itulah ibu hamil lebih mudah merasakan pegal pada pinggang dan punggung. Coba bayangkan, pada kondisi perempuan normal saja, high heels bikin pegal, bagaimana di ibu hamil. Selain itu, alasan biasanya ibu hamil menghindari memakai high heels adalah meminimaliskan risiko jatuh. Ibu hamil lebih berbahaya bila jatuh daripada perempuan tidak hamil, jadi selama yakin kuat dan hati-hati, Ibu hamil bebas memakai high heels. :D


Ibu hamil boleh makan sushi ga? Ya boleh, tapi..
Awal hamil, aku bertanya pada dr. Budi Wiweko mengenai apakah aku boleh makan sashimi (ikan mentah) atau tidak, dan jawaban beliau adalah "boleh aja. Kamu makannya ga di pinggir jalan kan?"

Banyak ibu hamil menghindari sushi selama kehamilan karena ikan yang tidak matang, padahal selama yang kita konsumsi dari restoran besar terpercaya, aman kok. Jika masih khawatir ya hindari, kalau aku sih tetap konsumsi sashimi kok, tapi memang tidak sebanyak dulu. Pilihan sushiku juga lebih banyak jatuh ke yang sushi matang, karena aku memang lebih suka sushi matang.

Ngidam sashimi? Boleh… tapi pastikan belinya di restoran besar ya, jadi ikannya fresh. :D


Ibu hamil ga boleh sama sekali minum soda! … ish, Gapapaa..
Selama kehamilan, diperbolehkan kok minum soda. Tapi mengapa banyak ibu hamil menghindari? Bukan karena tidak baik untuk janin, tapi soda mengandung gas yang memperparah asam lambung. Selama hamil, hormon yang bekerja mempengaruhi sekresi asam lambung, makanya ibu hamil mudah mual dan muntah. Nah, kondisi ini bisa diperparah oleh soda karena kandungan gas di dalamnya. Jadi, jika perut dalam kondisi normal, boleh aja kok konsumsi soda. FYI, aku ngidamnya Coca Cola lho… padahal selama belum hamil, aku ga pernah sama sekali suka soda. Ngg.. hehehe.


Ibu hamil boleh makan duren ga? Boleh…
Penjelasan yang sama dengan soda, duren mengandung gas yang bisa memicu asam lambung meningkat. Jika perut sedang dalam kondisi enak, duren tidak dilarang… Hajar ajaa, enak ituu.. enak.


Ibu hamil boleh konsumsi kopi? Boleh.. Tapi batasi.
Dalam kopi, terdapat kafein yang kurang baik bagi kehamilan bila dikonsumsi dalam jumlah besar dan banyak. Tapi secangkir kopi sehari untuk dinikmati bersama suami, kenapa tidak?


Ibu hamil harus makan dengan 2 porsi! Salah.
Selama hamil, aku tetap membatasi porsi yang masuk ke badan. Aku tidak ngemil banyak-banyak, aku juga tidak makan dengan porsi ganda. Semua porsi makanku normal. Hal ini membuat berat badanku tetap stabil. Perkembangan janin sudah dipegang oleh plasenta, dengan amunisi memang dari yang kita makan. tapi 1 porsi saja cukup dan tidak usah ngemil sepanjang hari, karena sisa makanan akan berubah jadi lemak di badan ibunya, bukan di janin. :D


Keguguran disebabkan makanan yang salah! S A L A H.
Keguguran TIDAK disebabkan oleh makanan apapun. Keguguran (abortus komplit) penyebabnya beragam, tapi tidak satupun karena makanan. Umumnya, keguguran disebabkan oleh ketidakcocokan kromosom ayah dan Ibu, di mana percampuran kromosom adalah hal alami yang dialami telur dan sperma ketika bertemu dan bersatu. Penyebab berikutnya adalah darah si Ibu yang kental (lagi-lagi inipun bukan karena makanan, melainkan memang si ibu memiliki kelainan darah). Masih banyak teori mengapa keguguran bisa terjadi, tetapi tidak ada satupun yang disebabkan oleh makanan. Jadi, tutup aja itu telinga kalau ada yang bilang makanan yang kamu konsumsi memicu gugurnya janin.


dan mitos-mitos lainnya……


..
intinya, hamil itu bukan sakit, jadi tidak perlu terlalu takut. Bawa santai saja. Ibu hamil itu manusia istimewa, bayangkan kita tidak sakit, tapi setiap bulan dipantau dokter perkembangannya. Selalu ingat, bahwa semua ibu pasti memiliki nalurinya sendiri-sendiri. Hindari bila tidak yakin. Jangan dilakukan apabila bisa membuat perasaan tidak tenang.

Setiap ibu hamil itu unik dan tidak sama, jadi akupun tidak menyarankan apa-apa selain carilah yang membuat paling nyaman.. :D

Selasa, 16 Desember 2014

Senjata Pribadi Selama Kehamilan

Oke..
di tengah Kakak yang semakin menolak diam, dan sudah tinggal bener-bener sebentar lagi menuju lahiran, aku mau sharing tentang barang-barang yang ku anggap sangat membantu hidupku lebih waras dan ringan selama menjalani kehamilan.

Ga banyak sih, tapi barang-barang ini dewa banget buatku. Oke, yuk kita mulai..


1. Mamaway Pregnancy Belt
Benda ini…….. JUARA. ntah apa jadinya aku tanpa pregnancy belt ini. Ini ku pakai tiap hari. Iya, tiap hari. Ntah kenapa, selama hamil, aku itu selalu ngerasa perutku semacam ngilu dan mau jatuh. Ga enak banget deh pokoknya. Nah, disaranin Chacha buat beli belt ini, ternyata… MASALAH SELESAI AJA DONG, selama make ini aku ga pernah ngerasa lagi ngilu. Punggung juga tertopang.

Belakangan, dari jurnal yang ku baca, ternyata pregnancy belt itu khasiatnya banyak, bukan hanya sekedar penopang, tapi membentuk pinggang lebih slim, membantu mencegah stretchmark, menopang punggung sehingga meminimaliskan sakit punggung. Dan bener banget, aku ngerasain manfaat itu semua.

Oya, Mamaway Pregnancy Belt ini aku beli di Mothercare. Silakan cek sendiri ya buibuk. :D


2. Celana hamil dari H&M
Barang kedua yang membuat diriku nyaman aktivitas adalah legging maupun celana berbahan denim produksi H&M. Bahannya lembut banget, melar, di perut enak. Juara deh untuk urusan celana hamil. Aku sangat rekomendasiin legging produksi H&M. Bahannya adem, dan celananya tinggi hingga menutupi perut, nyaman banget. Karena celana hamilnya diproduksi oleh h&M, jangan takut keliatan kaya "ibu ibu banget", celana hamil mereka stylish semua kok. Ga akan malu makenya. :"D

Kalau ga salah, ga semua gerai H&M menyediakan koleksi baju hamil, aku sih belinya di Grand Indonesia. Di bawah ada foto celana yang aku punya.



3. Bio Oil (…dan lotion Kiehl's)
Ya kalau ini sih harusnya aku ga usah review lagi ya. Hahaha. Udah terkenal banget untuk mencegah stretchmark. Ingat, mencegah stretchmark bukan menghilangkan total stretchmark. Cek aja di google seberapa banyak yang mereview produk ini sebagai produk unggulan untuk mencegah stretchmark. Aku pake Bio Oil dari usia kandungan 4 bulan, alhamdulillah sih hingga hari ini mendekati lahiran ga ada stretchmark keluar.

Tapi memang Tuhan menciptakan kulit manusia berbeda-beda. Ada yang tidak pakai produk apa-apa, tapi stretchmark tidak keluar. Ada yang udah pake semua rangkaian, tapi tetap keluar. Intinya gini, stretchmark itu terjadi karena regangan kulit, nah, untuk mencegah kulit yang meregang lalu pecah tersebut maka kulit harus benar-benar dalam kondisi lembab. Ketika kulit dalam kondisi lembab, maka ketika ia meregang, kulit menjadi tidak pecah. Gitu aja prinsipnya. :D

Bio Oil udah banyak kok di apotik besar. Kamu bisa beli di situ. 
Lotion Kiehl's buat apa? Gini.. aku ga pernah nemuin lotion selembab Kiehl's, makanya sebagai tambahan, kalau lagi senggang aku suka olesin lotion Kiehl's ke perut. Lembabnya enak banget, awet. Dan wangi. Bio Oil aku pake setiap habis mandi pagi dan malam, nah Lotion Kiehl's diantaranya. Simply karena lembabnya parah banget sih. :D


4. Bantal Cinta
Selama hamil, posisi tidur jadi serba salah. Dan buatku, posisi tidur paling enak itu adalah miring dengan perut diganjel bantal panjang nan empuk. Udah deh, nyenyak semaleman. :D

Kenapa namanya bantal cinta? ga tau deh. Serius, kalau di ITC namanya Bantal Cinta. :/ 





Yuhuuu,. sekian!!

Sedikit kan? iya.
cuma menurutku barang di atas itu manfaatnya dewa banget di aku.
Monggo kalau mau dicoba.

Cuma aku mau disclaimer dulu nih di awal, efek akan berbeda di tiap orang ya. Jadi kalau di aku semua barang di atas berdampak maksimal, bisa jadi di kamu ngga ada manfaatnya. Begitupun sebaliknya, barang yang paling bermanfaat di kamu, mungkin di aku efeknya kurang maksimal.

Jadi yaa, selamat mencari mana yang terbaik! :3