Senin, 24 November 2014

Reasons To Get Married

"HAHAHHAHAHAHA.. I don't believe in commitment, Bek…. at least for now or 5 years ahead. Gua mau single ampe umur 30an ajalah. Kebetulan gua cowo, karir gua masih banyak yang harus dikejar. Married? Umm.. Ntar ajalah dulu."

"Hahahaha. Okay.."

..

itu percakapan sesaat aku dengan seorang teman, sebut saja Andri.. Ia seorang lelaki, ia bukan petualang cinta, ia juga bukan seorang penjahat kelamin. Ia laki-laki biasa yang "sangat lelaki", ia pergi ke club bersama teman-temannya, dalam keadaan setengah sadar ia flirting sana sini. Dekat dengan banyak perempuan tanpa komitmen, kerja keras demi karir dan masih membeli robot-robotan untuk melengkapi koleksi di kamarnya.

..

Hingga suatu hari, notifikasi LINEku berbunyi..
"Beki……. I am falling in love."

..

Di situ aku tau, temanku sedang jatuh cinta hebat. Seorang perempuan membuatnya melayang, membuatnya lupa apa yang pernah ia katakan padaku. Seorang perempuan hebat menyadarkannya akan 2 hal…
"Reason" dan "Home"

kurang lebih 1 tahun dari notifikasi LINE pertama itu, Andri menikah. :)


….



"Alasan" dan "rumah",
bahwa seorang laki-laki, sepetualang apapun sifatnya, pasti suatu hari akan menyadari  bahwa ternyata ada sesuatu yang 'hilang' dari dalam dirinya. Mereka akan tersadar dengan sendirinya, disadarkan oleh seorang… wanita.

Laki-laki butuh sebuah 'alasan' untuk bekerja lebih keras, pulang lebih cepat, melakukan hal lebih baik, senyum lebih lebar, badan lebih segar, kesehatan lebih terjaga. Ya, untuk seorang perempuan dan anak-anaknya kelak.

Laki-laki juga butuh 'tempat pulang', bukan, bukan sepetak bangunan. Tapi seorang atau sebuah hati tempatnya akan kembali, tujuannya menjalani hari dan motivasinya meraih mimpi. Laki-laki butuh tempat kembali ketika lelah menghampiri, tempat di mana mereka bisa menjadi anak kecil kembali, tempat di mana mereka merasa; di manapun lokasinya; selama perempuan itu berada di sini, laki-laki itu merasa di.. rumah. :)

..

Jadi, kamukah tempat ia pulang dan alasan ia bertahan? :)










..


By the way, kalau mau plan wedding, kunjungi www.bridestory.com ya.. Seriously, mereka membantu sekali. happy planning. :D www.bridestory.com

Jumat, 31 Oktober 2014

Sukses itu..

1 Green tea latte ukuran venti, dan (mungkin) mocca frapucinno miliknya. Di suatu sore yang tak terasa  berganti malam. Pekerja setempat terlihat mulai membersihkan meja-meja, mengangkat kursi-kursi di bagian luar.

Kami masih di dalam Starbucks Megaria. Bertukar cerita, ngalor ngidul mengenai hal-hal yang telah kami alami dan hal yang akan kami alami. Membicarakan tentang hidup sebagai residen, sebagai seorang istri dan suami.

Berikut sedikit potongan pembicaraanku dengan dr. Noviertha Kusumandaru atau biasa disapa dr. Aan, seorang residen anestesi di UNS.


..

Me: "Jadi, sukses berkeluarga menurut lo apakah?"
Aan : "Sukses buat gua itu sederhana Fa, tarolah gua akan punya anak super jenius, di mana suatu hari anak gua menghampiri gua dan dia minta untuk disekolahin di Harvard.. Dan gua tau gua gagal jadi orang tua kalau saat itu; gua ga bisa memenuhi mimpi dia (baca: mendukung dari segi finansial).."
Me: "… ok"

..



Jadi, sukses berkeluarga menurutmu apa? :)

Jumat, 17 Oktober 2014

Bu Beki dan jerawat yang mendadak outbreak!

Disclaimer : Blog ini bukan ditulis oleh beauty blogger, hanya sharing pengalaman pribadi.

Sekitar bulan Mei hingga Juli, saya harus terkapar hampir tidak bisa bergerak di tempat tidur karena disarankan untuk bedrest total oleh dokter. Praktis, saya hanya bangun untuk buang air. Bahkan sholatpun saya lakukan dalam posisi tiduran.

Karena kondisi bedrest berkepanjangan, tubuh berkompensasi menyesuaikan diri dalam kondisi sejajar tanah. Akibatnya, saat harus berdiri, badan limbung dan lemas luar biasa. Kondisi badan tersebut membuat saya tidak melakukan hal-hal yang rutinnya saya lakukan, salah satunya adalah…

Membersihkan muka.

Iya, selama bedrest tersebut jarang sekali saya membersihkan muka. Akibatnya, muka jadi sangat berminyak dan lepek. Tapi karena yang saya pikirkan adalah kondisi keseluruhan badan saya, kondisi muka seperti saya abaikan. Yang penting badan pulih total, begitu pikirku saat itu.

Menjelang 1,5 bulan bedrest dan bolak-balik kontrol setiap 1 minggu, dokter mulai menyarankan saya untuk mobilisasi atau belajar jalan. Saya sudah diperbolehkan beraktivitas asalkan tidak terlalu berat. Pada kondisi itupun, saya masih sering tidak membersihkan muka dalam sehari. Pokoknya yang penting badan pulih total…

Ketika sudah dinyatakan pulih total, barulah saya mulai sadar pada perubahan badan saya pasca bedrest diantaranya adalah berat badan yang turun hingga 5 kilo dan…. Muka yang penuh jerawat. *stress*

Muka saya hampir tidak pernah jerawatan separah pasca bedrest, karena biasanya muka saya hanya dihinggapi 1-2 jerawat setiap mau datangnya menstruasi atau ketika kebersihan muka agak tidak terawat. Tak heran, keadaan ini cukup membuatku tidak mau melihat kaca dan ga mau selfie. Halah. Bahkan setiap teman yang bertemu, maka warning pertama yang keluar dari mulut saya adalah "Jangan komen muka gua, please!"

:"))

Sadar bahwa mood saya harus diperbaiki, tapi di satu sisi saya sedang tidak bisa menggunakan obat-obatan penghilang jerawat karena kebetulan kontra indikasi dengan kondisi saya, maka cara satu-satunya adalah menggunakan produk yang dijual di pasaran bebas, bukan ke dokter kulit.

Lalu saya disiplinkan diri saya untuk cuci muka dengan cara yang benar walau ribet. Berikut rangkaian perawatan yang saya lakukan dalam cuci muka..

1. Susu pembersih.
Tuangkan susu pembersih ke tangan, lalu usapkan ke muka. Pijat melawan gravitasi, lalu bersihkan dengan kapas.

2. Toner
Tuangkan toner ke kapas, bersihkan lagi muka dengan cara yang sama, yaitu melawan gravitasi.

3. Sabun pembersih
Tuangkan sabun pembersih ke muka, bersihkan muka seperti biasa (juga melawan gravitasi), bersihkan dengan air. Keringkan dengan tisu muka. Jangan keringkan muka dengan handuk, karena handuk adalah sarang bakteri.

4. Toner (lagi)
iya saya pakai toner 2x, sebelum cuci muka dengan air dan sesudah cuci muka dengan air. Saya suka aja dengan sensasi dingin dan segar toner.

5. Serum
Tuangkan sedikit ke telapak tangan, usapkan ke muka.

6. Pelembab (jika malam, maka saya memakai krim malam)
Ambil pelembab, oleskan ke muka justru searah gravitasi


Selesai….
Semua produk yang saya gunakan adalah produk yang dijual bebas di pasaran, bahkan di mini market. Tidak perlu mahal kok, yang penting rutin dan telaten.
Dan ini hasil perawatan muka sederhana tadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Oiya, ini semua tanpa filter ya..





dan ini wajah saya hari ini.. diambil tepat saat saya menulis post ini, setelah mandi + cuci muka dengan cara yang saya utarakan di atas.



Tambahan..

- Bekas jerawat tidak dapat hilang dalam waktu singkat, sabar-sabar aja. Tapi akan hilang selama kamu rutin dan telaten dan tangan kamu ga "gatel" pengen garuk-garuk.

- Kondisi kulit saya sebelum bedrest itu cenderung normal, berminyak sedikit hanya di T-zone. Cara di atas tidak saya sarankan untuk kondisi muka yang memiliki jenis patologis (misal: Jerawat sangat berlebih di seluruh muka.), Jika kulit mukamu dipenuhi jerawat, konsultasikan ke dokter kulit ya untuk penanganan lebih lanjut.




Cara cuci muka aja kok ribet? Ya memang.
Tapi kalau telaten, keliatan kok hasilnya. :)

Selamat mencoba. :3

Selasa, 14 Oktober 2014

Perlu Undang Mantan ke Nikahan, Ga?

Pertanyaan yang paling sering banget mampir ke diriku adalah "Jadi, perlu ga sih kita undang mantan ke nikahan kita?"

Lalu biasanya, aku dengan males-malesan akan jawab ke mereka "Ya terserah elo..", karena memang pada dasarnya siapa-siapa yang kita undang adalah hak prerogatif si pengundang.

Tapi…
Kalau ada yang nanya ke gua "Lo undang mantan ga sih pas nikahan kemarin?" dan kemudian aku jawab, biasanya mereka akan bertanya kembali mengenai keputusan yang aku dan suami ambil saat itu..

Mantan emang sensitif sih untuk dibicarain, apalagi jadi topik pembicaraan kita bersama pasangan yang nemenin kita hari ini. Apalagi kalau sejarah berhubungan kita ma mantan pernah "dalem" dan serius. Ini biasanya bikin makin dilemma antara undang si mantan saat kita nikah atau ngga. Biasanya, kalau si penanya serius ingin meminta pendapatku, maka ada beberapa pertimbangan yang sering ku ajukan pada mereka, antara lain..

1. Lo ma dia masih ada drama ga?
Kalau masih, ya mending jangan.. Kamu ga mau kan hari bahagia kamu rusak cuma karena tangan kamu bergetar ngeliat dia atau terlihat sangat salting saat dia mengucapkan selamat? Lagipula kalau emang masih ada drama, udah, ga usah ditambah drama lagi dengan membuat mantan kamu menerima undangan pernikahan kalian. Itu ga akan memperbaiki suasana, yang ada malah makin drama antar kalian meruncing. Tapi, kalau hubungan kalian sudah baik-baik saja, ya balik lagi, terserah kamu mau diundang atau ngga..

2. Pasangan kamu keberatan ga kamu undang mantan?
Gimana juga, pasangan kamu adalah orang yang harus kamu hormati pendapatnya. Jika ia keberatan, maka udahlah, ga usah berencana undang mantan. Tokh yang paling penting untuk hari itu kan kalian. Masa cuma gara-gara mantan dateng, mood pasangan di pelaminan jadi rusak? Itu bakal kebawa sampe kedepan-depannya lho…

3. Mantan kamu udah punya pasangan lagi belom?
Kalau hubungan kalian sudah baik-baik saja, dan mantan belom punya pasangan lagi, ya undang aja.. Tapi, kalau mantan udah punya pasangan lagi apalagi pasangan barunya mantan berpotensi drama, ya mending ga usah diundang. Daripada kamu diliatin sinis? :|

4. Keluarga kamu keberatan ga?
Biasanya, ada tipe keluarga yang jadi awkward ngeliat mantan kamu hadir di hari besar kamu. Itu biasanya ditandai dengan nasihat-nasihat sebelom pernikahan di mana mereka secara jelas menginginkan kamu untuk tak lagi berhubungan dengan orang-orang yang pernah mengisi hati. Mantan kan dulu sempat ada di posisi pasanganmu, duduk bareng dengan keluarga saat makan malam, atau sekedar berpamitan ke kedua orang tua. Jadi yaa.. saranku, pikirin lagi, kira-kira keluarga kamu akan terganggu ga kalau kamu undang si mantan..

5. Temen-temen kamu resek ga?
Gini.. kadang kita ga sadar, bahwa mengundang mantan ke nikahan kita walau antara kalian berdua sudah baik-baik saja itu beban di mantan. Kenapa? bayangin deh, dia harus jalan menuju ke tempat yang seharusnya dia tempati dengan tatapan aneh dari tamu-tamu yang mengenalnya. Belom kalau ditambah temen-temen kamu yang emang dasarnya resek, mereka dengan ringan bisa aja ledekin mantan kamu dan lain sebagainya. Hey, itu annoying tau.. Mantan kan juga orang yang harus kita jaga perasaannya sampai kapanpun. Jangan sampai niat baik dia kasih selamat ke kamu berakhir dia yang kesel karena kelakuan usil temen-temen kamu.


Yaa.. paling segitu aja sih.
Cuma ya itu tadi, balik lagi ke kamu, menuju pernikahan itu kan pikiran yang luar biasa dewasa, masa hanya untuk sekedar undang mantan atau ngga aja bimbang.. Harusnya sih itu masalah yang ga perlu dipikirin segitunya.

Jadi, mau undang mantan ke nikahan atau ngga?


Senin, 06 Oktober 2014

Orang Tuaku Kolot!

Aku anak yang penurut. Setidaknya itu yang dapat ku ingat dari masa kecilku hingga aku menulis post ringan ini. Dari kecil, aku hampir tidak pernah membantah orang tuaku, mengikuti semua mau mereka dan tidak berani "meminta" macam-macam.

Terdengar menjadi anak lemah? Bisa jadi. Tapi sejauh yang ku ingat pula, aku tak pernah merasakan kurangnya kasih sayang dan tidak cukupnya kebutuhanku. Orang tuaku selalu memberikan semua kebutuhanku tanpa diminta. Masa kecilku habis di dalam rumah, ditemani buku-buku bacaan dan mainan edukasi.

Beranjak besar hingga kemudian menginjak bangku kuliah, ternyata aku masih menjadi anak yang penurut.




Ternyata, sifat penurutku pada orang tua dilatarbelakangi ayahku yang sangat galak. Ayahku berasal dari tanah Palembang, ayah juga dibesarkan di lingkungan keras. Ayah pernah tak dapat kuliah karena Kakek tak ada biaya, tapi bukan ayah bila tak keras kepala, ayah cari beasiswa agar bisa kuliah gratis. Itu ayahku, seorang laki-laki yang sangat galak. Karena ayahku galak luar biasa, aku menjadi "takut" dengan ayah. Aku takut sekali dimarahi ayah, aku takut berbuat salah dan hampir tidak berani bertindak aneh-aneh di depan Ayah.

Ayahku cenderung kolot, ayah tidak memperbolehkanku menonton Tv terlalu sering, melarang keras ada TV selain di ruang TV. Ayah mewajibkan aku untuk makan di meja makan, tidak boleh di tempat lain. Ketika teman-temanku heboh bermain gimbot aku tidak berani minta belikan Ayah, karena ku tau Ayah pasti melarang, menurut Ayah, mainan yang layak dimainkan oleh anak kecil bukanlah mainan yang memiliki layar kecil, melainkan yang bisa "disusun" dan memiliki nilai edukasi. Ayah juga tidak memberikanku uang jajan yang banyak, dari rumah aku wajib membawa bekal makanan dan ketika aku sesekali dijemput beliau pulang kantor, jajanan yang boleh dibeli olehku hanyalah burger yang dijual keliling mengenakan sepeda yang harganya bahkan lebih mahal dari uang jajanku. Lainnya? Ayah tak memperbolehkanku.

Orientasi ayah adalah "nilai", jadi ayah marah kalau nilaiku jelek. Aku pernah dimarahi ayah karena rangkingku turun dari 3 ke ranking 6. Ayah marah besar saat itu. Sejak saat itu aku takut sekali nilaiku turun, hingga aku jadi anak yang tumbuh persis seperti ayah, berorientasi pada nilai. Aku mengerjakan PR tepat waktu, aku memastikan tak ada buku yang tertinggal, aku mendengarkan semua yang diajarkan guru. Ketakutanku akan ayah marah membuatku fokus sekali di sekolah.

Ayah tidak mengijinkanku pulang telat. Seusai jam sekolah, aku tidak boleh main. Aku harus langsung pulang, lalu makan siang di meja makan. Ayah sering sekali menelpon rumah menanyakan apakah aku sudah di rumah atau belum, lalu menutup telpon tanpa basa basi ketika tau aku sudah di rumah. Sudah makan, dan sedang membaca buku.

Ayah sempat tidak memperbolehkanku memiliki ponsel, seperti biasa, aku tak berani meminta walau ingin sekali, akan tetapi akhirnya aku dibelikan ponsel dengan harga menengah. Mungkin Ayah tau, hampir seluruh anak di kelasku sudah memiliki ponsel saat itu.

dan banyak lagi peraturan ayah yang mungkin bila ku ceritakan pada teman-temanku, mereka akan menilai Ayahku kolot, kaku dan kampungan.



Hari ini, umurku 25 tahun, sedang menanti kehadiran seorang jagoan dan tak lama lagi aku akan menjadi orang tua seperti Ayah. Mungkin memang benar, ayah mendidikku dengan didikan yang cenderung kuno. Tapi hari ini, aku tak pernah menyesal dididik dengan cara Ayah, karena aku tumbuh tanpa halangan yang berarti.

Aku bisa hidup berbulan-bulan tanpa televisi karena didikan Ayah, belakangan setiap menonton Tv aku sadar mengapa Ayah melarangku menonton Tv. Terlalu banyak hal buruk diajarkan di sana, dan anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk untuknya. Karena didikan Ayah, hidupku tak tergantung televisi. Aku cukup puas berdiam di kamar, membaca komik-komik atau 'menulis'.

Namaku sebagai seorang 'wanita' tak pernah ada gosip aneh-aneh. Mungkin aku melewatkan serunya pergi dugem karena larangan keras ayahku untuk pulang telat, tapi aku tak pernah menyesal. Orang tua mengerti kita jauh lebih dari kita mengerti diri kita sendiri, jika aku dibiarkan bebas, dengan watakku yang ingin tau banyak hal, mungkin hari ini aku sedang merusak diriku dengan narkoba dan hobi mabuk setiap malam. Hidup bebas terlalu menggiurkan, dan apabila aku tak dijaga dengan ketat, aku akan "liar". Hasilnya, di umur setua sekarang, pukul 10 malam walau dengan suami, aku sudah rindu kasur kamar. Ingin cepat kembali pulang dan berpelukan saja. Sesekali, aku dan suami pergi ke club, memenuhi tuntutan sosial, tapi aku tak menjadi hamba club dan keriaan di dalamnya. Cukup menjadi penikmat sesekali ketika ramai. Aku tidak memerlukan club untuk melepas penat. Aku hanya cukup disediakan tempat tidur nyaman dengan pendingin udara. Atau mall. :))

Aku membeli hampir semua barang yang sifatnya 'memuaskan diri sendiri' dengan usaha sendiri. Seumur hidup, Ayah hanya pernah membelikanku 1 ponsel. Sisanya aku beli sendiri dengan uang hasil tabunganku, didikan Ayah yang tak mudah memberikanku barang yang ku ingin apalagi yang sifatnya entertaining; justru memacuku untuk mendapatkannya tanpa meminta.


Aku lulus dengan nilai memuaskan, dan aku yakin itu semua karena didikan keras ayah. Nilai bagusku bisa ku banggakan depan siapapun yang meremehkanku. Nilai bagusku juga yang membuatku bisa bersaing dengan sekitarku. Aku tak pernah dendam pada Ayah, walau masih jelas sekali di ingatan ketakutanku ketika ayah marah saat nilaiku jelek. Ketakutanku mencambukku lebih keras dari apapun, aku terbiasa "belajar" dari kecil dan hal tersebut terbawa hingga selesai bangku kuliah. Tanpa galaknya Ayah, mungkin aku hanya akan menjadi perempuan biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang dapat dibanggakan.





Ayahku mendidikku memang dengan cara kuno, yang apabila cara itu dipakai di era sekarang justru malah menimbulkan anak yang berkembang tak sesuai potensi dan jamannya. Tapi aku tau, Ayahku tetap yang terbaik untukku dan nilai-nilai kedisiplinan beliau yang keras. Ketika aku berkaca, didikan Ayah terpampang jelas di situ, didikan yang kelak akan ku warisi ke anak-anakku.

Tidak ada yang salah dengan cara Ayah mendidik, aku beruntung memiliki ayah seperti beliau. Aku bangga sekali pada beliau. Aku bangga setiap aku melihat raga ini, didikan ayah masih mendarah daging. Sifat tepat waktu, berdiri pada hal yang dirasa benar hingga berani melawan yang ingin menjatuhkan. Semua karena didikan keras Ayah.

Anakku harus mewarisi kehebatan kakeknya, melalui tanganku yang sudah mendarah daging didikan ayah. :)


Nikah itu butuh… Modal.

"Nikah Muda",
mungkin bagi beberapa perempuan 2 kata ini terdengar begitu indah, bagai dongeng kisah klasik yang menyelamatkan mereka, bagai sebuah keriaan ruang dansa dengan akhir bahagia. Ditambah, banyak sekali di sekeliling mereka yang memutuskan untuk menikah muda dan terlihat bahagia. Tumbuhlah harapan-harapan di benak mereka untuk cepat-cepat melepas masa lajang.

Sedihnya, banyak dari mereka yang hanya mau, tetapi belom mampu..

Pernah suatu hari ada yang email diriku, curhat di umurnya yang menurutnya sudah tidak muda lagi, ia mengalami perpisahan dengan pacarnya karena si pacar dirasa tidak ada itikad baik mengajaknya menuju pelaminan, dan setelah ku tanya umur si pengirim surat elektronik ini, ia menjawab umurnya adalah 21… Tuhan, umur 21 dan sudah hampir putus asa curhat ke orang tidak dikenal mengenai keinginan kuatnya untuk menikah. (._. )


Berbekal pengalaman diri sendiri, di saat posisi tidur telentang mengakibatkan susah bernapas dan tiduran miring mengakibatkan rasa ngilu di sekitar area kewanitaan; semakin hari semakin nyata terasa bahwa mahligai pernikahan itu butuh bukan hanya sekedar 2 anak manusia yang mau untuk bersama, tapi juga kemampuan untuk menapaki hidup yang tak lagi mudah.

Aku adalah seorang istri dan anak, serta Hamba Allah yang beruntung, berbekal segala keterbatasan kami sewaktu memutuskan menikah (Iya, kami memutuskan menikah di saat masa pendidikan spesialis suami saya masih panjang membentang), tapi hingga hari ini aku masih dapat makan enak, masih ketumpahan rezeki bertubi, dapur kami masih ngebul dan kami masih memiliki orang tua yang tidak bosan datang walau hanya untuk membawakan sekilo mangga ataupun jeruk.  Tapi kisahku, ku anggap adalah sebuah anomali kehidupan, sebuah keajaiban yang tidak semua orang bisa dapat, sebuah kasih sayang berlimpahan rezeki dari Tuhan yang mungkin saja, tidak semua istri merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, setiap teman maupun siapapun yang meminta saran padaku untuk menikah, maka pertanyaan pertama yang ku tanyakan pada mereka adalah..

"Ke depannya udah siap? Bisa hidup..?"
Aku tidak peduli mereka hidup seperti apa, sumber dana dari mana, si calon mapan atau tidak, punya rekening berapa. Karena pernikahan bukan hanya sekedar resepsi yang dipajang di Instagram lalu menimbulkan ribuan likes, bukan itu. Pernikahan adalah sebuah keputusan hidup bersama, berdua, hingga nanti. Ku akui, hari pernikahan merupakan hari paling indah dalam hidupku. Bayangkan, dalam 1 hari aku mendapat ribuan ucapan selamat, banyak kado dan semua orang yang menatap diriku ketika berjalan. Tapi sesudahnya, orang tidak ada yang peduli, yang mereka tau, hidupmu sudah berdua.

Lalu? Apa mereka yang mengucapkan selamat atau yang ribet nanya kapan nikah akan membiayai hidupmu ke depannya? Jelas tidak, hidupmu dan pasangan ke depannya adalah tanggung jawab kalian sendiri. Nah poin ini banyak yang perempuan muda lupa, bahwa pernikahan adalah sebuah perubahan fase hidup yang dibutuhkan banyak kesiapan.

Memang benar, semua manusia mempunyai standar hidupnya masing-masing. Ada yang kalau pusing harus cari coffee shop dengan harga secangkir minuman menyentuh 50.000 rupiah, ada yang sudah cukup beli risol dekat rumah. Ada yang bila dirawat harus di kamar kelas 1, ada yang bisa sembuh walau hanya di kamar rawat kelas 3. Setiap manusia mempunyai tingkat gaya hidupnya sendiri-sendiri, tapi mereka yang mungkin hidupnya tak seberuntung kalian yang sedang membaca postingan ini sembari menyeruput minuman enak, juga pasti memiliki standar hidup dan harapan agar ke depannya hidupnya membaik, bukan? 

di situ poinnya, mengapa setiap manusia harus memiliki persiapan dalam hidup, apalagi ketika memutuskan menikah. Hidup itu selalu penuh keputusan, hidup selalu dihadapkan pada pilihan; dan manusia berhak untuk memilih mana jalan terbaik untuk dirinya.




Menikah itu hal yang indah. Benar. Bagaimana tidak indah, setiap pagi kita melihat raut muka seorang yang kita cinta, setiap hari kita memiliki seseorang yang bertanggung jawab atas kecukupan dan kebahagiaan kita..

Tapi, siapkah kamu? dan lebih penting, siapkah kalian memenuhi kebutuhan hidup kalian setelah menikah?



Pernikahan bukan ajang perlombaan, tidak mesti yang terakhir menikah adalah pihak yang kalah. Pernikahan juga bukan cepat-cepatan umur, tetapi kemantapan juga kesiapan, salah satunya kesiapan finansial; setidaknya untuk bertahan hidup ke depannya.

Jadi, kalau kamu merasa penghasilan kamu dan pacar kamu belom cukup untuk memenuhi hidup kalian pasca menikah, jangan pernah ragu untuk menunda. Kerja keras lagi, nabung lagi. Nikah tidak harus muda, tapi jika dirasa sudah siap, segerakan.. Tapi jangan tanpa persiapan. Gegabah memberi makan ego, lalu kemudian tak mampu memberi makan perut sendiri.

Tuhan memang menjanjikan rezeki bagi hambanya yang mau berjalan menuju kebaikan, di antaranya adalah pernikahan. Tapi janji Tuhan yang pasti benar itu baiknya tidak dijadikan "modal menikah". Menikah itu butuh persiapan, bukan berharap keajaiban. Karena Tuhan yang paling tau, seberapa porsi keajaiban yang Ia mau berikan pada hambanya.

Kembalikan lagi ke diri kalian berdua sebelum mengambil keputusan untuk bersama, sanggupkah kalian untuk hidup ke depan sesuai dengan gaya hidup yang kalian sepakati. Sanggup? Jalani. Menikah adalah hal baik dan membahagiakan, tapi juga penuh masalah. Nikah ketika sudah yakin bahwa ke depannya bisa hidup adalah satu cara mengurangi masalah berat ke depannya. :)


Selamat berbahagia dan merencanakan pernikaha. :)

Minggu, 07 September 2014

Pilihanku Untuk Berdoa Sesuai Keyakinanku

"Ayah, aku minta duittttt…."
"Buat apa, Nak? Berapa?"
"Minta duitttt pokoknya, Ayah…."
"Iya berapa? Untuk apa?"
"Aduh Ayah, aku minta duiiitt.."
"Iya Ayah kasih, tapi berapa, untuk apa?"
"Malibuu! Mau beli esklimmmmm.."
"Ohh.. lima ribu, buat beli es krim, kalau minta yang jelas dong.. Nih.."
"Horeee. Makasih Ayah.."


---


Dialog yang kerap terjadi bukan? Atau mungkin pernah berada pada situasi di mana ada orang meminta sesuatu padamu, tapi karena tidak terlalu jelas akhirnya malah kamu abaikan atau kamu tunggu hingga permintaannya cukup jelas untuk kamu kabulkan..

Pernah?

Bagaimana jika ku ganti apabila objek yang diminta adalah… Tuhan?



Ada 2 tipe jenis orang yang berdoa, yang pertama adalah mereka yang memilih untuk berdoa secara umum dan pasrah mengenai apa yang diberikan asal yang terbaik, tipe kedua adalah yang memilih untuk meminta secara detail apa yang diinginkan.

Aku termasuk tipe kedua.

Ketika berdoa, aku lebih suka menjelaskan detail kepada Sang Gusti Allah mengenai apa yang aku inginkan. Jelas dan cenderung bertele-tele juga panjang. Memang dengan seperti itu, kemungkinan kecewa akan lebih besar karena apabila tidak dikabulkan artinya semua doa kita bukan yang Tuhan mau. Tapi aku selalu percaya, jika kita beriman, Tuhan pasti memiliki jalan yang lebih baik yang hambanya tidak tau.

Tuhan itu penuh misteri, tapi aku tau, Tuhan penuh romantisme. Aku yakin sebagai orang beriman, Tuhan senang dipuja, Tuhan senang dipuji, dirayu dan diminta dengan manis. Maka begitulah caraku berdoa sesuai keyakinanku. Ku puja Ia, ku sapa Ia dengan panggilan yang baik, ku rayu Ia. Seperti seorang anak kecil yang merengek lolipop ke ayahnya, seperti seorang kekasih yang meminta pujaannya agar tersenyum kembali.

Sebagai seorang yang menganut 1 agama, agamaku mengajarkan bahwa janji Tuhan adalah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia, lalu mengapa lantas manusia menjadi takut meminta dan berdoa hanya karena takut doanya tak dikabulkan, atau lebih parah terjadi hal paling buruk dalam hidupnya? Yakini saja, imani saja, Tuhan sayang hambanya, dan Tuhan itu maha pemurah, terutama bagi hambanya yang meminta.

Kebiasaanku berdoa dengan detail sejauh ini tak pernah mengecewakanku. Walau terkadang, jawaban dari doa-doa yang terpanjat membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi Tuhan tau betul mana waktu yang paling tepat. Aku juga tumbuh sebagai manusia yang percaya, bahwa semua doa yang terpanjat itu sudah aman di genggaman Tuhan dan di waktu yang tepat satu persatu doa-doa tersebut akan kembali pada pemiliknya.

Keajaiban doa.
Terlalu banyak keajaiban yang terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak doa-doa yang telah dikabulkan, Tuhan memang Maha Pemurah, bahkan untuk hambanya yang sesekali lalai mendirikan perintahnya.





"Susah aku lupainnya, Bek.." Ujar seorang teman di suatu sore di kota Medan, ditemani setangkup es krim di sebuah restoran jadul terkenal di kota itu.
"Lho? Kenapa?"
"Iya, patah hati lagi aku.."
"Lho kok bisa? Bukannya baru move on dari mantan yang beda agama kemarin?" Tanyaku.
"Iya, lalu aku berdoa ke Tuhan, mintalah aku agar aku bisa jatuh cinta lagi pada yang sama denganku.."

"Lalu?" Lanjutku
"Jatuh cintalah aku sama perempuan cantik, seagama ma aku. Tapi marganya sama…"


….. :)))))))




Yah, tampaknya keputusan untuk memilih berdoa secara detail sudah paling pas untukku. Karena kadang Tuhan dan selera humornya datang tanpa permisi. :))

Jumat, 05 September 2014

Cerita Si Sepatu Tua


Sepatu ini ku beli di circa 2008 sepertinya, aku lupa-lupa ingat, yang ku ingat sepatu ini yang menemaniku hampir kemanapun. Kampus, pacaran hingga ntahlah di mana otak saat itu, aku pake juga untuk pergi koas sesekali.

Melangkah dengan sepatu yang harganya saat itu cukup menguras kantong anak kuliahan rasanya bangga sekali. Mungkin karena eksistensi anak muda, mungkin karena trend saat itu, mungkin juga karena merasa sepatu ini sedikit banyak mewakili kepribadianku yang cenderung tomboy. Ketika ku beli, sepatu ini berwarna nyaris putih bersih. Seiring waktu, warnanya berubah menjadi kocoklatan bahkan menghitam di beberapa sisinya.

Masih dengan semangat anak muda yang sama, sepatu yang mulai sangat butut itu tetap ku pakai kemanapun hingga sekitar akhir 2012. Bahkan sepatu ini adalah sepatu yang ku kenakan untuk kencan pertama dengan suamiku. *sigh*…

Saat itu, aku berpikir bahwa Converse keren itu ya Converse buluk dan belom dicuci bertahun-tahun, makanya aku bangga sekali dengan si sepatu tua yang nyaris ku pakai kemana-mana ini. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku untuk mengistirahatkan sepatu ini dan menggantinya dengan yang lebih baik.. "Converse bersih itu bukan gua banget, cih..", kurang lebih begitu pikirku..


---


dan waktuku bergulir


aku terdewasa bersama waktu dan keadaan.


Setelah tahun 2012, banyak fase besar yang ku hadapi dalam hidup Ya kelulusan, ya pernikahan, ya lingkungan baru dan lain sebagainya… Seiring itu pula perlahan sepatu tua ini mulai terlupakan, perlahan mulai timbul keinginan untuk mencuci sepatu Converse kesayangan ini agar enak dilihat. Lalu, perlahan hasrat untuk membeli sepatu Converse barupun muncul hingga Converse tua inipun akhirnya diistirahatkan.

Tanpa sadar, aku mulai berganti selera sepatu, dari sneakers menjadi sepatu rapih yang tak menghilangkan kepribadianku yang memang pada dasarnya tomboy. Lalu aku mulai menjatuhkan pilihan ke Docmart, oxford shoes dan boots sebagai sepatu untuk sehari-hari. Selain itu, koleksi high heels juga memenuhi lemari sepatu untuk acara tertentu.

Converse tua itu semakin terlupakan, dan benar-benar sudah kuistirahatkan. Sekarang koleksi sepatuku sekitar 50 pasang lebih, dan aku hanya memiliki 1 pasang Converse bersih berwarna merah. :)

---

Yah begitulah hidup, jika berada pada lingkungan baik dan bersama orang-orang tepat, maka kita sendiri yang tanpa sadar akan memperbaiki diri. Entah itu karena menyesuaikan lingkungan, entah itu karena memang memikul tanggung jawab "profesi" yang menempel di diri ketika berdiri. Apapun alasan seseorang untuk berubah, pastikan perubahan itu membuatmu semakin baik, terlebih apabila keputusan untuk berkembang dan berpindah lingkungan sudah diambil.

Sesekali lihatlah ke belakang, kenanglah semua yang telah berubah. Jika membaik, berbahagialah. Artinya kamu sudah berada di lingkungan yang tepat. :)

Selamat berubah tanpa merasa dipaksa.

Kamis, 04 September 2014

Nasihat Untuk Lelaki, Nanti..

Kemarin malam, iseng aku melemparkan tweet mengenai jika sekiranya diberikan kepercayaan untuk memiliki anak laki-laki, selain tentang agama (karena hingga sekarang, aku dan suami masih memutuskan untuk menjadi makhluk beragama), nasihat apa yang akan ditanamkan..

dan aku mendapatkan beragam jawaban, berikut beberapa jawaban yang aku ambil secara acak..


Banyak dari mention yang masuk lebih menekankan ke arah tanggung jawab dan menghormati wanita. Lalu, aku jadi ingin sedikit menulis tentang kira-kira nasihat apa saja yang aku akan sampaikan ke anak laki-lakiku kelak..

hmm..

1. Hormati setiap perempuan, tidak hanya Ibumu, tapi seluruh perempuan di dunia ini. Perlakukan mereka dengan terhormat, apapun latar belakangnya.

2. Bacalah buku yang membuatmu bisa bercerita panjang lebar dan menunjukkan banyak tentang isi kepalamu, selalu haus akan pengetahuan dan mengertilah mengenai polemik dunia yang sedang terjadi. Setiap orang tua perempuan yang kelak kamu kencani pasti menyenangi laki-laki yang bisa bercerita hal lain selain tentang dirinya.

3. Jangan pernah malu mengecup kening dan pipi Bapak Ibu, juga kakek nenek, juga adik-adikmu nanti. Bahkan ketika umurmu dewasa, ataupun ketika semua teman sekolahmu menertawaimu. Percayalah Nak, perempuan mana yang tidak luluh melihat lelaki dewasa begitu hormat dan mencintai keluarganya.

4. Dengarkan koleksi lagu Ibu dan Bapak, di situ banyak musik bergizi, Nak..

5. Benerin keran, bangun instalasi kabel, benerin genteng rusak atau mengerti mana bagian yang bermasalah ketika mesin mobil ga bisa nyala itu bukan pekerjaan tukang, itu keahlian yang harus dimiliki laki-laki. Ketika kelak kamu sudah berkeluarga, anggota keluargamu akan menghubungi kamu lebih dulu karena mereka tau, ayahnya bisa diandalkan.

6. Pakai parfum. Setidaknya, ketika pakaianmu sedang tidak terlalu rapi, harummu tetap memikat.

7. Mampu tempatkan diri. Mengerti aturan makan malam di hotel bintang lima, tapi tau mana makanan enak kaki lima. Mengerti cara mengurus visa, paspor dan tata cara bandara setempat; tapi juga mengerti trayek kendaraan umum.

8. Kelak, jika tiba saatnya kamu akan mulai mengajak perempuan berkencan; turunlah dari kendaraan, hampiri orang tuanya, pamit baik-baik dan kembalikan ia 1 jam sebelum waktu yang dijanjikan, lalu temui kembali orang tuanya dan ucapkan terima kasih.

9. Hingga umurmu cukup, anggaplah pacaran adalah kegiatan main-main, tapi jangan mainkan perasaan perempuan itu. Jangan berikan harapan apapun jika memang kamu belum siap.

10. Tetaplah membeli mainan yang kamu suka, bahkan hingga umurmu menua. Setiap laki-laki mempunya jiwa kanak-kanak yang butuh dibebaskan sesekali.

11. Miliki bromance-mu sendiri. Sempatkan waktu untuk mereka di atas waktumu untuk pacar, karena pada merekalah nanti kamu akan menghibur diri ketika pacar yang kamu kencani ternyata menyakiti.

12. Laki-laki boleh menangis, tapi simpan air matamu hanya untuk dia yang benar-benar berharga. Untuk keluargamu, untuk dirimu sendiri, untuk seorang yang mengajarkanmu arti patah hati, dan untuk dia yang akhirnya mampu membuatmu yakin bahwa dia yang terakhir dan membuatmu sadar bahwa cinta yang telah lalu tak ada apa-apanya. :)

Senin, 01 September 2014

Cincin Dari Eyang

Cincin ini merupakan pemberian Eyang Kakung (kami biasa memanggil beliau dengan Eyang Kai, karena beliau lama menghabiskan waktu di Banjarmasin). Beliau adalah kakek dari suamiku, Ayah dari Ibu Mertuaku. Suatu hari, ketika sedang membereskan kamar, tak sengaja ku lihat kotak dari cincin ini, setelah diberikan Eyang Kai, cincinnya langsung ku keluarkan dari kotaknya dan ku pindahkan ke kotak perhiasanku. Tapi ketidaksengajaan itu mendorongku menulis post ini, bukan untuk bercerita tentang betapa cantik cincin ini,

tapi tentang...


Romantisme laki-laki. Aku menyebutnya begitu.


Cincin ini adalah hadiah pernikahanku, dan aku baru sadar, seumur hidupku aku tak pernah dibelikan cincin oleh seorang laki-laki. Bahkan itu oleh suamiku sendiri (cincin tunangan dan pernikahan kami dibeli bersama, jadi secara teknik, cincin itu tidak dibelikan suamiku.. hehe).

Selama aku hidup, aku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakek. Kedua kakekku sudah berpulang sebelum aku lahir. Eyang Kai adalah kakek pertamaku, setahun kurang lebih mengenal beliau, yang aku tau, beliau mewarisi sifat sangat laki-laki pada semua keturunannya.

Suatu hari, pernah Eyang Kai berkata "aku ingin melihat cicitku..", pastilah ku aminkan. Keinginan itu hanya tinggal keinginan, Eyang Kai dipanggil Tuhan sekitar 6 bulan setelah pernikahan kami. Beliau harus meninggalkan kami tanpa sempat melihat cicitnya. Tapi aku cukup senang, karena ku tau beliau berada di tempat yang jauh lebih baik.

Ternyata, cincin ini adalah hadiah terakhir dari beliau untukku, yang akhirnya memberikan nilai mahal pada cincin ini. Sebuah simbol kasih sayang, romantisme laki-laki dan yang terpenting adalah kenangan manis yang terpatri tepat di hati. Kelak, tulisan ini akan ku tunjukkan pada anak-anakku, agar mereka bisa mengenal sosok romantisme laki-laki sepuh yang diejawantahkan melalui sebuah cincin. Anak-anakku kelak harus mengerti bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita, persis seperti Eyang Kai memperlakukanku walau aku hanya sempat mengenal beliau dalam 1.5 tahun.

Melalui cincin ini, aku akan bercerita banyak pada anak-anakku kelak, bahwa sifat jantan tak harus malu melakukan hal romantis. Bahwa seorang laki-laki sah saja berkeinginan manis, dan bahwa seorang laki-laki cukuplah mencintai 1 wanita saja dalam satu jenjang hidupnya.

:)
So, how's heaven, Yang?

Jumat, 29 Agustus 2014

Catatan Kaki Untuk Lelaki

Teruntuk lelaki hebat yang pernah berjuang bersamaku mempertahankan nyawa, ini hanya sebuah catatan kaki untuk dibaca nanti, kapanpun saat kau sempat. Ini bukanlah sebuah surat, maupun karya abadi seorang penulis puisi, walau sebutannya hanya catatan kaki, tapi percayalah, tulisan ini datangnya dari hati seorang yang tulus mencintai.

Hai lelaki,
Ketahuilah ketika kamu merasa tak berharga, ada seorang perempuan yang merayakan setiap detak dirimu yang berkejaran dengan detik. Ada seorang perempuan yang merelakan nyawanya hilang demi melindungi hidupmu, ia yang pernah mati-matian berjuang mempertahankanmu agar tetap tinggal. Berdoa siang malam tanpa putus hanya untuk keselamatan dan kesehatanmu.

Hai lelaki,
setiap kamu merasa dirimu tak dikelilingi cinta, sadarlah, ada perempuan yang mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi pada dirimu. Mengucap syukur pada pencipta hanya karena kamu ada, hanya karena kamu bertahan dan hanya karena diberi kesempatan untuk merasakan mencintai kamu dengan tulus melebihi napasnya sendiri.

Itu aku, lelakiku…
Perempuan itu aku.


Hai lelakiku,
dahulu, jauh sebelum aku mencintai kamu dengan sangat, aku pernah jatuh cinta dengan hebat. Dengan lelaki yang mirip denganmu.

Suatu hari, kamu akan ku perkenalkan kamu dengan dirinya. Ia sosok yang sangat ku kagumi, lelakiku. Tapi aku yakin, kamu jauh lebih mengagumkan dari dirinya. Mungkin egomu terlalu kuat untuk mencontoh ataupun mengakui akan betapa hebat dirinya, atau mungkin saja kamu cemburu karena aku pernah mencintainya dengan begitu besarnya. Tapi suatu saat, kamupun harus mengakui, bahwa perempuanmu ini tak jatuh cinta pada lelaki yang salah. Suatu saat, kamu akan mengakui bahwa raga perempuanmu ini pernah dijaga oleh lengan yang tepat.


Ia sehebat itu, lelakiku…


berbanggalah

:)


Jumat, 22 Agustus 2014

Ingat-Ingat Terus Mereka yang Masih Ingat

"Fala! Fala..!!"

Sapaan hangat dari seorang teman lama yang hampir 7 tahun tak temu muka, pada sebuah acara bertema resepsi pernikahan berbalut reuni sekolah. Sapaan itu hanya beberapa menit berselang setelah raga ini turun dari dalam mobil. Ia memanggilku dari jauh, melambaikan tangan dengan sedikit berlari menghampiriku. Senyumnya lebar… dan hangat.

Ia menjabat tanganku, menanyakan kabar dan berbasa-basi sedikit.

Namanya Wawan, teman sekolahku dulu. Selama sekolahpun, aku dan Wawan tak pernah sekelas, tak pernah berada di 1 circle permainan. Wawan anak populer, sedangkan saya tidak. Wawan, walau tak setampan yang lain, masuk ke dalam jajaran seseorang yang dikenal dari junior, guru hingga tukang makanan di sekolah. Memang dari dulu, Wawan agak sedikit berbeda sih, Wawan ini cenderung sederhana dan ramah senyum. Walau badge bergambar benteng yang terjahit rapih di jaket organisasi sekolah berbicara sangat banyak. :)

Bagi saya yang kurang populer di sekolah dulu, sapaan ringan malam itu meninggalkan jejak hangat di dada hingga hari ini. Tujuh tahun tak temu muka, dengan sejarah saya selama sekolah hanya datang lalu pulang, Wawan masih mengingat saya, bahkan menyempatkan menghampiri tak hanya sekedar sapaan ringan anggukan kepala lalu melintas pergi.


Sederhana, tapi efeknya bagi saya?
saya merasa spesial. :) saya merasa keberadaan saya dihargai. Saya merasa saya… bernilai.

Beranjak masuk ke dalam, ternyata lebih banyak lagi teman-teman satu sekolah saya dulu. Ada yang melintas tak sadar ada kehadiran saya, ada teman mainku yang wajar bila mereka menghampiri lalu mencium pipi, ada juga yang ia melihat saya dan berusaha mengingat, adapula yang ia tau benar siapa saya tapi memilih tak mengucapkan apa-apa…

Ternyata perlakuan orang berbeda-beda, dan seseorang yang "hangat" adalah sifat bawaan yang sebenarnya bisa dilatih jika kita mau. Tapi ada satu kata yang mungkin bisa dilatih, tapi akan susah sekali dipaksakan. Kata itu bernama "ketulusan".

Menyapa adalah hal mudah, tapi tak semua manusia menyapa dengan ketulusan. Tidak semua manusia diberkahi sifat tulus mengingat yang efeknya bukan hari ini, melainkan nanti, bertahun-tahun kemudiam. Seorang yang tulus akan mendapat tempat di hati setiap yang dikenalnya, perlakuan tulus yang tidak dibuat-buat yang datangnya dari hati pasti menyentuh hati orang banyak. Begitupun yang ku lihat dari sosok Wawan. Walau ia datang dari kalangan anak populer, satu yang membedakannya, ia memiliki hati yang tulus untuk "mengenal", untuk menghargai orang di sekitarnya.

Tampak sederhana memang,
tapi buah dari diperlakukan tulus dan "diingat" ternyata meninggalkan kesan hangat dan banyak puji serta doa mengiringi untuk mereka.
Apalagi, untuk orang seperti saya yang keberadaannya saja kadang tak menggenapkan dan ketidakadaannya tak mengganjilkan, diingat menjadi hal yang begitu mewah.

Sapalah teman lamamu,
tak sepopuler apapun mereka,
kesan hangat yang terbangun di hati mereka,
akan mengiringi langkah kalian..
tanpa kalian sadari.
:)


dan ingat terus mereka, yang masih mengingatmu, terlebih ketika saat itu keberadaanmu belum berarti.

Kamis, 14 Agustus 2014

Menuju Seperempat Abad

Terdiamku terbangun di malam hari, merasakan pegal yang amat sangat karena salah posisi tidur dan diperparah dengan posisi kepala suami yang menyerbu bantalku. Sakit di leher hingga pinggang membuatku terjaga kemarin malam,

2 hari sebelum pergantian umurku menuju seperempat abad.

Ku lihat sekelilingku, suami yang tertidur pulas sembari sesekali tangannya mengelus bagian tubuhku. Dekorasi kamar yang sedikit berubah karena sudah setahun kami tempati dan diriku yang mulai menua dan memberikan kejutan perubahan dari minggu ke minggunya.

Usia 25, apa sih yang biasa ada di benak perempuan dengan usia yang sebenarnya tak lagi remaja ini. Sungguh sebuah usia yang membuatku sadar lalu tercekat, aku adalah perempuan yang begitu disayang Tuhan. Di usia yang relatif tak remaja, namun masih muda, sudah banyak hal yang ku peroleh dan sebagiannya adalah impian banyak gadis di luar sana. Hingga tak sadar, ada kehangatan mengalir dari sudut mata menghinggapi sudut bibirku, melewati hangat pipi. Aku menangis, bersyukur penuh haru. Walau sungguh perjalanan hidupku juga tak ringan..


Hari ketiga lebaran, 30 Juli 2014. Kerongkonganku terasa tersumbat dan jantungku berhenti ketika mendengar kabar kakak perempuan nomor tiga dipanggil Yang Maha Penulis Takdir. Semua terasa hanya ilusi, mengingat tepat 1 hari sebelumnya (alm) Ayu Caca masih memberikanku bekal teri pedas kacang bikinannya karena aku berkunjung ke rumahnya. Rasa hancur mulai menyelimuti, memikirkan keadaan Ibu yang pasti jauh lebih terpukul dari aku, mengingat akupun harus menjaga mood agar kondisikupun tak turun. Sungguh sebuah pertengkaran batin yang begitu kuatnya. Semua terasa begitu nyata, ketika kaki ini melangkahkan kaki ke makam, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. aku tau, Ayu Caca sudah berada di tempat terbaiknya.

Kepergian Ayu Caca merupakan pukulan dan juga pelajaran untukku, bahwa usia memanglah bukan sesuatu yang bisa diprediksi. Tapi aku melihatnya sebagai sebuah sudut pandang baru, bahwa ternyata keberadaan itu nyata berharganya. Bahwa waktu bersama dan hirupan napas itu fakta indahnya. Bahwa keluarga memang tak terganti jiwanya.

dan bahwa usia, haruslah dirayakan semaksimalnya….


---


Hari ini, aku mengucap syukur luar biasa akan semua rahmat di usia 24 yang telah aku lewati. Terima kasih atas keberhasilan diriku mengantarkan suami ke gerbang department Orthopaedi dan Traumatologi RSCM - FKUI. Terima kasih atas sumpah atas nama Tuhan yang ku ucapkan lantang, berdiri atas nama sebuah kolegium. Terima kasih pula Tuhan atas masih hangatnya kecup, atas masih panasnya cinta yang tumbuh semakin kuat antar sesama.

dan terima kasih Tuhan, Penentu Segala Alam, atas detak jantung yang berdetak di bawah hatiku.



24. Tahun yang begitu hebat. Sehebat ketika semesta mempertemukan jatukrama dan garwanipun.
Terima kasih banyak.
Alhamdulillahirabbilalaamin



Bismillah, 25.

Sabtu, 26 Juli 2014

Jadi, kapan nikah? Kapan hamil? Kapan nambah anak?

Salah satu perbedaan besar dalam perjalanan menjadi dewasa di era yang serba canggih ini adalah, para remaja bebas dan dengan mudah berinteraksi dengan orang yang lebih dewasa. Bisa melalui media sosial, maupun tatap muka secara langsung dan memang norma barat sudah terlanjur masuk sehingga remaja sekarang tak sungkan untuk "akrab" dengan orang-orang yang sebenarnya memiliki generasi yang berbeda dengan mereka. Suatu fakta yang bisa dikatakan baik, tapi bisa juga dijadikan pisau bermata dua tajam.

Tak hanya perubahan menjadi dewasa, masa kini adalah masa di mana semua manusia dengan mudah berinteraksi dan saling menyapa. Imbasnya adalah, manusia masa kini dan orang Indonesia pada umumnya cenderung menjadi suka berbasa basi dengan menanyakan hal yang sebetulnya bukan urusan mereka.

Mungkin paparan berikut adalah hasil observasi atau empiris saya sendiri, tapi jelas paparan berikut cukup mengganggu.

"Kapan nikah?"
"Eh kok belom hamil-hamil?"
"Kok ga nambah anak?"




Sebagai seorang yang hidup melalui pendidikan dasar sekolah, nampaknya semua orang mempelajari konsep bahwa "Mati, jodoh dan rezeki ada di tangan Tuhan..", Lalu, mengapa ketika dibawa ke ranah sosial seakan banyak sekali yang melupakan konsep tersebut?


Mungkin cerita di bawah ini sedikit membuka mata..

Sebut saja J,
dia teman saya dari jaman sekolah, tak banyak yang mengenalnya sebagai sosok yang cenderung tertutup mengenai masalah pribadi karena memang personalitynya yang sungguh ceria melebihi apapun. Sedikit pula yang tau bahwa perpisahan orang tuanya menyisakan trauma mendalam untuk arti kata pernikahan. Lalu, setelah tau semuanya, masih punya keinginan untuk tetap bertanya pada dirinya "Kapan nikah?"

Sebut saja T,
senior saya yang sedang melanjutkan sekolah spesialis. Selain sejawat, sedikit yang bisa mengerti alasannya untuk belum menikah di usia pacarannya yang sudah menyentuh 3 tahun lebih. Ketika semua orang mendoakan, dan mendesak, ia hanya bisa tersenyum bahwa yaa.. sekolah spesialis tahun-tahun pertama hampir tidak mungkin menikah. Lalu, setelah tau faktanya, apa basa basi itu masih jadi hal yang basa basi untuk dirinya?

Sebut saja Y,
usianya 7 tahun di atas saya, lajang. Saya mengenalnya sebagai sosok perempuan baik dan ramah. Ia pernah beberapa kali menjalin cinta dengan beberapa pria dan selalu berakhir miris. Lalu, masih ada yang tega bertanya pada dirinya mengapa ia belom menikah? Sayangnya.. masih.


yang kita tau, mereka belum menikah sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum menikah..
yang kita tidak tau, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, jodoh adalah misteri yang ditulis sendiri oleh Tuhan.

 Sebut saja D,
7 tahun menikah, belum dikaruniai anak. Sedikit yang tau bahwa si perempuan sudah beberapa tahun belakangan ini bekerja keras untuk mengumpulkan pundi rupiah agar mioma uteri dalam rahimnya bisa terangkat sempurna. ….. dan masih banyak yang tega bertanya kapan mau memiliki momongan.

Sebut saja H,
1,5 tahun menikah. Setiap bulan menangis karena test pack negatif, padahal dokter menyatakan kedua pasangan dalam keadaan sehat. Masih mau berbasa basi pada dirinya?


yang kita tau, mereka belum dikaruniai anak sehingga kita merasa berhak bertanya mengapa mereka belum memiliki momongan..
yang kita tidak tau, mereka sedang memperjuangkan sesuatu.
yang kita lupa, rezeki berupa anak adalah pemberian Tuhan, jika Tuhan belum berkehendak maka sekuat apapun manusia berusaha, jika memang belum waktunya, ya belum waktunya.

dan lain-lain..
dan lain-lain..

Apa yang bisa disimpulkan? Kita tidak tau kondisi yang sedang dialami lawan bicara kita… hingga kita sampai pada fase tersebut. Banyak orang berdalih bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut ya anggap saja doa.. Tapi banyak pula yang lupa bahwa doa yang paling tulus adalah mendoakan diam-diam.

Era sekarang memang banyak meruntuhkan dinding penyangga antar lawan bicara, berbeda jauh pada masa saya tumbuh dewasa dimana berbicara pada orang yang jauh lebih tua itu sangatlah sungkan dan hati-hati. Idealnya, kondisi ini baik, tetapi bila rasa empati tidak ada, hal ini menjadi sungguh annoying.

Satu hal pasti menjadi dewasa adalah, manusia akan cenderung menyimpan masalah sendiri, manusia akan cenderung menutup emosi mereka depan khalayak. Manusia akan cenderung menampakkan hal yang baik-baik saja. Itulah perubahan, apabila ketika bayi manusia bebas menangis depan umum, semakin tua hal tersebut menjadi tidak mungkin terjadi bukan? Semakin tua, manusia akan semakin menutupi apa yang cenderung membuatnya sedih dan menampakkan kondisi baik-baik saja. Seharusnya ini cukup menjadi bekal untuk berhenti bertanya mengenai takdir Tuhan.

Bukan hanya tentang kesedihan yang tertutupi, menjadi dewasa adalah tentang berbagi hanya dengan yang dirasa perlu. Walaupun itu hal baik. Mungkin tidak sedikit yang menolak untuk bercerita mengenai kabar bahagia lamaran mereka karena dirasa waktunya masih terlalu jauh dari hari pernikahan. Tidak sedikit pula yang menutupi kehamilan mereka karena takut pamali mengabarkan hal yang sebetulnya masih penuh risiko.

tapi semua terikat benang merah,
kita tidak tau apa-apa tentang orang lain.




Banyak cara berbasa-basi, banyak cara mendoakan selain bertanya hal-hal yang saya di atas






karena sungguh, kita tidak tau apa-apa mengenai apa yang ia sedang perjuangkan…

Salam basa basi tanpa harus jadi pertanyaan basi. :)

Kamis, 24 Juli 2014

Tentang Berkelana Keliling Dunia

Beberapa kali dari sejak pacaran, suami saya menunjukkan saya dengan bangga dan pikiran yang seolah ikut berlabuh ke masa lalu mengenai indahnya tempat di luar saya berpijak. Beberapa kali pula ia mengerutkan kening setiap ia bertanya pada saya "Kamu udah pernah ke…." karena setiap pertanyaan itu sebagian besar saya jawab dengan gelengan kepala.

Perlahan tetapi pasti, suami mulai memaparkan pada imaji saya mengenai tempat-tempat yang membuatnya terkesima, yang membuatnya kagum, yang membuatnya merefleksikan kembali arti hidup. Selain itu, iya juga memaparkan mana negara yang indah, yang kotor, yang penduduk lokalnya ramah dan lain sebagainya. Intinya, ia menceritakan banyak hal mengenai indahnya dunia.

Aku hanya bisa berdecak kagum melihat banyak foto di komputer jinjingnya. Saya adalah seorang yang sangat jarang bepergian untuk berlibur, perjalanan saya lebih banyak karena sebuah kebutuhan studi atau menemani ayah dinas, atau mengunjungi kakak kandung saya di Amerika. Sudah, hanya itu. Saya belum pernah menginjakkan kaki saya di Eropa, Australia, Afrika, bahkan sedikit sekali negara Asia yang pernah saya datangi.

Atau bila disimpulkan lagi, bahkan sedikitt sekali kota yang pernah saya singgahi di Indonesia ini.

Mungkin karena iba, atau memang perjalanan keliling dunia itu meninggalkan jejak sedalam itu, Aa memberikan pesan pada saya:
"Go travel around the world, and find yourself.."

I nodded.


Salah satu negara yang saya ingin sekali ke sana adalah Belanda, tepatnya ke kota Groningen. Menurut cerita Aa, kota tersebut adalah kota yang memberikannya titik balik mengenai hidup yang dijalani. Perjalanan menemukan jati diri. Aa bercerita mengenai luas kota itu, alat transportasi dan semua hal tentangnya. Lalu, aku mengutarakan niatku untuk pergi ke sana, dan Aa dengan semangat menyuruhku pergi ke sana setelah kegiatan kepaniteraanku selesai.

Ia keukeuh menyuruhku traveling, sendirian, karena kesibukannya sebagai residen orthopedi memang tidak memungkinkan dirinya untuk bepergian. Namun terlihat betul, ia ingin sekali istrinya melihat dunia selain kota tempatnya berpijak. Ia selalu bilang, traveling adalah upaya mengenal diri sendiri. Bersikeras ia menawariku untuk pergi sendiri ke Inggris, kebetulan adik iparku akan berangkat ke sana untuk melanjutkan studinya. Kata Aa, dari Inggris aku bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi. Negara-negara terkenal seperti Prancis, Itali dll.

Tapi saya selalu menolak.
Kenapa? Pertama, saya bukan traveler. Saya hanya merasa diri saya hanyalah seorang turis, yang menikmati tempat wisata. Berfoto, belanja. Liburan bagi saya bukan ajang mengenal diri, liburan bagi saya ya hanya untuk menenangkan pikiran, pergi dari kejenuhan. Saya jauh lebih bisa mengenal diri saya lewat media tulis. Membaca dan menulis. Tidak, saya tidak perlu pergi ke Eropa sejauh itu hanya untuk bisa mengenal diri saya sendiri.

Kedua? Ternyata, setelah saya selami diri saya lagi, yang membuat saya ingin pergi ke tempat-tempat cantik di dunia adalah kehadiran dirinya dan keluarga. Membayangkan saya berada di sana, bersamanya. Bukan sendiri. Bukan dengan teman. Tapi, ya, bersamanya, dan keluarga kecil saya kelak. Apa artinya saya bisa melihat menara Eiffel, jika saya hanya berdiri sendiri tanpa ada keluarga kecil saya yang juga menikmati?

dari dulu, orientasi hidup saya adalah membangun keluarga kok, tidak muluk tapi juga tidak mudah. Dan hingga sekarang, impian itu masih terbangun, malah semakin kokoh. Tidak, cita-cita saya ternyata bukan keliling dunia..

cita-cita saya,
berlibur bersama keluarga kecil saya. :)

Selamat jalan-jalan.

Jumat, 25 April 2014

Sudah Hampir Mei.

Hai kamu yang menulis dengan tangan kiri,
terlalu basa basikah aku jika bertanya apa kabar dirimu mengingat ini sudah mau masuk Mei?
Baikkah? Bahagiakah?


Hai kamu yang biasa memegang rokok dengan tangan kiri,
terkagetku menyadari bahwa ini sudah mau Mei, dulu kita biasa menyambut awal-awal tahun dengan berbagi isi sigar dan tertawa ditemani pahit fermentasi, tapi sekarang, aku lebih memilih menikmati segelas minuman hangat, dan mungkin kamu tetap dengan kotak kecil berwarna merah putih berisi 20 batang.


Hai kamu yang merajah volar tangan kiri,
Tak pernah ada lagi salam selamat, Tak pernah ada lagi sodoran tawaran, bahkan tak pernah lagi ada tawa,
tapi ternyata dunia tak ada yang berubah,
terakhir ku lihat kamu melintas dengan gagah seperti biasanya, tak menyadari kehadiranku yang sebetulnya begitu dekat dengan matamu,
kamu melewatiku, masih dengan harum yang sama,
menyapa perempuan cantik berambut panjang dan mengecup kepalanya lembut.
Disitu, ku lanjutkan kegiatanku dan membiarkanmu.
Tak ada amarah, tak ada gerah. Hanya saja disitu aku tidak sadar, bahwa bulan Mei kian dekat.


Hai kamu yang suka menggigiti kuku tangan kiri
disini aku mencoba memberi kabar, bahwa aku bahagia menyadari ini sudah mau Mei.
Sebuah tanda bahwa aku sudah benar-benar kembali hidup,
sebuah pertanda bahwa aku telah berubah menjadi seorang yang jauh lebih baru dari dulu saat kita masih merayakan awal tahun.

Hai kamu,
ini sudah mau Mei,



aku tidak ingat, bulanmu adalah…
Februari. :)

Ketika Prioritas Mulai Berubah

Hari Senin dua minggu lalu, grup whatsapp ramai oleh teman-teman saya sedari jaman kuliah. Oya sebagai informasi, jaman kuliah saya dekat dengan 10 perempuan, semuanya anak kedokteran, kemudian setelah toga disematkan, kami semua berpisah menuju tempat kepaniteraan masing-masing, praktis waktu bertemu kami menjadi sangat sedikit. Nah siang itu, kami memutuskan bertemu untuk ngumpul kembali di sebuah mall di bilangan bundaran HI.

Tujuan kami : Belanja, makan dan ngopi (baca: gosip).

Hari itu, kesepuluh dari kami tidak semua hadir, tapi saya cukup senang bertemu kembali dengan mereka, walau sebetulnya kami masih sering sih tidak sengaja ketemuan di koridor kampus, atau janjian makan siang di suatu tempat, namun pertemuan hari itu ntah mengapa terasa lebih spesial dari pertemuan-pertemuan biasanya.

Di antara semua teman-teman cantikku, hanya aku yang sudah menikah. Selebihnya ada yang sedang menata pernikahan beberapa bulan lagi, ada yang sudah pacaran bertahun-tahun tapi masih belum tau kapan akan dibawa ke jenjang pernikahan, ada juga yang masih sendiri. Setiap bertemu, mereka tak henti-hentinya berkelakar akan diriku yang pernah bersumpah untuk menikah "telat" sekitar umur 28-29 tapi ternyata aku menikah paling awal. :)))

Setelah puas berbelanja dan makan siang, kami berhenti di Djournal Coffee, dengan suasana adem sore, kami mengambil tempat di bagian belakang kedai. Lalu, pembicaraan-pembicaraan nostalgia jaman kuliah pun mulai muncul..


"Beki… (saya dipanggil Beki oleh teman-teman terdekatku..) masih inget si __menyebut nama__, dia masih ga sih ma si __sebut nama__?" .. Lalu aku terdiam mengingat, apa benar si itu pernah pacaran ma si itu..


"Bek, Bek.. Si __nama mantan gebetan yang dulu pada saat saya kuliah, saya bisa histeris hanya karena mendengar namanya__ lo undang ga sih ke nikahan lo?" …. Nah lho, bahkan saya lupa saya pernah suka ma orang itu.


"Bek, si ___nama teman yang dulu sempat berseteru sama saya pada saat kuliah___ apa kabar?" …. dan saya lupa saya pernah berseteru dengan dia, karena beberapa bulan lalu sempat bertemu di mall yang sama dan kami saling bertegur sapa dengan baik.


dan harus ada..

"Beki, ____nama mantan_____ apa kabar?" … oh kalau ini sih saya ga akan lupa, dengan senyum manis sedikit dipaksakan, ya saya harus menjelaskan dengan mereka kalau ya dia baik-baik saja dan saya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan dia. :|


dan semua gosip perkuliahan lain yang membuat saya berpikir "Oh iya yaaa, si itu ma si itu..", "oiyaa yaa, si itu dulu sempet ma si anu.." atau "Astaga, dia ma dia sekarang, aku sama sekali ga tau.."

:|

Lalu, aku akhirnya menyadari satu hal,
saya sudah menikah, dan menikah memang mengubah banyak hal.

Pernikahan bukan hanya mengubah dengan siapa kita tidur, tapi juga mengubah banyak sekali cara berpikir kita tentang sesuatu, tentang mana yang layak dipikirkan dan mana yang terlewat karena perhatian kita tak lagi menuju ke arah situ.

Saat masih gadis, hampir semua gosip dan fakta perkuliahan aku tau, si itu pacaran dengan siapa, putusnya kapan (dan kenapa), lalu si itu jadian lagi ma siapa dll dkk. Tapi setelah menikah, memori tentang itu semua perlahan memudar, bukan karena mereka tak lagi penting, tapi secara alami pikiranku mulai tergantikan tentang informasi mengatur uang, investasi masa depan atau sesimpel menunggu suami pulang sembari menyiapkan secangkir kopi.

Saat masih sendiri, saya bisa cenderung hampir teriak melihat senior tampan nan pintar berjalan di depan mata, setelah menikah bahkan saya harus benar-benar membuka ingatan lama hanya untuk mengingat namanya. (dan bahkan saya sedang mengingat, siapa ya nama senior yang waktu itu dibahas teman-teman saya, ganteng sih emang.. duh. siapa ya?)

Saat masih belum menjalin komitmen di depan Tuhan, naluri perempuan saya adalah mencari kabar teman-teman lama, apakah masih menjalin kasih, apa sudah putus, atau sudah jadian lagi. Setelah menikah, saya cukup lega melihat teman-teman saya dalam keadaan sehat dan senang, tanpa sedikitpun ingin tau siapa yang sedang mengisi hati mereka, kecuali mereka sendiri yang menceritakannya tanpa diminta.


Intinya, pernikahan mengubah prioritas. Dari prioritas egoisme diri, menjadi bagaimana membangun rumah tangga yang menyenangkan, tentang bagaimana menjadi istri yang membuat suami bahagia, tentang bagaimana membuat waktu bersama jauh lebih bermakna. Dulu, saya sempat berpikir "Nikah itu cuma buat orang tua, hih." nyatanya, saya sudah berada pada fase orang tua itu, tidak peduli tentang gosip sekitar, mulai memikirkan 10-20 hingga 50 tahun ke depan.


Tapi satu hal yang perlu diketahui mengenai pernikahan, hidup setelah menikah walau kita akan terpaksa dewasa, tapi jauh dari membosankan. Bahkan saya masih merasa muda dan pacaran terus, pacaran tapi bisa sekamar, pacaran tapi asik aja pulang malem, pacaran tapi bisa making love.


Pernikahan bukan hanya tentang bersentuhan kulit tanpa sehelai benang, tapi pernikahan juga menutup rapat pada masa lalu, menutup dengan suka rela tanpa paksaan karena yang di depan mata jauh lebih baik dari yang telah lalu.


Pernikahan bukan hanya tentang berkembang biak, pernikahan adalah tentang perkembangan diri dan kehidupan, bahwa ke depannya, kita harus sama-sama yakin,
hidup akan jauh lebih baik lagi.. :)



Selamat menentukan prioritas. :D

Sabtu, 05 April 2014

Mencemplungkan Setengah Kaki

Suatu siang di sebuah perpustakaan umum bernama Freedom Institute, ditemani dengan secangkir teh susu berasa medio, kami berbincang..

Him : "What's next?"
Fala : "Aku mau nyoba hal baru.."
Him : "Maksudnya?"
Fala : "I am free agent now until then, artinya aku ga terikat lembaga apa-apa, institusi apa-apa dan selama aku belom berada dalam naungan Ikatan Dokter Indonesia dan kembali masuk ke lingkungan rumah sakit sebagai dokter magang, aku mau coba banyak hal yang jauh dari kedokteran. Problem?"
Him: "Ga sama sekali...." Ia menyesap kopinya, lalu kembali ke ruang perpustakaan menyelesaikan diktat orthopaedi. Aku? Baca-baca majalah.



Percakapan itu terjadi setelah pendidikan dokterku selesai dan di masa tenggang menuju Uji Kompetensi dan menunggu masa internship, aku tidak tau apa yang mau aku kerjakan, tapi aku tau betul aku mau mencoba banyak hal baru yang jauh dari bidang yang membuatku mati rasa hingga mual berkepanjangan, dunia medis.

Saat teman-teman sejawatku memilih menjaga klinik dengan uang duduk yang bisa dibilang tidak besar tapi juga tak kecil, ini jalan yang ku pilih...


1. Menulis buku (lagi)
Proyek nulis buku lagi ini sebenernya udah aku mulai sejak lama, tapi karena aku adalah penulis spesialisasi kalau mood, maka pengerjaan buku ini bisa dibilang mandek, seiring dengan berhentinya menulis buku ini, aku masih yakin, suatu hari buku ini harus ku lanjutkan, tapi ya itu.. tunggu mood. :)))

Beberapa kali rombak tokoh, rombak alur cerita dan pending revisi, novel sendiri keduaku akhirnya terbit. Novel yang berjudul Save My Soul sudah bisa kalian dapatkan di toko buku terdekat, dan sudah cetak ulang kedua. Alhamdulillah..

Aku sadar betul, sarana promosiku memang melalui twitter, tapi ada sedikit keberatan kuutarakan pada editorku jika harus ku promosi buku ini sepanjang hari, karena untukku, menulis adalah passion, menulis adalah hobi dan menulis adalah sebuah gairah. Penikmat sebuah tulisan tak bisa dibeli hanya karena promosi, karena hati yang akan memanggil pembacanya...

Silakan beli buku saya, dan silakan tidak beli buku saya,
buku ini bagi saya berarti, tapi mungkin hanya sekedar buku bagi anda,
tapi tak apa,
karena hati saya menulis, maka saya bersyukur apabila tulisan saya sampai juga ke hati pembacanyaa.. :D

cover mentah :)

masuk jajaran buku terlaris. Alhamdulillah...

my husband. Hahahahha
2. Berkantor di Hang Jebat
ini lumayan seru sih ceritanya. Awalnya, aku iseng chatting dengan Aditya Sani (publicist heits ibukota), iseng aja minta projek karena kebetulan hari itu aku lagi ga ada projek apapun. Adit nawarin untuk "ngantor" aja, di sebuah kantor di kawasan Hang Jebat. Kerjaannya jadi campaign strategist sub bagian social media. Iyaps, gampangnya aku jadi team sukses seorang calon presiden konvensi Partai Demokrat, Bapak Gita Wirjawan.

Banyak banget pelajaran yang aku ambil dari projek ini. Selain (sering) ngobrol langsung dengan Pak Gita, well beliau kalau ngobrol luwes banget, duduk di meja, atau kursi sambil minum es tee, aku juga berkesempatan yang menurutku mahal banget yaitu kenal dan kerja bareng dengan banyak sekali orang hebat.

Kerjaanku ga ribet sebenernya, intinya aku sih berada di "balik layar" campaign di social media, membawahi KOL (Key Of Opinion). Disitu, aku dan team mikir gimana sih cara penetrasi ke media supaya visi misi Pak Gita lebih tersebar lagi. Sesimpel itu, ya karena aku itungannya cuma pekerja lepasan sih. Jadi pekerjaan yang ku pegangpun ga berat.

Tapi justru itu membuatku cukup bersyukur, beban tanggung jawabku tak tergolong berat, tapi kesempatan yang ditawarkan sangat sangat besar dan menyenangkan. Pekerja di kantorpun seru beraat, ada perempuan luar biasa cantik dan pintar, ada yang orang Korea, ada yang selalu mensesap kopi dan menghirup rokok sambil menerawang Indonesia harus lebih baik, ada yang ganteng banget tapi hobi pesta tapi kalau udah disuruh bicara mengenai carut marut negeri ini tak cukup dalam 1 hari, ada yang setiap pagi berada depan kaca untuk memoles muka dan lain sebagainya. Mereka semua muda dan hebat.

Sedikit yang membuatku bangga berada disitu adalah, kami adalah anak muda yang terjun di dunia yang orang pikir adalah ranah bapak-bapak. Sedikit juga yang membuatku lega, bahwa Indonesia masih memiliki banyak harapan di generasi mudanya. :)

Mungkin banyak orang mengira, ketika saya bergabung menjadi Team Sukses Gita Wirjawan pasti anggapan publik adalah saya salah satu simpatisannya. Wah ini sih semua salah, kami yang bekerja di kantor tsb berasal dari political view yang berbeda, kami bekerja cukup profesional kok.

Benar saya mengagumi sosok seorang Gita Wirjawan, bagaiman tidak, cara beliau bertutur, cara beliau membawa diri memang mengundang decak kagum,

tapi membutakan mata dengan mendukung beliau mati-matian sebagai presiden negara ini? Nanti dulu deh, Pak.... Wakil bolehlahhh... :")))

kartu karyawan, masih ku simpan hingga sekarang, Sebagai kenang-kenangan.

bersama Pabos. :"))
Dulu pernah cerita ke Aa, aku pengen banget bisa kenal dan duduk bareng Glenn Fredly. Eh, kesampean... :"))))

teman-teman sekantor. Gimana ga seger ngantor, isinya muda dan lucu gini?
Sekarang aku sudah tidak bekerja di kantor itu lagi dikarenakan saya harus mengurus ina ini itu keperluan internship. Sungguh, 3 bulan yang menyenangkan dan memberikan banyak cerita,
juga nyinyiran...

3. Les makeup
Waaaaa ini menyenangkan sekaliiiiiiii~~~~~
aku ambil kursus singkat makeup untuk diri sendiri di Puspita Marthaa, kebetulan sekolah mereka dekat sekali dengan rumah. Aku semangat banget ikutin kelas mereka yang seharian itu. Dateng ja, 9 pagi, pulang ke rumah jam 5 sore gitu terus selama 3 hari. Seneng bukan main deh pokoknya..

Kelas ini sebenernya cuma kelas untuk diri sendiri,basic makeup, jadi dikelas ini kita ga diajarin untuk makeup orang lain. Tapi percayalah, kelas ini penuh tips "mahal" dan teknik menggunakan riasan yang tepat di muka. Awalnya sih aku merasa kemampuan makeup ku standar ya, tapi setelah ikutin kelas aku langsung merasa bahwa kemampuanku minusssss banget. Bahkan cara pegang kapas unutk bersiin muka aja salah.

Aku puas banget sih, beneran. Dan semangat banget tiap bangun pagi. Sebetulnya, selain materi dan tim pengajarnya yang kece, satu hal yang membuatku ga nyesel ikut kelas ini adalah...


aku tau sub bagian medis yang aku mau... :D
alhamdulillah


peralatan tempur di kelas, yang kotak pink itu punyaku pribadi..
hasil salah satu materi, makeup malam




well,
Melakukan hal baru menyenangkan sekali ternyata ya, bebas stress dan banyak hal untuk diceritakan. Aku ga pernah menyesal ga ambil job klinik atau ikut penelitian misalkan, karena menurutku sebagai free agent, itulah saat yang paling tepat untuk mencoba banyak hal seru tapi tidak terlalu tenggelam di dalamnya,

kalau istilahku..
mencemplungkan setengah kaki..



Jadi, apa hal baru yang mau kamu kerjakan? Pastikan itu jauh dari basic pendidikanmu ya, dan rasakan semenyenangkan apa...

:)


....dan aku siap memulai hari-hari rumah sakit lagi. :D

Selasa, 11 Februari 2014

Ribetnya Ngurus Kain..


Kemarin, teman ku, Ilvie Rahmi (@miss7sins) bertanya "Dalam persiapan nikah, apa sih yang paling berat?" dan saya dengan lantang tanpa pikir panjang menjawab..

"NYARI KAIN!"

Hah? nyari kain?
mungkin sebagian orang menjawab, bagian tersulit dari urusan pernikahan adalah mencari mempelainya, okelah saya setuju. Tapi seperti yang kita ketahui kan, jodoh itu urusan paling ghaib dari Tuhan, jadi ketika ketemu ceritanya akan berbeda. Seperti tuntunan bunda ketika kita belajar berjalan dan seperti sungai yang membawa dedaunan.. mengalir. :)

Oke, aku lagi ga tertarik membahas konsep jodoh, lagi ingin membahas susahnya mencari kain. Perjalanan mencari kain dimulai sekitar 1 tahun lalu, sekitar bulan Maret - April. Lokasinya sih di 2 tempat.. Di Alta Moda dan Pronto Moda Majestik. Toko tersebut menyediakan kain dengan koleksi lengkap. Dari kain premium hingga kain produksi massal yang dijual dengan harga murah.

Proses pembelian ga cukup sehari pergi. Akkkk, aku lupa deh berapa kali. Mungkin sekitar 5-6x bolak balik ke sana. Dari mulai masih semangat, sampe aku sama Aa cuma duduk saking lemes dan migrainnya.

Terduduk lemas di antara kain

mati gaya

lebih mati gaya lagi.. Moms lagi sibuk nyari.

Oke, aku mau cerita dulu mengenai apa aja sih yang harus dipikirin untuk pembelian kain ini..

1. Tema Resepsi dan Akad
Pertama kita harus tau tema yang akan dipake apa, nah setelah tau temanya apa, maka kita harus menentukan warna yang dipakai untuk resepsi itu. Waktu itu aku memilih warna maroon dan gold sebagai warna dekorasi. Nah, setelah warna dekorasi sudah disepakati, warna kain pada keluarga dan panitia harus menyesuaikan. Kan ga mungkin tema resepsinya maroon gold terus mendadak keluar warna hijau sebagai among tamu. Mudahnya begitu...

Prosesnya? INI BIKIN MIGREN MAMAAAKKKKK..
Untuk adat aku yang hampir 90% panitia mengenakan kebaya, milih kain kebaya itu ribet kali mamaaaakkkk... Pertama kita harus menentukan warna, lalu bahan, lalu warna furing (daleman). semua kita yang tentuin dan padu padanin. Bayangin ada berapa warna yang harus dipadu padan dengan acuan tema resepsi yang sudah kita persiapkan di awal tadi. Sakit kepala deh.

Harga juga masuk ke perhitungan, biasanya kebaya orang tua kita akan memilih kain yang paling bagus serta premium, karena mereka kan berdiri di pelaminan, selebihnya (ini sih kami ya..) ambil harga menengah. Itupun juga harus dihitung, misal masa kain yang dikasih ke Om Tante yang sudah sepuh bahannya sama dengan yang dikasih ke anak muda penerima tamu. Ribet kan? Iya. -_-

Aku ga terlalu inget jenis bahannya, yang aku inget orang tua kami memakai bahan kebaya Paris. Bahannya super lembut. Aku ga bisa bedain jenis kain, cuma tau warnanya bagus, udah gitu aja. Makanya seluruh proses ku serahkan ke pihak keluarga, terutama ke keluarga Aa, karena ibu ayahku sudah sepuh sekali dan mustahil bagi mereka menangani ini semua. :)


2. Siapa aja yang dikasih kain
Penentuan siapa-siapa aja yang dikasih kain juga salah satu yang bikin migrain, walau ga semigren nentuin warna sih. Problem yang akan dihadapi adalah seputar "Tunggu, kalau si ini dikasih, si itu juga harus dikasih...." gitu terus ampe 1000 orang. *becanda*.. cuma serius, penentuan siapa aja yang dikasih itu menguras tenaga. Udah di-list, eh masih ada yang lupa. Ya gitulah, manusia kan tempatnya khilaf.

Kalau aku, list yang dikasih adalah..
1. Orang tua (termasuk orang tua Aa jelas ya..)
2. Keluarga inti
3. Om tante
4. Sepupu
5. Penerima tamu
6. Pager Ayu
7. Among Tamu
8. (oke ini mungkin ga umum, tapi jajaran direksi yang wanita tempat Papaps kerja waktu itu menyalonkan diri jadi yang berdiri di menuju pelaminan, jadi ada kain yang disiapkan untuk ibu-ibu tsb)
9. Bridesmaid (sahabat-sahabatku dan Aa)


Setelah beres itu semua, baru bagian pendistribusian. Karena kami adalah keluarga Jawa yang menjunjung tinggi tata krama, pemberian kain juga melalui "temu langsung", jadi pihak yang diberikan kain kami temui satu-satu, sembari ngobrol-ngobrol bentar. Bagian ini repot, tapi menyenangkan.


Fiuh, selesai.

Okelah, ini hasilnya. JENGJENG..

Orang tua :) , btw Momi jahit sendiri lho bajunya. hahahahha. Kalau Ibuku jahit di duh lupa.. Pokoknya tukang jahit ibu yang biasa nanganin Istri presiden. halah gaya banget si Ibu, karena kebetulan beliau adalah teman pengajian Ibu. Hehehe. The Power Of Temen Pengajian.

Ini keluarga inti aku. Yang kecil-kecil itu ponakan-ponakanku. :)

Gabungan 2 keluarga besar.

Hadinoto. Kenapa Mbak Joja pake baju merah? Karena Mba Joja harus stunning. Joja masih gadis, jadi harus terlihat diantara para tamu. :D
Ini jajaran direksi perempuan. Diambil warna merah tua karena simbol mereka sudah berumur. Intinya gitu deh.


PENERIMA TAMUUUU.. pada kenal ga ini siapa aja? :D aku ambil warna pink muda karena mereka ada di lini paling depan dan harus terlihat kalem tapi tetap cantik, dari segi umur juga masih cocok pake pink.

ihiiww

Ini Om dan Tante dari pihak Papaps. Warnanya cenderung merah marun, tapi tidak semerah tua jajaran direksi kan? Ribet kan? KANNNN?

Ini keluarga besar Dwijosoesastro (keluarga Momi), yang sepupu warnanya pink muda, lebih muda dari penerima tamu. Om dan tante ya merah.

Mom, ngapain? --"

Ini keluarga besar Ayahku. Keliatan kan perbedaan warnanya?

keluarga besar

NAH, ini keluarga intiku. :") Waktu foto pertama, ponakan buleku yang emang tinggal di luar negeri masih jet lag, jadi tidur. Sekarang ikut foto :D


Ini pagar ayu dan pagar bagus, diambil dari karyawan muda kantor Papaps. :D cakep cakep ya? Mereka semua single lho. hahaha.

Pager ayu dan pager bagus

temen 1 internship Aa, dikasih kain warna merah. :)
BRIDESMAID! teman-teman kesayanganku.. Sahabat-sahabatku :"D


Kurang lebih gitulah urusan kain.
Ribet, ribet banget. Aa kalau aku ingetin tentang proses nyari kain, mukanya langsung ngerutttt... Asli, dia ga mau banget diingetin masalah nyari kain. Masalahnya banyak banget. Hahahahahha. Kalau diinget sekarang sih bisa sambil ketawa, tapi pas jalaninnya? Makasih lhooo.. Bahkan makan aja ga selera. HAHAHHAHAHAHAH..

PS:
Masih ada  Mbak Joja dan Bang Ray belom nikah,
jadi nyari kain tadi, bukan yang terakhir.
Semangat.
:)))))))))