Kamis, 30 Juli 2015

Alasan Untuk Bersama

Pada suatu jaga IGD yang lumayan tenang, seorang teman sejawat menghampiri saya yang sedang duduk menopangkan satu kaki ke tempat duduk satunya. Teman saya menarik bangku plastik bakso, matanya seperti ingin bertanya. Ku benarkan posisi dudukku, seakan mengerti ada hal lumayan rumit yang ingin ia sampaikan..

"Gua udah butuh istri." Ujarnya.
"Lah? Kenapa?" tanyaku tak kalah herannya
"Ya udah pengen diurusin aja. Udah bosen tinggal sendiri, udah bosen bikin makan sendiri. Udah pengen ada yang nemenin aja."
"Yee.. kalau alasannya cuma itu, hire nanny aja. Elah." Jawabku sewot.


...


Alasan untuk bersama.
Mungkin untuk beberapa orang, mengucapkan janji sakral depan Tuhan itu sesimpel dilandasi oleh rasa ingin tak mau lagi sendirian meratapi hidup. Beberapa lainnya mungkin beralasan macam-macam, ada yang karena dituntut keluarga ada juga yang memilih karena memang sudah tak ingin lagi mencari.

Untuk saya, pernikahan itu setinggi-tingginya keputusan manusia. Ada seseorang yang kita putuskan untuk berbagi dosa, bertanggung jawab di akhirat kelak. Jadi orangnya ya ga boleh sembarangan. Menikah bukan hanya perkara ada yang menemani, bukan hanya tentang ada yang ngurusin atau ngelipatkan baju. Menikah adalah tentang hidup bersama, bagaimana 2 orang yang sebelumnya tak ada hubungan darah menjadi muhrim yang dipersatukan atas nama Tuhan.

Pernikahan yang hanya dilandaskan oleh "sudah tidak ingin sendiri" adalah pelecehan kesakralan arti janji depan Tuhan.

Lalu kapan waktu yang tepat untuk menikah?
untuk saya..

menikahlah dengan orang yang diawali oleh rasa jatuh cinta.

Menikah itu hal mudah, bisa dibuat murah malah. Tapi menikah hanya karena ingin atau hanya karena dituntut keluarga lantas mencari siapa saja yang ada? Setidaknya, itu bukan jalan saya.

Pondasi awal pernikahan itu rasa saling cinta, bukan sekedar materi berlimpah. Karena hanya cinta yang bisa membuat manusia bertahan ketika hidup sedang  berat-beratnya. Cinta membuat sepasang manusia tetap tertawa ketika cobaan sedang ramai menghinggapi. Cinta pula yang membuat seks terasa lebih nikmat karena kecup jidat dan tidur berpelukan di akhir senggama.

Ah, pernikahan itu bukan jalan pintas, teman.
Bukan juga sesuatu yang harus dilakukan secepat-cepatnya.
Pernikahan itu proses, akhir dari awal yang baru.
Pernikahan juga bukan tujuan hidup, bukan pula check list kesuksesan.


Bayangkan bila kita menikah tanpa diawali jatuh cinta, apa ga takut di tengah pernikahan mendadak merasakan kupu-kupu dalam perut dan senyum yang melengkung karena orang lain?

Senin, 06 Juli 2015

Karena Bayi Butuh Kenyamanan

Memiliki anak memang lahir dengan segala konsekuensinya, termasuk risiko pekerjaan maupun karir. Ada hal-hal yang memang beberapa harus dikorbankan demi anak. Intinya, menjadi Ibu itu sepaket dengan semua yang dilakukan adalah demi kebaikan anak.

Begitupun ketika aku ditempatkan sekitar 80 kilometer dari rumah. Tempat kerjaku adalah sebuah kota kecil hampir di ujung provinsi Banten. Saat cutiku berakhir, aku ditempatkan di puskesmas, demi anak, aku rela menempuh 2 jam perjalanan agar ia mendapatkan pengasuhan terbaik di Jakarta. Setiap hari ku lajukan mobil melintasi padatnya tol, pulang kembali untuk kemudian besoknya melakukan hal yang sama. Selesai putaran puskesmas, maka aku harus kembali masuk ke putaran IGD, di mana aku mendapatkan shift malam. Akhirnya, setelah merundingkan baik buruknya ke suami, kami memutuskan mengontrak rumah kecil tak jauh dari rumah sakit. Berat memang memutuskan untuk jauh dari suami, tinggal hanya bertiga dengan kakak dan Mbak yang membantu mengasuh.

Tapi,
itulah hidup bukan? seringkali kita harus dihadapkan oleh pilihan yang sama-sama tidak enak. Hidup memang seni memilih dan memutuskan.

Semenjak memutuskan mengontrak tempat tinggal yang tidak jauh dari lokasi penempatan tugas, risiko yang harus aku tanggung adalah segala kerepotan membawa perabotan Kakak Kiko, termasuk di mana dia akan tidur dan tempat bermain-main yang aman.

Saat pindahan itu seru banget pokoknya. Semua perlengkapan Kakak ku cek berulang-ulang agar tidak ada yang tertinggal. Hal krusial seperti alat steril, peralatan ASIP, bak mandi, obat-obatan pastilah ku dahulukan. Lalu stroller, dan yang tak kalah penting adalah di mana Kakak akan bermain-main,

Di rumah, aku biasanya menggunakan cribs kayu yang sangat tidak mungkin dong aku bawa-bawa terus. Akhirnya, setelah mensurvey sana sini, pilihanku jatuh pada Graco Pack 'n Play Playard Napper Deluxe.









Kelebihannya?
yang jelas sih ringan dan mudah banget dibawa-bawa, cocok banget untuk aku yang mobile ke sana ke mari.

Terus, Graco ini bisa dilipat dengan mudah, tadaa tinggal masuk mobil deh. Kurang lebih gini deh kalau dilipet. (gambar via website Graco)





Tuh, praktis banget kan?
selain kemudahan dalam di bawa-bawa,  yang aku suka banget dari Graco Pack 'n Play ini adalah ada tempat untuk ganti popok. Hah! selamat tinggal sakit pinggang karena harus bungkuk-bungkuk saat ganti diapers.

Sebelum ada Graco Pack n Play aku selalu merasa nyeri di pinggang ketika mengganti diapers Kakak di tempat tidur, akhirnya suami membelikanku sebuah meja khusus untuk mengganti diapers. Masalah terpenuhi. Tapi, persoalan berikutnya muncul, meja tersebut terlalu besar untuk ku bawa ke kontrakan. Setelah ku tau bahwa Graco Pack 'n Play ada tempat untuk mengganti diapers, tak ragu langsung ku beli.

selain ada tempat ganti diapers, Graco Pack 'n Play ini juga dilengkapi tempat tidur untuk bayi baru lahir. hhi


Gini deh kurang lebih penampakan Kakak saat mau diganti diapers. Selain aman, tempat ganti diapers ini juga nyaman banget. Aku kebantu banget pokoknya.





So,
Aku puas banget deh dengan Graco Pacn 'n Play ini. Karna sebagai ibu harus memberikan yang terbaik untuk anaknya. Waktu hamil Kiko, aku caritau tentang berbagai merk Babybox. Aku coba searching dan nemu Graco Pack ‘n Play di www.citrakreasimakmur.com/Graco . Banyak tipe dan  juga warna – warna yang bikin gemes. Lengkap banget deh jelasinnya. Aku coba bandingin dengan beberapa merk lain (hasil browsing juga.. hehe) sepertinya Graco memang yang paling memikirkan sehingga memenuhi standar keamanan dan kenyamanan bayi. Langsung deh sama suami beli Graco buat Kiko. :DSekarang, ninggalin Kiko bisa lebih tenang. Kikonya pun senang..





Kak Kiko mau main dulu yaaa!





masih ada 3 bulan lagi kami akan mengontrak, walau aku dan Kakak masih lebih sering di Jakarta, tapi itu semua tidak jadi masalah selama Graco Pack 'n Play menemani. :D

Senin, 22 Juni 2015

6 Bulan Bramastha

Sedikit rangkuman kecil seorang Bramastha.


- Bramastha lahir dengan berat 2.500 gram dan aku menulis post ini beratnya sudah 8.500 gram di usia 6 bulan kurang 1 minggu. ASI eksklusif. Perjuangan ibunya bawa tas gede isi pompa ASI saat pergi kerja.

- Bramastha tidak minum ASIP pakai dot, dia minum memakai sloki dan sendok. Awalnya, dia ku coba memakai dot (... dengan risiko bingung puting tapi aku bodo amat yakin dia gapapa), eh dia ga mau. :| pake sloki? Lahap. umm..

- Aku memanggilnya dengan banyak panggilan "Kakak" yang utama, selebihnya ada Ciskimil, Papangdi'il, Cikimil, Piski, Biski, Ilikiplik, Anak Bots. Tapi panggilan yang membuatnya menoleh adalah "Kakak". Yeah.

- Kakak hampir selalu nangis kalau dipakein baju. Pernah sekali dia tidak menangis, selesai pake baju, tiba-tiba dia menangis. Mungkin dalam pikirannya "Lho? Tadi pake baju? Lupa nangis lagi. Sekarang ajalah nangisnya.." -__-

- Kakak Kiko tidak terlalu suka keramaian. Ia lebih nyaman di taman, pinggir kolam ikan, di teras liat kucing.

- Brama alergi debu. Kalau ada debu, pipinya memerah.

- Dari lahir, Kakak bukan bayi yang ngajak begadang. Ia tidur kala malam, bangun per 2 jam untuk menyusu. Selebihnya, tidur. Good job, Piski!

- Bramastha Nemanja Senna loves book soooo mucchhhhhhhh.. Dia senang dibacakan cerita bergambar, mendengar intonasi ibu atau romonya bercerita. Menggerak-gerakkan tangan dan kakinya semangat. Tertawa.

- Kak Kiko tidak tertarik oleh televisi. Ia lebih suka utek-utek soft book, atau kantong kresek. He'eh.

- Dia nyaman duduk di car seat dalam waktu 1,5 jam. Lebih dari itu, maunya dipangku. Mungkin pegal.

- Posisi digendong favoritnya adalah di dada penggendong dan dia menghadap depan. Enak untuknya, kram tangan untuk yang gendong.

- Seperti Romonya, jika tidur dia harus dipeluk dan memeluk leherku. Jika tidak, maka tidurnya tidak nyenyak atau bisa terbangun kemudian mendadak menangis. :))

Dan banyak lainnya..


Selamat 6 bulan kurang seminggu, Bramastha.... Ibu khawatir minggu depan ibu tidak sempat membuat post ini karena sibuk membuat MPASI kamu. Ibu bahagia memiliki kamu, Nak. Ibu bangga bisa melahirkan kamu, Ibu terharu karena Ibu dipilihkan Tuhan untuk menjadi Ibumu.


..


Tumbuhlah berjuang dan belajar, Nak..
Lawan ketidakadilan, seraplah banyak ilmu dari sekitarmu.

Tumbuhlah menjadi anak yang berbahagia, Nak..
Jadilah apapun yang kamu mau, berdansalah di tengah gilanya dunia.

Tumbuhlah menjadi laki-laki yang kuat, Nak..
Perempuan diciptakan untuk kamu lindungi, bukan untuk disakiti.
Perlakukan semua makhluk Tuhan dengan cinta.

..





Apapun, Nak..
Jadilah apapun yang kamu benar-benar mau.
dan ingatlah,
tumbuhlah berjuang
dan
berbahagia.




Selamat 6 bulan, Bramastha Nemanja Senna Hadinoto.


Love,
ibu.

Kamis, 04 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun, Romo @junohadinoto

4 Juni 2015.

4 Juni ke 4 yang ku lalui bersama kamu. 4 Juni pertama dengan kamu sebagai Ayah dari anakku.
Bila melihat ke belakang, kamu tak banyak berubah. Hanya sedikit kerut saja di sudut mata yang mulai tampak, atau badanmu yang mengurus dibanding pertama kita bertemu.

Selebihnya, kamu tetap sama.
Matamu tetap memancarkan kehangatan, senyummu masih merekah lebar walau kadang malu.
Pelukmu masih hangat, sapamu masih mencairkan suasana.

Kamu masih tetap sosok yang ku kenal baik dari pertama bertemu. Laki-laki yang bertanggung jawab, laki-laki baik yang sering mengorbankan senang sendiri untuk kebahagiaan orang-orang yang kamu sayang. Kamu masih seperti yang dahulu, laki-laki berkacamata tebal yang tak sempat lagi membaca buku di luar buku kuliah.

Walau mungkin...
Beberapa hal ada yang tak sengaja terjadi. Kamu seringkali menghilangkan barang, kerap lupa menaruh hal penting. Sering aku kesal, tapi semua hanya menjadi sebuah rona pudar sesaat saja, tanpa berkepanjangan.

..

Hai Romo,
selamat ulang tahun, sayang.
Waktu kita sempit, bahkan bertemupun jadi hal yang langka. Ulang tahun kali ini tak ada pesta, tak ada kejutan. Hanya ada suara "mamamama" yang membangunkan pagi kita, suara yang... ah... tahun lalu belum ada karena kita sedang sama-sama berjuang agar ia bertahan di dalam sana.

Berjalanlah lebih tegap, dagumu tidak boleh merendah tapi juga jangan meninggi. Hari yang berat ini akan lewat, waktu yang dulu menjadi hal yang mudah terjangkau akan kembali kita raih. Aku masih ingat betul, di tahun pertama kita bertemu, aku berdoa untuk hal yang kamu sedang jalani hari ini. Aku juga masih ingat, tahun kedua kita bertemu, 4 Juni 2013 adalah hari sebelum pernikahan kita. Tahun ketiga, 4 Juni 2014, ada janin yang berkembang dalam rahim. Hari ini, 4 Juni 2015, ada bayi mungil yang kerap mengajak main bahkan ketika shubuhpun belum berkumandang.

Sudah banyak yang kita lalui, tapi masih lebih banyak yang belum kita jalani. Hingga saat ini, aku tetap menjadi perempuan yang paling bangga akan lebih kurangnya kamu, aku tetaplah manusia yang paling membutuhkan hadirmu, selemah apapun posisimu hari ini.

Hai Romo,
selamat ulang tahun ke 27.
Kamu hampir memiliki segalanya. Tidak banyak orang dengan usia semuda kamu sudah mendapatkan hampir semua yang mereka inginkan. Kamu salah satunya. Tapi itu semua bukan hanya karena kamu orang yang beruntung, tapi karena kamu adalah laki-laki tak kenal langkah mundur.

Teruslah berjalan. Tak apa meninggalkan aku sejenak. Aku mempunyai tugasku sendiri. Berlarilah jika perlu. Sesekali, tengok ke belakang, lambaikan tangan pada yang kamu pernah abaikan. Ajak mereka menikmati pemandangan, lalu kembalilah berlari. 


Selamat ulang tahun, Romo.
Ibu sayang sekali sama Romo...


Love,
Ibu dan Kakak.

Senin, 01 Juni 2015

Baby Sitter atau ART?

Sebagai ibu pekerja, sedari hamil saya menambah 1 doa di tiap sujud saya:
Mendapatkan pengasuh yang baik.

Mungkin sebuah doa yang terdengar sederhana, tapi doa tersebut benar-benar saya ucapkan secara sungguh-sungguh. Keputusan saya untuk menjadi ibu yang bekerja dibarengi dengan konsekuensi harus memakai jasa pengasuh untuk membantu menjaga Kakak selama saya bekerja.

Beruntung pengasuh saya sejak bayi, #MbaknyaKiko bersedia membantu saya dari lahiran hingga saya mendapat pengasuh tetap. Selama proses pencarian pengasuh baru, Kakak dipegang oleh #MbaknyaKiko .

Sempat bimbang antara memakai ART (Asisten Rumah Tangga) yang bisa mengurus anak, atau menggunakan jasa Baby Sitter yang memang sudah terlatih untuk mengurus bayi. Semua ada lebih dan kurangnya. Kebetulan, mertua saya, Moms, lebih sreg menggunakan jasa ART saja karena menurut cerita yang beredar banyak baby sitter yang agak sedikit bertingkah. ya, saya simpan saran beliau hingga saya mantap benar mana yang akan saya pilih.

Latar belakang #MbaknyaKiko memang ART, maka saya sebenarnya tidak keberatan apabila Kakak dipegang oleh ART yang benar-benar mau mengurus anak. Tokh saya dulunya juga diasuh oleh ART kok, tapi kan perkara berikutnya adalah mendapatkan ART yang mau dan mampu mengurus anak dan yang terpenting baik bisa dipercaya itu kemungkinannya lumayan kecil. Awalnya saya sempat ragu mengenai jasa baby sitter, terlepas dari gaji bulanan mereka memang lebih tinggi dari ART, cerita-cerita menyeramkan menyangkut baby sitter juga membuat saya maju mundur mengambil jasa baby sitter.

Lalu, saya secara serius meminta pendapat suami. Surprisingly, suami lebih memilih untuk menggunakan jasa baby sitter. Alasannya, mereka sudah dilatih untuk mengurus bayi, yang artinya kita sebagai Ibu dari si anak tidak perlu "mengajari" mereka lagi. Alasan yang masuk akal dan menguatkan saya untuk mencari baby sitter.

Persoalan berikutnya adalah, yayasan mana yang terpercaya untuk menyalurkan baby sitter. Nah.. atas saran kakak saya yang kerjaannya berkumpul bersama buibuk hits ibu kota, pilihan mengerucut ke Yayasan Tiara Cipta di Kemang. Kata Kakakku, itu langganan artis-artis dan pejabat. HALAH. Bismillah, saya telfon dan voila! hanyad dengan 1x wawancara 3 kandidat, saya langsung sreg saat itu juga.

Seminggu... Dua minggu. Ketakutan saya terhadap baby sitter lenyap tak bersisa. Puji syukur tidak putus-putus saya ucapkan atas pengasuh yang super baik dan telaten. Karena dari awal lahir hingga baby sitter datang Kakak diasuh oleh #MbaknyaKiko , saya bisa membandingkan antara pola asuh ART dan Baby Sitter.

ART cenderung mengasuh dengan naluri. Anak nangis, gendong. Anak ngantuk, gendong. Anak seneng, digendong-gendong. Mandi, ya dicelup air. Manajemen ASI dan pemberian ASIP cenderung konvensional (walau hal ini sih sebenernya bisa diajarin). Intinya sih mereka cenderung merawat anak secara naluriah, bukan berdasarkan teori mengasuh anak ala baby sitter terlatih.

Lalu, bagaimana dengan baby sitter? Mereka sudah dibekali segala hal yang diperlukan untuk mengurus bayi. Bagaimana cara agar bayi tidak ketergantungan digendong ketika mau tidur, bagaimana menenangkan bayi agar dia tidak menjadi manja, bagaimana merawat lipatan bayi, bagaimana cara pijat bayi, cara membersihkan lidah bayi, cara memandikan bayi hingga memberikan stimulasi motorik kasar dan halus pada bayi. Baby sitter terlatih juga sudah hapal mengenai menu MPASI, cara memasaknya, cara mensterilkan botol-botol. Menyimpan semua alat, membersihkan ruangan hingga takaran obat medis maupun cara tradisional ketika bayi sakit.

Worry less.

Alhamdulillah, pengasuh Kakak super baik dan telaten. Memang, baby sitterpun tidak jaminan semua akan berjalan baik. Drama pasti ada-ada saja. Tetapi akhirnya saya menarik 1 kesimpulan, ketika Ibu memutuskan bekerja, tampaknya pilihan baby sitter bisa dipertimbangkan, mengingat kita akan meninggalkan anak di waktu ia tumbuh dan bermain. Artinya kita harus menitipkan ke orang yang benar-benar mengerti bagaimana menstimulasi bayi ketika kita tidak ada. Tapi, bagi Ibu yang merawat sendiri bayinya dan tidak bekerja, saya rasa ART jadi pilihan tepat, karena mereka akan cenderung membantu di pencucian baju, popok, buang ini itu dll.


well,
apapun pilihan yang akan dipilih nanti,
saya hanya punya 1 saran..
berdoalah untuk diberikan pengasuh yang baik.

Selasa, 19 Mei 2015

Untuk... Kamu.

Di tanggal yang sama beberapa tahun lalu, kamu hanya seseorang di luar lingkaranku. Tak tau siapa, tak tau di mana. Bahkan aku tidak tau bahwa hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, tinggallah seorang kamu.

Kamu tak lebih hanyalah seorang orang asing, tak saling mengenal, walau pernah sekali bertemu di masa puber. Setelah pertemuan pertama itu, semua berjalan tanpa ada kamu. Tak pernah sedetikpun kamu hadir di kepalaku, meminta dikenang, meminta untuk dicari untuk kemudian ditemukan sebagai tambatan.

Mungkin, aku juga tak yakin, kita pernah beberapa kali berdampingan di perjalanan menuju tempat aktivitas. Jarak rumah kita yang dekat seharusnya bisa berbicara banyak dan membuat skenario pertemuan. Nyatanya, hal tersebut tak pernah sekalipun terjadi. Kita melalui jalan yang sama, tinggal berdekatan, membeli jajanan di toserba yang sama, menyukai capcay di restoran dekat rumah yang sama tapi tak pernah sekalipun bertemu.

Lalu kamu, juga aku, mulai mengenal cinta. Kamu berjuang mati-matian mempertahankan seorang perempuan berparas ayu berkulit coklat. Akupun demikian, aku menikmati hari bersama seseorang yang memiliki mata seteduh senja, seorang yang hampir merajah namaku di lengannya, untung ku cegah. Tetap, kita tetap tidak saling mengenal. Hingga air mata itu turun, hati itu patah. Kita berdua nyaris merasakan patah hati di waktu yang sama. Menyapu sedih di tempat yang berbeda.

Hari berlalu,
Lagi-lagi, hidup menunjukkan rasa humornya. Kamu ditempatkan di rumah sakit tempatku menimba ilmu, berbulan-bulan kita berada di 1 gedung setiap hari, tapi kita tidak pernah bertemu. Mungkin pernah, tapi aku tak sadar kamu ada. Berbulan-bulan kamu wara wiri di lantai yang sering sekali ku injak di perjalanan menuju ruang poli. Berbulan-bulan kamu membeli kopi di tempat yang sama dengaku membeli air mineral. Ya, kita tak pernah bertemu.

Hingga hari itu... Kamu akhirnya ditugaskan di ruang poli, tempat di mana aku juga ditempatkan. Bertukar nama, lalu selesai begitu saja. Tanpa rasa, tanpa ada yang tersisa.

Lalu hari itu tiba juga, hari di mana kamu mulai memberanikan diri menyapaku secara spontan dalam suasana cair. Saat itu, aku terkejut, karena kamu mengingat pertemuan pertama kita saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Lebih terkejut lagi, mengetahui bahwa kita bertempat tinggal di lingkungan yang sama.

Sejak pertemuan itu, kamu selalu berada di sini. Jika lingkar lenganmu terlalu jauh untuk ku gapai, keberadaanmu lekat dalam hati. Kamu tak pernah pergi sejak hari itu, berjanji untuk selalu menemani. Sejak hari itu, aku menjadi bagian dari hidup kamu, seorang yang kamu perkenalkan sebagai yang diberikan kehormatan menyandang nama belakangmu. Perempuan yang dengan tegas kamu sebut Ibu dari anakmu.

Semenjak ada kamu, rasanya cinta yang membuatku patah hati sejadi-jadinya menjadi tak bermakna, tak lebih dari sekedar rasa belajar mencinta. Hadirnya kamu cukup membuatku blingsatan kesetanan karena bahagia merasakan indahnya dimiliki. Kamu membuat patah hati yang hancur berkeping menjadi nyaris tersambung seperti sutura ahli bedah plastik. Berbekas, tapi tidak mengganggu.

Kamu, adalah seorang yang membuat keasingan menjadi kehangatan. Orang yang sama sekali asing tapi memberikan kenyamanan seperti sudah mengenal puluhan tahun, seperti mempunyai rumah dalam bentuk raga.

Untuk kamu, aku berani berjanji untuk mendampingi, untuk tidak terlalu jauh dari gapaian jiwamu. Untuk kamu, aku yang keras kepala ini berani menurunkan ego, berani untuk melambatkan laju hidup dan berani melintasi batas kewarasanku sendiri,

menjadi ibu di usia muda.

Untuk kamu,
aku sayang kamu.


Selasa, 28 April 2015

Pasti Ada yang Berubah

Beberapa hari lalu, mulut saya tersenyum lebar, terkekeh sebentar. Bukan hanya karena ulah Kak Kiko yang semakin menggemaskan tapi saat itu saya sedang mengingat-ingat oleh kelakuan saya dan bapaknya anak saya sebelum Kak Kiko hadir menghiasi hari kami.


"Aa, aku pusing. Abis ujian penyakit dalam.."
Keluhku di waktu lepas senja itu, sepulang ujian penyakit dalam. Saat itu kami masih berstatus pacaran, mungkin baru 2 bulan pacaran.
"Yaudah, istirahat.." jawabnya.
"Aku mau ke Cimory...!"
"Semalam ini?"
"Iya.. ayo.." rengekku
"Ya ayo."

Berangkatlah kami ke Cimory, ternyata kami berangkat terlalu malam. Sampai Puncak, Cimory yang kami incar sudah tutup. Tak kehabisan akal, kami berangkat menuju Bukit Bintang Puncak Pass. Bercengkrama hingga larut menjemput malam.

..

"Bandung yuk?" ujarku spontan pada Aa, lagi-lagi kala itu kami masih pacaran.
"ya ayooo..."

Berangkatlah kami ke Bandung, ngopi di Dago Pakar lalu kemudian pulang kembali.

..

dan banyak lagi bepergian spontan yang kami lakukan. Semua terjadi langsung, tanpa rencana. Kami menikmati kebersamaan kami bahkan hingga tangan Aa menjabat erat tangan saya di meja pelaminan.

6 bulan pertama pernikahan, kehidupan kami juga masih dipenuhi hal spontan. Bosan, lalu mencari makan malam. Bosan, lalu berangkat mendadak ke mall.

Hal yang hari ini tak dapat lagi kami lakukan...


..


Semenjak kehadiran malaikat kecil kami di dunia, hidup kami berubah. Kami tak bisa lagi menjadi pasangan yang memutuskan rencana di detik terakhir dan mengeksekusinya saat itu juga. Kami berubah menjadi 2 orang tua muda dengan rencana detaill untuk pergi yang tak jarang pula rencana itu hancur begitu saja.

Dulu, kami hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk siap-siap ketika akan keluar rumah. Hari ini, kami butuh waktu lebih dari 1 jam dengan porsi waktu paling banyak adalah menyiapkan Kak Kiko dan menyusuinya lebih dulu. Itu belom terhitung drama ketika akan pergi, mendadak Kak Kiko gumoh atau pup atau tertidur. Mundur lagi deh.....

Dulu, kami bisa bebas berkeliling pusat perbelanjaan. Melihat-lihat, memilih-milih. Hari ini hal tersebut susah sekali dilakukan. Sejam sekali, Kak Kiko sudah uget-uget minta minum. Kami harus mencari nursery room, atau mencari tempat makan agar bisa duduk dan menyusui dengan tenang. Itupun belum termasuk kejadian apabila Kak Kiko mendadak cranky dan kami dengan berat hati memutuskan untuk pulang.
harus menyusui di tengah kegiatan berbelanja

Kakak baru bangun tidur. Di Goods Cafe











Kami sadar, konsekuensi menjadi orang tua memang seperti ini. Waktu kami terpenjara oleh hadinya malaikat kecil kami. Tapi terpenjaranya waktu karena hal itu mungkin adalah kondisi terindah selama hampir 3 tahun kebersamaan kami.

Mempunyai anak bukan hanya sekedar mengasuh, tapi tentang melambatkan laju beberapa hal. Mengenai rencana traveling, mengenai prioritas pribadi dan mengenai pemilihan waktu tepat melanjutkan studi bagi saya.

..

Bagaimanapun, hidup adalah tentang perubahan. Tentang bagaimana manusia beradaptasi dan menerima bahwa hal yang nyaman akan tergantikan,  berganti menjadi sesuatu yang lebih sulit. Tapi bila dimaknai lebih dalam, perubahan yang terjadi adalah kado dari semesta. Bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk berkembang menjadi manusia yang lebih bermanfaat, menjadi insan yang lebih dewasa.

Saya tak pernah iri pada mereka yang bisa duduk semeja di atas jam 12 malam, di sebuah bar yang ramai. Karena saya tau, apa yang saya miliki sekarang jauh lebih berharga, dan inilah yang saya mau dan saya pernah pinta dengan tangisan.

Perubahan ini nyata, tapi puji syukurkan pada Tuhan karena diberikan kesempatan untuk menjadi seorang.. Ibu.

Selasa, 14 April 2015

Trend (ngobrol) Batu Akik

Trend batu akik yang beberapa bulan ini mewabah sempat membuat saya super jengah. Bayangkan ada benda berukuran jumbo nangkring di jari-jari, kadang bukan hanya 1, tapi saya pernah melihat seseorang mengenakan cincin batu akik hingga di 10 jarinya.

Tuhan..

Tweet demi tweet saya post menyalurkan kejengahan saya, membandingkan harga batu akik yang bisa seharga ratusan juta dengan jam tangan Panerai atau Rolex. Atau mencoba mencari di mana letak menariknya batu-batu yang katanya tembus jika disenter.


Kejengahan tersebut berlangsung hingga cuti saya selesai dan saya harus kembali masuk ke tempat kerja saya di puskesmas. Di mana mayoritas pria di sana mengenakan cincin batu akik. Awalnya kelelahan saya melihat batu akik saya salurkan di tweet atau obrolan ringan dengan teman, tapi lama kelamaan ada satu hal yang membuat saya terperangah kagum..


Bukan, bukan kecantikan batu apalagi cincinnya.
(Iya saya masih susah melihat di mana letak bagusnya cincin besar batu akik)

Tapi....
obrolan hangat mengenai batu akik.

Jadi beberapa kali ketika saya sedang sarapan di warung sederhana belakang rumah sakit, ada petugas puskesmas yang berkumpul sembari mengebul tembakau. Setiap obrolan yang tercuri oleh saya, hampir selalu mengenai batu akik. Kadang, datang orang baru, ntah pasien, ntah pejabat pemda, siapapun yang mengenakan batu akik; lalu obrolan kembali mengalir. Hangat. Bersahabat.

"Main batu juga, Pak?"
"Batu apa, Pak?"

obrolan yang diawali oleh rasa ingin tau tanpa menilai apakah batu itu bernilai jutaan rupiah atau tidak. Obrolan yang seringnya diakhiri dengan
"Kopi, Pak?"

pernah suatu kali, saya ke tempat kerja diantar oleh supir Bapak, supir Bapak ini juga mengenakan cincin batu akik di jarinya. Ketika membayar tol dan didapati petugas tol mengenakan cincin akik, supir Bapak menyapa dengan
"Batu juga Pak? Bacan?"
Petugas tol yang tadinya bermuka masam ngantuk, langsung tersenyum ramah dan menjawab
"Iya Pak, bacan.. Hati-hati, Pak!"

Singkat. Padat. Bersahabat. Hangat.


...


trend batu akik mungkin tidak merambah di teman semeja saya, di pergaulan untuk menghabiskan segelas wine di bar. Trend batu akik mungkin tidak menjamah mereka yang mengeluarkan uang 100 ribu sehari untuk kopi di Coffee Bean. Untuk mereka yang berganti Macbook setiap keluar. Atau untuk mereka yang menghiasi pergelangan tangan dengan Panerai.

Tapi kehangatan ngobrol antar penyuka batu akik justru yang mahal, yang bahkan lebih mahal dari Patek Phillipe, yang lebih berharga dari Richard Mille.

..

Pada akhirnya saya melihat trend batu akik sebagai simbol khas ngariung Indonesia, keramahtamahan dan kultur ngobrol ala orang Melayu. Sebuah budaya yang justru sudah lama menghilang tergantikan oleh sibuknya individualisme masyarakat perkotaan.




Ah, ternyata melihat hanya dari 1 sudut pandang tak lekas membuat tajam. Banyak hal menarik bila kita sedikit mau membuka pandangan dan melihat sesuatu dari sudut lain.
:)

Selamat menyenter batu!

Kamis, 02 April 2015

Dia yang Begitu Mengerti

Tidak banyak orang yang mampu bertahan bertahun-tahun dengan perempuan itu, dengan segala keribetan juga keanehannya. Tak sedikit pula yang berusaha mendekatinya lalu kabur tanpa basa basi, ada juga yang langsung tak mau ketika dikenalkan oleh sahabatnya sendiri.

Perempuan itu saya.

Mantan pacar saya tidak banyak, hanya 1 yang menyentuh tahunan, sisanya tak lebih dari 6 bulan. Hampir semua bubar jalan karena tidak mendapat kecocokan, sisanya karena saya tak bisa memegang janji untuk setia. Sebutlah begitu.

Saya bukan perempuan yang memiliki ciri khas, saya cenderung biasa saja, hanya mood saya sering berubah. Saya bisa berminggu-minggu tidak keluar rumah tapi di lain waktu bisa setiap hari ingin mencari hiburan di luar. Saya bisa sangat menyenangi sesuatu hingga larut di dalamnya, lalu ku tinggalkan dengan alasan bosan. Hanya satu yang bisa membuat saya tenggelam tanpa terbenam, menulis. Saya menulis apa saja, di mana saja. Di kertas, di komputer, di tisu, di kaca mobil. Pagi, siang, malam, shubuh. Ketika bosan, ketika senang, ketika marah, ketika sedih. Di buku tulis, di twitter, di blog, di path.

Ketika teman-teman kampus saya sibuk memperjuangkan nama almamater dan belajar mendapat nilai terbaik, saya malah memilih untuk sibuk menjadi volunteer di acara musik, menjadi kontributor di majalah lifestyle. Teman saya memang banyak, tapi sahabat saya tidak. Selama hidup saya hanya memiliki kurang dari 10 orang teman yang saya anggap sebagai sahabat sejati, sisanya adalah teman dekat atau teman, bahkan hanya sekedar kenalan. Ya karena itu tadi, tidak banyak yang mampu menerima diri saya yang kadang menyebalkan ketika sedang dinamis menghadapi suatu hal. Ketika mengutarakan mau, atau ketika tidak suka akan sesuatu.

Hingga suatu hari datanglah dirinya,
seorang yang menjabat tangan saya di ruang poli penyakit dalam, seorang yang hari ini menjadi bapak dari anak laki-laki saya,
mungkin di antara banyak orang di lingkungan saya berpikir, mengapa dirinya mengorbankan segalanya untuk bersama saya.
Atau mungkin, ada juga yang bertanya, mengapa saya berkata ya pada ajakannya berjuang bersama hingga mati.

Ini jawaban saya.
Dia adalah orang yang paling mengerti mengenai minat saya. Walau saya adalah seorang dokter, tapi saya sama sekali tidak memiliki keinginan kerja di ruang gawat darurat. Saya tidak suka suasana IGD, di sana semua orang bermuka panik, banyak yang memuka memohon untuk diselamatkan nyawa anggota keluarganya, tidak sedikit yang marah-marah karena prosedural rumah sakit. Intinya, saya tidak suka bekerja di ruangan itu. Dia mengerti, dia bilang, menjadi dokter itu panggilan begitupun dengan dokter yang kerja di IGD, itupun panggilan. Dokter yang tidak mau kerja di IGD bukan berarti ia tak mau menyelamatkan nyawa orang, tapi mereka bekerja untuk kesehatan dari sisi lain.
Itu pertama kalinya saya merasa sangat diterima. Karena sejauh itu, hanya ia yang mengerti mau saya.

Dia tidak pernah protes mengenai hobi menulis saya. Ia menganggap ratusan ribu tweet yang sudah tertulis adalah limbah hobi saya. Bukan untuk mencari perhatian atau sebagai budak internet. Ia mengerti dan sadar hidupnya harus sedikit banyak terkespos karena saya senang menulis tentang dirinya di blog ini. Ia selalu bertanya kapan saya akan menulis novel baru, membantu saya membuat riset, mencarikan nama untuk tokoh dalam tulisan saya. Untuk pertama kalinya saya merasa hebat hanya karena kemampuan saya menulis. Seumur hidup saya menganggap diri saya bodoh karena lemah di akademis ilmu pasti, saya tidak pandai matematika, saya tidak bisa fisika. Dua puluh tahun lebih saya berada dalam pikiran bahwa saya tidak pintar, hingga ia datang dan menyadarkan bahwa manusia memiliki keperkasaannya masing-masing, dan cara saya merangkai aksara adalah kemampuan yang bisa disandingkan dengan kemampuan dirinya mengerjakan soal olimpiade fisika.  Ia bukan sekedar menjadi pengikut, tapi ia berusaha menikmati apa yang saya senangi. Ia temani saya menulis, ia ajari saya menggambar. Ia berusaha cari tau apa novel yang saya suka, ia membaca hasil karya saya.

Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali pergi dari bar ke bar, lalu seketika saya bosan dan hanya ingin di rumah saja berminggu-minggu. Ada kalanya saya mau terus ke mall untuk mencari hiburan, lalu beberapa hari kemudian saya malas sekali ke mall dan hanya ingin duduk di kedai kopi sepi menikmati sunyi. Keberadaannya membuat saya menikmati setiap waktu, walau kadang saya juga harus mengalah untuk mengantarkannya ke bengkel atau mengisi waktu di kedai kopi sunyi ketika saya ingin ke mall yang ramai. Ia menyeimbangkan saya dengan mengikuti ritme hidup saya.

Dia tak pernah menganggap saya lemah walau saya tidak bisa membaca peta. Dengan sabar ia mengetik petunjuk belokan demi belokan. Saya beritau sesuatu, dia adalah orang, selain kakak kandung saya yang bisa menjelaskan saya tentang jalan. Kemampuan ruang yang lemah tak pernah ia masalahkan, sabarnya memberi penjelasan membuat saya merasa diterima kekurangannya. Perempuan tak bisa membaca peta? Itu saya. Dan ia mengerti bahwa saya tidak bisa membaca peta, maka ia bantu saya dengan urutan belok yang detail. Ia menyempurnakan saya.

Dia tidak terganggu dengan penampilan saya. Ia tidak pernah protes tentang sepatu boots saya, atau celana jeans sobek, atau tentang flanel kebesaran atau mengenai fedora berwarna merah terang. Ia santai menanggapi saya yang memakai lipstik warna merah menyala, ungu tua atau nude dengan efek muka saya yang seperti pasien anemia. Ketika laki-laki lain mendamba rambut wanita yang panjang terurai, dia tidak pernah sekalipun untuk meminta saya memiliki jenis rambut seperti itu. Rambut pendek saya ia hargai, ia anggap sebagai jati diri.

..

Dia.
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.

Dia.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya terima.

Dia.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi.

..

Hari ini, kami sudah memiliki seorang anak laki-laki yang sungguh priyayi. Tapi lucunya saya masih sangat bersyukur dimiliki,

dan memiliki mereka.

:)

3 Bulan Menjadi Pejuang ASI

Minggu pertama Kakak lahir sungguh minggu yang paling berat di hidup saya, dan hal paling berat itu datang ketika waktu menyusui tiba. Puting saya luka lebar, darah ke mana-mana. Kaki merejang hebat ketika tiba waktu menyusui. Air mata rasanya sudah tidak tahan. Saya hampir menyerah, beberapa kali terlintas untuk pergi diam-diam membeli susu formula tanpa sepengetahuan suami saya yang memang sangat pro ASI. Sakit sekali rasanya.

Lalu saya mulai membuka artikel ilmiah mengenai proses menyusui, apakah memang sesakit itu awalnya, karena orang di sekitar saya pasti memberikan saran untuk sabar. Tapi naluri keibuan saya berkata lain, ini pasti ada yang salah. Berat Kakak saat itu terus turun, ia selalu tampak kehausan dan terus menangis. Pada artikel tersebut tertulis proses menyusui adalah proses yang indah dan tanpa rasa sakit. Nah kan benar dugaan saya, ada yang salah dengan proses menyusui saya.

Lalu saya memutuskan untuk konsul ke bagian laktasi Kemang Medical Care dan benar saja, Kakak tongue tie dan lip tie. Setelah menjalani insisi proses menyusui merupakan waktu yang selalu saya tunggu dan tunggu.

Ada bayi dalam pelukan saya, saya bisa puas melihat wajahnya, membelai badannya. Ia menempel pada tubuh saya dan tumbuh besar karena nutrisi langsung dari badan saya. Ada seorang anak yang menggantungkan hampir keseluruhan hidupnya dari payudara saya, dari ASI saya. Benar kata artikel itu, menyusui adalah proses yang begitu indah.

Niat memberikan susu formula pun saya buang jauh-jauh.

...

Masa cuti saya sudah tinggal 1.5 bulan lagi, dan ketika saya bercerita pada kerabat mengenai hal tersebut reaksi pertama mereka pasti

"Lho, nanti ASInya gimana?"
dan ketika saya jawab bahwa saya akan memerah ASI saya, jawaban mereka selalu..
"Repot amat. beli sufor aja. Praktis. Atau kasih makan, biar kenyang, anaknya ga rewel.."

"Nggih.."
Apa sih yang bisa dilakukan saya selain mengangguk dan cepat-cepat mengalihkan pembicaraan itu. Memang, ketika itu rasanya pesimis luar biasa bisa memberikan ASIP memadai untuk Kakak. Payudara saya seperti musuhan dengan pompa ASI. Sekali pompa saya hanya bisa dapat 20-30 CC.

Lagi-lagi saya hampir menyerah. ASI saya susah sekali dipompa. Tapi bayangan susu formula sungguh saya benci, saya tidak bisa membayangkan Kakak minum susu formula, tanpa kolostrum tanpa immunoglobulin.

Tidak.. Tidak..

Bayangan susu formula yang kerap menghantui justru menjadi semacam pecut untuk diri saya. Tanpa kenal lelah, saya terus memompa ASI saya, sedikit sedikit lalu penuh sebotol, lalu saya letakkan di freezer. Begitu terus. Begitu terus. Setiap hari 1 botol.

Lama kelamaan, yang dipompa bisa banyak. Bisa 50cc. Artinya hanya dibutuhkan 2x pompa untuk bisa memenuhi 1 botol kaca. Akhirnya dalam sehari saya bisa dapat 2 botol kaca. Kadang 2.5 botol kaca jika malam hari saya tidak terlalu mengantuk.

Sabar dan ngotot.
Mungkin hanya itu bekal saya, perlahan persediaan ASIP saya di freezer mulai banyak. Saking senangnya, saya sering bolak balik kulkas hanya untuk melihat koleksi ASIP saya itu, dan setiap melihat jejeran botol ASIP itu hati seperti tenang dan bahagia.

Saya terus pompa untuk memenuhi setiap sudut freezer kulkas. Hingga lama-lama kulkas rumah penuh dan saya memutuskan untuk menyewa freezer ASI.

:")

*terharu*
Dalam 1.5 bulan saya bisa mengumpulkan lebih dari 100 botol ASI, dari saya yang sekali pompa hanya bisa 50-100cc. :") :")


...


Sekarang saya sudah mulai masuk ke Rumah sakit lagi. Kerja lagi. Nolong orang lain lagi. Dengan stok ASI sebanyak itu, setidaknya kebutuhan Kak Kiko akan terus terpenuhi. Di rumah sakit, saya sempatkan untuk pumping 3x. Dan tebak? Sekali pumping saya udah bisa dapat 200 cc.

:")

Rasanya luar biasa.
Menyusui memang salah satu pengalaman terindah dalam hidup saya dan menjadi mama perah jelas adalah sebuah hal yang bisa saya ceritakan dengan bangga kelak. Di tengah sibuknya, di tengah deraian imingan susu formula saya mampu bertahan untuk terus memberikan Kakak ASI.

ini cadangan ASI saya di freezer dan ada sekitar 20 botol ASI segar di kulkas biasa untuk diminum Kakak

...



Dan untuk suamiku sayang, cintanya aku, romonya anakku...

Terima kasih atas semua semangat ketika aku lelah, ketika aku hampir menyerah. You are the best daddy in the world. Terima kasih atas bangun malamnya, atas segelas air dingin di gelas besar ketika selesai menyusui. Untuk obrolan dalam kantuk-kantuk ketika menemani Kakak memasukkan nutrisi dalam tubuhnya. Untuk semua semangat dan keyakinan bahwa aku adalah Ibu yang hebat, yang mampu menyelesaikan tugas untuk memberikan ASI eksklusif ke kakak.

tanpa kamu,
susu formula itu mungkin sudah terbuka.

Menjadi Ibu yang Belajar

Saat hamil, saya pernah melontarkan pertanyaan di timeline mengenai buku apa yang bagus untuk mendalami tentang parenting, jawaban yang saya dapatkan bermacam-macam. Banyak yang membantu, tak sedikit yang kurang memberikan info. Namun yang menjadi catatan saya adalah ada seorang Ibu yang memiliki anak kurang lebih usia 3 tahun yang berkata

"Ngapain sih baca buku? Jadi ibu itu ga usah pake teori, nanti bisa sendiri kok.."
Tweet ibu tersebut tidak berhenti sampai di situ, ia malah memention saya terus menerus yang garis besar isinya adalah jadi ibu ga usah kebanyakan teori, jadi ibu ga usah banyak belajar dari artikel atau ibu karena pada dasarnya jadi ibu itu naluri. Intinya, nanti juga bisa sendiri, kalau kebanyakan teori malah jadinya ribet.


Lho kok gitu?

Sebetulnya sih jempol udah ingin banget bales mention, tapi untung suami menahan dengan dalih yaa namanya juga orang, pasti beda-beda prinsip.

Jauh sebelum Kakak lahir, selain menyiapkan keperluan Kakak, saya juga menyiapkan 'isi kepala' saya dengan ilmu yang saya dapat dari manapun; buku, internet, obrolan dengan kawan, dokter, bidan, psikolog, perawat, orang tua. Semua informasi tersebut saya saring, saya pilah yang sekiranya sesuai dengan hati saya.

Saya belajar bagaimana perilaku bayi, bagaimana ini, bagaimana itu. Hampir semua hal yang menarik diri saya, saya cari literaturnya. Saya pelajari, kadang saya ceritakan kembali ke suami apabila ilmu yang saya dapat itu menarik untuk dibahas.

Singkatnya, saya memang memenuhi kepala saya dengan beragam teori mendidik dan mengasuh anak.

--

29 Desember 2014
Kakak lahir.
Apakah ilmu yang saya baca berguna? Iya. Sangat.
Apakah saya praktikkan dalam cara saya mengasuh anak? Tidak semua.

Pada akhirnya memang benar kata orang, menjadi ibu adalah instinct, menjadi ibu adalah sebuah naluri alamiah. Hubungan yang kian lama kian mesra ke anak membuat saya mengetahui mana ilmu yang bisa saya pergunakan ke Kakak, mana yang tidak.

Dalam membesarkan anak, teori yang sudah saya pelajari susah-susah itu pada akhirnya akan menjadi fleksibel sesuai kebutuhan. Kadang sesuai dengan teori yang dikemukakan buku parenting, kadang sedikit melenceng, kadang malah tidak sesuai sama sekali. Tapi saya sebagai seorang ibu tidak pernah menyesal mengenai semua ilmu yang ada di kepala ini.

Dunia pengasuhan anak memang sudah berlangsung semenjak Adam dan Hawa diciptakan, artinya tokh orang-orang tua sesepuh kita berhasil aja tuh mendidik anak-anaknya dengan baik walau tanpa buku dan ilmu memadai. Lalu, apa gunanya dong belajar lagi?

Buat saya, walau pengasuhan anak sudah berlangsung sedemikian panjangnya tapi dunia kesehatan dan dunia pendidikan selalu berkembang. Itulah mengapa (untuk saya) seorang Ibu harus tetap belajar. Misalkan, beberapa tahun lalu ASI tidak populer, justru lebih populer susu formula yang mencerminkan status sosial, tapi berbekal penelitian para ahli, ASI menjadi minuman wajib bagi bayi dan susu formula hanya bisa diminum atas perintah dokter. Tuh, ilmu berkembang kan? Bayangkan kalau ada ibu yang malas belajar dan cuek aja kasih susu formula ke anaknya yang baru lahir, kan nutrisi yang didapat tidak maksimal.

Atau sesimpel pemberian makan pada bayi. Zaman dahulu kala, atau mungkin kita yang sedang membaca blog ini, bayi-bayi piyik sudah diberi makan dan minuman selain susu. Tapi ilmu berkembang, penelitian terus dilakukan dan didapatkan konsensus bahwa waktu paling ideal untuk memberikan makanan padat selain susu adalah saat bayi berusia 6 bulan. Simpel kan? tapi bila ibu tidak mau belajar, maka ibu itu akan dianggap sebagai ilmu kurang sayang anak karena membahayakan nyawa si anak itu sendiri.

Sekarang mengenai cara pemberian makan. Dulu makanan pertama bayi mungkin bisa langsung nasi, tapi sekarang semua ada tahapannya. Ya masuk sereal dulu, sayuran lembek dsb. Ada cara pemberian makan BLW, ada cara pemberian makan dengan cara disuapi dsb. Ya itulah perkembangan ilmu.

Penelitian yang terus berjalan bisa saja akan berbeda di generasi anak cucu kita. Cara mengasuh yang hari ini kita anggap benar mungkin bisa dianggap salah nantinya seiring penelitian yang terus berjalan.


Tapi apapun yang terjadi, jangan pernah berhenti belajar karena ilmu itu sifatnya dinamis. Setiap tahunnya pasti ada ilmu baru dan ilmu lama sudah tidak terpakai lagi.

Abaikan saja mereka yang menyuruhmu berhenti belajar, atau sok pintar karena haus akan teori....


Karena saya percaya,
menjadi seorang ibu memang yang dibutuhkan adalah naluri, tapi naluri akan semakin tajam bila sebelumnya kepala sudah penuh dengan ilmu.




..

Senin, 30 Maret 2015

Cerita di Balik Nama Bramastha N.S Hadinoto

Dari semenjak gadis, saya menyukai nama-nama yang berkaitan dengan tokoh pewayangan dan bahasa sansekerta. Hal tersebut awalnya tertuang dari nama tokoh novel-novel saya, hampir semuanya berasal dari bahasa sansekerta.

Untuk mencari nama tokoh di novel, bahkan saya sampai harus browsing dan mengerti benar arti dari nama itu, jadi bukan hanya sekedar terdengar indah dan menjual. Proses pemberian nama tokoh merupakan satu hal tersulit dari pembuatan keseluruhan novel itu sendiri.

Itu untuk tokoh novel,
kebayang kalau untuk anak sendiri kan?

:))


Ketika dinyatakan hamil, bahkan jauh sebelumnya, saya dan suami sudah berencana untuk menamai anak kami kelak dengan bahasa sansekerta yang diutamakan adalah bahasa Jawa kuna atau dari tokoh pewayangan. Tujuan kami sederhana, kami ingin nama anak kami unik dan menunjukkan jati dirinya sebagai orang Indonesia, walau sesungguhnya bahasa sanskrit juga banyak dipakai di daerah India sih..

Oke, lanjut,
selain pertimbangan di atas, kami juga memiliki kriteria khusus untuk menamai anak, salah satunya adalah nama anak kami kelak tidak membuatnya tersandung dalam pengurusan visa khususnya visa amerika. :))

..

Proses pencarian nama sudah dimulai bahkan sebelum kelamin si jabang bayi ketauan. Karena kehamilan saya cukup berat dan kami sangat terbantu oleh dokter kandungan kami (dokter Budi Wiweko alias dokter Iko), kami memutuskan untuk memberikan penghormatan pada beliau dengan memberikan panggilan rumah yang mirip dengan nama beliau. (oke sekarang udah tau kan kenapa nama panggilannya Kak Kiko?)

Uniknya, saya hanya memiliki kandidat nama anak perempuan, Hemas, dengan nama panggilan rumah, Keiko. Saya tidak mempunyai bayangan apapun mengenai nama anak laki-laki, karena sejujurnya dulu saya sempat mendambakan untuk memiliki anak perempuan. Impian saya salah satunya adalah menemaninya membeli makeup pertamanya. Ha.

Tapi..

Usia kandungan 5 bulan, hasil USG menunjukkan kelamin anak kami kelak adalah laki-laki. Lalu Romo Juno mulai serius mencari nama. Meminjam kitab pewayangan hingga browsing bahasa Jawa kuna, semua dilakukan demi menamai anak kami ini.

karena jabang bayi adalah laki-laki, artinya nama Keiko sudah tidak bisa dipakai, kami memutuskan untuk memberikan panggilan rumah "Kiko" dan karena Kiko cucu pertama maka ia akan dipanggil Kak Kiko.

(Oya, mengenai panggilan rumah, hal ini bukan hal asing di keluarga besar Romo. Romo yang bernama asli Herjuno dipanggil Abol dan adik Romo bernama Gemala Zenobia; di rumah dipanggil Joja.. Hee)

--


Secara pribadi, aku memang suka sekali dengan nama Brama. Menurutku kesan yang ditimbulkan dari nama Brama adalah... Laki banget!! Suami memperbolehkan untuk menamai anak kami dengan Brama, tapi karena nama Brama sudah banyak dan terlalu mainstream (cailah), akhirnya kami memilih nama Bramastha.

Bramastha adalah senjata berupa panah sakti yang sempat dipakai Arjuna dalam peperangan. Oya, karena nama Romonya adalah Herjuno yang merupakan turunan dari Arjuna, kami semakin sukalah dengan nama Bramastha ini.

Melanjutkan tradisi Herjuno (Arjuna), kami juga memilih nama Sena. Agar tidak terlalu berat karena Sena adalah anggota pandawa lima, kami menambahkan 1 huruf lagi huruf N menjadi Senna. Lembut didengar, indah dibaca tapi tetap mencerminkan energi gagah dari pandawa Sena.

Sip, Bramastha Senna Hadinoto sudah fix.

...

Tiba-tiba suatu malam, suami berkata pada saya
"Dik, aku suka sama nama Nemanja (dibaca Nemanya) deh.."

Romo Juno memang seorang fans berat Manchester United dan nama Nemanja merupakan nama dari ex kapten klub tersebut. Nemanja Vidic, lalu kami browsing arti nama Nemanja yang ternyata adalah seorang raja yang begitu disegani di Serbia. tak heran nama Nemanja adalah nama yang umum di Serbia.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menyelipkan 1 nama lagi di antara Bramastha dan Senna.

Bramastha Nemanja Senna Hadinoto.
Sebuah senjata baik bagi ibu dan romo yang kelak akan menjadi pemimpin sehebat Nemanja dan sekuat Sena. Kebanggaan keluarga Hadinoto. :)



Kak Kiko.


#CeritaUntukKakak
Mengenai namanya

Jumat, 20 Maret 2015

Dunia Maya yang Semu

Suatu hari, saya berkunjung ke sebuah tempat makan terkenal bersama seorang teman masa kuliah, restoran tersebut berlokasi di tengah kota yang hingar bingar ini. Tempat makan yang memang sedang hits itu, selain menyajikan makanan yang enak tapi mahal juga menawarkan suasana dan tata makanan yang apik untuk dilihat nan dinikmati.

Saya menempati tempat duduk agak memojok, memesan beberapa menu dan kemudian menunggu. Tak lama, datanglah seorang gadis bersama teman prianya yang sepertinya tak begitu asing. Mencoba mengingat-ingat siapa, tapi memori terus gagal mencari.

Saya lebih memilih bersenda gurau dengan teman depan saya yang sudah lama tak jumpa karena kesibukan kami masing-masing. Ketika teman saya pamit untuk ke kamar kecil, saya kembali mengingat siapa gadis yang duduk tak jauh dari tempat saya.


"Hei.. saya ingat! fotonya sering wara wiri di tab explore instagram saya!"

Gadis tersebut merupakan seorang figur yang akun instagramnya nyaris mempunyai ratusan ribu followers, cantik sekali memang dirinya. Gayanya menawan, senyumnya manis.

..

Makanan datang, seporsi escargot untuk dimakan berdua dengan teman saya dan hidangan utama juga 2 gelas teh leci. Tak selang berapa lama kemudian, pramusaji restoran tersebut juga mengantarkan makanan ke meja gadis itu. Sejauh itu, tak ada yang aneh. Posisi duduk gadis tersebut membentuk garis lurus dari mata saya, jadi walaupun saya sedang makan, saya bisa melihat jelas polah tingkah gadis itu.

Ketika makanan datang, gadis tersebut dengan sigap merapikan makanannya. Menatanya kembali, lalu gadis itu mengeluarkan handphone dan memfoto makanan yang sudah ditatanya.

Ok.

Tak lama, gadis tersebut tampak kurang puas dengan hasilnya, lalu ia berdiri di tempatnya. Memfoto kembali makanannya.

Saya kira sudah selesai,
setelah mencek hasil fotonya, masih tampak wajah kurang puas di paras gadis cantik itu.

Lalu apa yang terjadi?
ia menarik kursi tempat duduknya, dan naik ke atasnya.... Lalu memoto makanannya.

Ok.
Saya terdiam.

...

Saya tak sempat melihat reaksi sekeliling, saya lebih memilih melanjutkan menyantap hidangan saya dan meneruskan obrolan dengan si kawan lama.

...


Sampai rumah.
Penasaran.
Saya buka instagram gadis cantik tadi, benar dugaan saya, ia mengupload hasil foto makanannya. Ribuan likes. Saya ulang, ribuan likes.

...


Saya tutup laman akunnya dan terdiam.
Lalu merenung.
Saya juga penggiat social media, sayapun mendapat rezeki dari social media. Tapi saya menjadi takut, apa saya menjadi aneh di dunia nyata? Apa saya menjadi sosok anomali di dunia yang seharusnya saya diterima, dunia yang semestinya saya habiskan lebih banyak waktu.
Dunia nyata...


Mendadak saya takut. Eksistensi saya di twitter adalah semu. Bahwa sesungguhnya di mata orang yang tak paham arti sosmed, saya tak lebih adalah sosok sibuk sendiri yang aneh. Seaneh saya melihat ada gadis cantik menarik kursi dan naik ke atasnya untuk memfoto makanan demi ribuan likes.

:



..

Coba bertanya pada diri sendiri,
jadi kita ini menyenangkan siapa?
Makan untuk mengenyangkan perut atau untuk ribuan likes?
Lari untuk sehat, atau pamer jauh-jauhan lewat aplikasi nike?..


..


Apapun jawabannya, semoga kita semua terlindungi dari terlihat aneh, oleh mereka yang tidak terlalu paham bagaimana cara login ke dunia penuh drama bernama.. social media.

Rabu, 18 Maret 2015

Masih Banyak yang Lebih Penting

Saya percaya, dalam sebuah lingkup perkuliahan, mahasiswa itu terbagi menjadi 2 kubu.. Pertama adalah mereka yang mencatat dengan detail semua penjelasan dosen, kedua adalah golongan mereka yang mencatat ulang atau meminta fotokopian mereka yang berada di golongan pertama.


Saya? Jelas golongan kedua.


Nah, golongan pertama ini biasanya adalah sekumpulan mahasiswa ber-IPK nyaris cum laude, mahasiswa yang mendapat banyak puja puji dosen, yang datang 30 menit sebelum kelas mulai dan mereka yang bertanya di mepet jam berakhir kelas.

familiar? Sepertinya sih itu terjadi hampir di semua kampus ya.

..

Berbekal observasi semasa kuliah, mahasiswa pintar ini tidak sedikit yang membuat kening berkerut. Contoh:

Fala: "Eh kamu kamu.. Pinjem catatan dong!"
Si Pintar: "Ah ntar aja, Bek. Masih acak-acakan banget, lagian lo ga akan ngerti tulisan gua.."
(padahal catatannya rapih)

itu tipe 1.

ada lagi

Fala : "Materi ujian hari ini bab ini sampe ini kan?"
Si Pintar : "Duh ga tau, gua juga ga ngerti. Belom belajar banget!"
(padahal dia udah belajar semalaman)

atau..

Fala : "Gimana tadi ujiannya?"
Si Pintar : "Parah. susah banget. ga bisa. Ga bisaaa.."
(keluar keluar nilainya A)

..

atau juara dari semuanya adalah
Fala : "Jelasin yang ini dong.."
Si Pintar : "ah masa materi gini aja lo ga ngerti, kan elo pintar?"
...


walau tidak semua mahasiswa cemerlang itu menyebalkan seperti di atas, nyatanya masih bersisa lho spesies semacam itu. Berbekal perasaan senasip sepenanggungan sebagai anak kurang motivasi untuk lulus cum laude, saya dan teman-teman segank akhirnya membentuk semacam kelompok belajar setiap mau ujian. Lokasinya di salah satu kostan di pojok kampus. Kapasitas otak kami semua hampir sama, dan kami menyadari itu. Maka kami biasa menyiasati dengan si A belajar materi ini, si B belajar materi itu lalu di akhir sesi kami masing-masing sharing apa yang telah kami pelajari dan kemudian diselesaikan dengan mengerjakan soal.

Karena kemampuan otak kami yang semuanya sama, sering kami meminta bantuan pada seorang teman, namanya Armand.

Armand ini pintar, tapi tidak paling pintar di kelas. Masih banyak yang lebih unggul dari ia, tapi sedikit sekali yang begitu ringan berbagi seperti dirinya. Gayanya mengajari kami begitu khas, ia terbiasa memilin rambutnya ketika berpikir. Merem-merem sebentar lalu menjelaskan apa yang kami tidak mengerti.

Armand ini cerdas, ia mampu menjelaskan patofisiologi penyakit rumit lewat bahasa yang sederhana. Ia mengajari kami bagaimana cara berpikir taktis dan praktis, bagaimana cara berpikir cepat namun tepat. Catatan Armand, walau tidak rapih karena tulisan khas lelaki tapi lengkap. Kami sering fotokopi catatannya untuk digarisbawahi.

Mungkin nama Armand tidak seharum koleganya yang maju dipanggil ketika wisuda karena mendapatkan nilai tertinggi, tapi secara tidak langsung Armand membantu kami; 10 perempuan penyuka hiburan di sela kuliah; untuk mendapatkan cita-cita kami, lulus. Modalnya bukan hanya ilmu di kepala, tapi juga sifat baik di hati.

...


Menjadi pintar. Penting? Jelas. Karena ketika kamu bekerja, kapabilitas kamu dipertaruhkan. Isi kepala kamu dituangkan.

tapi apa yang terpenting? Tidak.
Karena banyak pekerjaan adalah dari mulut ke mulut, penawaran antar teman, link yang luas dan pergaulan yang tak terbatas.

Menjadi pintar di kepala tapi tidak memiliki attitude baik, tidak akan membuat ke mana-mana. Lucunya, justru teman-teman kuliah saya yang terkenal biasa saja dari segi akademis tapi ramah ke semua orang memiliki pekerjaan jauh lebih baik dari mereka yang namanya dipanggil maju ke podium

Menjadi pintar, tapi menganggap orang lain tidak pintar; justru akan memperburuk kondisi. Ilmu tidak berkembang dan sekeliling yang malas menganggapmu ada.

Menjadi pintar, tetapi susah menerima perbedaan, kepintaran akan susah untuk menghasilkan kerja. Karena hampir sebagian besar pekerjaan bekerja dalam tim.

Dan seperti padi, ia yang semakin banyak isinya, maka akan semakin menunduk. Pepatah jaman SD yang nyata dirasa benar ketika dewasa.



..


*usai kuliah*

Pak Diman (Pak Satpam kampus) : "Cape, Neng? Istirahat dulu, Non.. Jangan langsung pulang.."
Saya : "Moal, Pak.. Biar saya istirahat di rumah aja."
Pak Diman : "Yaudah, Neng... hati-hati di jalan. Baca doa.." ujarnya sembari membantu membuka pintu mobil saya.
Saya : "Nuhun, Pak.. Mun lancar rezekinya.."
Pak Diman : "Insya Allah, Neng.." .. lalu beliau menutup pintu mobil saya sembari berkata "Bismillah.. Hati-hati Neng.."

..



Pada akhirnya, menjadi orang pintar memang penting, tapi ada yang jauh lebih penting;
menjadi orang baik.


Dunia butuh banyak orang pintar untuk menjadikan hidup lebih maju. Tapi dunia, butuh lebih banyak orang baik untuk membuat hidup lebih.... berarti.

Senin, 09 Maret 2015

Saya Tidak Pintar

memiliki suami pintar memang berkah tersendiri sih. Track record suami ketika SMA yang juara olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional membuatku lega kalau-kalau suatu hari nanti Kakak tidak mengerti mengenai pelajaran sekolahnya. Aa berhasil lulus SPMB dan masuk ke salah satu fakultas terbaik di Indonesia, lulus tepat waktu dan masuk residensi pun tepat waktu. Lega? iya. Karena saya tau, anak saya punya sosok Romo yang bisa ia andalkan.

..

Sebentar, saya mau bercerita mengenai diri saya terlebih dahulu. Saya ini adalah pelajar biasa-biasa saja dari segi akademis. Saya tidak pernah maju dipanggil guru untuk mendapat penghargaan, sayapun kurang menyukai berada di kelas untuk memecahkan masalah menggunakan rumus. Waktu yang paling saya tunggu ketika sekolah hanyalah waktu istirahat dan waktu pulang.

Namun, didikan orang tua saya adalah 'bertanggung jawab', artinya saya harus tetap lulus dari sekolah dengan nilai baik. Terakhir saya cek di ijazah sih, rata-rata 8.8 berhasil saya dapatkan.

Hal tersebut berlanjut hingga saya kuliah. Jurusan saya adalah minat saya sendiri, tapi sebagai seorang pelajar yang sadar diri dengan kemampuan akademis yang cenderung tidak super cemerlang, saya lebih memilih menjadi mahasiswa santai tapi serius. Saya tidak pernah mengejar kesempurnaan cum laude. Saya menolak ikut remedial bila mendapat nilai B di mata kuliah berat. (saya menolak remedial untuk pelajaran biomedik 1 dan berujung nilai C di KHS akhir, iya saking susahnya untuk saya...)

Saya memilih menjadi mahasiswa santai. Datang beberapa menit sebelum bel, keluar tepat setelah bel. Berkumpul dengan gank selepas kelas, main ke mall di tengah mata pelajaran membosankan. Mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus yang tak ada hubungannya dengan kedokteran dan sibuk pacaran.

Saya lulus bukan sebagai mahasiswa terbaik, boro-boro maju ke depan karena dianggap sebagai mahasiswa berprestasi, bahkan foto saya ketika tali toga dipindahkanpun tak ada dokumentasi. Tapi saya tau kewajiban saya, nilai KHS saya tidak buruk kok, setidaknya untuk syarat administrasi pendidikan dokter spesialis; semua bisa saya lampaui. Untuk ditunjukkan depan calon mertua pun tidak memalukan.

Ya.. Intinya sih, saya ini adalah perempuan dengan kemampuan akademis biasa-biasa saja yang jauh dari cemerlang apalagi jenius.

--


"Kak Kiko..... Jadi anak pinter ya, Nak.. Kaya Romo.." Begitu doa hampir sebagian besar orang yang mengusap kepala anak saya. Alih-alih disebut seperti ibunya (tunggu, memang Ibunya seperti apa?). Semua doa tersebut saya aminkan dengan baik, siapa sih Ibu yang tidak senang melihat anaknya mendapat gelar akademik membanggakan?

...

Tapi bagaimana jika tidak? bagaimana bila ternyata....
Kiko mewarisi kemampuan persis seperti saya?
Apa artinya anak saya telah gagal?


---



Sebelum dilanjutkan, saya mau cerita mengenai seorang kenalan saya, sebut saja ia Rafi.
Rafi ini 2x tidak naik kelas di SMA. Iya, bukan sekali, namun 2x. Lulus SMA dengan susah payah, Rafi melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta, mengambil mata kuliah komunikasi. Dengan susah payahpun, akhirnya ia lulus dari kampus tersebut.

Tapi percayalah, Rafi adalah satu dari kenalan yang sangat saya kagumi kepintaran dan wawasannya. Rafi bisa bercerita 24 jam penuh mengenai banyak hal, mengenai mimpi, mengenai sejarah, mengenai isu politik, mengenai faham dan dialektika, mengenai dunia, mengenai hampir apapun kecuali akademis.

Rafi hanya memiliki 1 kekurangan, ia tak sanggup mengikuti pelajaran ilmu pasti dan semua cabang ilmu yang diajarkan di bangku sekolah formal. Bukan saja karena ia tak mau, tapi juga karena ia tak bisa.

Lalu, Rafi jadi apa?
Rafi hari ini adalah jajaran eligible bachelor  di Indonesia, ia memilih karir sesuai yang ia ingin yang jauh dari sisi akademis ilmu pasti. Ia jauh lebih mapan dari kakaknya yang seorang dokter. Sosoknya juga sering wara wiri di televisi dan berbagai forum. Hebatnya, Rafi beberapa kali didaulat sebagai dosen di universitas ternama di Indonesia. Bisa bayangkan ada seorang dengan nilai akademis super jelek mengajar anak-anak dengan nilai akademis SMA super baik? :)


dan yang terpenting, ia bahagia.
Ia tidak gagal.
dan ia tidak bodoh.


---

Kembali ke Kak Kiko.
Apabila suatu hari nanti didapati ia tak sepintar Romonya dan memilih menjadi mirip Rafi yang suka sekali hore-hore, ku pastikan ia bukan gagal. Pintar secara akademis itu penting, tapi ada yang lebih penting lagi..

Kiko harus tumbuh menjadi anak yang bahagia, bebas dan merdeka. Ia tidak boleh memiliki perasaan terkekang melihat orang tuanya yang seprofesi. Ia tidak boleh terbebani oleh puja puji orang-orang terhadap Romonya.
Kiko harus menjadi seorang anak yang merdeka. Ku pastikan ia akan menjadi apapun yang ia mau, sejauh ia bertanggung jawab dan bisa menjelaskan secara sempurna mengapa ia memilih jalan itu.
Kiko harus menjadi anak yang tumbuh tanpa beban dan bayang-bayang orang tuanya, tak apa tak dianggap pintar,
yang terpenting bukan seberapa pintar nilai di atas kertas,
tapi seberapa kaya kepala akan pengetahuan, hal umum juga pemikiran berkembang.

Bukan nilai di atas kertas yang akan menjadi penentu,
tapi bagaimana Kiko bisa bermanfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana Kiko bisa berdiri tegap tentang apa yang dipilihnya,
walau ia tak mirip Romonya, maupun Ibunya.



#CeritaUntukKakak
tentang memilih jalan hidup.

Mencintai Tanpa Drama

Apa sih definisi cinta, saya yakin jawaban dari setiap orang pasti akan berbeda-beda. Bagi sayapun, cinta bukan sesuatu hal yang mudah untuk diuraikan menjadi kata-kata, ia hanya dapat diejawantahkan dengan perbuatan.

Lalu, perbuatan apa saja yang masuk kategori cinta?

beberapa menjawab..
"Cinta adalah pengorbanan dia menembus hujan hanya untuk membelikanku sop hangat."
Atau
"Cinta adalah dirinya yang membuka jaket di saat udara dingin untuk menyelimutiku."
Atau
"Cinta adalah dirinya yang menahan lapar berbulan-bulan untuk membelikanku kado ulang tahun."
Atau
"Cinta adalah dia yang menyempatkan untuk bertemu ketika sedang lelah-lelahnya.."


Iya itu semua cinta.
Tapi jika definisi cintamu adalah yang saya sebutkan di atas, artinya kamu tak selayak itu dicintai olehnya,
Jika definisi cintamu adalah semata sebuah pengorbanan yang dilakukan pasangan, jelas pasanganmu adalah orang baik, tapi kamu bukan yang baik untuknya.

Cinta buat saya adalah perbuatan "saling", saling berkorban dan tidak drama. Cinta memang membuat manusia berkorban lebih keras -- bahkan menembus hujan untuk mengantarkan sop panas, tapi cinta yang baik, tidak akan membiarkan ia melakukannya. Cinta yang baik tidak akan menempatkan cinta itu sendiri di atas pengorbanan sia-sia penuh drama. Cinta yang baik akan menempatkan dirinya pada keadaan nyaman, aman dan saling menjaga tanpa drama.

Jika kamu cinta, kamu tak akan membiarkan dirinya susah hanya untuk sekedar bertemu. Jika kamu benar cinta, ketulusan itu akan menghalangi dia yang kamu cinta untuk mengorbankan kesehatannya sendiri demi kamu yang cemberut.
Jika kamu benar cinta dan dia cinta kamu, semua akan mengalir indah, semua akan berjalan saling menutupi. Kalian akan terus saling menjaga dan tak mau saling menyusahkan untuk hal remeh temeh.

Cinta itu bukan sekedar pengorbanan tentang hujan dan menerobosnya. Tentang dingin dan jaketnya. Bukan pula tentang dia yang menggunakan tenaga terakhirnya untuk menemani manjamu. Cinta jauh lebih dari itu.


Lalu, pabila ada seseorang yang tak mau menerobos hujan karena ia menjaga kesehatannya supaya bisa terus menjagamu, apa ia bisa dibilang tak cinta?


Cintailah ia tanpa drama.
Apa adanya.

Selasa, 03 Maret 2015

Mengasuh Anak dan Mengasah Hobi

Setelah melahirkan, banyak temen yang nanya, “Apa rasanya punya anak?” Agak bingung jawabnya karena memang susah dijabarkan dengan kata-kata. Bahagia, jelas. Repot, sudah pasti. Yang lebih pasti lagi adalah banyak kebiasaan yang harus diubah. Salah satunya hobi.


Dulu sih nggak pernah membayangkan sama sekali dengan kondisi ini, bahkan ketika hamil pun masih belum terbayang. Setelah melahirkan, baru terasa sendiri, "Oh, gini toh rasanya jadi ibu… SIBUK BANGET TERNYATA..." Bahkan sibuknya melebihi urusan kedokteranku. Haha. Sibuk yang bikin gemes.


Nah, yang bikin aku gemes adalah kehilangan hobi menulisku. Aku terbiasa nulis di laptop yang gede dan lumayan repot. Semenjak melahirkan dan urus anak, aku jadi jarang banget nulis. Ya bayangin aja, dikit-dikit anak bangun, terus singkirin laptop, menyusui anak, lalu menidurkannya. Mau buka laptop lagi, udah keburu capek. Duh, ribet.


Akhirnya, berbekal saran dari temen, aku beli ZTE Blade Vec Pro yang katanya asyik buat dipake ngeblog. Hmmm. Gini penampakannya…


Layarnya yang gede bikin gampang dan enak ngetik—5 inci dengan resolusi 720x1280 pixels dengan kerapatan 294 ppi. Bahkan buat ngetik panjang buat ngeblog pun nyaman. Kira-kira gini nih penampakan ibu-ibu saat nulis blog dari ZTE Blade Vec Pro :))
Jernih ya?




Kalo udah beres ngeblog dan Kiko masih tidur, terus ngapain biar nggak bosen? Paling sering sih berselancar di YouTube nontonin video-video lucu atau musik terbaru. Layar hapenya bikin betah banget mantengin banyak video. Kalo mata udah capek nonton video, ya apalagi kalo bukan foto-foto pose anak pas lagi tidur? Haha.


Dengan kamera belakang 13MP ditambah lagi fitur autofocus, optical image stabilization, lampu LED flash, geo-tagging, face detection, dan HDR, makin jadilah hobi motretin anakku ini. Rasanya adem banget kalo bisa liat anak tidur pulas :)




Buat yang penasaran berapa harga hape ini, jangan sedih. Harganya cuma 2 jutaan kok. Awalnya sih nggak percaya harganya segitu, apalagi tampilannya yang classy dengan balutan tekstur karbon dan motif semacam anyaman di bagian belakangnya. Sama sekali nggak keliatan murahan. Justru terlihat elengan dan enak digenggam karena meski berlayar besar, tapi hape ini cukup tipis (7.5mm) dan ringan (152gram). Dipake buat multitasking pun nggak lemot karena prosesornya udah octa core. Kalo masih penasaran, cek aja spesifikasinya di sini


Jadi, biarpun udah punya anak, hobiku bisa tetep jalan dengan ZTE Blade Vec Pro ini. Aku jadi bisa curi-curi ngeblog dan internetan saat Kak Kiko bobok. Yayay! I’m a happy mom!