Kamis, 22 Januari 2015

Dari Ibu dan Romo Untuk Kakak

Halo Kakak..

Bagaimana rasanya dunia? Menyenangkankah berada dalam pelukan lengan? atau lebih aman berada dalam rahim?

Kak.. Maafkan Ibu dan Romo atas semua keterbatasan yang Kakak miliki. Mungkin, kakak akan tumbuh tidak seperti anak kebanyakan, Kakak lahir dari rahim ibu yang masih menyelesaikan syarat pendidikan dan Romo yang masih sekolah spesialis. Sabar-sabarlah ya, Nak.. Tempat tidur Kakak bekas, rumah kita masih menumpang, baju-baju Kakak sebagian besar adalah kemurahan hati tante-tante Kakak yang juga menyanyangi Kakak.

Begitulah, Nak.. Menjadi anak dari orang tua seperti kami kadang menyisakan sesak, Nak.. Kami sering bersedih karena tau waktu kami untuk bermain tak bisa 24 jam. Kami juga sering galau memikirkan bagaimana menjelaskan padamu karena mainanmu tak sebagus temanmu nanti. Sewaktu kamu lahir, rasanya semua pencapaian Ibu dan Romo tak ada apa-apanya, Ibu dan Romo seperti seorang kerdil yang tak bisa apa-apa. Kamu seperkasa itu, Nak, mampu menundukkan ego kami yang sudah terlanjur tinggi. Kami sadar, kami tak bisa apa-apa, kami tak berdaya.

Tapi kami berani berjanji,
di balik setiap keterbatasan yang kami miliki, kami akan memberikan yang terbaik untuk kamu, Nak. Kami sediakan waktu di tengah semuanya, karena kamu tetaplah prioritas. Kamu adalah poros dunia Ibu dan Romo, sebuah alasan bagi Ibu untuk memikirkan kembali rencana Ibu menyusul Romo sekolah. Sebuah alasan Romo menyelesaikan resume pasien lebih cepat setiap harinya hanya untuk sempat menggendongmu sebelum kamu tertidur. Kami siap berjuang jauh lebih keras karena kami memiliki kamu, Bramastha..

..

Masih ingat rasanya ketika mata basah di atas tempat bersujud, kami memohon agar kamu dihadirkan. Masih tak bisa lupa saat Ibu berdoa jauh lebih pasrah ketika kita sama-sama berjuang melawan pendarahan. Tak mungkin, Ibu tak sayang kamu, Nak…

Kamu bukan hanya seorang anak, tapi kamu adalah doa yang dikabulkan. Kamu adalah jawaban dari penantian, kamu adalah alasan iman kami lebih tebal karena Tuhan kami yang Maha Ada.

Nak, jika suatu hari kamu bersedih, ingatlah selalu Ibu dan Romo yang berpelukan ketika kamu masih sangat kecil dalam rahim Ibu. Kehadiranmu kami harapkan, kehadiranmu kami rayakan, Nak.. Jadi jangan bersedih.

Nak, jika suatu hari usahamu gagal dan kamu menyerah, ingat selalu Ibu dan Romo ya, Nak, yang tak pernah menyerah meminta keajaiban. Iya, keajaiban itu adalah kamu.. Kamu adalah hal terajaib yang terjadi di hidup Ibu dan Romo, tanpa melebih-lebihkan. Suatu hari, saat kamu siap, kamu akan tau bagaimana kami pernah berjuang untuk menghadirkanmu.

..

Hai, Nak..
Maafkan Ibu dan Romo yang masih belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik. Terkadang kesabaran kami menyinggungmu, terkadang diapersmu tak benar, seringkali bajumu tak sesuai. Tapi sabar selalu ya, Nak. Bukan kamu yang belajar dari kami, tapi kami yang mendapat banyak ilmu dari hadirmu. Sabarlah menghadapi kami yang kadang sensitif, sabar pula menghadapi pertanyaan teman-temanmu mengenai kehadiran kami yang mungkin tak sesering orang tua kebanyakan.

Nak,
Ibu siap melambatkan laju karir demi kamu, demi melihatmu tumbuh. Tapi biarkan Romo terus berlari ya, Nak. Nangis saja yang kencang di depan mukanya ketika kamu mulai merasa kamu tak diperhatikan, ingatkan Romo terus menerus bahwa kamu haruslah selalu menjadi yang terutama. Tapi kamu juga harus tau, kami juga ingin kamu berdiri tegak dan bangga menunjuk pada kami ketika temanmu bertanya
"mana bapak ibumu?"


:)

Rabu, 21 Januari 2015

Bramastha Nemanja Senna Hadinoto

"Eh kok bayinya cenderung ga membesar dan ketubannya sedikit nih, Falla? Kenapa ya, jangan-jangan penurunan fungsi plasenta? Konsul dr. Yuditia di bagian Fetomaternal RSCM ya.."

Siang itu, harusnya kontrol kehamilan seperti biasanya, di usia kehamilan 34 minggu, tapi dr. Iko memberitakan hal yang membuatku dan suami lumayan deg-degan. Aku diresepkan 2 ampul pematang paru, kalau-kalau Kakak harus dilahirkan prematur. Duh…

Senin, aku konsul ke dr. Yuditia, spesialis kandungan fetomaternal di RSCM Kencana lantai 5, dari hasil USG 4D Fetomaternal, didapatkan janin kecil (small baby)  di persentil 30. Sebenarnya, ukuran Kakak masih normal, tapi hanya di persentil 30. Jumlah air ketuban juga dinyatakan sedikit kurang, namun menurut dr. Yuditia, kehamilan masih dapat dipertahankan dan dipantau dari minggu ke minggu.

Minggu 35, janin masih kecil, ketuban masih kurang. Lagi-lagi konsul fetomaternal. Fungsi plasenta ada penurunan, tapi masih bisa ditahan. Aku dan suami berdoa, semoga masih bisa ditahan setidaknya hingga minggu 37, itupun berdoa lebih kencang supaya bisa lahir di waktu yang seharusnya.

Minggu 36 berlanjut minggu 37, lagi-lagi janin masih di persentil 30, air ketuban masih kurang. Kembali konsul fetomaternal, hasil masih sama.

Dokter Iko memutuskan untuk menterminasi kehamilan tepat di minggu 38, atau 1 minggu setelah fetomaternal terakhir karena dikhawatirkan fungsi plasenta yang terus menurun dan Kakak yang terlilit tali pusar 2x.
Kami pasrah.





Rencana operasi sesar dijadwalkan Senin, 29 Desember 2014 pukul 7 malam, kami sudah harus masuk rumah sakit untuk konsul anak hari Minggu 28 Desember 2014 pukul 9 malam.

yang nganter aja rame bener :| ada Mbah Uyutnya langsung dateng dari Semarang

lagi CTG

Senin, 29 Desember 2014

Hari H operasi, karena jadwal operasiku malam, paginya aku masih "bandel" jalan-jalan cari sarapan. Aku jalan kaki dari RSCM Kencana menuju ke RSCM Mata Kirana untuk makan soto. :)) Jam 12 siang, udah harus puasa makan, yang boleh masuk hanya air putih dan jam 5 sore harus puasa total.

baru selesai pasang infus
 Pasang infus untuk dimasukkan profilaksis, isinya gentamycin. Aku ada riwayat alergi, maka dilakukan slow drip agar apabila alergi maka reaksi yang ditimbulkannya pelan-pelan dan mudah diberhentikan. Tapi mudah-mudahan reaksi alerginya tidak muncul.

editan Aa, resek.


mau berangkat ke ruang operasi!
18:00 Berangkat ke ruang operasi dan dilakukan persiapan

sudah di ruang transisi operasi, Aa udah ganti baju untuk ikut nemenin di dalam

masih bisa selfie, padahal yaa degdegan

Momi numpang narsis
18:30 masuk ruang operasi mayor.

udah dalam keadaan terbius
Operator operasinya dipegang langsung oleh dr. Budi Wiweko, Sp.OG (k), dengan didampingi 1 dokter anestesi, 2 dokter spesialis kandungan muda sebagai asisten operasi dan 1 dokter spesialis anak sebagai "penangkap bayi" untuk resusitasi.

Operasi dimulai dengan laporan operator mengenai nama pasien dan tindakan apa yang akan dilakukan, lalu berdoa bersama. Sayatan yang dilakukan adalah sayatan melintang supra pubik minimal, atau hanya seukuran diameter kepala bayi dengan pengeluaran bayi melalui tarikan forcep (tang).

Operasi berjalan sesuai rencana, hingga..

"A, kok telingaku gatel? Garukin.. Kepala juga gatel, garukin.."
*Aa garukin*

..

Sayatan sudah mulai terbuka dan siap mengeluarkan kepala bayi.. Daerah kepalaku masih gatal.

Dokter Iko : "Bantu dorong ya, Dok.."
Dokter anestesi : "Siap, Dok.." … "Sudah, Dok.. Tapi belum keluar bayinya, Dok.."
Dokter Iko : "Dorong lagi, Dok!"
Dokter Anestesi : "Belom bisa, Dok.. Besar juga bayinya sampe keras gini…"

Aku : …
Suami : *bantu ikutan dorong* "Dikit lagi, Dik.. kepalanya udah mulai keliatan.." Suara Aa udah mulai bergetar.
Aku : "A, badanku makin gatel.."
Suami : "Sabar, Dik.. Sebentar lagi.."

Dokter Anestesi : "Sip, Dok…"
Dokter Iko : "Oalah… lilitan tali pusarnya yang bikin susah.."




Lalu tangis pertama itu terdengar, seiring dengan air mataku dan suami yang ikut mengalir.


Tangisan pertama yang hanya bisa ku dengar karena Kakak masih diresusitasi oleh dokter anak, tangisan pertama yang menandakan perjalanan baru kami menjadi orang tua. Penanda bahwa tanggung jawab kami semakin berat, sebuah kebahagiaan melimpah ruah karena kehamilanku yang terbilang  berat akhirnya lewat juga.

Pukul, 19:10, hanya sekitar 6 menit dari sayatan pertama di perut, Kakak keluar. Iya, hanya 6 menit. Tapi rasanya lama sekali, ditambah proses yang agak macet karena terlilit tali pusar, tapi semua terbayar ketika untuk pertama kalinya aku melihat wajah putraku, anak laki-laki darah dagingku yang nantinya akan menjadi penjaga tuaku, cah lanang jagoanku.

Ia tertidur, tampak nyenyak, dengan muka sedikit pucat tampak kedinginan. Disandingkan di samping mukaku dan ciuman pertama itu mendarat di pipi lembutnya. Mohon maaf pada wanita yang nantinya mendampingi anakku saat ia dewasa, karena ciuman pertama hidupnya hanya dariku, Ibunya..

Air mataku mengalir, deras. Tapi senyumku lebar nyaris tertawa terbahak. Anak laki-lakiku terlahir sempurna ke dunia. Jemarinya lengkap, tangisnya keras. Aku merasa sempurna..



Sudah mendengar tangis pertama Kakak, tapi Kakak masih diresusitasi
banjir air mata
setelah ciuman pertama
Setelah ciuman pertama itu, Kakak harus segera dinaikkan ke ruang transisi bayi karena suhu badannya hanya 35.5, terlalu berisiko bila harus dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD), jadwal operasi malam memang membuat ruangan operasi jadi super dingin, bahkan aku harus diberikan blower hangat tambahan agar tidak hipothermia. Bahkan dokter spesialis di dalampun beberapa kali mengeluh mengenai AC yang super dingin.

Sekitar 19:30, operasi selesai, luka sudah dijahit dan ditutup perban, aku dialihkan ke ruang recovery. Kakak sudah berada di ruang bayi. Bergantian keluargaku melihatku sembari menunjukkan padaku foto Kakak yang diambil dari ruang bayi.

Tak lama..
"Aa, badanku makin gatel. Ini sih reaksi alergi ini.. Bukan gatel biasa.."



Ternyata gatal yang ku rasakan selama operasi adalah gatal alergi gentamycin yang diinfuskan padaku untuk profilaksis, badanku mulai memerah, bentol dan semakin gatal. Setelah konsul anestesi, dokter anestesi memberikanku obat penghambat alergi yang berefek kantuk padaku. Aku kemudian tertidur, dan terbangun sudah di kamar.

:)

Kakak sedang diadzankan Romo :")
Kakak sudah di kamar rawat, tapi aku masih teler :))

..

Hari itu, Senin 29 Desember 2014, pukul 19:10, anak laki-laki kami lahir dengan selamat sempurna, Bramastha Nemanja Senna Hadinoto dengan panjang 49 cm dan berat 2595 gram. Hari yang kami tunggu, hari yang kami selalu pinta dalam doa.

Alhamdulillahirabbilalaamin. Terima kasih telah melengkapi hidup kami, Kak Kiko… Jangan bersedih ya, karena kamu adalah doa yang terkabulkan.

Cium sayang,
Ibu dan Romo dan semua yang menyayangi Kakak. :)

Kamis, 25 Desember 2014

Hamil? Santai aja.

Banyak perempuan ketika hamil membatasi apa yang mereka gunakan, apa yang mereka konsumsi dan apa yang mereka lakukan. Ya benar memang, kehamilan adalah anugrah yang diberikan Tuhan, sudah selayaknya kita menjaga kehamilan kita dengan sebaik-baiknya. Namun, hamil bukan berarti membatasi hampir semua yang disuka dan apa yang biasa rutin dilakukan.

Selama kehamilan, aku banyak sekali mendapat komentar miring dari followers mengenai aku yang masih tetap merawat muka, masih santai aja minum secangkir kopi latte, masih mengenakan high heels, masih memakai baju ketat, masih jaga malam dan masih masih lainnya. Mungkin, sebagai dokter, pengetahuanku mengenai kehamilan memang cenderung di atas pengetahuan awam, jadi berbekal ilmu yang ku miliki aku tetap melakukan hal yang mungkin di mata awam tabu untuk dilakukan.

Aku memutuskan menolak mitos yang ramai di masyarakat, aku juga memutuskan untuk lebih merayakan tubuhku justru di saat hamil. Ku bebaskan diriku melakukan apapun yang ku suka, yang menurut keilmuan tidak berefek negatif pada janin. Ku paksa diriku beraktivitas normal, ku dorong diriku untuk tidak kalah dengan kehamilan.

Hasilnya? di H minus beberapa hari sebelum melahirkan, aku tak memiliki masalah berarti pada fisikku. Berat badanku hanya bertambah 7 kilogram dengan berat janin normal, aku hampir tak pernah merasakan nyeri pinggang dan punggung, aku masih bisa berkeliling ITC dan IKEA tanpa kendala berarti. Mukaku tetap terawat. Alhamdulillah.


Bumil emang boleh pake krim perawatan muka? … BOLEH BANGETTT,
Sebagai ibu hamil, dalam badan kita ini terjadi lonjakan-lonjakan dan ketidakstabilan hormon yang berperan penting dan langsung dari timbulnya jerawat dan minyak berlebih di muka. Ketika awal bedrest, aku tidak peduli pada muka, hasilnya muka penuh jerawat. Ketika sehat kembali, aku menjadi jauh lebih rutin merawat muka dan sekarang, walau masih ada sedikit flek coklat sisa jerawat, mukaku sudah normal kembali.

Memang benar ada beberapa produk kecantikan yang tidak disarankan dipakai ibu hamil tanpa pengawasan ahli karena ditakutkan berefek sistemik (masuk ke aliran janin). Sebagian besar produk yang tidak direkomendasikan bagi ibu hamil biasanya juga atas resep dokter, jadi bisa dikatakan, hampir semua produk yang dijual bebas di pasaran aman digunakan ibu hamil.

Selama hamil, aku memang memberhentikan semua krim dokter dan menggantinya dengan perawatan yang dapat ditemui di mana-mana, bahkan di mini market. Hasilnya? Ada kok. Walau kuncinya harus tetap sabar karena pasti efek yang terjadi tidak secepat krim muka hasil resep dokter kulit dan kecantikan.

Jika masih ragu, kunjungi store resmi merk perawatan muka kalian, semua beauty advisor dibekali oleh pengetahuan mana produk yang ramah pada ibu hamil mana yang sebaiknya distop dulu untuk sementara.

Penelitian terakhir sebenarnya menyimpulkan, semua obat topikal (krim) yang mengandung zat berbahaya bagi ibu hamil baru memiliki efek ke janin bila dioleskan di lebih dari 50% permukaan badan. Jadi, kalau cuma di daerah muka, artinya aman. Tapi, bagi yang tidak mau mengambil risiko, lebih baik ganti saja produk perawatan dokter dengan produk yang biasa dijual di pasaran.

Heii.. hamil harus tetep cantik dong! :3


High heels bahaya buat janin, bener gak? SALAH BANGET!
High heels ga berefek sama sekali untuk kehamilan. Artinya, ibu hamil bebas kalau mau pake high heels kemanapun. Tapi biasanya, secara alami, badan lebih cepat cape selama hamil. Oleh karena itu, banyak ibu hamil menghindari menggunakan high heels. bukan karena berefek pada kehamilan dan janin tapi berefek pada kenyamanan ibu itu sendiri.

Selagi hamil. hormon-hormon di tubuh kita sedang menyiapkan pinggul untuk persalinan, oleh karena itulah ibu hamil lebih mudah merasakan pegal pada pinggang dan punggung. Coba bayangkan, pada kondisi perempuan normal saja, high heels bikin pegal, bagaimana di ibu hamil. Selain itu, alasan biasanya ibu hamil menghindari memakai high heels adalah meminimaliskan risiko jatuh. Ibu hamil lebih berbahaya bila jatuh daripada perempuan tidak hamil, jadi selama yakin kuat dan hati-hati, Ibu hamil bebas memakai high heels. :D


Ibu hamil boleh makan sushi ga? Ya boleh, tapi..
Awal hamil, aku bertanya pada dr. Budi Wiweko mengenai apakah aku boleh makan sashimi (ikan mentah) atau tidak, dan jawaban beliau adalah "boleh aja. Kamu makannya ga di pinggir jalan kan?"

Banyak ibu hamil menghindari sushi selama kehamilan karena ikan yang tidak matang, padahal selama yang kita konsumsi dari restoran besar terpercaya, aman kok. Jika masih khawatir ya hindari, kalau aku sih tetap konsumsi sashimi kok, tapi memang tidak sebanyak dulu. Pilihan sushiku juga lebih banyak jatuh ke yang sushi matang, karena aku memang lebih suka sushi matang.

Ngidam sashimi? Boleh… tapi pastikan belinya di restoran besar ya, jadi ikannya fresh. :D


Ibu hamil ga boleh sama sekali minum soda! … ish, Gapapaa..
Selama kehamilan, diperbolehkan kok minum soda. Tapi mengapa banyak ibu hamil menghindari? Bukan karena tidak baik untuk janin, tapi soda mengandung gas yang memperparah asam lambung. Selama hamil, hormon yang bekerja mempengaruhi sekresi asam lambung, makanya ibu hamil mudah mual dan muntah. Nah, kondisi ini bisa diperparah oleh soda karena kandungan gas di dalamnya. Jadi, jika perut dalam kondisi normal, boleh aja kok konsumsi soda. FYI, aku ngidamnya Coca Cola lho… padahal selama belum hamil, aku ga pernah sama sekali suka soda. Ngg.. hehehe.


Ibu hamil boleh makan duren ga? Boleh…
Penjelasan yang sama dengan soda, duren mengandung gas yang bisa memicu asam lambung meningkat. Jika perut sedang dalam kondisi enak, duren tidak dilarang… Hajar ajaa, enak ituu.. enak.


Ibu hamil boleh konsumsi kopi? Boleh.. Tapi batasi.
Dalam kopi, terdapat kafein yang kurang baik bagi kehamilan bila dikonsumsi dalam jumlah besar dan banyak. Tapi secangkir kopi sehari untuk dinikmati bersama suami, kenapa tidak?


Ibu hamil harus makan dengan 2 porsi! Salah.
Selama hamil, aku tetap membatasi porsi yang masuk ke badan. Aku tidak ngemil banyak-banyak, aku juga tidak makan dengan porsi ganda. Semua porsi makanku normal. Hal ini membuat berat badanku tetap stabil. Perkembangan janin sudah dipegang oleh plasenta, dengan amunisi memang dari yang kita makan. tapi 1 porsi saja cukup dan tidak usah ngemil sepanjang hari, karena sisa makanan akan berubah jadi lemak di badan ibunya, bukan di janin. :D


Keguguran disebabkan makanan yang salah! S A L A H.
Keguguran TIDAK disebabkan oleh makanan apapun. Keguguran (abortus komplit) penyebabnya beragam, tapi tidak satupun karena makanan. Umumnya, keguguran disebabkan oleh ketidakcocokan kromosom ayah dan Ibu, di mana percampuran kromosom adalah hal alami yang dialami telur dan sperma ketika bertemu dan bersatu. Penyebab berikutnya adalah darah si Ibu yang kental (lagi-lagi inipun bukan karena makanan, melainkan memang si ibu memiliki kelainan darah). Masih banyak teori mengapa keguguran bisa terjadi, tetapi tidak ada satupun yang disebabkan oleh makanan. Jadi, tutup aja itu telinga kalau ada yang bilang makanan yang kamu konsumsi memicu gugurnya janin.


dan mitos-mitos lainnya……


..
intinya, hamil itu bukan sakit, jadi tidak perlu terlalu takut. Bawa santai saja. Ibu hamil itu manusia istimewa, bayangkan kita tidak sakit, tapi setiap bulan dipantau dokter perkembangannya. Selalu ingat, bahwa semua ibu pasti memiliki nalurinya sendiri-sendiri. Hindari bila tidak yakin. Jangan dilakukan apabila bisa membuat perasaan tidak tenang.

Setiap ibu hamil itu unik dan tidak sama, jadi akupun tidak menyarankan apa-apa selain carilah yang membuat paling nyaman.. :D

Selasa, 16 Desember 2014

Senjata Pribadi Selama Kehamilan

Oke..
di tengah Kakak yang semakin menolak diam, dan sudah tinggal bener-bener sebentar lagi menuju lahiran, aku mau sharing tentang barang-barang yang ku anggap sangat membantu hidupku lebih waras dan ringan selama menjalani kehamilan.

Ga banyak sih, tapi barang-barang ini dewa banget buatku. Oke, yuk kita mulai..


1. Mamaway Pregnancy Belt
Benda ini…….. JUARA. ntah apa jadinya aku tanpa pregnancy belt ini. Ini ku pakai tiap hari. Iya, tiap hari. Ntah kenapa, selama hamil, aku itu selalu ngerasa perutku semacam ngilu dan mau jatuh. Ga enak banget deh pokoknya. Nah, disaranin Chacha buat beli belt ini, ternyata… MASALAH SELESAI AJA DONG, selama make ini aku ga pernah ngerasa lagi ngilu. Punggung juga tertopang.

Belakangan, dari jurnal yang ku baca, ternyata pregnancy belt itu khasiatnya banyak, bukan hanya sekedar penopang, tapi membentuk pinggang lebih slim, membantu mencegah stretchmark, menopang punggung sehingga meminimaliskan sakit punggung. Dan bener banget, aku ngerasain manfaat itu semua.

Oya, Mamaway Pregnancy Belt ini aku beli di Mothercare. Silakan cek sendiri ya buibuk. :D


2. Celana hamil dari H&M
Barang kedua yang membuat diriku nyaman aktivitas adalah legging maupun celana berbahan denim produksi H&M. Bahannya lembut banget, melar, di perut enak. Juara deh untuk urusan celana hamil. Aku sangat rekomendasiin legging produksi H&M. Bahannya adem, dan celananya tinggi hingga menutupi perut, nyaman banget. Karena celana hamilnya diproduksi oleh h&M, jangan takut keliatan kaya "ibu ibu banget", celana hamil mereka stylish semua kok. Ga akan malu makenya. :"D

Kalau ga salah, ga semua gerai H&M menyediakan koleksi baju hamil, aku sih belinya di Grand Indonesia. Di bawah ada foto celana yang aku punya.



3. Bio Oil (…dan lotion Kiehl's)
Ya kalau ini sih harusnya aku ga usah review lagi ya. Hahaha. Udah terkenal banget untuk mencegah stretchmark. Ingat, mencegah stretchmark bukan menghilangkan total stretchmark. Cek aja di google seberapa banyak yang mereview produk ini sebagai produk unggulan untuk mencegah stretchmark. Aku pake Bio Oil dari usia kandungan 4 bulan, alhamdulillah sih hingga hari ini mendekati lahiran ga ada stretchmark keluar.

Tapi memang Tuhan menciptakan kulit manusia berbeda-beda. Ada yang tidak pakai produk apa-apa, tapi stretchmark tidak keluar. Ada yang udah pake semua rangkaian, tapi tetap keluar. Intinya gini, stretchmark itu terjadi karena regangan kulit, nah, untuk mencegah kulit yang meregang lalu pecah tersebut maka kulit harus benar-benar dalam kondisi lembab. Ketika kulit dalam kondisi lembab, maka ketika ia meregang, kulit menjadi tidak pecah. Gitu aja prinsipnya. :D

Bio Oil udah banyak kok di apotik besar. Kamu bisa beli di situ. 
Lotion Kiehl's buat apa? Gini.. aku ga pernah nemuin lotion selembab Kiehl's, makanya sebagai tambahan, kalau lagi senggang aku suka olesin lotion Kiehl's ke perut. Lembabnya enak banget, awet. Dan wangi. Bio Oil aku pake setiap habis mandi pagi dan malam, nah Lotion Kiehl's diantaranya. Simply karena lembabnya parah banget sih. :D


4. Bantal Cinta
Selama hamil, posisi tidur jadi serba salah. Dan buatku, posisi tidur paling enak itu adalah miring dengan perut diganjel bantal panjang nan empuk. Udah deh, nyenyak semaleman. :D

Kenapa namanya bantal cinta? ga tau deh. Serius, kalau di ITC namanya Bantal Cinta. :/ 





Yuhuuu,. sekian!!

Sedikit kan? iya.
cuma menurutku barang di atas itu manfaatnya dewa banget di aku.
Monggo kalau mau dicoba.

Cuma aku mau disclaimer dulu nih di awal, efek akan berbeda di tiap orang ya. Jadi kalau di aku semua barang di atas berdampak maksimal, bisa jadi di kamu ngga ada manfaatnya. Begitupun sebaliknya, barang yang paling bermanfaat di kamu, mungkin di aku efeknya kurang maksimal.

Jadi yaa, selamat mencari mana yang terbaik! :3



Jumat, 12 Desember 2014

Berjuang Untuk 2 Detak

Aku terbangun seperti biasanya, saat adzan Subuh berkumandang. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi dan melihat bercak kecoklatan di celana.

Saat itu, aku baru saja dinyatakan hamil oleh dokter kandungan. Kurang lebih seminggu dinyatakan hamil.

Panik, ku bangunkan suamiku, lalu pergi menuju UGD rumah sakit tempat dokterku praktik. Ternyata, dokter yang memegang kehamilanku sedang cuti umroh jadi aku dipegang sejawat beliau yang lain. Sebagai seorang dokter, aku tau aku sedang mengalami abortus imminens, suatu keadaan di mana terjadi pendarahan pada awal kehamilan namun serviks masih tertutup. Kemungkinan abortus imminens menjadi abortus complete (keluarnya janin) tidak dapat diprediksi, bisa terjadi, bisa juga tidak.

Rasanya semua kebahagiaan akan dinyatakan hamil seperti hancur, berganti semua ketakutan janinku kenapa-kenapa. Pada pemeriksaan USG terlihat pendarahan di sekeliling Kakak (aku memanggil janinku dengan Kakak), saat itu ukuran Kakak sekitar 8 mm dengan luas pendarahan lebih dari 3x lipat badan Kakak. Hari itu, aku dirawat di rumah sakit dan harus bedrest total bahkan tidak boleh sama sekali turun dari tempat tidur untuk ke kamar kecil. Bersyukur aku hanya dirawat 1 hari karena flek coklat tidak lagi keluar, aku diijinkan pulang.

Setiba di rumah, aku masih harus terus bedrest dan hanya bangun ketika ke kamar kecil. Malam dari pulang dari Rumah sakit, aku muntah, dan kembali ku dapatkan flek coklat yang kali ini lebih pekat dan sedikit bercampur darah. Dan flek bercampur darah itu ternyata tidak berhenti hingga sekitar 6 minggu setelahnya. :"(



Setiap aku bangun dari tempat tidur, flek darah lagi-lagi mengalir. Kadang sedikit, kadang cukup banyak. Jika darahnya cukup banyak, aku langsung pergi ke RS untuk cek kondisi. Beruntung, Kakak selalu dalam keadaan baik-baik saja. Jantung Kakak selalu berdetak kencang, pertumbuhannya selalu dalam keadaan baik. Dari situ aku tau, aku sedang mengandung seorang jagoan.

Ketika dijenguk Chacha, seingatku ini sudah bedrest 4 mingguan.



..


Tentang Dokter Kandunganku yang Begitu Baik
Dokter kandunganku bernama dr. Budi Wiweko, Sp.OG (k). Pertama kali bertemu dengan beliau sebelum aku dinyatakan hamil, untuk sedikit berkonsultasi mengenai fertilitas. Sosoknya hangat, ramah dan sering tersenyum. Hal lain yang membuatku tenang adalah beliau terkenal pintar (beberapa sejawat menyebut beliau jenius), beliau dinyatakan lulus dengan nilai terbaik dari department obstetri dan ginekologi. Setelahnya beliau melanjutkan pendidikan ke Jepang dan Universitas Indonesia untuk mendalami endokrin dan fertilitas. Aku percaya pada beliau.

Selama masa pendarahan, beliau adalah orang yang mampu menenangkanku. Pernah suatu hari, aku pendarahan banyak sekali, air mataku rasanya sudah kering untuk menangis, takut Kakak tidak bisa bertahan dengan pendarahan sebanyak itu. Di kursi roda yang didorong perawat, aku masuk ke ruangan beliau praktik, ku sodorkan tanganku, beliau menyambutnya dengan kencang. Ajaib, seperti sebuah transfer energi, aku bisa merasakan kekuatan baru hanya dari sebuah genggaman tangan. Beliau tak berkata apa-apa, tapi genggaman tangannya yang saat itu lebih kuat dari biasanya membuatku yakin, semua ini akan cepat berlalu. Lagi-lagi, hasil USG menyatakan Kakak dalam kondisi sehat. Setelah itu, dokter Iko (panggilan beliau) meresepkanku obat suntik bernama Lovenox dan tambahan hormon. Setiap hari, aku harus disuntik di area perut dan setiap 3 hari sekali aku suntik hormon di area bokong. Sakit? Iya. Tapi aku tau aku sedang berjuang untuk 2 detak. Ku kuatkan diriku menghadapi jarum suntik setiap hari. Seminggu sekali aku kontrol dan selalu ku dapatkan Kakak berkembang sesuai usianya. Walau aku masih terus menerus mengalami pendarahan.

bekas jarum suntik yang masih ku simpan


Dokter Iko, tanpa beliau sadari, begitu banyak memberikanku semangat dan harapan. Waktu kontrol adalah waktu di mana aku merasa tenang karena aku tau aku berada di tangan yang tepat. Dari beliau aku banyak belajar juga untuk menjadi seorang dokter yang jauh lebih baik lagi, seorang dokter yang tak hanya bisa meresepkan obat tapi memberikan sugesti baik agar si pasien mempunyai semangat untuk sembuh, percaya pada dirinya sendiri bahwa si pasien itu sendirilah yang harus yakin untuk bisa kembali ke kondisi sedia kala.

Kurang lebih 6 minggu setelahnya, Dokter Iko menyatakan pendarahanku sudah terabsorbsi sempurna. Artinya aku sudah tidak harus bedrest total lagi. Tapi kondisi pasca bedrest ternyata berat sekali. Badan terbiasa dalam kondisi tiduran, sehingga ketika kita mencoba berdiri yang terjadi adalah perasaan limbung, ingin jatuh dan sesak napas. Aku latihan berjalan sekitar 2 mingguan, itupun belum sampai ke stamina awal. Berjalan sebentar, lalu sesak napas. Beraktivitas sebentar, lalu sesak napas.

pasca bedrest, ketika Icha dan Chacha menemaniku ke Grand Indonesia untuk memulihkan kondisi. 
Perlahan kondisiku pulih, aku diperbolehkan untuk kontrol dokter 1 bulan sekali. Staminaku kembali ke kondisi asalnya dan aku bisa beraktivitas seperti biasa. Tapi perasaan trauma akan pendarahan seperti tak pernah hilang. Aku selalu diliputi ketakutan setiap saat, takut akan pendarahan keluar lagi atau takut terjadi sesuatu pada Kakak. Ketakutan tersebut seakan tak bisa lepas dan terus menerus menghantui. Lagi-lagi peran Dokter Iko besar sekali, beliau selalu meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja.

Dear, Dokter Iko, I owe you a life. :)

Tentang Suami yang Selalu Ada
Masa pendarahan adalah salah satu masa terberatku, hidupku sangat bergantung pada orang lain. Sesekali keluarga dan teman datang menjenguk, tapi orang yang paling dekat denganku di kondisi tersebut adalah suamiku.

Di tengah kesibukan residennya, sesekali ia menyempatkan siang untuk pulang, menengok keadaanku, membawakan makanan yang bahkan kadang aku tak bisa makan karena masa pendarahan juga dibarengi dengan masa mual muntah. Ia sering terlihat lelah karena merawatku, tapi tak pernah ku dengar ia mengeluh akan kondisiku. Aa selalu mengingatkanku bahwa aku sedang mengandung anak kuat, anak jagoan dan ia akan selalu baik-baik saja.

Setiap pagi, sebelum berangkat ke rumah sakit, Aa menyiapkan alat suntik terlebih dahulu, menyuntikku lalu pamit pergi ke rumah sakit. Setiap ada jeda waktu cukup panjang, Aa menyempatkan pulang untuk melihatku. Sekedar menemaniku. Tak terhitung berapa kali ia menciumi perutku, "mengobrol" dengan anaknya yang juga sedang berjuang di dalam. Membacakannya ayat Al Quran atau sekedar bercerita mengenai mimpi.

Seingatku, Aa tidak pernah tidak ada. Pernah suatu hari, darah mengalir deras, Aa pulang dari rumah sakit dan membawaku ke Dokter Iko. Diangkatnya aku dari mobil menuju ruang tunggu dokter karena kondisiku tak dapat berjalan. Di ruang tunggu, ku lihat hidungnya mulai memerah dan ia menyembunyikan air matanya, di situ terlihat ia sama takutnya denganku. Tapi di satu sisi, ia harus berusaha tegar dan menguatkan kondisiku. 

Sudah ku bilang, anakku jagoan, lagi-lagi detak jantungnya kuat.
Hingga hari ini.
ketika Aa ulang tahun, aku masih harus bedrest. Jadi yaa, perayaan ya hanya seadanya saja. :")

Oya sedikit cerita, ketika Aa ulang tahun, aku sedih sekali karena aku tak bisa memberikannya bunga. Kami terbiasa untuk merayakan hal-hal spesial dengan bunga. Lalu apa yang Aa lakukan? Ia beli sendiri bunga untuk dikasihkan ke aku, untuk kemudian diberikan lagi padanya. Agar aku tidak sedih karena hari itu aku tidak dapat membelikannya bunga… :"))




Hari ini, kondisiku dalam keadaan normal dan berjalan baik. Aku juga sedang menunggu waktu persalinan yang tidak lama lagi. Menulis blog ini sungguh perasaanku tidak karuan. Antara sedih, terharu, trauma. Tapi akhirnya ku putuskan untuk berbagi pengalaman yang sebelumnya sempat ku simpan rapat ini. Mungkin post ini tak bernilai informasi medis, tapi setidaknya post ini bisa dijadikan catatan pribadiku kelak untuk lebih bersyukur atas semua karunia kesehatan yang bisa dinikmati.

Jangan pernah menyerah dan selalu percaya pada Tuhan. Karena ketika semua pondasi dirasa goyah, kita selalu punya tiang kuat bernama.. Keimanan. :)


Selasa, 09 Desember 2014

Yang Akan Diceritakan Pada Generasi Mendatang Kelak

Suatu hari, pernah terbaca sebuah tweet dari traveler yang aku cukup segani karena buku dan tweetnya yang membuat aku makin ngiler ke luar negeri. Di situ, beliau bertanya kurang lebihnya..

"Jika tidak traveling, maka apa yang akan kalian ceritakan ke anak cucu nanti?"

Aku lumayan terhenyak, mengingat sedang ada bocah yang menendang dalam perut dan aku yang hampir sama sekali tidak pernah jalan-jalan ke manapun. Lalu, aku harus cerita apa dong ke anakku nanti? Mengenai ibunya yang tidak pernah pergi ke mana-mana?




Lalu, memoriku kembali ke masa kecil dan mengulang layar-layar antara aku ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu juga bukan seorang pejalan, Ayah walau sering bepergian ke luar negeri; selalu dalam rangka pekerjaan dan cuti. Rasanya jarang sekali kami bepergian khusus untuk liburan. Jadi, praktis, aku tumbuh sebagai anak karyawan biasa-biasa aja dalam hal traveling.

Hari ini, usiaku 25 tahun lebih, aku bangga karena ternyata ayah dan ibuku tak pernah kehabisan hal untuk dibicarakan dan diceritakan padaku kecil hingga padaku dewasa hari ini. Aku tumbuh melalui nasihat-nasihat mereka, melalui pengalaman hidup mereka yang mungkin tak pernah ke mana-mana tapi menyisakan pesan dan nilai yang membentukku seperti sekarang ini. Ayah bukan pencerita yang handal, bukan pula seorang pejalan, tapi ayah adalah seorang dengan kepribadian kuat. Mempunya prinsip dan nilai yang dianut begitu saklek, hal tersebut yang tak pernah bosan ia ceritakan dan tanamkan pada anak-anaknya.

ah…

Rasanya aku tak perlu takut karena aku bukanlah seorang traveler dan tak bisa bercerita pada anakku kelak, karena tokh perbekalan cerita yang akan aku turunkan sungguhlah banyak.. Aku mungkin tak akan mengawali dongeng tidur dengan "Nak, Ibu pernah melihat aurora borealis, di sana indah sekali Nak.."

tapi aku akan menjadi ibu yang berkata pada anakku nanti..


"Nak, Aurora borealis itu indah.. Kita mau pergi ke sana bareng Romo juga?" :)




Kita yang akan menciptakan kenangan, Nak. Bukan Ibu yang akan menceritakannya.. :)









By the way, yang berencana mau nikah dan masih bingung mau urus dari mana dan segala macam kebutuhannya.. Bisa kunjungi www.bridestory.com ya.. Mereka terpercaya dan bagus banget referensinya untuk yang lagi urus nikahan. :D www.bridestory.com

Senin, 24 November 2014

Reasons To Get Married

"HAHAHHAHAHAHA.. I don't believe in commitment, Bek…. at least for now or 5 years ahead. Gua mau single ampe umur 30an ajalah. Kebetulan gua cowo, karir gua masih banyak yang harus dikejar. Married? Umm.. Ntar ajalah dulu."

"Hahahaha. Okay.."

..

itu percakapan sesaat aku dengan seorang teman, sebut saja Andri.. Ia seorang lelaki, ia bukan petualang cinta, ia juga bukan seorang penjahat kelamin. Ia laki-laki biasa yang "sangat lelaki", ia pergi ke club bersama teman-temannya, dalam keadaan setengah sadar ia flirting sana sini. Dekat dengan banyak perempuan tanpa komitmen, kerja keras demi karir dan masih membeli robot-robotan untuk melengkapi koleksi di kamarnya.

..

Hingga suatu hari, notifikasi LINEku berbunyi..
"Beki……. I am falling in love."

..

Di situ aku tau, temanku sedang jatuh cinta hebat. Seorang perempuan membuatnya melayang, membuatnya lupa apa yang pernah ia katakan padaku. Seorang perempuan hebat menyadarkannya akan 2 hal…
"Reason" dan "Home"

kurang lebih 1 tahun dari notifikasi LINE pertama itu, Andri menikah. :)


….



"Alasan" dan "rumah",
bahwa seorang laki-laki, sepetualang apapun sifatnya, pasti suatu hari akan menyadari  bahwa ternyata ada sesuatu yang 'hilang' dari dalam dirinya. Mereka akan tersadar dengan sendirinya, disadarkan oleh seorang… wanita.

Laki-laki butuh sebuah 'alasan' untuk bekerja lebih keras, pulang lebih cepat, melakukan hal lebih baik, senyum lebih lebar, badan lebih segar, kesehatan lebih terjaga. Ya, untuk seorang perempuan dan anak-anaknya kelak.

Laki-laki juga butuh 'tempat pulang', bukan, bukan sepetak bangunan. Tapi seorang atau sebuah hati tempatnya akan kembali, tujuannya menjalani hari dan motivasinya meraih mimpi. Laki-laki butuh tempat kembali ketika lelah menghampiri, tempat di mana mereka bisa menjadi anak kecil kembali, tempat di mana mereka merasa; di manapun lokasinya; selama perempuan itu berada di sini, laki-laki itu merasa di.. rumah. :)

..

Jadi, kamukah tempat ia pulang dan alasan ia bertahan? :)










..


By the way, kalau mau plan wedding, kunjungi www.bridestory.com ya.. Seriously, mereka membantu sekali. happy planning. :D www.bridestory.com

Jumat, 31 Oktober 2014

Sukses itu..

1 Green tea latte ukuran venti, dan (mungkin) mocca frapucinno miliknya. Di suatu sore yang tak terasa  berganti malam. Pekerja setempat terlihat mulai membersihkan meja-meja, mengangkat kursi-kursi di bagian luar.

Kami masih di dalam Starbucks Megaria. Bertukar cerita, ngalor ngidul mengenai hal-hal yang telah kami alami dan hal yang akan kami alami. Membicarakan tentang hidup sebagai residen, sebagai seorang istri dan suami.

Berikut sedikit potongan pembicaraanku dengan dr. Noviertha Kusumandaru atau biasa disapa dr. Aan, seorang residen anestesi di UNS.


..

Me: "Jadi, sukses berkeluarga menurut lo apakah?"
Aan : "Sukses buat gua itu sederhana Fa, tarolah gua akan punya anak super jenius, di mana suatu hari anak gua menghampiri gua dan dia minta untuk disekolahin di Harvard.. Dan gua tau gua gagal jadi orang tua kalau saat itu; gua ga bisa memenuhi mimpi dia (baca: mendukung dari segi finansial).."
Me: "… ok"

..



Jadi, sukses berkeluarga menurutmu apa? :)

Jumat, 17 Oktober 2014

Bu Beki dan jerawat yang mendadak outbreak!

Disclaimer : Blog ini bukan ditulis oleh beauty blogger, hanya sharing pengalaman pribadi.

Sekitar bulan Mei hingga Juli, saya harus terkapar hampir tidak bisa bergerak di tempat tidur karena disarankan untuk bedrest total oleh dokter. Praktis, saya hanya bangun untuk buang air. Bahkan sholatpun saya lakukan dalam posisi tiduran.

Karena kondisi bedrest berkepanjangan, tubuh berkompensasi menyesuaikan diri dalam kondisi sejajar tanah. Akibatnya, saat harus berdiri, badan limbung dan lemas luar biasa. Kondisi badan tersebut membuat saya tidak melakukan hal-hal yang rutinnya saya lakukan, salah satunya adalah…

Membersihkan muka.

Iya, selama bedrest tersebut jarang sekali saya membersihkan muka. Akibatnya, muka jadi sangat berminyak dan lepek. Tapi karena yang saya pikirkan adalah kondisi keseluruhan badan saya, kondisi muka seperti saya abaikan. Yang penting badan pulih total, begitu pikirku saat itu.

Menjelang 1,5 bulan bedrest dan bolak-balik kontrol setiap 1 minggu, dokter mulai menyarankan saya untuk mobilisasi atau belajar jalan. Saya sudah diperbolehkan beraktivitas asalkan tidak terlalu berat. Pada kondisi itupun, saya masih sering tidak membersihkan muka dalam sehari. Pokoknya yang penting badan pulih total…

Ketika sudah dinyatakan pulih total, barulah saya mulai sadar pada perubahan badan saya pasca bedrest diantaranya adalah berat badan yang turun hingga 5 kilo dan…. Muka yang penuh jerawat. *stress*

Muka saya hampir tidak pernah jerawatan separah pasca bedrest, karena biasanya muka saya hanya dihinggapi 1-2 jerawat setiap mau datangnya menstruasi atau ketika kebersihan muka agak tidak terawat. Tak heran, keadaan ini cukup membuatku tidak mau melihat kaca dan ga mau selfie. Halah. Bahkan setiap teman yang bertemu, maka warning pertama yang keluar dari mulut saya adalah "Jangan komen muka gua, please!"

:"))

Sadar bahwa mood saya harus diperbaiki, tapi di satu sisi saya sedang tidak bisa menggunakan obat-obatan penghilang jerawat karena kebetulan kontra indikasi dengan kondisi saya, maka cara satu-satunya adalah menggunakan produk yang dijual di pasaran bebas, bukan ke dokter kulit.

Lalu saya disiplinkan diri saya untuk cuci muka dengan cara yang benar walau ribet. Berikut rangkaian perawatan yang saya lakukan dalam cuci muka..

1. Susu pembersih.
Tuangkan susu pembersih ke tangan, lalu usapkan ke muka. Pijat melawan gravitasi, lalu bersihkan dengan kapas.

2. Toner
Tuangkan toner ke kapas, bersihkan lagi muka dengan cara yang sama, yaitu melawan gravitasi.

3. Sabun pembersih
Tuangkan sabun pembersih ke muka, bersihkan muka seperti biasa (juga melawan gravitasi), bersihkan dengan air. Keringkan dengan tisu muka. Jangan keringkan muka dengan handuk, karena handuk adalah sarang bakteri.

4. Toner (lagi)
iya saya pakai toner 2x, sebelum cuci muka dengan air dan sesudah cuci muka dengan air. Saya suka aja dengan sensasi dingin dan segar toner.

5. Serum
Tuangkan sedikit ke telapak tangan, usapkan ke muka.

6. Pelembab (jika malam, maka saya memakai krim malam)
Ambil pelembab, oleskan ke muka justru searah gravitasi


Selesai….
Semua produk yang saya gunakan adalah produk yang dijual bebas di pasaran, bahkan di mini market. Tidak perlu mahal kok, yang penting rutin dan telaten.
Dan ini hasil perawatan muka sederhana tadi dalam waktu kurang dari 3 minggu. Oiya, ini semua tanpa filter ya..





dan ini wajah saya hari ini.. diambil tepat saat saya menulis post ini, setelah mandi + cuci muka dengan cara yang saya utarakan di atas.



Tambahan..

- Bekas jerawat tidak dapat hilang dalam waktu singkat, sabar-sabar aja. Tapi akan hilang selama kamu rutin dan telaten dan tangan kamu ga "gatel" pengen garuk-garuk.

- Kondisi kulit saya sebelum bedrest itu cenderung normal, berminyak sedikit hanya di T-zone. Cara di atas tidak saya sarankan untuk kondisi muka yang memiliki jenis patologis (misal: Jerawat sangat berlebih di seluruh muka.), Jika kulit mukamu dipenuhi jerawat, konsultasikan ke dokter kulit ya untuk penanganan lebih lanjut.




Cara cuci muka aja kok ribet? Ya memang.
Tapi kalau telaten, keliatan kok hasilnya. :)

Selamat mencoba. :3

Selasa, 14 Oktober 2014

Perlu Undang Mantan ke Nikahan, Ga?

Pertanyaan yang paling sering banget mampir ke diriku adalah "Jadi, perlu ga sih kita undang mantan ke nikahan kita?"

Lalu biasanya, aku dengan males-malesan akan jawab ke mereka "Ya terserah elo..", karena memang pada dasarnya siapa-siapa yang kita undang adalah hak prerogatif si pengundang.

Tapi…
Kalau ada yang nanya ke gua "Lo undang mantan ga sih pas nikahan kemarin?" dan kemudian aku jawab, biasanya mereka akan bertanya kembali mengenai keputusan yang aku dan suami ambil saat itu..

Mantan emang sensitif sih untuk dibicarain, apalagi jadi topik pembicaraan kita bersama pasangan yang nemenin kita hari ini. Apalagi kalau sejarah berhubungan kita ma mantan pernah "dalem" dan serius. Ini biasanya bikin makin dilemma antara undang si mantan saat kita nikah atau ngga. Biasanya, kalau si penanya serius ingin meminta pendapatku, maka ada beberapa pertimbangan yang sering ku ajukan pada mereka, antara lain..

1. Lo ma dia masih ada drama ga?
Kalau masih, ya mending jangan.. Kamu ga mau kan hari bahagia kamu rusak cuma karena tangan kamu bergetar ngeliat dia atau terlihat sangat salting saat dia mengucapkan selamat? Lagipula kalau emang masih ada drama, udah, ga usah ditambah drama lagi dengan membuat mantan kamu menerima undangan pernikahan kalian. Itu ga akan memperbaiki suasana, yang ada malah makin drama antar kalian meruncing. Tapi, kalau hubungan kalian sudah baik-baik saja, ya balik lagi, terserah kamu mau diundang atau ngga..

2. Pasangan kamu keberatan ga kamu undang mantan?
Gimana juga, pasangan kamu adalah orang yang harus kamu hormati pendapatnya. Jika ia keberatan, maka udahlah, ga usah berencana undang mantan. Tokh yang paling penting untuk hari itu kan kalian. Masa cuma gara-gara mantan dateng, mood pasangan di pelaminan jadi rusak? Itu bakal kebawa sampe kedepan-depannya lho…

3. Mantan kamu udah punya pasangan lagi belom?
Kalau hubungan kalian sudah baik-baik saja, dan mantan belom punya pasangan lagi, ya undang aja.. Tapi, kalau mantan udah punya pasangan lagi apalagi pasangan barunya mantan berpotensi drama, ya mending ga usah diundang. Daripada kamu diliatin sinis? :|

4. Keluarga kamu keberatan ga?
Biasanya, ada tipe keluarga yang jadi awkward ngeliat mantan kamu hadir di hari besar kamu. Itu biasanya ditandai dengan nasihat-nasihat sebelom pernikahan di mana mereka secara jelas menginginkan kamu untuk tak lagi berhubungan dengan orang-orang yang pernah mengisi hati. Mantan kan dulu sempat ada di posisi pasanganmu, duduk bareng dengan keluarga saat makan malam, atau sekedar berpamitan ke kedua orang tua. Jadi yaa.. saranku, pikirin lagi, kira-kira keluarga kamu akan terganggu ga kalau kamu undang si mantan..

5. Temen-temen kamu resek ga?
Gini.. kadang kita ga sadar, bahwa mengundang mantan ke nikahan kita walau antara kalian berdua sudah baik-baik saja itu beban di mantan. Kenapa? bayangin deh, dia harus jalan menuju ke tempat yang seharusnya dia tempati dengan tatapan aneh dari tamu-tamu yang mengenalnya. Belom kalau ditambah temen-temen kamu yang emang dasarnya resek, mereka dengan ringan bisa aja ledekin mantan kamu dan lain sebagainya. Hey, itu annoying tau.. Mantan kan juga orang yang harus kita jaga perasaannya sampai kapanpun. Jangan sampai niat baik dia kasih selamat ke kamu berakhir dia yang kesel karena kelakuan usil temen-temen kamu.


Yaa.. paling segitu aja sih.
Cuma ya itu tadi, balik lagi ke kamu, menuju pernikahan itu kan pikiran yang luar biasa dewasa, masa hanya untuk sekedar undang mantan atau ngga aja bimbang.. Harusnya sih itu masalah yang ga perlu dipikirin segitunya.

Jadi, mau undang mantan ke nikahan atau ngga?


Senin, 06 Oktober 2014

Orang Tuaku Kolot!

Aku anak yang penurut. Setidaknya itu yang dapat ku ingat dari masa kecilku hingga aku menulis post ringan ini. Dari kecil, aku hampir tidak pernah membantah orang tuaku, mengikuti semua mau mereka dan tidak berani "meminta" macam-macam.

Terdengar menjadi anak lemah? Bisa jadi. Tapi sejauh yang ku ingat pula, aku tak pernah merasakan kurangnya kasih sayang dan tidak cukupnya kebutuhanku. Orang tuaku selalu memberikan semua kebutuhanku tanpa diminta. Masa kecilku habis di dalam rumah, ditemani buku-buku bacaan dan mainan edukasi.

Beranjak besar hingga kemudian menginjak bangku kuliah, ternyata aku masih menjadi anak yang penurut.




Ternyata, sifat penurutku pada orang tua dilatarbelakangi ayahku yang sangat galak. Ayahku berasal dari tanah Palembang, ayah juga dibesarkan di lingkungan keras. Ayah pernah tak dapat kuliah karena Kakek tak ada biaya, tapi bukan ayah bila tak keras kepala, ayah cari beasiswa agar bisa kuliah gratis. Itu ayahku, seorang laki-laki yang sangat galak. Karena ayahku galak luar biasa, aku menjadi "takut" dengan ayah. Aku takut sekali dimarahi ayah, aku takut berbuat salah dan hampir tidak berani bertindak aneh-aneh di depan Ayah.

Ayahku cenderung kolot, ayah tidak memperbolehkanku menonton Tv terlalu sering, melarang keras ada TV selain di ruang TV. Ayah mewajibkan aku untuk makan di meja makan, tidak boleh di tempat lain. Ketika teman-temanku heboh bermain gimbot aku tidak berani minta belikan Ayah, karena ku tau Ayah pasti melarang, menurut Ayah, mainan yang layak dimainkan oleh anak kecil bukanlah mainan yang memiliki layar kecil, melainkan yang bisa "disusun" dan memiliki nilai edukasi. Ayah juga tidak memberikanku uang jajan yang banyak, dari rumah aku wajib membawa bekal makanan dan ketika aku sesekali dijemput beliau pulang kantor, jajanan yang boleh dibeli olehku hanyalah burger yang dijual keliling mengenakan sepeda yang harganya bahkan lebih mahal dari uang jajanku. Lainnya? Ayah tak memperbolehkanku.

Orientasi ayah adalah "nilai", jadi ayah marah kalau nilaiku jelek. Aku pernah dimarahi ayah karena rangkingku turun dari 3 ke ranking 6. Ayah marah besar saat itu. Sejak saat itu aku takut sekali nilaiku turun, hingga aku jadi anak yang tumbuh persis seperti ayah, berorientasi pada nilai. Aku mengerjakan PR tepat waktu, aku memastikan tak ada buku yang tertinggal, aku mendengarkan semua yang diajarkan guru. Ketakutanku akan ayah marah membuatku fokus sekali di sekolah.

Ayah tidak mengijinkanku pulang telat. Seusai jam sekolah, aku tidak boleh main. Aku harus langsung pulang, lalu makan siang di meja makan. Ayah sering sekali menelpon rumah menanyakan apakah aku sudah di rumah atau belum, lalu menutup telpon tanpa basa basi ketika tau aku sudah di rumah. Sudah makan, dan sedang membaca buku.

Ayah sempat tidak memperbolehkanku memiliki ponsel, seperti biasa, aku tak berani meminta walau ingin sekali, akan tetapi akhirnya aku dibelikan ponsel dengan harga menengah. Mungkin Ayah tau, hampir seluruh anak di kelasku sudah memiliki ponsel saat itu.

dan banyak lagi peraturan ayah yang mungkin bila ku ceritakan pada teman-temanku, mereka akan menilai Ayahku kolot, kaku dan kampungan.



Hari ini, umurku 25 tahun, sedang menanti kehadiran seorang jagoan dan tak lama lagi aku akan menjadi orang tua seperti Ayah. Mungkin memang benar, ayah mendidikku dengan didikan yang cenderung kuno. Tapi hari ini, aku tak pernah menyesal dididik dengan cara Ayah, karena aku tumbuh tanpa halangan yang berarti.

Aku bisa hidup berbulan-bulan tanpa televisi karena didikan Ayah, belakangan setiap menonton Tv aku sadar mengapa Ayah melarangku menonton Tv. Terlalu banyak hal buruk diajarkan di sana, dan anak kecil belum memiliki kemampuan untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk untuknya. Karena didikan Ayah, hidupku tak tergantung televisi. Aku cukup puas berdiam di kamar, membaca komik-komik atau 'menulis'.

Namaku sebagai seorang 'wanita' tak pernah ada gosip aneh-aneh. Mungkin aku melewatkan serunya pergi dugem karena larangan keras ayahku untuk pulang telat, tapi aku tak pernah menyesal. Orang tua mengerti kita jauh lebih dari kita mengerti diri kita sendiri, jika aku dibiarkan bebas, dengan watakku yang ingin tau banyak hal, mungkin hari ini aku sedang merusak diriku dengan narkoba dan hobi mabuk setiap malam. Hidup bebas terlalu menggiurkan, dan apabila aku tak dijaga dengan ketat, aku akan "liar". Hasilnya, di umur setua sekarang, pukul 10 malam walau dengan suami, aku sudah rindu kasur kamar. Ingin cepat kembali pulang dan berpelukan saja. Sesekali, aku dan suami pergi ke club, memenuhi tuntutan sosial, tapi aku tak menjadi hamba club dan keriaan di dalamnya. Cukup menjadi penikmat sesekali ketika ramai. Aku tidak memerlukan club untuk melepas penat. Aku hanya cukup disediakan tempat tidur nyaman dengan pendingin udara. Atau mall. :))

Aku membeli hampir semua barang yang sifatnya 'memuaskan diri sendiri' dengan usaha sendiri. Seumur hidup, Ayah hanya pernah membelikanku 1 ponsel. Sisanya aku beli sendiri dengan uang hasil tabunganku, didikan Ayah yang tak mudah memberikanku barang yang ku ingin apalagi yang sifatnya entertaining; justru memacuku untuk mendapatkannya tanpa meminta.


Aku lulus dengan nilai memuaskan, dan aku yakin itu semua karena didikan keras ayah. Nilai bagusku bisa ku banggakan depan siapapun yang meremehkanku. Nilai bagusku juga yang membuatku bisa bersaing dengan sekitarku. Aku tak pernah dendam pada Ayah, walau masih jelas sekali di ingatan ketakutanku ketika ayah marah saat nilaiku jelek. Ketakutanku mencambukku lebih keras dari apapun, aku terbiasa "belajar" dari kecil dan hal tersebut terbawa hingga selesai bangku kuliah. Tanpa galaknya Ayah, mungkin aku hanya akan menjadi perempuan biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang dapat dibanggakan.





Ayahku mendidikku memang dengan cara kuno, yang apabila cara itu dipakai di era sekarang justru malah menimbulkan anak yang berkembang tak sesuai potensi dan jamannya. Tapi aku tau, Ayahku tetap yang terbaik untukku dan nilai-nilai kedisiplinan beliau yang keras. Ketika aku berkaca, didikan Ayah terpampang jelas di situ, didikan yang kelak akan ku warisi ke anak-anakku.

Tidak ada yang salah dengan cara Ayah mendidik, aku beruntung memiliki ayah seperti beliau. Aku bangga sekali pada beliau. Aku bangga setiap aku melihat raga ini, didikan ayah masih mendarah daging. Sifat tepat waktu, berdiri pada hal yang dirasa benar hingga berani melawan yang ingin menjatuhkan. Semua karena didikan keras Ayah.

Anakku harus mewarisi kehebatan kakeknya, melalui tanganku yang sudah mendarah daging didikan ayah. :)


Nikah itu butuh… Modal.

"Nikah Muda",
mungkin bagi beberapa perempuan 2 kata ini terdengar begitu indah, bagai dongeng kisah klasik yang menyelamatkan mereka, bagai sebuah keriaan ruang dansa dengan akhir bahagia. Ditambah, banyak sekali di sekeliling mereka yang memutuskan untuk menikah muda dan terlihat bahagia. Tumbuhlah harapan-harapan di benak mereka untuk cepat-cepat melepas masa lajang.

Sedihnya, banyak dari mereka yang hanya mau, tetapi belom mampu..

Pernah suatu hari ada yang email diriku, curhat di umurnya yang menurutnya sudah tidak muda lagi, ia mengalami perpisahan dengan pacarnya karena si pacar dirasa tidak ada itikad baik mengajaknya menuju pelaminan, dan setelah ku tanya umur si pengirim surat elektronik ini, ia menjawab umurnya adalah 21… Tuhan, umur 21 dan sudah hampir putus asa curhat ke orang tidak dikenal mengenai keinginan kuatnya untuk menikah. (._. )


Berbekal pengalaman diri sendiri, di saat posisi tidur telentang mengakibatkan susah bernapas dan tiduran miring mengakibatkan rasa ngilu di sekitar area kewanitaan; semakin hari semakin nyata terasa bahwa mahligai pernikahan itu butuh bukan hanya sekedar 2 anak manusia yang mau untuk bersama, tapi juga kemampuan untuk menapaki hidup yang tak lagi mudah.

Aku adalah seorang istri dan anak, serta Hamba Allah yang beruntung, berbekal segala keterbatasan kami sewaktu memutuskan menikah (Iya, kami memutuskan menikah di saat masa pendidikan spesialis suami saya masih panjang membentang), tapi hingga hari ini aku masih dapat makan enak, masih ketumpahan rezeki bertubi, dapur kami masih ngebul dan kami masih memiliki orang tua yang tidak bosan datang walau hanya untuk membawakan sekilo mangga ataupun jeruk.  Tapi kisahku, ku anggap adalah sebuah anomali kehidupan, sebuah keajaiban yang tidak semua orang bisa dapat, sebuah kasih sayang berlimpahan rezeki dari Tuhan yang mungkin saja, tidak semua istri merasakan hal yang sama. Oleh karena itu, setiap teman maupun siapapun yang meminta saran padaku untuk menikah, maka pertanyaan pertama yang ku tanyakan pada mereka adalah..

"Ke depannya udah siap? Bisa hidup..?"
Aku tidak peduli mereka hidup seperti apa, sumber dana dari mana, si calon mapan atau tidak, punya rekening berapa. Karena pernikahan bukan hanya sekedar resepsi yang dipajang di Instagram lalu menimbulkan ribuan likes, bukan itu. Pernikahan adalah sebuah keputusan hidup bersama, berdua, hingga nanti. Ku akui, hari pernikahan merupakan hari paling indah dalam hidupku. Bayangkan, dalam 1 hari aku mendapat ribuan ucapan selamat, banyak kado dan semua orang yang menatap diriku ketika berjalan. Tapi sesudahnya, orang tidak ada yang peduli, yang mereka tau, hidupmu sudah berdua.

Lalu? Apa mereka yang mengucapkan selamat atau yang ribet nanya kapan nikah akan membiayai hidupmu ke depannya? Jelas tidak, hidupmu dan pasangan ke depannya adalah tanggung jawab kalian sendiri. Nah poin ini banyak yang perempuan muda lupa, bahwa pernikahan adalah sebuah perubahan fase hidup yang dibutuhkan banyak kesiapan.

Memang benar, semua manusia mempunyai standar hidupnya masing-masing. Ada yang kalau pusing harus cari coffee shop dengan harga secangkir minuman menyentuh 50.000 rupiah, ada yang sudah cukup beli risol dekat rumah. Ada yang bila dirawat harus di kamar kelas 1, ada yang bisa sembuh walau hanya di kamar rawat kelas 3. Setiap manusia mempunyai tingkat gaya hidupnya sendiri-sendiri, tapi mereka yang mungkin hidupnya tak seberuntung kalian yang sedang membaca postingan ini sembari menyeruput minuman enak, juga pasti memiliki standar hidup dan harapan agar ke depannya hidupnya membaik, bukan? 

di situ poinnya, mengapa setiap manusia harus memiliki persiapan dalam hidup, apalagi ketika memutuskan menikah. Hidup itu selalu penuh keputusan, hidup selalu dihadapkan pada pilihan; dan manusia berhak untuk memilih mana jalan terbaik untuk dirinya.




Menikah itu hal yang indah. Benar. Bagaimana tidak indah, setiap pagi kita melihat raut muka seorang yang kita cinta, setiap hari kita memiliki seseorang yang bertanggung jawab atas kecukupan dan kebahagiaan kita..

Tapi, siapkah kamu? dan lebih penting, siapkah kalian memenuhi kebutuhan hidup kalian setelah menikah?



Pernikahan bukan ajang perlombaan, tidak mesti yang terakhir menikah adalah pihak yang kalah. Pernikahan juga bukan cepat-cepatan umur, tetapi kemantapan juga kesiapan, salah satunya kesiapan finansial; setidaknya untuk bertahan hidup ke depannya.

Jadi, kalau kamu merasa penghasilan kamu dan pacar kamu belom cukup untuk memenuhi hidup kalian pasca menikah, jangan pernah ragu untuk menunda. Kerja keras lagi, nabung lagi. Nikah tidak harus muda, tapi jika dirasa sudah siap, segerakan.. Tapi jangan tanpa persiapan. Gegabah memberi makan ego, lalu kemudian tak mampu memberi makan perut sendiri.

Tuhan memang menjanjikan rezeki bagi hambanya yang mau berjalan menuju kebaikan, di antaranya adalah pernikahan. Tapi janji Tuhan yang pasti benar itu baiknya tidak dijadikan "modal menikah". Menikah itu butuh persiapan, bukan berharap keajaiban. Karena Tuhan yang paling tau, seberapa porsi keajaiban yang Ia mau berikan pada hambanya.

Kembalikan lagi ke diri kalian berdua sebelum mengambil keputusan untuk bersama, sanggupkah kalian untuk hidup ke depan sesuai dengan gaya hidup yang kalian sepakati. Sanggup? Jalani. Menikah adalah hal baik dan membahagiakan, tapi juga penuh masalah. Nikah ketika sudah yakin bahwa ke depannya bisa hidup adalah satu cara mengurangi masalah berat ke depannya. :)


Selamat berbahagia dan merencanakan pernikaha. :)

Minggu, 07 September 2014

Pilihanku Untuk Berdoa Sesuai Keyakinanku

"Ayah, aku minta duittttt…."
"Buat apa, Nak? Berapa?"
"Minta duitttt pokoknya, Ayah…."
"Iya berapa? Untuk apa?"
"Aduh Ayah, aku minta duiiitt.."
"Iya Ayah kasih, tapi berapa, untuk apa?"
"Malibuu! Mau beli esklimmmmm.."
"Ohh.. lima ribu, buat beli es krim, kalau minta yang jelas dong.. Nih.."
"Horeee. Makasih Ayah.."


---


Dialog yang kerap terjadi bukan? Atau mungkin pernah berada pada situasi di mana ada orang meminta sesuatu padamu, tapi karena tidak terlalu jelas akhirnya malah kamu abaikan atau kamu tunggu hingga permintaannya cukup jelas untuk kamu kabulkan..

Pernah?

Bagaimana jika ku ganti apabila objek yang diminta adalah… Tuhan?



Ada 2 tipe jenis orang yang berdoa, yang pertama adalah mereka yang memilih untuk berdoa secara umum dan pasrah mengenai apa yang diberikan asal yang terbaik, tipe kedua adalah yang memilih untuk meminta secara detail apa yang diinginkan.

Aku termasuk tipe kedua.

Ketika berdoa, aku lebih suka menjelaskan detail kepada Sang Gusti Allah mengenai apa yang aku inginkan. Jelas dan cenderung bertele-tele juga panjang. Memang dengan seperti itu, kemungkinan kecewa akan lebih besar karena apabila tidak dikabulkan artinya semua doa kita bukan yang Tuhan mau. Tapi aku selalu percaya, jika kita beriman, Tuhan pasti memiliki jalan yang lebih baik yang hambanya tidak tau.

Tuhan itu penuh misteri, tapi aku tau, Tuhan penuh romantisme. Aku yakin sebagai orang beriman, Tuhan senang dipuja, Tuhan senang dipuji, dirayu dan diminta dengan manis. Maka begitulah caraku berdoa sesuai keyakinanku. Ku puja Ia, ku sapa Ia dengan panggilan yang baik, ku rayu Ia. Seperti seorang anak kecil yang merengek lolipop ke ayahnya, seperti seorang kekasih yang meminta pujaannya agar tersenyum kembali.

Sebagai seorang yang menganut 1 agama, agamaku mengajarkan bahwa janji Tuhan adalah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia, lalu mengapa lantas manusia menjadi takut meminta dan berdoa hanya karena takut doanya tak dikabulkan, atau lebih parah terjadi hal paling buruk dalam hidupnya? Yakini saja, imani saja, Tuhan sayang hambanya, dan Tuhan itu maha pemurah, terutama bagi hambanya yang meminta.

Kebiasaanku berdoa dengan detail sejauh ini tak pernah mengecewakanku. Walau terkadang, jawaban dari doa-doa yang terpanjat membutuhkan waktu dan kesabaran, tapi Tuhan tau betul mana waktu yang paling tepat. Aku juga tumbuh sebagai manusia yang percaya, bahwa semua doa yang terpanjat itu sudah aman di genggaman Tuhan dan di waktu yang tepat satu persatu doa-doa tersebut akan kembali pada pemiliknya.

Keajaiban doa.
Terlalu banyak keajaiban yang terjadi dalam hidupku. Terlalu banyak doa-doa yang telah dikabulkan, Tuhan memang Maha Pemurah, bahkan untuk hambanya yang sesekali lalai mendirikan perintahnya.





"Susah aku lupainnya, Bek.." Ujar seorang teman di suatu sore di kota Medan, ditemani setangkup es krim di sebuah restoran jadul terkenal di kota itu.
"Lho? Kenapa?"
"Iya, patah hati lagi aku.."
"Lho kok bisa? Bukannya baru move on dari mantan yang beda agama kemarin?" Tanyaku.
"Iya, lalu aku berdoa ke Tuhan, mintalah aku agar aku bisa jatuh cinta lagi pada yang sama denganku.."

"Lalu?" Lanjutku
"Jatuh cintalah aku sama perempuan cantik, seagama ma aku. Tapi marganya sama…"


….. :)))))))




Yah, tampaknya keputusan untuk memilih berdoa secara detail sudah paling pas untukku. Karena kadang Tuhan dan selera humornya datang tanpa permisi. :))

Jumat, 05 September 2014

Cerita Si Sepatu Tua


Sepatu ini ku beli di circa 2008 sepertinya, aku lupa-lupa ingat, yang ku ingat sepatu ini yang menemaniku hampir kemanapun. Kampus, pacaran hingga ntahlah di mana otak saat itu, aku pake juga untuk pergi koas sesekali.

Melangkah dengan sepatu yang harganya saat itu cukup menguras kantong anak kuliahan rasanya bangga sekali. Mungkin karena eksistensi anak muda, mungkin karena trend saat itu, mungkin juga karena merasa sepatu ini sedikit banyak mewakili kepribadianku yang cenderung tomboy. Ketika ku beli, sepatu ini berwarna nyaris putih bersih. Seiring waktu, warnanya berubah menjadi kocoklatan bahkan menghitam di beberapa sisinya.

Masih dengan semangat anak muda yang sama, sepatu yang mulai sangat butut itu tetap ku pakai kemanapun hingga sekitar akhir 2012. Bahkan sepatu ini adalah sepatu yang ku kenakan untuk kencan pertama dengan suamiku. *sigh*…

Saat itu, aku berpikir bahwa Converse keren itu ya Converse buluk dan belom dicuci bertahun-tahun, makanya aku bangga sekali dengan si sepatu tua yang nyaris ku pakai kemana-mana ini. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku untuk mengistirahatkan sepatu ini dan menggantinya dengan yang lebih baik.. "Converse bersih itu bukan gua banget, cih..", kurang lebih begitu pikirku..


---


dan waktuku bergulir


aku terdewasa bersama waktu dan keadaan.


Setelah tahun 2012, banyak fase besar yang ku hadapi dalam hidup Ya kelulusan, ya pernikahan, ya lingkungan baru dan lain sebagainya… Seiring itu pula perlahan sepatu tua ini mulai terlupakan, perlahan mulai timbul keinginan untuk mencuci sepatu Converse kesayangan ini agar enak dilihat. Lalu, perlahan hasrat untuk membeli sepatu Converse barupun muncul hingga Converse tua inipun akhirnya diistirahatkan.

Tanpa sadar, aku mulai berganti selera sepatu, dari sneakers menjadi sepatu rapih yang tak menghilangkan kepribadianku yang memang pada dasarnya tomboy. Lalu aku mulai menjatuhkan pilihan ke Docmart, oxford shoes dan boots sebagai sepatu untuk sehari-hari. Selain itu, koleksi high heels juga memenuhi lemari sepatu untuk acara tertentu.

Converse tua itu semakin terlupakan, dan benar-benar sudah kuistirahatkan. Sekarang koleksi sepatuku sekitar 50 pasang lebih, dan aku hanya memiliki 1 pasang Converse bersih berwarna merah. :)

---

Yah begitulah hidup, jika berada pada lingkungan baik dan bersama orang-orang tepat, maka kita sendiri yang tanpa sadar akan memperbaiki diri. Entah itu karena menyesuaikan lingkungan, entah itu karena memang memikul tanggung jawab "profesi" yang menempel di diri ketika berdiri. Apapun alasan seseorang untuk berubah, pastikan perubahan itu membuatmu semakin baik, terlebih apabila keputusan untuk berkembang dan berpindah lingkungan sudah diambil.

Sesekali lihatlah ke belakang, kenanglah semua yang telah berubah. Jika membaik, berbahagialah. Artinya kamu sudah berada di lingkungan yang tepat. :)

Selamat berubah tanpa merasa dipaksa.

Kamis, 04 September 2014

Nasihat Untuk Lelaki, Nanti..

Kemarin malam, iseng aku melemparkan tweet mengenai jika sekiranya diberikan kepercayaan untuk memiliki anak laki-laki, selain tentang agama (karena hingga sekarang, aku dan suami masih memutuskan untuk menjadi makhluk beragama), nasihat apa yang akan ditanamkan..

dan aku mendapatkan beragam jawaban, berikut beberapa jawaban yang aku ambil secara acak..


Banyak dari mention yang masuk lebih menekankan ke arah tanggung jawab dan menghormati wanita. Lalu, aku jadi ingin sedikit menulis tentang kira-kira nasihat apa saja yang aku akan sampaikan ke anak laki-lakiku kelak..

hmm..

1. Hormati setiap perempuan, tidak hanya Ibumu, tapi seluruh perempuan di dunia ini. Perlakukan mereka dengan terhormat, apapun latar belakangnya.

2. Bacalah buku yang membuatmu bisa bercerita panjang lebar dan menunjukkan banyak tentang isi kepalamu, selalu haus akan pengetahuan dan mengertilah mengenai polemik dunia yang sedang terjadi. Setiap orang tua perempuan yang kelak kamu kencani pasti menyenangi laki-laki yang bisa bercerita hal lain selain tentang dirinya.

3. Jangan pernah malu mengecup kening dan pipi Bapak Ibu, juga kakek nenek, juga adik-adikmu nanti. Bahkan ketika umurmu dewasa, ataupun ketika semua teman sekolahmu menertawaimu. Percayalah Nak, perempuan mana yang tidak luluh melihat lelaki dewasa begitu hormat dan mencintai keluarganya.

4. Dengarkan koleksi lagu Ibu dan Bapak, di situ banyak musik bergizi, Nak..

5. Benerin keran, bangun instalasi kabel, benerin genteng rusak atau mengerti mana bagian yang bermasalah ketika mesin mobil ga bisa nyala itu bukan pekerjaan tukang, itu keahlian yang harus dimiliki laki-laki. Ketika kelak kamu sudah berkeluarga, anggota keluargamu akan menghubungi kamu lebih dulu karena mereka tau, ayahnya bisa diandalkan.

6. Pakai parfum. Setidaknya, ketika pakaianmu sedang tidak terlalu rapi, harummu tetap memikat.

7. Mampu tempatkan diri. Mengerti aturan makan malam di hotel bintang lima, tapi tau mana makanan enak kaki lima. Mengerti cara mengurus visa, paspor dan tata cara bandara setempat; tapi juga mengerti trayek kendaraan umum.

8. Kelak, jika tiba saatnya kamu akan mulai mengajak perempuan berkencan; turunlah dari kendaraan, hampiri orang tuanya, pamit baik-baik dan kembalikan ia 1 jam sebelum waktu yang dijanjikan, lalu temui kembali orang tuanya dan ucapkan terima kasih.

9. Hingga umurmu cukup, anggaplah pacaran adalah kegiatan main-main, tapi jangan mainkan perasaan perempuan itu. Jangan berikan harapan apapun jika memang kamu belum siap.

10. Tetaplah membeli mainan yang kamu suka, bahkan hingga umurmu menua. Setiap laki-laki mempunya jiwa kanak-kanak yang butuh dibebaskan sesekali.

11. Miliki bromance-mu sendiri. Sempatkan waktu untuk mereka di atas waktumu untuk pacar, karena pada merekalah nanti kamu akan menghibur diri ketika pacar yang kamu kencani ternyata menyakiti.

12. Laki-laki boleh menangis, tapi simpan air matamu hanya untuk dia yang benar-benar berharga. Untuk keluargamu, untuk dirimu sendiri, untuk seorang yang mengajarkanmu arti patah hati, dan untuk dia yang akhirnya mampu membuatmu yakin bahwa dia yang terakhir dan membuatmu sadar bahwa cinta yang telah lalu tak ada apa-apanya. :)

Senin, 01 September 2014

Cincin Dari Eyang

Cincin ini merupakan pemberian Eyang Kakung (kami biasa memanggil beliau dengan Eyang Kai, karena beliau lama menghabiskan waktu di Banjarmasin). Beliau adalah kakek dari suamiku, Ayah dari Ibu Mertuaku. Suatu hari, ketika sedang membereskan kamar, tak sengaja ku lihat kotak dari cincin ini, setelah diberikan Eyang Kai, cincinnya langsung ku keluarkan dari kotaknya dan ku pindahkan ke kotak perhiasanku. Tapi ketidaksengajaan itu mendorongku menulis post ini, bukan untuk bercerita tentang betapa cantik cincin ini,

tapi tentang...


Romantisme laki-laki. Aku menyebutnya begitu.


Cincin ini adalah hadiah pernikahanku, dan aku baru sadar, seumur hidupku aku tak pernah dibelikan cincin oleh seorang laki-laki. Bahkan itu oleh suamiku sendiri (cincin tunangan dan pernikahan kami dibeli bersama, jadi secara teknik, cincin itu tidak dibelikan suamiku.. hehe).

Selama aku hidup, aku sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakek. Kedua kakekku sudah berpulang sebelum aku lahir. Eyang Kai adalah kakek pertamaku, setahun kurang lebih mengenal beliau, yang aku tau, beliau mewarisi sifat sangat laki-laki pada semua keturunannya.

Suatu hari, pernah Eyang Kai berkata "aku ingin melihat cicitku..", pastilah ku aminkan. Keinginan itu hanya tinggal keinginan, Eyang Kai dipanggil Tuhan sekitar 6 bulan setelah pernikahan kami. Beliau harus meninggalkan kami tanpa sempat melihat cicitnya. Tapi aku cukup senang, karena ku tau beliau berada di tempat yang jauh lebih baik.

Ternyata, cincin ini adalah hadiah terakhir dari beliau untukku, yang akhirnya memberikan nilai mahal pada cincin ini. Sebuah simbol kasih sayang, romantisme laki-laki dan yang terpenting adalah kenangan manis yang terpatri tepat di hati. Kelak, tulisan ini akan ku tunjukkan pada anak-anakku, agar mereka bisa mengenal sosok romantisme laki-laki sepuh yang diejawantahkan melalui sebuah cincin. Anak-anakku kelak harus mengerti bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita, persis seperti Eyang Kai memperlakukanku walau aku hanya sempat mengenal beliau dalam 1.5 tahun.

Melalui cincin ini, aku akan bercerita banyak pada anak-anakku kelak, bahwa sifat jantan tak harus malu melakukan hal romantis. Bahwa seorang laki-laki sah saja berkeinginan manis, dan bahwa seorang laki-laki cukuplah mencintai 1 wanita saja dalam satu jenjang hidupnya.

:)
So, how's heaven, Yang?

Jumat, 29 Agustus 2014

Catatan Kaki Untuk Lelaki

Teruntuk lelaki hebat yang pernah berjuang bersamaku mempertahankan nyawa, ini hanya sebuah catatan kaki untuk dibaca nanti, kapanpun saat kau sempat. Ini bukanlah sebuah surat, maupun karya abadi seorang penulis puisi, walau sebutannya hanya catatan kaki, tapi percayalah, tulisan ini datangnya dari hati seorang yang tulus mencintai.

Hai lelaki,
Ketahuilah ketika kamu merasa tak berharga, ada seorang perempuan yang merayakan setiap detak dirimu yang berkejaran dengan detik. Ada seorang perempuan yang merelakan nyawanya hilang demi melindungi hidupmu, ia yang pernah mati-matian berjuang mempertahankanmu agar tetap tinggal. Berdoa siang malam tanpa putus hanya untuk keselamatan dan kesehatanmu.

Hai lelaki,
setiap kamu merasa dirimu tak dikelilingi cinta, sadarlah, ada perempuan yang mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi pada dirimu. Mengucap syukur pada pencipta hanya karena kamu ada, hanya karena kamu bertahan dan hanya karena diberi kesempatan untuk merasakan mencintai kamu dengan tulus melebihi napasnya sendiri.

Itu aku, lelakiku…
Perempuan itu aku.


Hai lelakiku,
dahulu, jauh sebelum aku mencintai kamu dengan sangat, aku pernah jatuh cinta dengan hebat. Dengan lelaki yang mirip denganmu.

Suatu hari, kamu akan ku perkenalkan kamu dengan dirinya. Ia sosok yang sangat ku kagumi, lelakiku. Tapi aku yakin, kamu jauh lebih mengagumkan dari dirinya. Mungkin egomu terlalu kuat untuk mencontoh ataupun mengakui akan betapa hebat dirinya, atau mungkin saja kamu cemburu karena aku pernah mencintainya dengan begitu besarnya. Tapi suatu saat, kamupun harus mengakui, bahwa perempuanmu ini tak jatuh cinta pada lelaki yang salah. Suatu saat, kamu akan mengakui bahwa raga perempuanmu ini pernah dijaga oleh lengan yang tepat.


Ia sehebat itu, lelakiku…


berbanggalah

:)


Jumat, 22 Agustus 2014

Ingat-Ingat Terus Mereka yang Masih Ingat

"Fala! Fala..!!"

Sapaan hangat dari seorang teman lama yang hampir 7 tahun tak temu muka, pada sebuah acara bertema resepsi pernikahan berbalut reuni sekolah. Sapaan itu hanya beberapa menit berselang setelah raga ini turun dari dalam mobil. Ia memanggilku dari jauh, melambaikan tangan dengan sedikit berlari menghampiriku. Senyumnya lebar… dan hangat.

Ia menjabat tanganku, menanyakan kabar dan berbasa-basi sedikit.

Namanya Wawan, teman sekolahku dulu. Selama sekolahpun, aku dan Wawan tak pernah sekelas, tak pernah berada di 1 circle permainan. Wawan anak populer, sedangkan saya tidak. Wawan, walau tak setampan yang lain, masuk ke dalam jajaran seseorang yang dikenal dari junior, guru hingga tukang makanan di sekolah. Memang dari dulu, Wawan agak sedikit berbeda sih, Wawan ini cenderung sederhana dan ramah senyum. Walau badge bergambar benteng yang terjahit rapih di jaket organisasi sekolah berbicara sangat banyak. :)

Bagi saya yang kurang populer di sekolah dulu, sapaan ringan malam itu meninggalkan jejak hangat di dada hingga hari ini. Tujuh tahun tak temu muka, dengan sejarah saya selama sekolah hanya datang lalu pulang, Wawan masih mengingat saya, bahkan menyempatkan menghampiri tak hanya sekedar sapaan ringan anggukan kepala lalu melintas pergi.


Sederhana, tapi efeknya bagi saya?
saya merasa spesial. :) saya merasa keberadaan saya dihargai. Saya merasa saya… bernilai.

Beranjak masuk ke dalam, ternyata lebih banyak lagi teman-teman satu sekolah saya dulu. Ada yang melintas tak sadar ada kehadiran saya, ada teman mainku yang wajar bila mereka menghampiri lalu mencium pipi, ada juga yang ia melihat saya dan berusaha mengingat, adapula yang ia tau benar siapa saya tapi memilih tak mengucapkan apa-apa…

Ternyata perlakuan orang berbeda-beda, dan seseorang yang "hangat" adalah sifat bawaan yang sebenarnya bisa dilatih jika kita mau. Tapi ada satu kata yang mungkin bisa dilatih, tapi akan susah sekali dipaksakan. Kata itu bernama "ketulusan".

Menyapa adalah hal mudah, tapi tak semua manusia menyapa dengan ketulusan. Tidak semua manusia diberkahi sifat tulus mengingat yang efeknya bukan hari ini, melainkan nanti, bertahun-tahun kemudiam. Seorang yang tulus akan mendapat tempat di hati setiap yang dikenalnya, perlakuan tulus yang tidak dibuat-buat yang datangnya dari hati pasti menyentuh hati orang banyak. Begitupun yang ku lihat dari sosok Wawan. Walau ia datang dari kalangan anak populer, satu yang membedakannya, ia memiliki hati yang tulus untuk "mengenal", untuk menghargai orang di sekitarnya.

Tampak sederhana memang,
tapi buah dari diperlakukan tulus dan "diingat" ternyata meninggalkan kesan hangat dan banyak puji serta doa mengiringi untuk mereka.
Apalagi, untuk orang seperti saya yang keberadaannya saja kadang tak menggenapkan dan ketidakadaannya tak mengganjilkan, diingat menjadi hal yang begitu mewah.

Sapalah teman lamamu,
tak sepopuler apapun mereka,
kesan hangat yang terbangun di hati mereka,
akan mengiringi langkah kalian..
tanpa kalian sadari.
:)


dan ingat terus mereka, yang masih mengingatmu, terlebih ketika saat itu keberadaanmu belum berarti.

Kamis, 14 Agustus 2014

Menuju Seperempat Abad

Terdiamku terbangun di malam hari, merasakan pegal yang amat sangat karena salah posisi tidur dan diperparah dengan posisi kepala suami yang menyerbu bantalku. Sakit di leher hingga pinggang membuatku terjaga kemarin malam,

2 hari sebelum pergantian umurku menuju seperempat abad.

Ku lihat sekelilingku, suami yang tertidur pulas sembari sesekali tangannya mengelus bagian tubuhku. Dekorasi kamar yang sedikit berubah karena sudah setahun kami tempati dan diriku yang mulai menua dan memberikan kejutan perubahan dari minggu ke minggunya.

Usia 25, apa sih yang biasa ada di benak perempuan dengan usia yang sebenarnya tak lagi remaja ini. Sungguh sebuah usia yang membuatku sadar lalu tercekat, aku adalah perempuan yang begitu disayang Tuhan. Di usia yang relatif tak remaja, namun masih muda, sudah banyak hal yang ku peroleh dan sebagiannya adalah impian banyak gadis di luar sana. Hingga tak sadar, ada kehangatan mengalir dari sudut mata menghinggapi sudut bibirku, melewati hangat pipi. Aku menangis, bersyukur penuh haru. Walau sungguh perjalanan hidupku juga tak ringan..


Hari ketiga lebaran, 30 Juli 2014. Kerongkonganku terasa tersumbat dan jantungku berhenti ketika mendengar kabar kakak perempuan nomor tiga dipanggil Yang Maha Penulis Takdir. Semua terasa hanya ilusi, mengingat tepat 1 hari sebelumnya (alm) Ayu Caca masih memberikanku bekal teri pedas kacang bikinannya karena aku berkunjung ke rumahnya. Rasa hancur mulai menyelimuti, memikirkan keadaan Ibu yang pasti jauh lebih terpukul dari aku, mengingat akupun harus menjaga mood agar kondisikupun tak turun. Sungguh sebuah pertengkaran batin yang begitu kuatnya. Semua terasa begitu nyata, ketika kaki ini melangkahkan kaki ke makam, melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. aku tau, Ayu Caca sudah berada di tempat terbaiknya.

Kepergian Ayu Caca merupakan pukulan dan juga pelajaran untukku, bahwa usia memanglah bukan sesuatu yang bisa diprediksi. Tapi aku melihatnya sebagai sebuah sudut pandang baru, bahwa ternyata keberadaan itu nyata berharganya. Bahwa waktu bersama dan hirupan napas itu fakta indahnya. Bahwa keluarga memang tak terganti jiwanya.

dan bahwa usia, haruslah dirayakan semaksimalnya….


---


Hari ini, aku mengucap syukur luar biasa akan semua rahmat di usia 24 yang telah aku lewati. Terima kasih atas keberhasilan diriku mengantarkan suami ke gerbang department Orthopaedi dan Traumatologi RSCM - FKUI. Terima kasih atas sumpah atas nama Tuhan yang ku ucapkan lantang, berdiri atas nama sebuah kolegium. Terima kasih pula Tuhan atas masih hangatnya kecup, atas masih panasnya cinta yang tumbuh semakin kuat antar sesama.

dan terima kasih Tuhan, Penentu Segala Alam, atas detak jantung yang berdetak di bawah hatiku.



24. Tahun yang begitu hebat. Sehebat ketika semesta mempertemukan jatukrama dan garwanipun.
Terima kasih banyak.
Alhamdulillahirabbilalaamin



Bismillah, 25.